Back to Kompasiana
Artikel

Cermin

Saepul Solihin

Pandeglang-Banten

Mereka yang Tulus Menjadi Pahlawan

REP | 07 November 2012 | 10:40 Dibaca: 183   Komentar: 0   0

Mereka Yang Tulus Menjadi Pahlawan

Bagi sebagian orang Pahlawan adalah mereka yang gugur dimedan perang yang membasmi para penjajah contohnya Ir. Soekarno sebagai pahlawan reformasi dan Cuk chak Dien yang dijuluki sebagai pahlawan pemberontak penjajah. Namun bagaimana dengan pasangan suami istri Ibu Mulyanah dengan Bapak Cecep.Mereka adalah orang yang memiliki jiwa sosial tinggi, keteguhan hati, ketulusan jiwa, dan sangat menginspirasi saya luar dalam. Masih bingung ya mengapa saya menjawab luar dalam atau mungkin anda masih bingung siapa sih mereka? Anda mungkin akan berpikir dengan bahasa gaul “siapa sih mereka maaf ya gw ga kenal “ dan saya akan menjawab “tentu saja anda ga kenal mereka” namun mereka adalah sosok yang sangat sederhana sekali, sikap dan pengabdiannya pada masyarakat begitu tulus. Sederhana dan tulus itulah yang bisa saya gambarkan dari mereka. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai guru agama (istilah untuk seorang guru madrasah dan ngaji).

Mereka mengabdikan dirinya untuk membantu masyarakat yaitu jika siang hari Ibu Mulyanah mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Darul huda Gunungsari(MI) dan malam hari mengajari ngaji dirumhanya bersama sang suami tercinta yaitu Pak Cecep. Mereka merasa bangga walaupun tidak dibayar karena mereka bersyukur melihat semangat yang terus membara dari anak didiknya untuk tetap mencari ilmu. Banyak anak didiknya yang bersemangat mencari ilmu karena semangat mengajarnya, termasuk saya yang telah diberikan suntikan rohaniahnya untuk tetap bekerja keras dengan tulus dan beribadah dengan rajin. Ada kata-kata yang selalu saya ingat dari mereka “hargai yang muda hormati yang tua karena ilmu itu mempunyai adab dan berdoalah untuk kebaikan semua orang” itulah kata-kata yang sangat menggugah jiwa saya untuk lebih menghargai sesama, tidak sombong, berbagi kebaikan, dan ikhlas dalam melakukan sesuatu.

Apakah anda sudah terinspirasi dari cerita saya ini? Mungkin sangat sulit untuk saya bisa menggambarkan kemuliaan hati mereka ,mereka bukanlah seorang pahlawan yang gugur dimedan perang dan mempunyai banyak prestasi untuk negeri, namun yang patut kita contoh darinya adalah jiwa pengabdiannya yang begitu tulus untuk mencerdaskan anak bangsa menjadi anak yang mempunyai kepribadian yang mulia. Baiklah saya akan mencoba mengajak anda untuk bisa mengenal beliau dengan menyimak kisah perubahan hidup yang saya alami hingga saat ini. Jika syahrini bilang “alhamdulilah sesuatu” Mungkin setelah anda menyimak cerita saya akan bilang “wah alhamdulilah ya super sesuatu oh lala”. Maaf ya saya sedikit bercanda maklumlah saya ketularan gaya Syahrini dikit. Alhamdulilah anda sekarang sudah mulai tersenyum,marilah kita simak kisahnya.

Sebelum saya menimbah ilmu kepada mereka saya adalah orang yang mempunyai sifat yang selalu ingin menang sendiri, ingin dipuji, egois , keras kepala, sombong, angkuh dan orang yang kurang peduli terhadap sesama. Seiring berjalannya waktu kehidupanpun perlahan-lahan mengalami perubahan signifikan menjadi orang yang berjiwa sosial tinggi dan mempunyai cita-cita yang mulia untuk bisa membanggakan mereka serta keluarga yang memberikan kebebasan untuk memilih jalan dari kisah kehidupan yang dipilih. Banyak kegiatan sosial yang telah saya jalankan baik mengajar maupun membagikan sesuatu bagi kepentingan masyarakat luas.semua itu didapat karena mereka telah menumbuhkan kepada saya tentang arti sebuah kepedulian dan ketulusan untuk memberi.

Saya bangga terhadap pengabdian mereka kepada dunia pendidikan karena mereka begitu semangat dan tulus dalam mendidik murid-muridnya termasuk saya yang pernah di didiknya menjadi orang yang lebih baik dan peduli terhadap sesama. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keselaras hati antara kata, jiwa dan perbuatan.

