Oleh Suhandayana * | AKUNDAstudio | baca Index 91 |
.
SORE hari. Perjalananku sudah sampai perbatasan antar wilayah di Negari Nuswantoro bagian timur. Kulewati sebuah gerbang bermotif ala candi, pilar baleho bertuliskan huruf latin ‘Selamat Datang di Provinsi Indonesia’. Sekitar dua jam kemudian, kereta api tiba di stasiun kecil kecamatan kota. Delman pun bergegas membawaku ke sebuah dusun di desa kecil.
Tujuanku satu, mencari sosok bernama Danessusu dan mengajaknya ke kota tempat bosku memimpin sindikat. Dia dikenal sebagai keturunan ke sekian dari seorang pengikut avatar. Berperilaku tengik, pemalak sadis. Yang paling ditakuti para seteru, dia tak gentar menghabisi nyawa dengan merobek perut lawan. Ciri-ciri tubuh berperawakan tegap mirip tentara Modjopahit, sorot mata tajam, suka menimang senjata persis samurai pendek. Data terakhir, lelaki piawai ini dimungkinkan kembali bersarang ke desa asal kelahiran Soerabaian, Kecamatan Jawi wetan, Provinsi Indonesia, Negari Nuswantoro.
Kurapikan lagi sikap dan postur penyamaran, telah beberapa hari terkusut debu perjalanan. Sudah menjadi tugasku selaku anggota keamanan sindikasi lintas negeri tetangga mencari anggota baru untuk bemper pemutus jaringan penyebar obat terlarang. Beberapa kali tugas ini kulakukan dengan ekstra hati-hati. Jika berhasil, tugas yang sama akan berulang. Benar, khan? Kini aku melaksanakan isi janji setia di negeri tetangga.
Agak petang, kutuju kedai kopi di pojok gang dusun itu, kurasa aman. Halaman agak luas, rumah sedang, berteras. Kududuki bale bambu. Di sekitar sudah lebih dulu ada beberapa pengunjung menikmati kopi giras dan aneka jajanan.
“Minum kopi, mas?” Sapa pelayan, sikapnya lugas seakan sudah berkali-kali membuatkan kopi untukku.
“Ya,” jawabku singkat.
Secangkir kopi disuguhkan. Kulahap pisang goreng, habis dua buah. Kulirik hati-hati wajah pelayan. Tubuhnya tinggi, kerempeng. Namun, sorot matanya mengingatkan pada ciri sasaran buruanku. Pandangan tajam, tapi agak teduh. Tak ada kesan garang. Gerakannya tidak lamban, terlalu enerjik bagi seorang pelayan kedai, langkah kakinya mantap lalu-lalang membikin minuman dan menyajikan penganan bagi pengunjung kedai. Gerak-gerik awas dan santai, nampak sekali bagiku. Pembawaan luwes dan ucapannya ceplas-ceplos, bahkan sering mengeluarkan jocke-jocke jenaka khas desa tepi laut yang bisa membuat lawan bicara terkekeh-kekeh.
Benakku hampir memastikan, bahwa dialah orang yang tepat. Musti ‘kutangkap’ malam ini juga. Bila memberontak, seperti pengalamanku yang sudah-sudah, biasa terjadi baku hantam dan aku harus berhasil membela diri. Kalau keadaan memaksa, aku sigap berjaga-jaga, dia atau aku yang terbunuh.
Kian larut malam. Jumlah pengunjung kedai tak bertambah, perbincangan mereka tanpa ujung-pangkal, sahut-menyahut sekenanya. Malam jadi hangat. Kurasakan, aku terlalu lama tak beranjak dari situ. Bukan untuk alasan istirahat, atau makan-minum sepuasku. Baru kusadari, aku telah membuat keteledoran. Seorang yang duduk lebih dulu di bale ini kubiarkan tanpa sapa atau basa-basi.
“Saya baru melihat sampeyan, ya malam ini,” tangkas si kurus. Aku terkejut. Begitu saja dia duduk berhadapan. Naluri lelaki ini ternyata peka. Rupanya telah dia baca arti diamku yang terlalu lama. Ini bukan ancaman serius, begitu pikiranku menyesuai. Mungkin sudah maklum, kebiasaan di desa ini pemilik kedai biasa bebas nimbrung di tengah pembicaraan para pengunjung.
