"Petiklah Hari dan Jadilah Terang"---
Find me at http://www.kampungfiksi.com/
Follow us at Twitter @kampungfiksi, akan ada Januari 50 ribu K dan ~~Jelang Workshop Menulis n Blogging
Kinan hobi bangun terlambat dan pergi ke kantor tergesa-gesa. Mandi saja cukup 5 menit. Berpakaian 3 menit. Dan tak perlu menit untuk merias wajahnya. Ini bisa diatur. Mobil tempat yang pas tuk berdandan. Berlari-lari di pagi hari merupakan rutinitas Kinan yang tak bisa dihindari. MUngkin sudah takdirnya Kinan-terburu-buru di saat matahari begitu centil memainkan mata -menyinari korbannya.
Biar begitu KInan selalu menyempatkan waktu untuk membuat sepotong sandwich. Terkadang diisi ikan salmon. Terkadang juga irisan tipis daging sapi atau ayam. Tanpa lupa memberikan tomat, timun, mayoinaise dan sedikit lada. Roti gandum selalu menjadi pilihan Kinan. Bentuk rotinya pun selalu persegi empat, bukan segitiga atau bentuk persegi lainnya. Kinan amat menyenangi bentuk roti segi empat ini. Menurut Kinan, di atas bidang segi empat ini, Ia bisa berlari kesana-kemari tanpa keluar dari batas segi empat. Ia selalu dipagari empat sisi. Sisi-sisi yang menghimpun cinta milik Kinan. kemana pun Ia bergerak sampai ke atas pun, tubuh Kinan akan tetap kembali di atas permukaan segi empat. Ya, selalu kembali ke cinta Kinan yang bulat.
Sesampainya di kantor, Kinan tak langsung ke tempat kerjanya untuk absen. Kinan malah pergi ke lantai paling tinggi, dimana sang kekasihnya bekerja di sana. Padahal kekasihnya belum menampakan batang hidungnya, tetapi ini tak membuat Kinan membalikkan tubuhnya. Seperti biasa Kinan hanya meninggalkan sepotong sandwich itu di atas meja kerja sang kekasih. Setelah Kinan menaruh sepotong sandwich, Ia berjalan melenggang santai. Tanpa harus ada langkah cepat. Toh, kewajiban di pagi hari telah terpenuhinya. Bukan pergi ke kantor secara tepat waktu. Bukan untuk mengejar matahari. Tapi untuk sepotong sandwich yang dibuat oleh tangannya sendiri.
*****
Dokter Firman penasaran akan sepotong sandwich buatan Kinan. Sepotong sandwich yang selalu ditinggalkan Kinan di ruang gudang rumah sakit jiwa ini. Sandwich-sandwich itu, entah sudah berapa banyak jumlahnya. Anehnya tak pernah berdebu dan juga berbau. Bahkan sandwich-sandwich itu selalu terlihat segar.
Entah ada kekuatan apa Dokter Firman meraih satu sandwich berisi ikan salmon. Dan entah kenapa juga perut Dokter Firman terasa lapar dan ingin segera melahap sandwich itu. Dokter Firman pun mengunyah sandwich itu. Ia menikmatinya. Teramat menikmati. Terasa tubuhnya kemasukan nutrisi-nutrisi cinta yang bergelembung.
*****
dapur Dokter Firman sedikit berantakan. Sudah seminggu Dokter Firman mencincang daging untuk dimasukan ke sandwich. Ya sepotong sandwich yang akan sama-sama ditaruh di meja di sebuah gudang, bersama sandwich milik Kinan.
Dan mereka hanya akan saling berpandangan mata dan menatap sandwich pemberian. Ya hanya mata yang bekerja, karena bibir mereka cuma bisa tersenyum. Kini ada dua sandwich dan dua pembuat roti sandwich. Kedua-duanya tak pernah memakan sandwich yang diberikan ke mereka masing-masing. Mereka hanya beradu tatap tanpa mengunyah dua potong sandwich itu.
Ya, ini kisah tentang sepotong sandwich yang tak pernah dikunyah. Sekali kau makan sandwich itu, maka kau akan seterusnya membuat sandwich di pagi hari sepanjang hidupmu dan sandwich itu tetap tak tersentuh.
Sepotong sandwich yang bisa membuat kau jatuh cinta atau merana karena sakit hati?!