Aku memandangi sepatu kaca-hadiah ulang tahunku seminggu lalu. Sepatu kaca yang berdiri tegak di lemari kaca - berhadapan tepat dengan tempat tidurku. Aku selalu mengagumi bentuknya yang cantik dan warna merah muda berkilau. Sekalipun aku tidak pernah mencobanya. Terlalu sayang aku gunakan untuk berjalan, walau hanya di kamarku saja. Sejak kehadiran sepatu kaca di rumahku, aku selalu bermimpi tiap malamnya. Di dalam mimpiku ada seorang perempuan cantik yang kemana pun pergi ,Ia selalu mengenakan sepatu kaca itu. Bahkan berlari pun Ia tetap memakainya.
Kemarin malam, aku bermimpi aneh. Mimpi yang memenuhi kepalaku dengan berbagai pertanyaan.
*****
Jam berdentang kencang sebanyak 5 kali, memecahkan kesunyian saat waktu menunjukan jam 12 tepat. Tiba-tiba saja dua jendela kamarku terbuka lebar. Tak lama kemudian, dua jendela itu seperti bermain bebas bersama kibasan angin. Aku tersentak. Udara dalam kamar menjadi dingin dan menusuk tulang-tulang tubuh melalui pori-pori kulit badanku. Aku menarik selimut dan menyembunyikan wajah di dalam nya. Rasanya aku ingin berteriak minta tolong memanggil Mama, namun mulut ini bagai terkunci rapat. Aku berusaha memejamkan mata, tapi mataku langsung terbuka kembali.
Tok..Tok..Tok..Ada yang mengetuk-ngetuk tepi tempat tidurku-yang berasal dari kayu jati. Suaranya nyaring sekali. Nafasku berhenti. “Semoga ini hanya mimpi,” rasanya aku ingin menangis. Dua menit, Tiga Menit, sampai lima menit, jendela tertutup kembali dan suara ketukan itu menghilang.Aku mulai sedikit tenang. Tapi tidak lama…
Ketukan itu kembali lagi. Tiga kali. Aku mengigit bibirku dan mulai merinding. Aku terdiam kaku. Dan berbunyi lagi. Aku takut, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba saja selimutku tertarik oleh sesuatu. Aku langsung terduduk dan menatap lurus tanpa berkedip. Sepatu kaca. Ya sepatu kaca itu sudah ada di hadapanku dan Ia yang menarik selimutku.
“Aku tidak betah di sini. Tolong berjalanlah bersamaku malam ini,” Sepatu kaca itu berbicara seraya menitikan air mata.
*****
Aku berlari-lari penuh tawa dan keriangan bersama Eva. Melewati bukit-bukit hijau dan sungai-sungai kecil. Aku melepaskan sepatuku, tetapi Eva tetap mengenakan sepatu kaca kesayangannya. Kami saling mencipratkan air dan baju kami pun menjadi basah. Kemudian kami memutuskan untuk berenang dan berhenti di ujung sungai. Menyelusuri sungai itu membuat kami tidak sadar, bahwa sungai itu tidaklah pendek dan kecil. Semakin kami terus berenang, permukaan sungai itu semakin lebar. Dan sampailah kami meloncat bebas. Kami tidak pernah tahu sungai itu menyambung ke lautan luas dan memiliki air terjun dengan ketinggian ribuan meter.
Aku dan Eva berteriak kencang hingga kedalaman laut membungkam mulut kami. Laut itu begitu hitam, entah berapa kedalamannya. Aku muncul ke permukaan. Namun, Eva tidak pernah muncul kembali. Aku hanya melihat sepatu kacanya berada di tepian pantai saat aku terdampar di sana.<
/p>
*****
Nama Eva Lusiana tertera di batu nisan. Sang sepatu kaca berdiri memeluk tumpukan tanah yang telah diselimuti rumput-rumput hijau. Sepatu kaca itu menengok ke arahku,”Terima Kasih Kawan.”
Mulutku menganga. Bisu. Hening. Tubuhku dingin. Baju tidurku tak mampu melawan angin yang masuk ke tubuhku.
Perjalanan bersama Eva persis dengan mimpi yang aku alami kemarin malam. Aku tidak pernah mengenal Eva seumur hidupku. Aku baru mengenalnya selama dua hari, kemarin malam dan malam ini. Aku baru menyadari mengapa sepatu kaca itu selalu resah dan berjalan mondar-mandir di dalam rumahku. Aku mengira aku hanya bermimpi untuk menepis ketakutanku. Ternyata, sepatu kaca itu selalu berjalan tepat jam 12 malam selama seminggu di rumahku. Dan malam ini aku mengantarnya ke sang pemilik sepatu kaca. Ke tempat pemakaman EVa.
Hanya beberapa detik saja, aku sudah berada di tempat tidurku dan aku melihat lemari kacaku. Yup, sepatu kaca itu sudah benar-benar tidak ada di sana…
*****
Nikmati juga karya peserta lain di lapak CINTA FIKSI