Sekarang bertiga di atas bale, sama-sama duduk bersila. Kurapatkan jaket gelap. Kusruput sisa kopi.
“Aku mencari Danes Anthonius. Orang sekitar sini tadi hanya kenal nama Danu.” Kutatap matanya dan kuberikan lembar fotokopi ktp lusuh, setelah beberapa detik kusentuh pistol gelap di saku jaket. “Kalau Danessusu, ya mungkin satu-satunya arek penjual kopi giras … namanya sekarang Danu,” kataku menirukan orang yang kutanya sore tadi. “Kamu, khan? Kamu juga pernah kerja paruh waktu di balai pemerasan susu sapi tak jauh dari desa ini.”
Hanya mengangguk. “Aku sudah dengar dari orang seberang, bahwa dalam minggu-minggu ini ada yang mau menangkapku untuk pekerjaan kasar dan berbahaya. Kamu pesuruh mereka, ya?! Akulah Danes yang kalian mau. Danes Anthonius alias Danessusu alias Danu,” tegasnya. Sebatang rokok disulut.
Aku sudah percaya, dia memang Danes.
“Kopinya lagi,” pintaku.
Mataku mengikuti gerakannya. Tubuh tinggi, postur perawakan bodi prajurit sudah tak begitu terlihat, kukira umurnya masih sekitar 45 tahunan. Lawan bicaraku itu cukup tenang, ia sedang menyedu kopi buatku. Cangkir dibawa tanpa nampan. Ia kembali bersila dan menikmati juga pisang goreng yang tadi dia suguh di depanku.
“Dengar,” ujarnya. “Dulu, aku hormati pekerjaan lama itu. Dan sudah lama juga aku hormati pekerjaan baruku. Aku tahu siapa kamu dan apa keperluanmu. Tapi, semenjak keluar dari bui di Borneo, aku susul istri dan kedua anakku yang masih kecil, kuajak mereka menetap di desa ini. Melupakan kesenangan masa lalu, memang tidaklah mudah. Nyali kutawar sendiri, sedikit demi sedikit kuikuti arus cabangwaktu. Dan keberuntungan baru, mulai sejalan dengan pengertianku.”
Dia ceritakan pendiriannya, nyaris detail. Awalnya, Danes punya mau meniru kejayaan para pengikut avatar di daratan Java - mungkin yang dimaksud poros kebudayaan dan jalur sutera sekitar Andalusia, Persi, Sumatera, Pasundan, Jawi Wetan, sampai Nusa Tenggara dan Irian. Namun, karena nafsu berkuasa mengalahkan tekad budi, ia terjerumus bertahun-tahun sebagai preman yang disegani kawan maupun lawan. Ia pun mengikuti jejak bapak kandung beserta trah moyang, jadilah bersama kelompok bapaknya terkenal sebagai penjarah kota-kota terkemuka hampir seantero Negari Nuswantoro. Sesekali terlibat memperkuat jaringan peredaran senjata gelap dan narkoba lintas jasirah di utara atau selatan katulistiwa.
.
.
Sudah lama, aku dengar sendiri dari beberapa suhu, guru-guru beladiriku. Konon, dahulu sesudah kehancuran jasirah Atlantis masih tersisa kejayaan negeri Nuswantoro meliputi beberapa jasirah kecil di Afrika selatan, sebagian di Eropa barat, Asia Tenggara, sampai Asia Timur Raya. Masing-masing jasirah kecil dipimpin oleh seorang sultan. Para sultan mengangkat beberapa avatar - tangguh, digdaya, yang dengan semangat ksatria mereka menjadi pengawal dan utusan sultan dengan tugas bela bangsa dan negara. Sifat lemah manusia tetap terbawa, sehingga beberapa keturunan avatar ada juga yang melanggar kepatuhan. Maka, bila pengadilan kodi memutuskan hukuman selain qishosh, para pesakitan itu pasti dihukum buang jauh ke daratan utara atau selatan katulistiwa. Kira-kira para warga terusir itu dibuang ke benua selatan yang dikenal kini Australia, atau paling tidak di sekitar Pulau Buru. Bila dibuang ke arah utara, ke daratan Eropa barat dan negeri baru temuan Columbus - negeri Paman Sam, Amerika Latin. Selain karena dibuang, akibat bencana besar bertubi-tubi memecah alam dari peristiwa letusan Krakatau dan gunung api lain, banyak penduduk sekitar 'mata cincin katulistiwa' atau negeri timur terpaksa imigrasi hingga melintas ke benua barat, utara, dan selatan. Sebagian dari mereka tidak terselamatkan.