Saya adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara, sekarang saya kuliah di Jakarta. Jika ditanya” mengapa bisa kuliah di Jakarta”? mungkin anda akan beranggapan bahwa “saya cerdas dan banyak duit”. Sebenarnya saya juga masih bingung kenapa saya bisa diterima kuliah di Sampoerna School of Business (Jakarta Selatan) jika dilihat dari pengetahuan bahasa Inggris, saya masih jauh kurang layak masuk ke kampus tersebut pasalnya mereka memberlakukan english environment dimana semua siswa wajib bisa bahasa international tersebut karena buku pelajaran yang kami pakai di import langsung dari Australia dan itu menggunakan bahasa Inggris serta sebagian dosennya juga dari luar negeri seperti Mesir, Amerika Serikat dan Korea.

Dan jika ditanya soal biaya kampusnya? Sangat expensive sekali karena biayanya bisa mencapai Rp. 35.000.000, 00 (Tiga Puluh Lima Juta Rupiah) per semester. Apakah mungkin bisa membayar itu semua? Rasanya sangat mustahil sekali, jika Bapak saya hanyalah seorang petani dan Ibu sebagai ibu rumah tangga yang memiliki sepuluh anak, bisa menyekolahkan anaknya ditempat yang luar biasa mahal ini, namun Tuhan berkuasa atas segala sesuatu yang dikehendakinya karena keajaiban diatas keberuntungan selalu berpihak kepada saya, hingga akhirnya bisa kuliah bersama orang-orang hebat dari seluruh belahan Indonesia di kampus yang super expensive ini.

Banyak suka duka yang saya jalani ketika berjuang melawan rasa takut untuk bisa menembus dingding keajaiban agar bisa Kuliah di Jakarta (Sampoerna School of Business) dibalik semua cerita itu adalah ada orang-orang hebat yaitu mereka(Bu Mulyanah dan Bapak Cecep) yang telah memberikan motivasi dan doronganya, agar saya bisa meyakinkan kedua orang tua agar tetap percaya dan yakin bahwa saya bisa kuliah, merekalah yang telah memberikan sejuta harapan kepada saya untuk bisa handal dalam menjalani hidup ini, merekalah yang telah menusukan peluru kemurnian hatinya, merekalah yang telah memberikan pelajaran yang luar biasa berarti dalam hidup ,merekalah yang telah memberikan kucuran doanya, merekalah yang telah memberikan ketulusan hatinya akan ilmu yang telah diberikannya, merekalah yang telah mengobati malam-malam yang penuh keberkahan, dan merekalah yang telah memancarkan semua kebaikan bagi semua insan untuk menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi.

sekarang karena ketulusan hatinya mereka dalam membantu masyarakat, akhirnya ada salah satu dari keluarga mereka yang mewakafkan dan membangunkan majlis agar mereka mengajari anak didiknya tidak lagi dirumah tempat tinggalnya namun dimajlis yang baru dibangun itu. Mereka bukanlah orang-orang yang mempunyai wawasan tinggi tentang pendidikan tinggi di negeri ini, namun mereka adalah orang-orang yang mampu memberikan arti sebuah wawasan tinggi tentang sebuah pendidikan dan pendidik, mereka tidak meraih berapa gaji yang mereka dapatkan tapi yang mereka raih adalah bagaimana semua orang bisa merasakan pendidikan yang seimbang antara pendidikan formal dan formal, walaupun mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi dan hanya mendapatkan title (ijazah paket c)tapi mereka mempunyai semangat yang berkobar untuk mencerdaskan anak didik dan anak-anaknya. Merekalah yang patut diberi gelar “Pahlawan“karena ketulusan mereka membangun negeri ini dengan dimulai memberdayakan kecerdasan dari dalam daerah.

Semoga dari cerita yang saya tulis ini menjadikan sebuah inspirasi buat kita semua untuk bisa menjalani hidup ini dengan penuh perjuangan dan mari membangun negeri ini dimulai dengan ketulusan hati disegala lini kehidupan penjuru pelosok daerah masing-masing.

Penulis

Saepul Solihin

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bila Gagal Lulus UN …

Sayidah Rohmah | | 16 April 2014 | 10:34

Menebar Rimpang Jahe Menuai Rupiah Sebuah …

Singgih Swasono | | 16 April 2014 | 09:28

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 6 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 8 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 8 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: