Lulusan D3 Komunikasi Hubungan Masyarakat yang hobi menulis & membaca sejak kecil. Saat ini masih bekerja sebagai Finance & Adm Staff di salah satu LSM di Jakarta *Gak nyambung ya.. Hehe* Mimpinya adalah menjadi ibu rumah tangga yang aktif menulis & mengajar *aamiin*
”Kalo masuk penjara kan enak, Mak. Bisa makan gratis. Bisa makan daging, makan enak-enak deh. Gak susah-susah cari makan.”
Menjelang sore di salah satu angkutan kota yang tak begitu penuh penumpang. Aku tak ingat betul kapan kejadian itu berlangsung. Kurang lebih medium tahun 2010, menuju stasiun Bogor.
Aku dan rekan kuliahku menaiki salah satu angkutan kota berwana hijau cerah menuju arah Bogor, saat siang mulai meredup. Bukan hanya kami. Ada seorang gadis belia di pojok angkutan yang asyik dengan ponselnya. Dan kemudian, tap. Mataku beradu temu dengan beberapa pasang bola mata lugu yang sinarnya nyaris redup. Beberapa anak kecil yang (maaf) terlihat kumal dan lusuh berada tak jauh dari jangkauan ibunya. Ibu muda yang kuperkirakan usianya sekitar 30 – an itu menggendong anak bungsunya yang belum genap 3 tahun. Di sisi kanannya sepertinya merupakan anak kedua dan ketiganya yang jika diperkirakan usia mereka satu sama lain hanya berselang 1 tahun. Dan di sisi kiri sang ibu ada si sulung yang belum genap 10 tahun. Mereka ramai bercuap-cuap masing-masing. Ada yang berkomentar tentang jalanan, mobil, pepohonan sedang sang ibu hanya menjawab datar dan seadanya atas limpahan tanya sang buah hati. Hingga salah satu percakapan antara anak ketiga dan sang ibu membuatku terdiam, menangis dalam hati.
”Mak, masuk penjara enak kali ya?” ujar polos sang anak.
”Apa enaknyah sih? Masup penjara lo bilang enak.” sang ibu menjawab sekadarnya dengan tutur bahasa dan nada yang kurang simpatik. Agak ketus.
”Kalo masuk penjara kan enak, Mak. Bisa makan gratis. Bisa makan daging, makan enak-enak deh. Gak susah-susah cari makan.”
Astagfirullah, begitu pendek fikir lugunya. Ia hanya ingin kemudahan makan. Ia hanya ingin kelezatan makan. Duh Rabb, maaf kan hamba yang banyak tidak bersyukur atas Rahmat-Mu.
Sang ibu tertawa sambil membenahi helaian anak-anak rambut yang mulai lembab karena keringat dan kemudian menyusul jawaban yang kurasa sepatutnya tidak demikian isinya.
”Emang bisa masup penjara langsung? Kalo penjara tuh tempatnya anak-anak nakal, yang suka nyolong, suka ngerampok. Baru dah mereka ditangkep trus dipenjara. Kalo lo gak salah mah kagak bisa masup penjara.” jawaban yang begitu santai. Tanpa beban dan pembenahan atas argumentasi anak yang salah.
Ya Rabb, apa gerangan yang membuat sang ibu mampu tertawa menjawab pertanyaan buah hatinya? Bukankah semestinya ia mampu meluruskan argumentasi sang buah hati yang notabene sudah keliru? Tidakkah ia merasa sedih anaknya menginginkan kebahagiaan yang belum mampu ia berikan?
Tak lama mereka berlima turun dari angkutan yang sama-sama kami naiki, mendahului aku dan rekanku. Aku dan rekanku hanya mampu saling bertatapan sayu, mengisyaratkan bahwa kami sama-sama tertegun menatap ironi di hadapan kami. Sambil terus beristighfar dalam hati.
Entah apalagi yang mereka bicarakan selepas percakapan-percakapan singkat tadi. Semoga Allah membimbing kalian dan kita semua. Aamiin Allahuma Aamiin.