"Hai, aku minta tidak kau usik kehidupanku ini ...," ucapnya datar dan berani. Dialah pengusik memoriku.
Dari cerita dia dan diiyakan oleh seorang yang duduk di sebelahku ada kesan, ia kini dikenal suka menolong warga dusun. Demi menebus kesalahan, Danes mencari kerja apa saja di waktu pagi hingga petang. Tak jauh dari kehidupan petani, peternak, atau nelayan. Dia pun tetap bertahan, belasan tahun membuka kedai malam. Sejenak aku ijinkan diriku agar mau tertegun mendengar ocehan mantan sekuriti senior gerakan konspirasi penjahat berdasi ini.
"Dalam kehidupanku yang sekarang, aku mencoba melihat kenyataan apa adanya. Hampir saja aku meninggalkan istriku yang menderita penyakit ginjal akut. Sangat berat rasanya, keadaan ekonomi pas-pasan, masih juga menanggung beban biaya dua kali cuci darah setiap minggu. Entah, kenapa juga kubiarkan famili istriku ketika berniat membawa kedua anakku untuk hidup secara wajar di tengah keluarga mereka."
Kami menyambung nyala kretek. Terngiang sisa cerita lelaki bersarung ini. "Entah pula, siapa yang membisik bahwa Provinsi Indonesia ini bagian dari desaku, pilar Negari punya kekuatan jika desa-desanya kembali dibangun oleh warga dusun."
Aku menjawab setengah sinis dengan membuang kepulan asap rokok agak tebal ke arah mukanya.
"Seumur hidup pernah sekali kusimak himbauan seorang tua di sana, bahwa apapun yang terjadi dalam hidupmu, keluargaku, halanganmu, impianku, musuhmu, keberanianku, maka kamu sendiri yang melakukan itu semua dan kelak pantas dituntut oleh pengadilan semesta raya ..."
Aku kemasi pipa dan korek api, kubuang bungkus rokok kosong. Sesaat berbenturan saling menatap.
"Aku tidak menafikan perbuatan kalian, biar itu sekedar jadi pigura cacat kehidupan ... maka di sinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok ...." Suara Danes memberat. Beberapa kali tangannya ke atas dahi. Dia betulkan letak peci hitam, walau sebenarnya gerakan ini sekedar reflek untuk menutupi wajah yang mulai berubah. Sejenak aku hampir terseret nada tuahnya kalau saja aku tak terganggu suara obrolan beberapa orang memanggul cangkul. Lalu, kucari-cari sekenanya suara bunyi gemeretak pedati yang sedang lewat.
"Tak mau ke kota negeri itu?" Tanyaku memotong perasaan ngangutnya, sembari menepis gentarku.
Ia menggeleng satu kali, bibirnya mengetat menguati hisapan rokok kretek.
Kulihat samar cahaya fajar. Lembaran uang kutaruh di bale bambu, kutambahi sedikit ribuan untuk satu pak kretek bermutu. Hari-hari baru menantangku. Diam-diam aku hanya menaruh hormat. Tak sedikit pun sudi meratapi, iba, atau kasihan pada Danes. Orang-orang di desa ini sudah memulai kerja. Aku juga. Agenda hari ini, segera kukejar saja buruanku lainnya.
.
[ tulisan kreatif | 1 dari 3 cermin | Ramen ]
... in edited
.
.
* Pesta Ramen, Desa Rangkat, Medio 10 Januari 2012 23:53
.
DEAR Menu:
Ramen Day #1 | Ramen Day #2 | Ramen Day #3
.
Cicipi hidangan pesta Desa Rangkat, pilih menu Ramen, dan rileks ...
.
NB: Untuk membaca karya peserta lain silakan menuju ke sini atau klik tag ramen
.
![Desa Rangkat - [Ramen] - 2012 1326215904847079895](http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/01/1326215904847079895_300x260.jpg)

