‘Ampun Gustii.. Ampunnn… Ini teh jadi mana yang bener tehhh…? Yang pake baju merah, salah… yang pake baju belang-belang juga salah.. Jadi yang mana Mbak Kembangku, Gustiii…?’ Seperti kesurupan, tiba-tiba Inin meraung-raung di lapangan sepak bola Rangkat.
Muka Ini memerah, menahan emosi. Rambutnya yang baru direbonding pun mendadak kembali Kribo. Inin nampak emosi dan kesel, ketika tadi siang tidak berhasil menemukan Mbak Kembangnya. Inin sempat mengira perempuan yang lewat adalah Mbak Kembangnya. Tapi, betapa kecewanya Inin, karena perempuan itu bukan Mbak Kembang, melainkan hanya mirip.
Di tengah-tengah Inin menahan geram, melintas dua perempuan dan dua laki-laki, berjalan bergandengan tangan. Kontan saja, Inin yang nesu-nesu langsung bangkit. “Nah itu.. kali ini pasti bener.. Yang pake baju belang-belang itu pasti Mbak kembangku. Tapi, siapa yang satu lagi itu… Apakah Mbak Kembangku mbelah jadi dua?’ gumam Inin penuh keheranan.
Tapi Inin tidak berani mendekati empat orang yang berjalan bergandengan tangan sambil sesekali bercanda itu. ‘Sibbbbb… Nasib… kenapa Mbak Kembang malah gandengan tangan sama Aa Kades si Kribo palsu itu? Lah itu, Om Garong ikut-ikutan gandeng tangan kembaran Mbak kembang..? Duh Gustiiiii…….. Ampunnnnnnnn..’ Seketika Rokok kolobot yang dikantonginya dibanting dan diinjek-injek di lapang yang becek itu.
Di jarak sekitar 13 Meter, tanpa sepengatahuan Inin, nampak dua bola mata yang indah mengamati Inin dengan penuh dag-dig-dug.. Seorang perempuan dengan jilbab ungu, begitu seksama penuh kekaguman menyaksikan Inin di tengah lapang yang sedang nesu-nesu