“ibu kenapa ketika kematian menjemput seseorang, saat penghantaran ke pemakamannya selalu turun hujan?…”
“mungkin karena banyak yang bersedih sehingga menggugah hati dewa hujan…maka turunlah hujan…”
“apakah sebegitu hebatnya manusia hingga dewa hujan turut menyatakan belasungkawanya atas kematian seorang manusia?…”
“mungkin hujan diibaratkan seperti lagu pengiring penghantar seorang kepada perjalanan berikutnya…”
“tapi, bisa jadi hujan itu adalah simbol isyarat dari manusia yang mati tadi ibu…dia lewat hujan mengucapkan terimakasih…disampaikannya salam perpisahaan melalui hujan yang turun…”
“kenapa kau bertanya tentang kematian dan hujan?…”
“ah, tidak ibu…aku hanya berpikir sangat dekat dan intim rasanya antara hujan dan kematian…”
“hmm…”
“ketika seseorang menghadapi kematiannya, masing masing memiliki kisahnya sendiri tentang kematian…selain hujan, mereka yang hidupnya telah mendekati kematian selalu akan mengalami yang ku sebut “ingatan memori yang berputar”…mereka akan diingatkan setiap peristiwa momen penting yang pernah terjadi didalam hidup mereka…dari lahir sampai saat ia telah mendekati kematiannya…mereka juga akan sering mengigau, dan melihat ada seseorang yang mendekatinya…seseorang yang datang dari dunia yang berbeda…”
“haha…kau ini…seperti paham saja…”
“aku hanya menyampaikan apa yang ku pikirkan saja ibu…”
“sudahlah…stop bercerita tentang kematian…”
“kenapa ibu? ibu takut?…bukankah itu harus dihadapi…”
“ini masih terlalu pagi anakku…bicarakan hal lain saja..”
“kematian tidak mengenal waktu ibu…pagi, siang atau malam sekalipun…”
“ya…”
“ibu, apa kau tidak merasa pagi ini dingin sekali?…”
“apakah kau kedinginan anakku?…”
“hmm…dan aku rasa siang atau sore nanti hujan akan turun…”