Tangannya terkulai di pangkuan anaknya. Anak sulungnya seorang laki-laki beranak dua dan si bungsu seorang perempuan.
Para tetangga telah memenuhi rumahnya. Di beranda, emperan, dan beberapa orang bersama anaknya di ranjang menemani wanita renta yang mereka panggil Simbok.
“Ayo, cepatlah, Din. Panggil Pak Lurah sekarang. Suruh dia untuk ke masjid. Katakan padanya jika besok aku akan mati.” rintih Simbok. Ia sesekali memandang anaknya, memohon. Adin masih patuh menggenggam tangannya. Tangan yang kini tinggal tulang berbalut kulit.
“Istighfar, Mbok.” Itulah kata yang sanggup ia ucapkan selama lebih dari dua jam. Duduk di samping Simboknya sementara adiknya hanya sanggup meneteskan air mata.
Para tetangga masih setia menemani mereka, menemani menunggui Simboknya meski satu atau dua diantara mereka memutuskan untuk pulang karena sudah larut. Satu-satunya yang setia menunggui Simbok adalah Mbah Sari, teman sehari-hari Simbok ketika salat atau pengajian ke masjid.
Adin merubah posisinya yang semula duduk di dekat kaki Simbok kini berpindah dekat kepalanya. Dielusnya kepala keriput itu, dengan halus, penuh sayang. Tulang rahang Simbok semakin menonjol berbalut kulit pipinya yang kempot. Rahang yang dulu senantiasa mengeluarkan petuah bermakna. Matanya sayu, lebih banyak terpejam daripada terbuka. Aku tidak tidur, katanya jika Adin membagunkannya saat datang waktu salat atau sekedar untuk menenggak pil.
“Menawi Panjenengan badhe mundhut sakniki, nggih monggo.”* Simbok mulai meracau seiring Adin yang semakin erat menggenggam tangannya. Adiknya mendekat lalu memegangi kakinya yang dingin. Adin masih mengusap keningnya. Beberapa tetangga yang duduk di teras masuk lalu mengelilingi Simbok.
“Gusti…” rintih Simbok lagi. Kepala Adin masih tertempel di telinga Simbok, menuntunnya megucap segala kalimat toyyibah.
“Nyenyuwun, Mbok.” Adin tercekat saat megucapkannya sementara para tetangga mulai berdatangan lagi. Menyibak tanah basah kebun belakang rumah melalui jembatan kayu kecil yang menghubungkan pekarangan.
Malam kian gelap meski diterangi sebuah lampu bohlam di sudut emparan. Daun bambu yang tertiup angin menimbulkan suara kertak yang tak asing. Tetes-tetes air hujan yang tersisa di dedaunan semakin samar oleh suara jerit da tangis.
“Innalillah…” suara itu terdengar semakin runtut seiring banyaknya tetangga yang berdatangan, mengirim doa untuk Simbok.
Adin masih memeluk Simbok dan adiknya terbaring dibawahnya dikerumuni para tetangga, pingsan. Beberapa orang berusaha menyuruhnya beranjak, namun ia bergeming. Simbok telah memenuhi panggilan-Nya, menghadap Yang Maha Kuasa.
__________________
Gemolong, 22 Februari 2012
*Jika memang mau diambil sekarang, ya, silakan (pasrah kepada Tuhan)