Masih tersisa rintik – rintik hujan membasahi dedaunan, dalam gelap malam terdengar bersahut-sahutan suara kodok itu. Tak jelas asal suaranya namun terasa dekat dan akrab.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Masih terdengar suara yang sama, suara kodok yang minta hujan, setiap tahun nyanyiannya tak pernah berubah.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Orang di kampong menyebutnya Bakeke. Tak ada nyanyian yang berulang di awal musim hujan sesering nyanyian bakeke. Nyanyian yang menghanyutkan dan membawa rindu ke masa kecil.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Suaranya timbul tenggelam. Saya bahkan tak tahu diluar sana ada berapa kodok yang menyanyikannya. Sepertinya hanya satu, tapi suaranya sambung menyambung.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Bakeke boleh jadi adalah penyanyi sepi yang tak butuh tahu siapa pendengarnya. Entah saya harus bosan atau tidak mendengarnya, bakeke itu masih saja melantunkan lagu rindunya.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Gemericik air di atas genteng sepertinya tak mau ketinggalan nada. Angin sepoi – sepoi di luar rumah membiaskan dingin masuk dalam kamar, menelisik masuk selimut, bakeke itu masih saja melantunkan nyanyian dinginnya.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Bagi pencinta yang ditinggal kekasih, Nyanyian bakeke boleh jadi adalah tangis pilu karena rindu dendam kasih tak bersambut. Ia hanya muncul dan diundang saat awal musim hujan, setelah itu harus rela ditinggal setahun.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Nyanyian itu masih terdengar sama. Selalu saja begitu, tak pernah berubah dan tak pernah digubah.Mungkin bakeke berpikir, biarkan saja nyanyianku seperti itu, toh ini nyanyianku dan bukan nyanyianmu.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Pun bakeke berpikir. Hanya kali ini nyanyianku, sekali ini saja karena tak ada lagi nyanyian itu setelah musim hujan menghilang diatas awan. Bahkan karena malu, bakeke pun harus rela mengubur rindunya bersama para petani yang terlelap dalam capek sehabis menanam padi.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
Mungkin bagi sebagian kecil orang kota yang kini mulai berumah – rumah di kampung, nyanyian bakeke adalah musibah bagi pendengarannya. Tak adanyanyian yang lebih membosankan selain nyanyian bakeke.
Nyanyian bakeke tak ada artinya dibanding hiburan orang kota, bahkan tak ada apa – apanya dibanding musik jazz dan lagu pop yang membuai dan menenggelamkan pendengarnya dalam kenyamanan sampai di ujung malam.
Masih terdengar sama.
“Ngoang ….. ngoang …… ngoang …….”.
“Ngoang ….. ngoang ……”
“Ngoang …….”.
Nyanyian bakeke itu telah mengenang masa indah dan jerit pilu dalam gelap malam tak bertepi.