Back to Kompasiana
Artikel

Cermin

Pakde Kartono

Sayang istri, sayang anak, makanya disayang Allah

Perjaka Ku Hilang, Perawan Ku Dapat

REP | 02 January 2013 | 21:04 Dibaca: 9650   Komentar: 0   1

Saat aku naik kelas 2 SMA, ada guru bahasa inggris yang baru lulus sarjana dan mengajar di SMA ku, sebut saja namanya bu Rini. Ia berusia sekitar 21 tahun dan belum menikah. Kebetulan aku sangat suka pelajaran bahasa inggris, dan aku aktif dikelas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan.

Aku melihat bu Rini senang dengan kepintaranku dan aku perhatikan diam-diam ia sering mencuri pandang ke arahku. Aku senang diperhatikan olehnya, dan terkadang ia tak segan-segan memujiku di depan kelas agar teman-teman bisa aktif sepertiku dan menjawab pertanyaan serta mendapat nilai bagus dalam setiap ulangan.

Sampai suatu hari aku memberanikan diri bertanya kepadanya, apakah ia berkenan memberi les tambahan sepulang sekolah, supaya aku lebih cepat menguasai bahasa inggris. Alangkah senangnya hatiku, ia tak menolak permintaanku dan les tambahanpun dilaksanakan di rumahku sekitar jam 3 sore.

2 bulan les tambahan berlangsung, tak terasa kami menjadi akrab, kadang bercanda dan tertawa lepas karena suatu hal yang lucu. Aku menjadi tak canggung lagi terhadapnya, aku menganggapnya sebagai temanku, bukan sekedar guru, begitupun ia menganggapku sebagai temannya bukan sekedar muridnya.

Sampai suatu saat rumah sepi, mama ada urusan keluar rumah baru balik malam, kakak belum pulang kuliah. Aku terbawa suasana,aku melihat hari ini bu Rini terlihat sangat cantik.

Aku gugup luar biasa, ku tatap matanya, ia balik menatap tajam mataku, tak melepaskan barang sedetikpun. Aku malu, mukaku merah, lalu aku permisi ke belakang mau ambil minum. Entah setan lewat atau apa, sehabis minum aku melihat bu Rini sedang membalik-balik majalah di sofa ruang keluarga, aku peluk dia dari belakang. Ku peluk kencang, ia tak menolak, bahkan berbalik badan dan balas memelukku.

Aku tak tahan menahan gejolak di dada, kubawa bu Rini ke kamar, ia tak menolak dan menuruti langkahku, sampai terjadilah kejadian yang pertama kali terjadi dalam hidupku. Keperjakaanku hilang, dan yang membuatku tak percaya, bu Rini ternyata masih perawan.

Keperawanan bu Rini hilang bersamaan dengan keperjakaanku. Pantas saja kami berdua sama-sama seperti orang bodoh tak tahu mesti berbuat apa, semua terjadi begitu natural, tanpa direncanakan dan tak bisa dihindarkan.

Selesai kejadian hari itu, beberapa kali aku mengulanginya kembali di lain kesempatan. Kita tak ada komitmen berpacaran, karena aku takut dimarahi orang tuaku, dan bu Rini takut diberi sanksi oleh sekolah dan malu akan omongan orang-orang jika ketahuan dekat dalam arti lain dengan muridnya.

Sampai akhirnya saat aku naik kelas 3 bu Rini tidak mengajar lagi di SMA ku, dan dia pindah dari rumahnya tanpa memberi kabar pindah kemana. Desas desus yang ku dengar ia melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri. Aku hanya bisa diam dan terkenang tentang bu Rini.

Aku berpikir mungkin bu Rini pergi karena menghindar dariku. Menghindar dari perasaan cinta dan sayang yang tak tersampaikan, karena cinta dan sayang yang terlarang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 6 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 10 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 10 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 10 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 11 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 12 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: