Untukmu, Kampung Fiksiku yang manis…
Coklat dan Cinta :
Sampai Kapanpun Coklat Tetap Kan Terasa Manis
‘Chocoprizz’, nama yang tertera pada setiap bungkus coklat. Melihat kemasannya, ingin rasanya aku memiliki salah satu di antara deretan coklat yang terpajang begitu indah. Namun, keinginan itu segera hilang. Bukankah valentine sudah berlalu? Ah, sekalipun valentine masih ada, pada siapa juga aku kan memberikan coklat? Seketika ingatanku melayang pada valentine terakhirku, bersamanya setahun yang lalu.
“Happy valentine, beyb,” ucapnya sambil memberikan coklat.
“Happy valentine juga beyb,” balasku sambil memberikan coklat juga.
Di Valentine saat itu seharusnya kami merayakan dengan penuh suka cita. Namun, moment dan juga coklat yang dia berikan terasa begitu pahit, ketika dia memberikannya bersamaan dengan…
“Julie nembak aku, Rien,” sahutnya.
“Hah? Si tante itu berani merebut kamu dari aku?” Balasku kaget.
“Bisa gak sih kamu manggil dia dengan sebutan ‘mbak’ atau ‘kakak’ aja?”
“Ya dia kan 13 tahun lebih tua dari aku, beyb. Trus salah kalau aku manggil dia dengan sebutan ‘tante’?”
“Terserah kamu aja deh…”
“Eh tapi kamu gak nerima dia kan?” Tanyaku ketika ku lihat dia begitu gelisah.
“Sayangnya, aku udah bilang iya…”
Sekali lagi ku pandangi deretan coklat cantik itu. Ku putuskan untuk mengambil salah satunya, empat buah kepingan puzzle yang terangkai dalam bentuk hati. Hanya dua puluh ribu, gumamku sambil mengeluarkan uang. Lumayan juga untuk ku habiskan bersama Rania, sahabat kosku.
Valentine sudah berlalu… Ku buka pintu kamar kosku.
“Ada parcel coklat buat kamu, Rien,” ucap Rania ketika melihatku pulang.
Sebuah coklat berbentuk I love you persegi panjang. From Andri, ku baca tulisan yang tertera pada sebuah kartu kecil di tengah bingkisan tersebut.
Valentine memang sudah berlalu, jantungku berdegup kencang ketika perlahan ku mulai membaca rangkaian kalimatnya. Mungkin aku terlambat memberikan ini sama kamu. But, saying ‘I love you’ not only on valentine day, right? Rangkaian huruf pada coklat itu mewakili apa yang ingin aku katakan sama kamu. Maaf ya Rien, semoga kamu berkenan dengan ini, namun abaikan saja kalau memang nyatanya kamu gak berkenan.
Andri, lelaki yang baru-baru ini aku kenal dari sebuah situs jejaring sosial. Satu-satunya lelaki yang berhasil mematahkan prinsipku selama ini, bahwa jangan pernah kenal lebih jauh dengan lelaki di dunia maya. Berawal dari saling melempar comment, chatting, hingga akhirnya dia mengajakku untuk ketemuan sebulan yang lalu. Sosok Andri yang humoris dan santun mampu membuatku terlupa akan kisah pahit bersama mantanku dulu. Aku gak menyangka, pertemuanku dengannya saat itu berujung pada kiriman parcel coklat ini, yang katanya juga mewakili perasaannya saat ini.
Ku pandangi sekali lagi coklat bentuk puzzle yang baru saja aku beli dari Chocoprizz. Ku lepas sebuah kepingan puzzle itu untuk ku cicipi. Manis…
“Rin, gue baru inget. Waktu tadi dia nganter ini, gue bilang kalau elu gak lama lagi pulang. Mungkin dia masih nungguin lu di taman belakang.”
“Hah? Kok elu gak bilang sih?”
“Kan barusan gue bilang kalo gue lupa.”
Aku langsung berlari ke sana. Di sini memang tersedia sebuah taman kecil yang biasanya kami gunakan untuk menghabiskan waktu kalau lagi gak ada acara di luar.
“Arien…” Sapanya ketika aku datang.
“Iya. Maaf, udah lama nunggu ya?”
“Ah engga kok. Oh iya, yang tadi udah diterima?”
“Udah… Makasih ya.”
“Happy valentine ya. Sorry ngucapinnya telat. Waktu valentine kemarin aku masih di Surabaya. Jadi ga bisa ngasih coklat deh ke kamu.”
“Ga pa-pa kok. Aku suka coklat kapan aja, apalagi gratisan, hehe.”
Selanjutnya kami larut dalam obrolan ringan tentang keseharian kami. Seperti yang biasa kami bahas tiap kali chatting.
“Trus gimana, Rien?” Tanyanya disela obrolan.
“Maksudnya?”
“Yang aku tulis di parcel itu.”
Jantungku kembali bergedup kencang, namun aku berusaha untuk tetap santai. “Gak keren ah, ngomongnya lewat surat.”
Andri pun tersenyum, “Oke, aku ulang ya. I love you, Arien. Since the first time we’ve known each other.”
“Hihihi, gombal ah!”
“Masa gombal sih? Ya beneran dong. Sekarang apa jawaban kamu.”
“Harus sekarang?”
“Iya dong, sebentar lagi kan hujan.”
“Ih gak nyambung banget sih. Apa hubungannya juga sama hujan?”
Kami kembali tertawa. Aku menatap coklat puzzle yang sudah berkurang satu keping. Dengan tangan bergetar, ku berikan coklat itu padanya.
“Hanya kamulah yang mampu melengkapi kepingan puzzle ini. Valentine memang udah berlalu, namun sampai kapanpun coklat tetap kan terasa manis. Dan… begitu juga kamu.”
Wajahnya bersemu merah ketika mendengar pujianku. Ini memang bukan tempat yang romantis. Hanya sebuah taman kecil di depan kolam ikan. Tapi sore ini aku merasa langit begitu romantis.
Satu hal yang membuat kami kembali tertawa, di belakang bungkus coklat yang dia berikan, juga tertera tulisan ‘Chocoprizz’.
“Lelaki manis, ternyata selera kita sama ya. Coklat yang manis dari Chocoprizz,” ucapku sambil menatap binar matanya.

