Back to Kompasiana
Artikel

Cermin

Yumi Aya

Iam Yumi Aya…My hobby is reading and planting. I like joining organisation too. I live selengkapnya

Satu Pengalaman di Mangrove Center Tuban

REP | 22 February 2013 | 05:20 Dibaca: 272   Komentar: 0   0

SATU PENGALAMAN DI MANGROVE CENTER TUBAN

Inilah hari dimana kami semua harus berangkat untuk mengikuti diklat. Ini adalah diklat lingkungan yang pertama kali yang pernah saya ikuti. Sebenarnya dalam benakku aku bertanya- tanya sebenarnya apa yang akan kami lakukan disana. Ketika membayangkan tempat yang akan kami kunjungi untuk diklat di Tuban aku teringat kampung halamanku yang juga terletak di Tuban. Kampung halaman yang aku rindukan. Disana ada kedua orang tuaku yang setiap saat siap menerima kedatanganku dan saudara-saudaraku. Aku rindu akan kehadiran mereka disisiku. Aku berharap suatu saat kalau aku mempunyai rumah sendiri aku bisa merawat mereka.

Malam yang kelam kami berangkat dari Surabaya untuk mengikuti Diklat tentang Dai Daiyah lingkungan Jawa Timur. Jadwal berangkat sebenarnya jam 7 tapi karena kami harus ngaji dulu maka jadwal keberangkatan ditunda. Selain itu kami harus menunggu kedatangan bis. Kami dari Ngagel ada empat orang yang mengikuti diklat yaitu aku, adikku susi, mb via dan mb utami. Sebenarnya aku juga mendaftarkan mb Prapti tetapi karena kuotanya penuh akhirnya mbak Prapti tidak bisa ikut. Aku dan kawan-kawan berencana berangkat jam empat sore untuk mengikuti Hailallah tetapi ini adalah takdir ALLAH sehingga kami harus berangkat dari Ngagel sehabis magrib. Adik Koskku yang paling kecil menangis ketika mengetahui aku mau berangkat. Dia menangis karena merasa sendirian, Aku tidak tega meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu. Ini sudah jadi kehendak Allah ketika kami memutuskan untuk berangkat tiba-tiba hujan deras. Akhirnya kami menunda sampai hujan reda. Setelah hujan reda tiba-tiba aku mendengar suara letusan. Ternyata itu adalah suara letusan lampu depan kamar mandi. Akibatnya seluruh lampu ditempat kos kami padam. Aku mencoba melihat sekeliling ternyata yang padam hanya lampu kosku saja. Dengan ded-degan aku mencoba memperbaikinya. Inilah pertama kalinya aku memperbaiki listrik. Aku paling takut dengan listrik, takut kesetrum. Biasanya yang memperbaikinya itu Bunda. Karena dia sekarang sudah menikah akhirnya pindah. Alhamdulillah dengan kuasa ALLAH lampunya bisa menyala seperti biasa, cuma lampu yang meletus tadi tidak bisa menyala lagi. Setelah menunggu selama beberapa saat Alhamdulillah salah satu temanku datang untuk menemani dik Nita. Akhirnya kami bisa berangkat kepondok dengan tenang.

Sesampainya di Pondok kami mendengar suara adzan, dan kami sholat berjamaah dulu di pondok sebelum berangkat. Kami berangkat sekitar jam sembilanan. Peserta diklat ada sekitar lima puluhan. Tiga puluh satu laki-laki dan sembilan belas perempuan. Untuk panitianya yang saya tahu adalah Ustad Idrus, Ustad Hadi, ustad Nefi dan Ustad Zaenal. Yang lainya aku kurang tau. Para peserta berasal dari berbagai kalangan. Ada dari Ustadz, mahasiswa, guru, pengusaha, wiraswasta, dan lain-lain. Untuk yang mahasiswa rata- rata dari IAIN. Aku berharap untuk diklat selanjutnya seluruh kampus di surabaya dapat mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti diklat sehingga mereka yang mengikuti diklat dapat menularkan ilmu yang sudah dimiliki kepada yang lain. Sehingga meraka akan lebih sadar akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan karena mahasiswa adalah agen of change. Kami yang mengikuti diklat memiliki satu tujuan yaitu untuk tholabul ilmi. Pemimpin rombongan kami adalah pak Lurah, aku tidak tau siapa nama lengkapnya. Didalam bis kami mendapatkan kaos yang akan kami pergunakan selama diklat. Semua ukuranya sama jadi kami tidak perlu repot-repot untuk memilihnya. Sebelum berangkat kami berdoa bersama semoga kami diberikan keselamatan dalam perjalanan kami kali ini. Pak Lurah menyampaikan pesan Abuya lutfi, Guru kami dan Resi Agung KAPAL ( kenduri Agung pengabdi lingkungan) untuk selalu berdzikir, selalu mengingat Allah sepanjang perjalanan kami, untuk bacaannya terserah mana yang kami sukai. Aku mencoba mengikuti saran guru sampai tertidur. Dan tiba-tiba kami sudah sampai di Mangrove Center Jenu, Tuban. Ada yang bilang bis kami sempat tersesat tapi alhamdulillah atas pertolongan Allah kami sampai tujuan dengan selamat. Kami turun didepan jalan raya, kemudian kami harus berjalan dikegelapan malam untuk sampai di aula. Kami harus berhati-hati karena habis hujan sehingga menyebabkan jalan agak sedikit becek. Aku pernah datang ke tempat ini sekali ketika mengikuti peresmian Bank mangrove center Desember tahun lalu oleh pak Dhe bersama rombongan dari Pondok Abuya juga. Sesampai di aula kami disambut dengan ramah oleh tiga orang. Dalam hati aku bertanya tanya siapakah mereka karena selama ini kami tidak pernah mengenal mereka. Kami dipisahkan antara kelompok putri dan putra. Setelah Itu mereka bertiga memperkenalkan diri. Mereka adalah Ustad wadud, Ustad Fauzi dan Ustad Yusuf. Meraka para trainer yang akan memberikan diklat kepada kami selain guru utama kami, Abuya Lutfi. Pertama-tama mereka memberikan ucapan selamat datang dan meminta kami untuk menganggapnya seperti biasa tidak lebih. Kemudian para Trainer membagi kami dalam empat kelompok untuk mendapatkan kamar dimana kami nantinya beristirahat. Aku berharap mendapatkan kamar belakang. Tidak tahu alasanya apa. Alhamdulillah aku mendapatkan kamar yang aku inginkan.Ustad Fauzi bertanya kepada kami mengapa kami terlambat datang, dan beliau mengatakan ini adalah bagian dari outbound kami, jadi kami harus bersabar. Kemudian para trainner memberikan tiga telur kepada kami, yang terdiri dari telur puyuh, telur kampung berwarna putih dan telur ras yang berwarna coklat. Ustad Fauzi menerangkan telur puyuh adalah telur yang mudah pecah kemudian disusul telur kampung dan yang paling kuat adalah telur ras. Kami harus menjaga telur-telur kami agar tidak pecah, karena ini adalah amanah. Dimanapun dan apapun kegiatan diklat kami diwajibkan untuk membawanya seperti tidur, mandi dan kegiatan lainnya. Setelah itu Ustad Fauzi memberikan perintah untuk mengambil tiga barang dari tas kami yang menurut kami paling berguna. Kami tidak diijinkan membawa Hp atau alat komunikasi yang lain, jadi disini kami dikondisikan untuk benar-benar belajar yang tidak terpengaruh oleh HP karena sekarang banyak siswa-siswa yang lebih mementingkan Hpnya daripada belajar. Kemanapun mereka pergi barang yang tidak bisa ditinggal adalah HP. Selama kami disini, kami di didik untuk tidak tergantung pada HP. Selama tiga hari kami tidak diperbolehkan menggunakanya. Ada salah satu peserta yang beralasan karena tidak membawa buku dan alat tulis dia berharap untuk diperbolehkan untuk menggunakan Hpnya karena semua datanya tersimpan di Hp. Panitia tetap tidak mengijinkannya. Kami benar-benar harus belajar untuk bebas dari HP. Aku sendiri juga masih suka membawa hp kemanapun aku pergi karena aku membutuhkannya untuk berkomunikasi dengan murid-muridku. Tapi disini aku mencoba untuk menyingkirkannya. Aku memilih buku, bolpoin, sleyer, dan kamera. Aku memutuskan untuk membawa kamera karena aku merasa kamera penting untuk dokumentasi. Setelah kami memilih barang-barang yang kami anggap penting, kami harus meninggalkan tas kami di aula. Aku juga membawa tas yang sangat berat yang berisi bermacam-macam barang yang akan kami perlukan selama diklat. Tapi aku merasa itu tidak terlalu diperlukan selama diklat tiga hari disini. Selama Diklat kami tidak diijinkan untuk berganti baju selain dari kaos yang kami gunakan. Kecuali perempuan dapat mengganti daleman. Selain itu tidak boleh. Dalam diklat kali ini kami akan mendapatkan reward dan punishment. Kami akan mendapatkan reward jika bisa melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh trainer dengan baik dan benar. Dan sebaliknya untuk punishment. Setelah semuanya selesai kami diijinkan untuk meninggalkan aula dan beristirahat. Rasanya nyenyak sekali tidur malam ini. Aku bangun jam 3.30 untuk sholat tahajud dimusola sebelah kamarku. Ketika sampai disana sudah banyak para peserta yang lain yang juga mengerjakan sholat Tahajud. Setelah sholat tahhajud kami menunggu adzan berkumandang. Yang bertugas sebagai muadzin kali ini adalah ustad Idrus. Kami semua hening atas lantunan panggilan Allah untuk sholat Shubuh. Akhirnya kami sholat shubuh berjamaah dengan dipimpin oleh Abuya lutfi Muhhammad. Setelah Sholat Shubuh kami mengikuti Abuya untuk Hailallah. Hailallah adalah dzikir dengan ucapan laaillahaailllalah dengan suara yang keras dan disertai gerakan-gerakan tertentu. Abuya mengatakan bahwa kalau kita bisa melakukan haillallah dengan benar itu dapat mengusir CO2 dari tubuh kita. Karena CO2 yang terlalu banyak akan mempengaruhi kesehatan kita.

Selesai sholat kami mandi untuk menghapus sisa kepenatan dalam tubuh kami. Setelah itu aku dan teman-teman pergi kepantai untuk menikmati indahnya pemandangan pagi, dipantai Jenu Tuban. Dipantai ini masih terlihat asri. Lautnya yang berwarna biru, menambah indahnya panorama pantai ini. Meskipun sangat indah tapi hanya sebagian saja orang yang mengetahui tentang keberadaan pantai ini. Aku sendiri yang orang Tuban asli juga baru mengetahuinya sekarang setelah mengikuti kegiatan pondok. Aku berkunjung dipanta Jenu dua kali ini. Pantai ini akan semakin indah jika ada beberapa pembenahan dan perbaikan di berbagai sisi untuk menarik para wisatawan datang kepantai. Seperti penyediaan fasilitas bermain baik darat dan air. Untuk yang darat bisa dibangun arena bermain untuk anak-anak seperti di WBL. Untuk diair bisa dibangun ski, snorkling dsb. Selain itu harus ada juga tempat peristirahatan yang nyaman seperti hotel, cottage dsb. Fasilitas- fasilitas umum seperti toilet, canteen juga perlu ada. Pemberdayaan sumber daya alam dan manusia harus berjalan seimbang. Usahakan yang mengelola adalah orang Tuban asli bukan pihak yang lain Pantai ini lokasinya sangat strategis. Terletak dijalan Pantura yang mudah dijangkau dan tidak jauh dari pusat kota Tuban. Jadi para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini bisa juga berkunjung ke Sunan Bonang Di Tuban. Selain itu dapat dipamerkan oleh-oleh khas Tuban yaitu legen. Selain pantainya, hutan Mangrove adalah salah satu kebanggaan yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Di tempat ini aku dapat menemukan berbagai bibit tanaman dan bisa mendapatkannya secara gratis dari Abah Ali Mansyur.

Setelah puas menikmati indahnya pantai Jenu Tuban, kami berkumpul lagi di Aula tentu saja dengan memakai kaos kebesaran kami. Setelah para peserta datang acara akan segera dimulai dengan pembukaan. Yang bertindak sebagai Presenter kali ini adalah Ustad Munir. Acara akan dibuka Oleh Ketua KAPAL Jatim, Prof Suparto. Beliau adalah contoh generasi muda yang sukses. Meskipun dalam kondisi kurang sehat beliau usahakan datang ke Tuban untuk membuka acara Dai daiyah lingkungan Jawa Timur. Setelah memberikan sedikit semangat kepada kami acara resmi dibuka. Kemudian acara selanjutnya adalah pemberian lencana kepada beberapa orang. Seperti kepada Abah Ali MAnsyur beliau mendapatkan tiga buah lencana. Pertama dari Gubernur Jawa Timur Pak Dhe, yang kedua dari ketua Kapal Jawa Timur, Prof, Suparto Wijoyo. Dan yang ketiga dari Abuya lutfi Muhammad PENUS MTI. Abah Ali mendapat julukan dari Abuya, Yai ali bukan Kyai ali. Abuya memanggil beliau Bupati Swasta Tuban. Abah Ali pantas mendapatkan penghargaan diatas karena dedikasinya terhadap lingkungan yang luar biasa dan sangat menginspirasi generasi pemuda untuk menjadi generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Bukan generasi yang cuek dan tak peduli apapun. Kemudian acara dilanjutkan dengan pengesahan reporter dari Kapal. Ada lima orang yang disyahkan secara resmi. Mereka adalah Ustad Hadi, Ustad Nefi, ms Deni lensa, ms Pandu. Ada satu reporter perempuan yang disyahkan juga dan aku tidak mengenalnya siapa dia. Acara ini disiarkan ulang di TVRI hari senin.

Setelah acara pembukaan diklat kegiatan dilanjutkan dengan pemanasan oleh para Trainer. Pertama-tama Para trainer membagi kelompok kepada kami menjadi lima kelompok. Mereka adalah dua kelompok putri dan tiga kelompok putra. Setiap kelompok memiliki nama masing-masing. Mereka dapat menentukan nama kelompoknya sendiri-sendiri. Kelompok putra terdiri dari kelompok Jati diketuai oleh Ustad Munir. Kelompok Phiton diketuai oleh Abu Shakir. Dan kelompok Cemara, aku tidak tahu siapa nama ketuanya. Salah satu nama kelompok putri adalah green spirit. Mereka terdiri dari sepuluh orang, termasuk adikku. Dan kelompokku sendiri namanya adalah Kelapa. Kami memilih kelapa karena kelapa memiliki filosofi kehidupan yang sangat dalam. Jadilah orang seperti kelapa mulai dari akar sampai daun semuanya ada gunanya. Setelah menentukan nama kelompok kami harus membuat yel-yel untuk kelompok kami. Kami membuat yel-yel judulnya iwak peyek lagunya bonek dan ditutup dengan jargonnya Syahrini, “Alhamdulillah ya, sesuatu”. Ketua dalam kelompokku adalah Ummi Yayuk, Beliau sangat lincah dan aktif sekali.

Panitia memberikan waktu kepada kami untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya. Menu untuk sarapan pagi ini adalah pecel. Dalam hati kecilku kok pecel ya?karena memang aku tidak suka pecel. Meskipun tidak suka aku tetap memakannya. Rasa pecel Tuban lain dari yang lain mempunyai ciri khas tersendiri dari pecel daerah lain. Pecel yang lezat ditambah situasi yang nyaman membuat kami sangat menikmati hidangan pagi yang disuguhkan itu hingga kami tidak sadar bahwa guru kami Abuya dan ketua kapal, Prof. Joyo belum sarapan juga. Biasanya kalau acara-acara lain bahkan untuk acara pengajian sekalipun, untuk urusan makanan atasan atau Yai selalu didahulukan atau bahkan mereka dilayani khusus, lain dari yang lain. Dan baru kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri salah satu contoh pemimpin yang bagus dan layak ditiru. Mereka tidak mendapatkan perlakuan khusus bahkan mereka makan dengan sisa makanan yang ada dan tidak protes. Subhanallah. Semoga aku bisa meneladani sifat kepemimpinan Abuya dan Prof. Suparto Wijoyo. Disini aku mendapatkan ilmu yang sangat berharga untuk dipraktikkan dalam masyarakat, jika menjadi seorang pemimpin harus mendahulukan orang yang dipimpinnya jangan egois dengan kepentingan pribadi. Karena pada hahekatnya seorang pemimpin adalah seorang pelayan masyarakat yang harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Bukan pemimpin yang mendapatkan fasilitas utama seperti pemimpin indonesia kini. Kita butuh sosok pemimpin yang benar-benar memiliki jiwa kepemimpinan, sehingga kita yang di pimpinnya dapat hidup damai, tidak merasa takut. Inilah pelajaran pertama yang aku dapatkan selama diklat.

Setelah kami selesai sarapan pagi akhirnya kami harus kembali lagi ke aula untuk mengikuti acara selanjutnya. Para trainer sebelum melanjutkan acara menanyakan apakah kami masih membawa telur-telur yang diberikan kepada kami tadi malam. Aku merasa deg-degan karena sebelum sarapan aku tadi meninggalkanya diatas meja aula bersama tiga kelompokku yang lain. Mereka adalah Ummi Yayuk, Alfi, dan wasi’. Ummi Yayuk tadi menyarankan kepada kami untuk meninggalkannya agar tidak kerepotan ketika sarapan. Kami tidak pernah berfikir bahwa telor-telor kami akan di ambil oleh panitia. Dan kami pasti akan mendapatkan punishment. Para trainer meminta kami untuk mengangkat tangan bagi peserta yang menghilangkan telornya. Aku juga mengangkat tangan. Selain aku dan ketiga kelompokku dari kelompok kelapa ada satu peserta dari kelompok lain. Total ada lima peserta yang mendapatkan hukuman. Terbanyak dari kelompokku. Dan hukumannya adalah kami mendapatkan bendera hitam. Tidak itu saja punishmentnya. Para trainer meminta anggota kelompok juga memberikan punishment. Dari kelompok kelapa aku mendapatkan hukuman untuk menyanyi bersama ketiga temanku. Kami menyanyikan lagu balonku dengan lirik yang sudah kami ubah. Lucu banget. Rasanya malu kami harus menyanyi didepan para panitia, trainer dan peserta yang lain. Alhamdulillah ada temannya jadi aku merasa agak confident. Setelah mendapat hukuman kami kembali ke kelompok untuk berdiskusi tentang lima tata tertib yang harus kami taati selama diklat. Sementara peserta sibuk menyusun peraturan, para trainer memanggil ketua kelompok masing-masing kelompok untuk mengambil sesuatu. Ummi Yayuk membagikannya kepada kami. Ternyata itu adaah balon. Setiap anggota kelompok mendapat satu balon. Aku memilih warna hijau karena memang itu adalah warna kesukaanku. Aku tidak tahu akan diapakan dengan balon itu. Tiba-tiba para trainer memberikan aba-aba untuk meniup balon sampai meletus. Aku deg-degan. Aku paling takut dengan bunyi-bunyian seperti kembang api, mercon dan balon. Dan ini aku harus meniupnya sampai meletus. Aku berdoa pada Allah semoga aku bisa melakukanya. Aku berusaha untuk menghilangkan rasa takut dengan melihat teman-temanku. Ada satu peserta yang sudah berhasil meniupnya sampai meletus. Dan beliaunya mendapatkan satu reward yaitu satu bendera putih. Semua peserta berusaha meniup balonnya sampai berhasil. Hampir semua peserta sudah berhasil meniup balonnya. Tinggal empat peserta yang belum selesai. Mereka adalah mb Utami, Asya, satu peserta cowok dan aku sendiri. Banyak teman-teman yang menyemangati kami. Tidak berapa lama alhumdulillah aku berhasil. Kemudian disusul Asya. Dan tinggal mb utami dan satu peserta cowok. Para peserta dengan bersemangat memberikan dukungannya. Akhirnya tinggal mb Utami saja yang belum meletuskan balonnya. Setelah beberapa lama ditunggu ternyata mb Utami masih belum meletuskn balonnya. Akhirnya panitia membantunya dengan sebuah jarum. Akhirnya meletus juga. Setelah acara tiup balon selesai para trainer menyampaikan pesan yang terkandung pada acara tiup balon itu yaitu kita harus yakin akan keberadaan ALLAH. Dia lah yang akan membantu kita dalam menyelesaikan setiap problem kita.

Setelah permainan selesai acara dilanjutkan dengan pemberian materi pertama oleh Resi Agung Kapal Jatim Abuya Lutfi Muhammad. Abuya memberikan materi dengan gaya yang renyah, santai, enak didengar dan mudah diterima. Abuya mengajak kami para peserta untuk tidak mencintai uang. Beliau mengajarkan untuk membenci uang. Beliau berpesan untuk bekerja secara cerdas artinya bukan kita yang memburu uang tetapi uanglah yang seharusnya mengejar kita. Jika seseorang yang belum waktunya kaya meskipun dia bekerja siang malam, ibarat kepala dipakai kaki, kaki dipakai kepala maka dia tidak akan bisa kaya. Kekayaan itu hanyalah sebentar, tidak abadi. Ada orang yang kaya raya tapi ketika Allah menakdirkan dirinya untuk menjadi miskin maka dia akan menjadi miskin. Dan sebaliknya meskipun seseorang dari keluarga miskin kalau Allah sudah menakdirkan menjadi kaya maka dia akan menjadi orang yang kaya. Intinya bahwa kita boleh bekerja mencari uang tetapi jangan sampai berfikiran bahwa uang adalah segala-galanya dan mendewakannya.

Abuya kemudian melanjutkan dengan bertanya kepada peserta sebenarnya apa tujuan para peserta mengikuti diklat. Dan kamipun mempunyai jawaban yang bermacam-macam. Ada peserta yang menjawab tujuannya mengikuti diklat adalah untuk bersyukur kepada ALLAH, dan ada yang menjawab untuk dapat memilah sampah dengan baik dan benar. Dan akupun memiliki jawaban sendiri. Abuya mengatakan bahwa kita datang ke diklat di Mangrove center Jenu Tuban ini tujuannya adalah untuk tholabul ilmi bukan yang lain. Itu artinya bahwa selama dua hari diklat di Tuban para peserta harus benar-benar belajar. Belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sekarang. Hadist nabi barang siapa yang hari ini sama dengan hari ini adalah orang yang merugi. Sehingga ilmu yang diperoleh selama diklat dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara dan juga lingkungan sekitar. Dan apabila ada peserta yang memiliki tujuan lain segera dihilangkan dari pikiran sehingga niat kita tidak tercampur dengan niat-niat lain yang tidak diperlukan selama diklat. Niat adalah langkah utama dalam menjalankan setiap pekerjaan. Segala sesuatu dilihat dari niatnya, jika niatnya baik maka hasilnya akan baik juga, insyaALLAH.

Abuya melanjutkan dengan menjelaskan enam etika sebagai Dai Daiyah Lingkungan Hidup. yaitu :

1. Berdakwah berbasis prinsip dasar Pancasila bagi keunggulan NKRI yang maritim sebagai wujud peneguhan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk kemaslatan makhluknya.

2. Mendakwahkan ilmu pengetahuan diniah dengan mengedepankan tanggung jawab Alquran dan Alhadist guna menjaga martabat kemanusiaan dan kealaman sebagai wujud syukur atas alam NKRI.

3. Menjalankan tugas Dai/Daiyah dengan penuh etika daan estetika untuk menjadi penuntun budi pekerti dalam rangka memperkokoh kebangsaan Indonesia dengan dakwah lingkungan berkelanjutan.

4. Memantapkan kaidah ilahiah, insaniah, dan alamiah dalam setiap kebutuhan jelajah KAPAL Jawa Timur.

5. Meneguhkan gerakan ramah lingkungan dan ramah kemanusiaan dengan dedikasi yang benar lagi bersih sebagai tugas untuk membangun eco-society.

6. Menghormati guru dan memberikan teladan hidup harmoni mewujudkan Indonesia Bersih, Hijau dan Biru.

Itulah keenam hal yang disampaikan Abuya dan harus ditaati bagi semua Dai dan Daiyah Lingkungan hidup. Untuk point pertama Abuya mengulas tentang Menomorsatukan Allah dalam berbagai kesempatan. Allah ada dalam diri setiap orang. Ketika kita membutuhkan Allah kita tinggal memanggil Allah. Kita harus sharing dan curhat hanya kepada Allah bukan kepada manusia yang notabenya sama. Sama-sama bergantung kepada yang lain. Sama- sama suka mengeluh jika memiliki masalah. Abuya bercerita sewaktu kecil ketika belayar dilaut bersama Ayahnya tiba-tiba perahunya terbalik. Dan Ayahnya membiarkanya kalau belum waktunya meninggal maka beliau tak akan meninggal dunia. Beliau berdoa kepada Allah untuk diselamatkan. Dan Beliau diselamatkan Allah melalui pertolongan ayah beliau. Ayah beliau berkata bahwa yang menyelamatkan beliau bukan ayah beliau tetapi Allah. Dalam hal ini Abuya memberikan motivasinya kepada kami bahwa dalam kondisi apapun ALLahlah yang akan menolong kita asalkan kita selalu berfikir positif percaya dan yakin 100 persen akan keberadaan Allah. Dan Abuya menyarankan mintalah Allah untuk mengapresiasi semua karya kita. Jangan sampai meminta apresiasi pada manusia karena itu tidak ada gunanya.

Abuya menyampaikan materi sampai tak terasa waktunya hampir habis, kamipun terhanyut oleh ihtibar-ihtibar yang beliau sampaikan. Setelah beliau selesai menyampaikan materi dengan tanya jawab dengan dipandu oleh trainer. Setelah selesai, acara dikembalikan lagi kepada para trainer. Mereka mengulas sedikit penjelasan Abuya tentang menomorsatukan Allah dan meminta peserta untuk menghubungkanya dengan permainan peniupan balon tadi. Mereka meminta mb Utami untuk maju kedepan untuk menjelaskan. Para trainer meminta mbak utami untuk maju pertama kali dengan alasan karena dialah yang terakhir yang meletuskan balon. Mb Utami mengatakan bahwa dia harus optimis bahwa dia dapat meniup balon sampai meletus dan dia akan berusaha terus. Setelah mb Utami para trainer juga memanggil para peserta yang lain. Dan mereka juga memiliki pendapat sendiri. Ada yang mengatakan karena dia lagi beruntung dan ada juga yang mengatakan kalau semua sudah takdir Allah. Selain itu para trainer meminta kelompok untuk memberikan ulasannya termasuk kelompoku kelapa. Karena tertarik sekali dengan penjelasan dan tausiah Abuya aku segera menulis hingga dapat satu lembar lebih tentang materi yang disampaikan Abuya. Beberapa kelompok lain sudah dikumpulkan dan dibacakan oleh para trainer. Ketika tiba giliran kelompokku Ummi Yayuk mengusulkan agar aku membacakannya sendiri. Dengan senang hati para ustad mempersilahkanya. Dan Ummi Yayuk memintaku untuk membacakanya karena aku yang telah membuatnya. Rasanya gemetar aku menerima tugas ini. Akhirnya aku maju kedepan untuk membacakanya. Sebelumnya aku meminta maaf pada trainer karena tidak menyangka Ummi Yayuk mempunyai usulan seperti itu dan aku yang harus membacakannya. Dengan sedikit gemetar aku bacakan poin-poinnya saja, tidak kubaca semua. Alhamdulillah akhirnya selesai.

Acara selanjutnya adalah outbond. Kami berkumpul menurut kelompok kami masing-masing. Kemudian kami harus menutup mata dengan slayer yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Kami harus membuat lingkaran, karena kelompok kami ada sembilan peserta maka susunannya menjadi, dua ditengah, tiga membentuk lingkaran luar dan tiga lagi membentuk lingkaran di luarnya. Kemudian masing-masing ketua membimbing kami untuk berjalan di suatu tempat. Ummi Yayuk luar biasa sekali dalam membimbing kami menuji tempat yang akan kami tuju. Setelah sampai kami boleh membuka mata ternyata dibawah pohon cemara dekat laut.

Kegiatan selanjutnya adalah menutup mata tanpa slayer. Ini lebih sulit dari yang pertama. Disini para peserta dituntut akan kejujurannya. Kami di bimbing Ummi yayuk, mengelilingi daerah pantai dengan mata tertutup. Ummi Yayuk ingin kami segera sampai jadi kami harus cepat-cepat menyalib kelompok yang lain. Sebenarnya kalau kita mau kita bisa membuka mata kita. Karena tidak mungkin para trainer dan panitia yang jumlahnya terbatas akan mengawasi kami satu persatu. Kami tidak berani membukanya karena meskipun mereka tidak tahu, Allah Maha tahu. Inilah ujian kejujuran untuk kami yang sebenarnya. Ini untuk mengetahui dan mengecek diri kita jujur apa tidak. Tapi alhamdulillah kami bisa menyelesaikan rintangan dari para panitia dan trainer. Dan panitia mengatakan hampir 99% dari kami jujur, tak ada yang membuka mata.

Setelah kegiatan ini selesai para peserta dipersilahkan untuk istirahat dan makan siang sampai jam satuan. Kami juga dapat memanfaatkan waktu istirahat untuk sholat. Untuk peserta yang perempuan bisa sholat di Mushola. Tetapi untuk peserta laki-laki di sarankan untuk sholat di tepi pantai, di bawah pohon cemara. Sungguh-sungguh dai lingkungan yang nyata. Sholat yang menyatu dengan semilirnya angin dan hembusan ombak pantai, membuat sholat dhuhur mereka kian terasa khusuk dengan Ustad Munir sebagai imamnya. Sayang sekali kami yang perempuan tidak ikut. Setelah sholat kami disuguhi hidangan yang lezat juga, rata-rata ikan laut. Kami sangat menikmati hidangan tersebut. Kami istirahat sebentar sampai sekitar jam dua kami kembali lagi ke aula untuk mendapatkan materi selanjutya. Penyajinya kali ini adalah seorang profesor. Namanya profesor Prasetyo Riyadi. Beliau ahli dalam bidang Hukum. Beliau adalah salah satu dosen yang sangat konsen dalam bidang lingkungan. Beliau akan memberikan materi tentang etika ekologi.

Beliau menerangkan tentang kebenaran. Menurut beliau tak ada kebenaran yang absolut. Ada dua jenis kebenaran yaitu kebenaran sementara dan kasat mata (empirik). Untuk mengetahui kebenaran Allah dapat melalui kebenaran pancaindra, akal, dan hati. Beliau juga menyarankan agar kita tidak boleh berkomentar sebelum mengetahui kenyataanya. Lebih baik diam. Sebenarnya aku kurang mengerti dengan penjelasan beliau soalnya temanya tentang etika ekologi tetapi beliau menjelaskan tentang kebenaran. Yang jelas kita harus menyakini akan kebenaran keberadaan Allah SWT. Jangan pernah berbicara dan berkomentar kalau kita tidak mengetahuinya secara pasti, begitu kira-kira isi materi dari beliau.

Tak terasa waktu berjalan sangat cepat meskipun moderator hanya memberikan waktu tiga puluh menit tetapi acara menarik hingga berlanjut berlanjut hingga lebih dari satu setengah jam. Setelah itu acara dilanjutkan dengan istirahat dan membersihkan diri dan sholat asyar dan magrib. Setelah itu makan malam bersama. Makan malam terasa sangat menyenangkan dengan panorama alam yang alami yaitu semilirnya hembusan angin malam dan pemandangan air tambak yang terlihat sangat indah.

Selesai makan malam panitia mengarahkan kami untuk mengikuti acara selanjutnya. Setelah kami semua berkumpul panitia menjelaskan bahwa hari ini akan diterapi kesehatan oleh ustad Sahl Asrori. Ustad Sahl juga salah satu peserta diklat yang memiliki keahlian khusus. Ustad Sahl maju kedepan untuk menjelaskan tentang terapi yang telah beliau praktikkan atas persetujuan Abuya. Ternyata beliau sudah memiliki pasien yang sangat banyak. Beliau meminta salah satu peserta untuk maju kedepan untuk dijadikan sebagai model dalam praktek beliau. Beliau mengatakan bahwa dalam melakukan gerakan terapi ini harus maksimal untuk mendapatkan hasil yang maksimal juga. Tapi yang terpenting adalah bahwa ketika melakukan terapi harus yakin dan percaya dengan sepenuh hati bahwa nantinya yang menyembuhkan adalah Allah SWT, bukan yang lain.

Aku menghitung ada sembilan gerakan dalam terapi beliau. Sebelum melakukan gerakan ini harus membaca basmallah dulu, salah satu tanda bahwa kita menomorsatukan Allah dalam setiap langkah hidup kita. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan pertama yaitu dengan membungkukkan badan, tangan menyentuh ibu jari kaki, kepala menunduk kebawah dagu menyentuh dada. Dan pernapasan yang dilakukan adalah pernapasan perut. Pernapasan perut dilakukan agar kita bisa melakukan gerakan sampai selesai. Selama kita menunduk harus membaca salawat atas nabi Muhammad sebanyak sebelas kali. Setelah itu tengok kepala kekanan dan kekiri sambil mengucapkan kalimat tasbih. Tangan diletakkan ke lantai. Bernapas dengan tenang seperti bayi. Pada gerakan pertama ini berfungsi untuk melancarkan aliran darah. Biasanya aliran darah yang tidak lancar yang membuat kita gampang merasa capai. Selain itu gerakan pertama ini berfungsi untuk membuat otak lebih encer. Bahasa halusnya membuat manusia menjadi lebih pintar dan smart. Aku sendiri tidak tahu apakah itu benar atau salah. Yang terpenting percaya dulu dan melakukan semua yang diperintahkan Ustad Sahl. Pada mulanya untuk melakukan gerakan pertama ini sangat sulit sekali, tetapi setelah Ustad Sahl menotok aliran darah kami dipunggung gerakan pertama dan terakhir menjadi lebih mudah. Beliau menotok tiga bagian dari punggung kami semua. Aku tidak tahu bagian mana yang ditotok. Agak sedikit sakit bekas totokan beliau. Tapi setelah beberapa lama sakitnya hilang.

Gerakan kedua dilanjutkan dengan memegang jari kaki yang kedua. Semua gerakannya sama dengan gerakan pada ibu jari. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan memegang jari tengah. Semua gerakannya juga sama dengan ibu jari dan jari yang kedua. Jika kita memiliki sakit ketika setelah selesai salawat atas nabi bisa berdoa sepenuh hati kepada Allah untuk diberikan kesembuhan. InsyaAllah semua sakit akan sembuh.

Gerakan keempat dengan memegang jari yang keempat cara melakukannya sama dengan memegang jari pertama, kedua, dan ketiga. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan kelima dengan memegang jari kelingking. Ketika kita memegang jari kelingking dan merasa bergetar ketika bersalawat itu tandanya bahwa kita masih belum bisa sabar. Untuk masalah kesehatan berarti kolesterol dalam tubuh kita terlalu tinggi yang menyebabkan banyak penyakit dalam tubuh kita. Setelah beberapa kali melakukan terapi jika jari kelingking kita tetap bergetar maka kita perlu memeriksakan kesehatan kita ke dokter. Cara yang mudah mengetahui kesehatan kita.

Gerakan ke enam adalah memegang semua jari-jari kaki dengan semua jari-jari tangan. Cara-caranya sama dengan gerakan pertama. Gerakan ke tujuh sama dengan gerakan ke enam. Bedanya kalau gerakan ke tujuh siku-siku agak dibengkokan. Gerakan ke delapan yaitu membuka kedua kaki dengan menggunakan jari-jari tangan dengan jarak satu jengkal. Caranya sama dengan gerakan –gerakan sebelumnya.

Gerakan yang terakhir adalah gerakan relaksasi yaitu dengan merebahkan seluruh tubuh ke lantai diiringi bacaan sholawat nariyah. Ustad Sahl mengatakan bahwa kita harus benar-benar dalam kondisi nol tidak memikirkan apapun ketika melakukan terapi ini, harus konsentrasi penuh tidak boleh bercabang. Dan percaya Allah yang akan menyembuhkan.

Ketika pertama kali melakukan terapi ini rasanya sakit sekali di bagian punggung kebawah sampai kaki. Jika sakit dibagian kaki itu berarti kita menderita sakit maag. Jika yang sakit bagian paha berarti kita sakit punggung. Jika sakit semua berarti badan kita merasa capek. Terapi kesehatan ini juga cocok bagi penderita asma dan diabet melitus. Mereka dapat menjalankan terapi ini dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Bagi orang normal dapat melakukannya setelah sholat shubuh. Sebelum tidur minumlah satu gelas air. Sediakan segelas air untuk diminum setelah bangun tidur. Biasanya terapi ini membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Setelah melakukan terapi ini usahakan agar kaki tidak ditekuk. Ketika terjadi kram pada perut, langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah tidur tengkurap dengan tangan diletakkan dibawah perut dan memegangnya. Kemudian bangunlah perlahan-lahan sampai kram hilang, tidak terasa lagi.

Setelah terapi kesehatan secara alami ustad Sahl juga ahli dalam pijat listrik. Beliau terkenal dengan ustad listrik. Prinsip kerjanya yaitu dengan menyetrum penderita suatu penyakit dengan listrik yang berdaya rendah. Tentu saja diiringi dengan do’a-do’a untuk meminta kesembuhan. Untuk sementara Ustad Sahl hanya membuka praktik khusus kaum lali-laki saja. Untuk kaum perempuan beliau mengatakan masih belum mendapatkan ijin dari Abuya. Jadi beliau tidak berani untuk membuka praktik tanpa restu Abuya Lutfi.

Untuk praktik pertama ustad Sahl meminta salah satu peserta untuk maju kedepan. Ummi Yayuk meminta untuk diterapi pijat listrik. Beliau tetap menolak. Kemudian Abuya memberikan ijin karena ummi Yayuk memakai kaos kaki. Tetapi ustad Sahl tetap menolak dengan memberikan alternatif bagaimana kalau praktik bareng dengan suaminya. Akhirnya praktik pertama itu ummi Yayuk dan suaminya. Aku melihat sepertinya sakit sekali, tetapi aku tidak tahu karena aku juga belum pernah sama sekali praktik memakai pijat listrik. Kemudian terapi dilanjutkan ke Pak Lurah. Setelah itu kami para kelompok putri meminta ijin untuk istirahat.

Dengan badan yang capai kami tidur sangat lelap. Sesungguhnya malam ini Abuya berencana untuk membawa kami ke laut, untuk mempraktekkan theori pertama yaitu tentang menomorsatukan Allah dalam segala hal. Tetapi karena hujan deras sampai pagi sehingga kegiatan ini dibatalkan. Aku pun tidur pulas sampai pukul 3.30 kemudian segera bangun untuk melaksanakan sholat tahajud dan sholat shubuh seperti biasa. Kemudian dilanjutkan dengan hailallah. Hailallah kali ini sungguh luar biasa seperti menggema dilangit suaranya. Aku pun terhanyut dengan hailallah ini kami melakukannya sampai aku tidak tau berapa hitungannya. Aku merasa merinding mendengar kalimat Allah ditegakkan di bumi mangrove ini.

Hari ke tiga di Mangrove center di mulai dengan menunggu sarapan. Sambil menunggu sarapan aku melihat foto bersama dengan teman-teman yang lain. Kemudian Aku memutuskan untuk mandi dulu. Ketika mau mandi tiba-tiba Abuya memanggilku . Beliau sedang makan ikan sisa tadi malam. Tadi malam beliau tidak sempat makan karena tadi malam beliau ada acara. Aku bertanya ada apakah gerangan kok Abuya memanggil aku. Beliau menanyakan apakah ada nasi. Aku coba tanya mbak yang mengurusi mangrove center. Tetapi dia mengatakan kalau nasinya belum ada. Aku pergi keluar Alhamdulillah tidak berapa lama tiba-tiba ada mobil box yang datang membawa nasi untuk sarapan kali ini. Aku segera mengambilkan nasi untuk beliau. Aku menanyakan kepada Ustad Hadi apa kesukaan Abuya. Ustad Hadi dulu pernah menjadi abdi dalam beliau jadi saya pikir dialah yang mengetahui semuanya tentang kesukaan Abuya. Ustad Hadi bilang kalau Abuya lebih suka dengan sayur-sayuran dan ikan asin. Kalau bisa sayur-sayurannya yang banyak. Aku meuruti saran Ustad Hadi dan segera memberikan Kepada Abuya. Aku agak takut juga karena ini adalah pertama kalinya aku sebagai murid beliau melayani makan beliau. Rasanya seperti melayani makan Bapakku yang didesa. Aku kangen pada Beliau, Bapakku. Sungguh aku merasa sangat beruntung. Mungkin tak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Setelah aku memberikan nasinya kepada Abuya, beliau menanyakan selain menu yang aku berikan apakah ada menu lain. Aku jawab pilihan lainnya adalah nasi goreng. Beliau memintaku untuk mengambilkannya untuk sarapan beliau. Beliau juga berpesan agar aku juga mengambil makanan jadi bisa sarapan pagi bersama-sama. Aku juga mengambil menu nasi goreng. Aku menghidangkan kepada beliau. Abuya mengajak teman-temanku yang lain untuk sarapan bersama-sama. Ada tujuh temanku yang ikut sarapan bersama dengan Abuya. Sambil sarapan beliau bercerita tentang istri beliau, Ummi Makfiah. Beliau pernah menguji ummi untuk tidak memberikan uang belanja kepada ummi selama lima belas hari, tetapi karena kuasa Allah ummi memang hebat beliau selalu dapat kiriman makanan. Entah dari siapa. Mungkin Malaikat-malaikat Allah yang datang untuk menolong beliau. Hal ini membuatku sangat kagum pada Ummi. Ummi adalah istri yang hebat, sosoknya yang lemah lembut tidak pernah marah membuat banyak orang mencintainya, termasuk aku. Selain itu beliau juga sangat pintar memasak, kata Abuya rasa masakan ummi tidak ada duanya. Abuya juga tidak tahu apa resep masak ummi sehingga membuat rasa masakan beliau sangat lezat, beda dari yang lain. Ustad Hadi Juga mengatakan hal yang sama. Ketika dia dulu pernah jadi Abdi dalem mencoba memasak dengan menu yang sama tetapi tetap saja rasanya berbeda, lebih lezat masakannya ummi. Dan satu hal lagi Ummi orangnya sangat sabar sekali. Aku berharap bisa meneladani sifat-sifat beliau yang sangat mulia itu. Meskipun agak sulit, tapi aku akan berusaha.

Sungguh pelajaran yang sangat berharga dari guru kami Abuya. Setelah sarapan pagi bersama Abuya aku ikut melanjutkan acara selanjutnya. Seperti biasa kami harus berkumpul di Aula untuk mengikuti perintah dari para Trainer dan para panitia. Setelah kami berkumpul ustad Wadud, salah satu trainer memberikan wejangannya. Sebagai manusia kita harus menyayangi makhluk lain. Seperti nyamuk meskipun dia itu kadang-kadang menggigit kita tetapi nyamuk menggigit untuk mempertahankan diri. Untuk hidupnya yang hanya berlangsung sehari semalam saja. Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi pasti ada manfaatnya. Oleh karena itu, sebagai dai daiyah disarankan untuk tidak membunuh binatang maupun menebang pohon sembarangan. Kemudian dilanjutkan dengan Tanya jawab, Acara berlangsung dengan hangat, banyak para peserta yang memberikan pendapatnya. Akhirnya panitia memberikan kesimpulan bahwa dalam kehidupan sebagai manusia harus bisa menyeimbangkan hubungan dengan ALLAh ( habluminallah ), hubungan dengan manusia (Hablumminanas), dan yang terakhir adalah hablumninallalam, yaitu hubungan keharmonisan manusia dengan alam sekitarnya. Ketiga hal tersebut sangat berkaitan dan harus seimbang, jika ada satu hal yang tidak seimbang maka kehidupan akan terganggu.

Kemudian para trainer memberikan beberapa games kepada kami. Setelah itu gantian para peserta yang memberikan permainan kepada panitia dan trainer. Permainan yang paling seru adalah permainan dari para peserta untuk para panitia. Panitianya adalah Ustad Nefi, Ustad Zaenal dan Ustad Hadi. Pertama kali gamesnya tidak terlalu berat. Jadi para panitia dapat menyelesaikan permainan itu dengan mudah. Dilanjutkan dengan permainan yang kedua yang agak berat, yaitu dua tangan dan dua kaki. Panitia berfikir sebentar. Kemudian mereka menemukan cara menyelesaikan permainan itu, yaitu dengan cara seperti bermain kuda-kudaan. Pada mulanya mereka bingung untuk memutuskan siapa yang akan berada dibawah. Akhirnya diputuskan Ustad Zaenal yang berada dibawah. Kemudian diatasnya adalah Ustad Hadi dan yang terakhir adalah ustad Nefi. Kami para peserta menghitungnya sampai sepuluh. Dan akhirnya mereka berhasil. Jika teringat dengan permainan ini aku masih ingin tertawa, karena memang sungguh lucu.

Setelah permainan selesai kemudian dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada panitia dan para trainer. Penghargaan ini dari Abuya untuk mereka atas hasil kerja mereka selama diklat. Abuya meminta para peserta untuk memberikan hadihnya kepada para trainer. Bingkisannya dibungkus kertas kecil, diatasnya ditulis nama barang dari daerah tertentu. Seperti Ustad Wadud kebagian Trasi dari mbah Bonang. Aku yang kebagian memberikannya kepada Beliau, karena aku yang dari Tuban.

Acara pembagian tanda penghargaan selesai, kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Yai Ali Mansyur. Beliau menerangkan tentang keiklasan dan kesabaran selama menanam mangrove.

Dulu didaerah sekitar mangrove center itu adalah tanaman kelapa. Hampir seluruh wilayah Jenu penuh dengan pohon kelapa. Atas kuasa Allah, tanaman kelapa ini terkena hama tanaman yang menyebabkan seluruh pohon kelapa didaerah Jenu mati dan habis tak tersisa. Karena tidak adanya tanaman didaerah sekitar pantai menyebabkan abrasi didaerah sekitar pantai. Hampir seluruh wilayah pantainya habis oleh abrasi air laut ini. Atas insiatif sendiri Yai mansyur yang saat itu mengajar disebuah madrasah di kawasan Jenu berusaha untuk menanam pohon mangrove disekitar rumahnya yang dekat pantai. Kemudian secara bertahap beliau membeli tanah sekitar pantai yang berupa lautan. Harga tanah saat itui relative sangat murah. Setelah membelinya beliau menanaminya dengan bibit-bibit Mangrove yang baru. Hingga sampai sekarang luas hutan Mangrove mencapai 56 ha. Beliau menanam mangrove tanpa bantuan pihak manapu juga, beliau mengatakan ini adalah bantuan dari langit yang merupakan kiriman dari ALLAh swt. Beliau menyarankan kalau mengerjakan sesuatu harus ikhlas karena ALLAH bukan karena yang lain. Sama ketika menanam harus dengan hati. Beliau mengatakan hampir semua tanaman yang beliau tanam selalu tumbuh dengan subur. Rahasianya adalah ketika menanam harus mengucapkan bismillah dulu dan harus niat lillahi ta’ala . Selain itu kita harus jujur. Saat ini untuk menjadi manusia yang jujur itu sangat susah, tetapi kita harus berusaha untuk selalu jujur, yaitu jujur pada diri sendiri, manusia dan Allah. Orang yang jujur akan selalu mujur, begitu kata beliau.

Materi dari Yai Ali Mansur sungguh menarik. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan mengenai dukanya ketika menanam Mangrove. Yai Ali Mansyur mengatakan selama beliau menanam pertama kali sampai sekarang beliau tidak pernah menemukan kendala sekecil apapun. Beliau selalu mendapatkan pertolongan dari Allah. Ada peserta yang sharing tentang daerahnya yang ada tanah kosongnya. Abah Mansyur menyarankan untuk menanaminya saja. Mengenai bibitnya dapat mengambil secara gratis di Abah Mansyur. Jika suatu saat ada yang mengaku memiliki hak tanah tersebut biarkan saja. Yang terpenting sekarang adalah menanam.

Dari Abah Mansyur aku belajar banyak hal. Aku sangat kagum akan beliau. Saat ini beliau selain aktif dalam mengurus bisnis keluarga sebagai direktur utamanya juga sangat konsen dalam mengamalkan ajaran islam, tentang hablumminalam yaitu dibuktikan dengan menanam Mangrove tersebut. Menurutku wajah beliau memancarkan aura yang tak bisa aku deskripsikan. Sungguh salah satu tauladan yang luar biasa, sebagai generasi pemuda saya harus dapat mengikuti jejak beliau. Pancaran keiklasan, ketulusan dan kejujuran beliau sungguh menginspirasiku untuk menjadi manusia baru yang lebih baik.

Setelah abah mansyur selesai memberikan materi acara dilanjutkan oleh para trainer. Para trainer meminta pada peserta diklat untuk mengambil benda-benda yang menurut kami paling unik. Kelompok putri mengambil benda-benda di sekitar pantai. Dan kelompok putra mengambil benda-benda di sekitar tambak. Setelah para peserta mendapatkan barang- barang yang mereka cari mereka termasuk aku harus menyetorkankannya pada Abuya. Kami harus tahu alasannya kenapa kami memilih barang tersebut dan harus mempertanggungjawabkannya pada Abuya. Aku tidak tahu apa maksud dari perintah ini. Aku hanya berusaha untuk menuruti perintah dari para Trainer saja. Akhirnya setelah kami jelas dengan perintah para trainer, kami kelompok putri pergi kepantai.

Kami kelaut dipandu oleh Ustad Wadud. Aku menemukan keong yang aku anggap menarik. Keong memiliki manfaat yang sangat besar bagi manusia, salah satunya adalah dapat mengobati batuk. Waktu aku kecil orang tuaku sering memberiku keong bakar jika aku sakit batuk. Dan alhamdulillah karena kuasa Allah aku bisa sembuh dari sakitku.

Setelah beberapa saat kami kembali ke aula untuk membuat laporan ke Abuya tentang barang yang kami ambil. Sudah ada beberapa peserta yang memberikan laporannya kepada Abuya. Kemudian giliranku untuk maju ke Abuya. Aku jelaskan apa yang telah aku pilih. Semua peserta memiliki jawaban yang bermacam-macam, yang paling menarik adalah penjelasan dari Wasi’. Dia menjelaskan barang yang dia bawa adalah udara. Udara menurut dia sangat menarik karena tanpa ada udara manusia tidak dapat bernapas dan akhirnya mereka akan meninggal. Tidak hanya manusia tetapi semua makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup tanpa udaranya. Oleh karena itu sebagai manusia yang masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bernapas dengan udara yang melimpah kita harus bersyukur kepada Allah swt. Karena nikmat udara sangat bermanfaat sekali bagi manusia.

Acara selanjutnya adalah istirahat, sholat dan makan. Selama kami disini kami selalu diberi hidangan yang selalu mengundang selera karena makanan yang dihidangkan selalu bervariasi dan sangat mengundang selera. Semua peserta para trainer menikmati hidangan.

Setelah makan kami kembali lagi ke aula untuk mendapatkan pengarahan dari para trainer tentang apa yang akan kami kerjakan selanjutnya. Dalam keesempatan kali ini Abuya menerangkan dan mengharapkan mangrove Center menjadi Wisata Nasional dan Internasioal. Beliau mengatakan ada banyak potensi alam yang dapat dikembangkan, dan kami diharapkan dapat menyumbangkan ide-ide segar yang dapat kami sumbangkan demi kemajuan hutan mangrove center ini. Pengarahan dilanjutkan oleh para trainer. Mereka mengatakan acara selanjutnya adalah observasi wilayah setempat utuk menindaklanjuti keterangan Abuya tentang rencana pengembangan pantai mangrove menjadi wisata nasional dan internasional. Setiap kelompok harus membuat paper nantinya dikumpulkan di Abuya. Selain itu pembuatan makalah ini adalah salah satu prasarat untuk mendapatkan sertifikat dan sertifikat itu untuk mendapatkan ID card sebagai kartu pengenal resmi anggota Kapal angkatan pertama.

Setelah itu kami para peserta dengan anggota kelompok masing-masing melakukan observasi dilapangan. Tempat pertama yang kami observasi adalah hutan mangrove. Kami mau menyeberang melewati jembatan yang ada hutan mangrovenya. Tapi kami memutuskan untuk tidak melewati jalan tersebut karena kami belum mengenal daerah tersebut sama sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk melewati jalan yang umum. Setelah menyusuri jalan-jalan sekitar mangrove kami menemukan sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah ini berfungsi ganda selain untuk tempat tinggal juga berfungsi untuk toko untuk jualan. Kami berusaha melakukan wawancara kepada salah satu penghuni rumah yaitu yang perempuan, tapi sepertinya perempuan tersebut sangat sibuk jadi kami memutuskan untuk tidak mewancarai beliau. Ada seorang laki-laki yang duduk didepan warung ternyata beliau adalah suami perempuan tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk mewancarai bapak ini mengenai apapun tentang hutan mangrove. Kelompokku sangat kompak, ada yang bertugas sebagai reporter, ada juga yang bertugas sebagai securiti. Dan aku sendiri bertindak sebagai seksi dokumentasi, istilahnya sebagai photographer. Tugasku mendokumentasikan gambar-gambar yang menarik sebagai bahan penunjang dalam makalah kami nanti.

Kami bertanya tentang sungai sekitar hutan mangrove. Disini ada dua sungai yang terdekat yaitu kali Gedhe dan Kali Buntu. Kami bertanya dimana jalan terdekat yang bisa kami lalui, dengan ramah bapak tadi menunjukkan kepada kami. Setelah puas bertanya kami melanjutkan perjalanan untuk oservasi ke kali Gedhe. Karena tidak tahu jalan, ditengah jalan kami bertanya pada sebuah keluarga yang saat itu sedang berkumpul. Alhamdulillah Allah memberikan kemudian kepada kami, mereka juga sangat ramah. Kami tidak tahu kalau yang kami tanyai adalah seorang anggota polisi. Pak polisi ini namanya bapak Sugeng. Beliau adalah salah satu polisi yang sangat lama sekali bertugas di Jenu. Sebenarnya beliau berasal dari Bandung. Karena menikah dengan orang Jenu akhirnya beliau menetap di daerah ini. Beliau menerangkan banyak hal tentang Jenu. Beliau sangat baik sekali, beliau siap mengantarkan kami keliling Jenu dengan mobil beliau. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kali gedhe. Di kali ini biasanya digunakan oleh warga setempat untuk mandi, mencuci dan kegiatan yang lain. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami ke Balai Desa. Sayang ini adalah hari minggu sehingga kami tidak dapat bertemu dengan bapak kepala desa setempat beserta jajarannya. Setelah kami mengambil foto untuk dokumentasi bapak sugeng mengajak kami untuk mengunjungi masjid Astana. Salah satu masjid yang terkenal di Jenu. Beliau mengatakan bahwa di belakang Masjid Astana ini ada makam salah satu Syech. Kami memutuskan untuk tidak masuk wilayah makam, hanya berkeliling sekitar masjid. Kami mencari bapak Sugeng ternyata beliau tidak ada. Setelah beberapa saat akhirnya beliau kembali dengan seorang bapak. Beliau mengatakan bahwa beliau adalah Kasun (kepala Dusun) daerah ini. Beliau yang mengetahui banyak hal tentang masjid Astana. Kami pun segera bertanya banyak hal tentang masjid Astana.

Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan kami kembali ke Mangrove center. Sepanjang perjalanan bapak Sugeng bercerita banyak hal tentang Jenu. Ternyata daerah ini dilalui oleh Jalur Pantura yang sangat ramai. Dalam hati aku membenarkan perkataan Abuya bahwa hutan mangrove sangat potensial untuk dikembangkan sebagai wisata Nasional maupun Internasional karena salah satu faktornya yaitu letaknya yang sangat strategis yaitu dijalur Pantura. Beliau orang yang sangat ramah. Hampir semua orang mengenali beliau dan menyapa beliau. Berbeda sekali dengan polisi didaerah ku, Parengan. Kami sebagai penduduk asli sana hampir tidak mengenali polisi didaerah kami. Karena rata-rata para polisi tidak pernah sambang ke desa-desa. Mereka datang hanya pada acara-acara tertentu saja. Berbeda dengan bapak Sugeng beliau selalu keliling desa untuk sekedar bersilahturahmi kepada warga. Beliau mengatakan kalau semakin banyak silahturahmi maka rejeki akan semakin lancar. Selain itu dengan bersilahturahmi manfaat yang lain yaitu dapat memperpanjang usia kita. Jadi beliau selalu menyempatkan diri untuk bersilahturahmi disela-sela kesibukanyya sebagai salah satu anggota polisi. Salah satu pelajaran hidup yang luar biasa dari bapak Sugeng. Dan kalau bisa kita juga harus dapat meneladaninya. Dijaman yang serba canggih ini banyak orang yang melupakan silahturahmi dan mereka terlena dengan kesibukan masing-masing, termasuk aku juga.

Kami kembali ke hutan mangrove center. Kami membawa bapak Sugeng untuk bertemu dengan Abuya, tapi karena Abuya saat itu lagi beristirahat kami tidak berani mengganggu tidur beliau, bapak Sugeng di temui oleh para trainer. Mereka mengobrol banyak hal. Sementara kami membagi kelompok kami setengahnya pergi ke laut untuk observasi dan sebagian menemani bapak Sugeng.

Setelah kami mengumpulkan data-data yang kami perlukan. Kami mengadakan rapat sebentar untuk memutuskan daerah mana yang patut kami kembangkan. Aku mengusulkan untuk mengembangkan daerah pantai saja. Semua anggota kelompok setuju. Ada lima aspek yang akan kami kaji yaitu aspek ekonomi, aspek sosial budaya, aspek pendidikan, aspek sumber daya alam dan sumber daya manusia, dan yang terakhir adalah aspek penelitian dan pengembangaanya. Kami memutuskan untuk mengambil daerah pantai karena beberapa pertimbangan diantaranya: yaitu berdasarkan observasi kami disekitar wilayah mangrove center ini. Observasi kami lakukan dikali Gedhe, kali Buntu, masjid Astana, mangrove center dan terakhir dipantai. Kami melakukan wawancara pada warga dan juga para petinggi didesa. Mereka berpendapat bagus sekali kalau ada pengembangan pantai sebagai objek wisata. Didesa ini juga ada berbagai potensi alam yang perlu dikembangkan seperti tambak dan perkebunan, karena hampir semua jenis buah dapat tumbuh disini. Sehingga hal-hal tersebut dapat menarik para wisatawan untuk datang.

Observasi terakhir yang kami lakukan adalah di pantai Jenu Tuban. Sesungguhnya pantai ini sangat indah. Dengan pemandangan pantai yang berwarna biru dan semilinrya angin dari hutan mangrove menambah eksotisnya pantai ini. Apalagi waktu sore hari dan pagi hari. Pemandangannya akan terlihat semakin bagus. Selain itu pasir disini sangat putih, sayang masih ada sampah yang sedikit mengganggu pemandangan. Agar menarik para wisatawan untuk datang maka perlu diadakan berbagai penambahan fasilitas umum. Tempat penginapan yang nyaman seperti hotel, dan cottage juga sangat diperlukan sekali demi mendukung hutan mangrove center ini sebagai wisata nasional. Selain itu berdasarkan observasi kami masih belum ada permainan-permainan air. Hal ini sangat bagus sekali untuk dikembangkan.

Berdasarkan observasi diatas maka kami memutuskan untuk memilih pantai Jenu Tuban untuk dikembangkan sebagai pendukung Mangrove Center sebagai objek wisata nasional maupun internasional. Kami segera membagi kelompok kami yang terdiri dari sembilan peserta untuk segera mengerjakan. Kami diberikan wktu selama seminggu untuk mengerjakannya. Ustad nefi menyarankan agar tidak terlalu lama dalam mengerjakan, jika sudah selesai segera dikumpulkan ke Abuya. Kami mengerjakan didepan Guest House. Disana kami bertemu Ustad Sahl Asrori. Beliau bercerita banyak hal. Beliau menyarankan kepada kami untuk sabar dan dapat menahan marah. Aku bertanya bagaimana kalau kita marah dan bagaimana cara menghilangkannya beliau hanya menyarankan untuk membaca istiqfar dan baca kalimat laaqoulawallaquattaillabillah. Beliau mengatakan bahwa meskipun didalam hati ada rasa marah hal itu menandakan bahwa kita masih belum bisa sabar. Orang yang menahan marah juga beliau katakan masih belum bisa sabar. Selain itu ustad Sahl memiliki karakter yang low profile. Beliau tidak mau dipanggil ustad. Beliau lebih suka dipanggil kang Sahl. Panggilan itu terasa lebih dekat, seperti kepada saudara sendiri. Memang betul apa yang beliau ucapkan karena hal ini membuatku teringat saudara-saudaraku didesa. Kami selalu memanggil saudara kami dengan sebutan ‘kang’ untuk saudara tua kami yang laki-laki. Untuk yang perempuan kami memanggil dengan sebutan ‘yu’. Mungkin berbeda dengan surabaya mereka memanggil dengan sebutan cak dan ning. Ustad Sahl juga Sami’na waato’na sama guru kami, Abuya. Apa yang Abuya katakan pasti beliau laksanakan karena itu sangat bermanfaat sekali bagi kehidupan beliau, seperti tidak membuka praktik untuk perempuan. Kemudian Ustad Sahl memberikan Doa-doa untuk tangan kami sehingga kami bisa mengerjakan terapi pijat salawat dengan mudah. Ada sekitar enam peserta yang beliau kasih doa. Yang lainyya banyak yang istirahat. Mereka kecapean setelah melakukan observasi sekitar pantai.

Waktu untuk mengerjakan selesai kami harus segera berkumpul di Aula lagi untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Kegiatan selanjutnya adalah pengambilan pin. Pin ini dapat kita ambil setelah kita mampu melewati rintangan yang diberikan oleh panitia. Pertama kami berkumpul menurut kelompok kami masing-masing. Kami harus menutup mata. Seperti kemarin. Disini kejujuran adalah nomor satu. Setelah itu kami harus mengikuti aba-aba dari panitia. Satu persatu peserta masuk di air tambak dengan mata tertutup. Aku, mbak Utami dan Alfi bersamaan masuk kedalam air. Setelah ustad memberikan petunjuknya akhirnya kami harus berjalan menurut insting kita sendiri dengan berpegangan pada pohon mangrove yang ada disekitar tambak. Ditengah jalan aku, mbak Utami dan Alfi terpisah. Sebenarnya yang jalan duluan mb Utami, aku tidak tahu mbak Utami tersesat dimana. Aku yang tiba duluan. Abuya memberikan aba-aba untuk belok kiri dan naik ke suatu tempat. Alhamdulillah aku dapat naik dan Abuya memberikan pin tersebut kepadaku. Kemudian Abuya mengarahkanku untuk berkumpul dengan kelompokku. Setelah semua anggota kelompok berkumpul kami diajak ke suatu tempat tentu saja dengan mata yang masih terpejam. Aku mencoba menebak-nebak seperti apakah bentuk pin yang sudah diberikan Abuya. Tetap saja aku tidak mengerti seperti apa bentuk pin tersebut. Sambil menunggu kelompok lain selesai mendapatkan pin, aku duduk dengan mendengarkan merdunya suara burung di sore hari dan suara gemericik air dari tambak. Sungguh damai rasanya. Dalam keadaan yang tenang itu aku masih kepikiran ketika melewati tambak tadi. Aku membayangkan seandainya aku buta aku tidak akan pernah mengetahui keindahan alam yang Allah ciptakan, seperti pemandangan laut yang baru tadi pagi aku nikmati keindahanya. Sungguh hal ini membuatku sangat bersyukur atas nikmat mata yang Allah berikan padaku.

Setelah semua kelompok selesai kami dijinkan untuk membuka mata. Para trainer memberikan selamat kepada kita akan keberhasilan kita dalam mendapatkan pin. Kami diijinkan ntuk membersihkan diri setelah tadi masuk kedalam tambak. Segera setelah diijinkan panitia untuk meninggalkan aula aku segera mandi membersihkan diri. Setelah magrib kami disuguhi hidangan yang tak kalah lezatnya dengan hari-hari sebelumnya.

Malam ini adalah malam terakhir kami mengikuti acara diklat. Sekitar jam delapan panitia menyuruh kami untuk berkumpul lagi di Aula. Ini adalah malam renungan untuk kami semua. Kami dikumpulkan menurut kelompok kami masing-masing, tentu saja aku berkumpul dengan kelompokku, kelapa.

Para trainer mematikan semua lampu, sehingga suasana sangat gelap sekali. Kemudian mereka memberikan lilin kepada kami, setiap peserta mendapatkan satu lilin, dan tiga batang korek api. Kami hanya diberi kesempatan menyalakan lilin selama tiga kali. Jika batang korek api habis maka lilin kami tidak boleh dinyalakan lagi. Selain diberi lilin kami juga diberi buku renungan. Buku ini tidak boleh dibuka sebelum ada perintah membuka.

Para trainer mengingatkan kami tadi sore sewaktu kita berpegangan pada pohon bakau ada diantara kita yang tidak sengaja merusak pohon mangrove tersebut. Oleh karena itu sekarang saatnya untuk meminta maaf kepada pohon mangrove yang telah kami sakiti tersebut.

Aku pun segera pergi ke bawah pohon mangrove. Aku meminta maaf secara tulus pada pohon mangrove tersebut. Para trainer meminta kami untuk membuka buku renungan.

Dengan pelan-pelan aku buka buku tersebut, dan aku resapi isinya. Sementara aku meresapi isi buku renungan aku mendengar suara orang laki-laki menangis meraung-raung. Dalam hati aku bertanya-tanya ada apakah gerangan dengan mereka, kok mereka bisa menangis sesedih itu. Aku tetap membuka lembaran buku renungan ini. Isinya sungguh menyentuh kalbuku. Ini membuatku merinding. Belum selesai membaca buku ini rasanya aku sudah ingin menangis. Kemudian halaman-halaman berikutnya aku baca lagi sampai selesai. Sungguh menakjubkan. Rasanya aku sudah tidak dapat menahan tangisku. Kemudian aku pergi ke aula. Aku mulai mengerti kenapa orang yang tadi didalam aula menangis meraung-meraung. Kini tiba giliranku untuk menghadap Abuya. Aku tak bisa bicara sepatah katapun. Yang dapat aku lakukan saat itu adalah menangis, menangis dihadapan abuya. Teringat semua dosa-dosa yang sudah aku lakukan selama ini. Aku tidak malu meskipun harus menangis dihadapan Abuya. Abuya membimbingku dengan menyebut asma ALLAH, ALLAh dan asmaul Husna. Beliau mengatakan Allahlah guruku sebenarnya. Air mataku terasa tidak mau berhenti. Meskipun aku sudah selesai menghadap Abuya. Tetap saja yang aku lakukan adalah menangis, menangis dan menangis. Aku merasa disebelah kanan tanganku ada yang membisikiku tentang semua dosa-dosa yang pernah aku kerjakan dan aku tidak pernah sadar kalau aku memiliki dosa tersebut. Bisikan terus menerus terngiang-ngiang di telingaku. Dan membuatku sangat-sangat takut sekali. Aku takut sekali sama ALLAh. Seumur hidupku baru kali ini aku dapat menangis yang benar-benar menangis karena takut akan dosa-dosaku. Selama menangis aku tidak sadar kalau disekitarku banyak peserta yang lain. Mereka juga menangis tetapi tidak seperti yang aku lakukan. Rasanya air mata ini tidak mau berhenti. Bisikan itu muncul memberitahukan semua kesalahanku sewaktu aku kecil sampai sekarang. Aku heran darimana kah bisikan itu?. Aku bisa berhenti menangis setelah mbak Via dan mb Utami memegang tanganku dan menyadarkan aku, astaqfirullah. Ya allah ampunilah dosa-dosaku.

Sesampai dirumah setelah sholat tahajud dan sholat shubuh rasanya bisikan itu muncul lagi. Ya allah dengan segenap kekuatanku aku mencoba menyadarkan diriku sendiri dan mencoba merenunginya. Setelah pagi hari aku merasa menjadi manusia baru, rasanya hati ini lega sendiri. Aku harus menjadi manusia baru yang selalu menomor satukan ALLAH dalam segala kondisi dan keadaan. Terimakasih aku ucapkan kepada Abuya yang sudah membantu menyadarkanku untuk selalu ingat ALLAH.

Semoga catatan ini berguna dan para dai dan daiyah bisa amanah dalam menjalankan tugasnya.amin

THE END

SATU PENGALAMAN DIMANGROVE CENTER TUBAN

Inilah hari dimana kami semua harus berangkat untuk mengikuti diklat. Ini adalah diklat lingkungan yang pertama kali yang pernah saya ikuti. Sebenarnya dalam benakku aku bertanya- tanya sebenarnya apa yang akan kami lakukan disana. Ketika membayangkan tempat yang akan kami kunjungi untuk diklat di Tuban aku teringat kampung halamanku yang juga terletak di Tuban. Kampung halaman yang aku rindukan. Disana ada kedua orang tuaku yang setiap saat siap menerima kedatanganku dan saudara-saudaraku. Aku rindu akan kehadiran mereka disisiku. Aku berharap suatu saat kalau aku mempunyai rumah sendiri aku bisa merawat mereka.

Malam yang kelam kami berangkat dari Surabaya untuk mengikuti Diklat tentang Dai Daiyah lingkungan Jawa Timur. Jadwal berangkat sebenarnya jam 7 tapi karena kami harus ngaji dulu maka jadwal keberangkatan ditunda. Selain itu kami harus menunggu kedatangan bis. Kami dari Ngagel ada empat orang yang mengikuti diklat yaitu aku, adikku susi, mb via dan mb utami. Sebenarnya aku juga mendaftarkan mb Prapti tetapi karena kuotanya penuh akhirnya mbak Prapti tidak bisa ikut. Aku dan kawan-kawan berencana berangkat jam empat sore untuk mengikuti Hailallah tetapi ini adalah takdir ALLAH sehingga kami harus berangkat dari Ngagel sehabis magrib. Adik Koskku yang paling kecil menangis ketika mengetahui aku mau berangkat. Dia menangis karena merasa sendirian, Aku tidak tega meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu. Ini sudah jadi kehendak Allah ketika kami memutuskan untuk berangkat tiba-tiba hujan deras. Akhirnya kami menunda sampai hujan reda. Setelah hujan reda tiba-tiba aku mendengar suara letusan. Ternyata itu adalah suara letusan lampu depan kamar mandi. Akibatnya seluruh lampu ditempat kos kami padam. Aku mencoba melihat sekeliling ternyata yang padam hanya lampu kosku saja. Dengan ded-degan aku mencoba memperbaikinya. Inilah pertama kalinya aku memperbaiki listrik. Aku paling takut dengan listrik, takut kesetrum. Biasanya yang memperbaikinya itu Bunda. Karena dia sekarang sudah menikah akhirnya pindah. Alhamdulillah dengan kuasa ALLAH lampunya bisa menyala seperti biasa, cuma lampu yang meletus tadi tidak bisa menyala lagi. Setelah menunggu selama beberapa saat Alhamdulillah salah satu temanku datang untuk menemani dik Nita. Akhirnya kami bisa berangkat kepondok dengan tenang.

Sesampainya di Pondok kami mendengar suara adzan, dan kami sholat berjamaah dulu di pondok sebelum berangkat. Kami berangkat sekitar jam sembilanan. Peserta diklat ada sekitar lima puluhan. Tiga puluh satu laki-laki dan sembilan belas perempuan. Untuk panitianya yang saya tahu adalah Ustad Idrus, Ustad Hadi, ustad Nefi dan Ustad Zaenal. Yang lainya aku kurang tau. Para peserta berasal dari berbagai kalangan. Ada dari Ustadz, mahasiswa, guru, pengusaha, wiraswasta, dan lain-lain. Untuk yang mahasiswa rata- rata dari IAIN. Aku berharap untuk diklat selanjutnya seluruh kampus di surabaya dapat mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti diklat sehingga mereka yang mengikuti diklat dapat menularkan ilmu yang sudah dimiliki kepada yang lain. Sehingga meraka akan lebih sadar akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan karena mahasiswa adalah agen of change. Kami yang mengikuti diklat memiliki satu tujuan yaitu untuk tholabul ilmi. Pemimpin rombongan kami adalah pak Lurah, aku tidak tau siapa nama lengkapnya. Didalam bis kami mendapatkan kaos yang akan kami pergunakan selama diklat. Semua ukuranya sama jadi kami tidak perlu repot-repot untuk memilihnya. Sebelum berangkat kami berdoa bersama semoga kami diberikan keselamatan dalam perjalanan kami kali ini. Pak Lurah menyampaikan pesan Abuya lutfi, Guru kami dan Resi Agung KAPAL ( kenduri Agung pengabdi lingkungan) untuk selalu berdzikir, selalu mengingat Allah sepanjang perjalanan kami, untuk bacaannya terserah mana yang kami sukai. Aku mencoba mengikuti saran guru sampai tertidur. Dan tiba-tiba kami sudah sampai di Mangrove Center Jenu, Tuban. Ada yang bilang bis kami sempat tersesat tapi alhamdulillah atas pertolongan Allah kami sampai tujuan dengan selamat. Kami turun didepan jalan raya, kemudian kami harus berjalan dikegelapan malam untuk sampai di aula. Kami harus berhati-hati karena habis hujan sehingga menyebabkan jalan agak sedikit becek. Aku pernah datang ke tempat ini sekali ketika mengikuti peresmian Bank mangrove center Desember tahun lalu oleh pak Dhe bersama rombongan dari Pondok Abuya juga. Sesampai di aula kami disambut dengan ramah oleh tiga orang. Dalam hati aku bertanya tanya siapakah mereka karena selama ini kami tidak pernah mengenal mereka. Kami dipisahkan antara kelompok putri dan putra. Setelah Itu mereka bertiga memperkenalkan diri. Mereka adalah Ustad wadud, Ustad Fauzi dan Ustad Yusuf. Meraka para trainer yang akan memberikan diklat kepada kami selain guru utama kami, Abuya Lutfi. Pertama-tama mereka memberikan ucapan selamat datang dan meminta kami untuk menganggapnya seperti biasa tidak lebih. Kemudian para Trainer membagi kami dalam empat kelompok untuk mendapatkan kamar dimana kami nantinya beristirahat. Aku berharap mendapatkan kamar belakang. Tidak tahu alasanya apa. Alhamdulillah aku mendapatkan kamar yang aku inginkan.Ustad Fauzi bertanya kepada kami mengapa kami terlambat datang, dan beliau mengatakan ini adalah bagian dari outbound kami, jadi kami harus bersabar. Kemudian para trainner memberikan tiga telur kepada kami, yang terdiri dari telur puyuh, telur kampung berwarna putih dan telur ras yang berwarna coklat. Ustad Fauzi menerangkan telur puyuh adalah telur yang mudah pecah kemudian disusul telur kampung dan yang paling kuat adalah telur ras. Kami harus menjaga telur-telur kami agar tidak pecah, karena ini adalah amanah. Dimanapun dan apapun kegiatan diklat kami diwajibkan untuk membawanya seperti tidur, mandi dan kegiatan lainnya. Setelah itu Ustad Fauzi memberikan perintah untuk mengambil tiga barang dari tas kami yang menurut kami paling berguna. Kami tidak diijinkan membawa Hp atau alat komunikasi yang lain, jadi disini kami dikondisikan untuk benar-benar belajar yang tidak terpengaruh oleh HP karena sekarang banyak siswa-siswa yang lebih mementingkan Hpnya daripada belajar. Kemanapun mereka pergi barang yang tidak bisa ditinggal adalah HP. Selama kami disini, kami di didik untuk tidak tergantung pada HP. Selama tiga hari kami tidak diperbolehkan menggunakanya. Ada salah satu peserta yang beralasan karena tidak membawa buku dan alat tulis dia berharap untuk diperbolehkan untuk menggunakan Hpnya karena semua datanya tersimpan di Hp. Panitia tetap tidak mengijinkannya. Kami benar-benar harus belajar untuk bebas dari HP. Aku sendiri juga masih suka membawa hp kemanapun aku pergi karena aku membutuhkannya untuk berkomunikasi dengan murid-muridku. Tapi disini aku mencoba untuk menyingkirkannya. Aku memilih buku, bolpoin, sleyer, dan kamera. Aku memutuskan untuk membawa kamera karena aku merasa kamera penting untuk dokumentasi. Setelah kami memilih barang-barang yang kami anggap penting, kami harus meninggalkan tas kami di aula. Aku juga membawa tas yang sangat berat yang berisi bermacam-macam barang yang akan kami perlukan selama diklat. Tapi aku merasa itu tidak terlalu diperlukan selama diklat tiga hari disini. Selama Diklat kami tidak diijinkan untuk berganti baju selain dari kaos yang kami gunakan. Kecuali perempuan dapat mengganti daleman. Selain itu tidak boleh. Dalam diklat kali ini kami akan mendapatkan reward dan punishment. Kami akan mendapatkan reward jika bisa melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh trainer dengan baik dan benar. Dan sebaliknya untuk punishment. Setelah semuanya selesai kami diijinkan untuk meninggalkan aula dan beristirahat. Rasanya nyenyak sekali tidur malam ini. Aku bangun jam 3.30 untuk sholat tahajud dimusola sebelah kamarku. Ketika sampai disana sudah banyak para peserta yang lain yang juga mengerjakan sholat Tahajud. Setelah sholat tahhajud kami menunggu adzan berkumandang. Yang bertugas sebagai muadzin kali ini adalah ustad Idrus. Kami semua hening atas lantunan panggilan Allah untuk sholat Shubuh. Akhirnya kami sholat shubuh berjamaah dengan dipimpin oleh Abuya lutfi Muhhammad. Setelah Sholat Shubuh kami mengikuti Abuya untuk Hailallah. Hailallah adalah dzikir dengan ucapan laaillahaailllalah dengan suara yang keras dan disertai gerakan-gerakan tertentu. Abuya mengatakan bahwa kalau kita bisa melakukan haillallah dengan benar itu dapat mengusir CO2 dari tubuh kita. Karena CO2 yang terlalu banyak akan mempengaruhi kesehatan kita.

Selesai sholat kami mandi untuk menghapus sisa kepenatan dalam tubuh kami. Setelah itu aku dan teman-teman pergi kepantai untuk menikmati indahnya pemandangan pagi, dipantai Jenu Tuban. Dipantai ini masih terlihat asri. Lautnya yang berwarna biru, menambah indahnya panorama pantai ini. Meskipun sangat indah tapi hanya sebagian saja orang yang mengetahui tentang keberadaan pantai ini. Aku sendiri yang orang Tuban asli juga baru mengetahuinya sekarang setelah mengikuti kegiatan pondok. Aku berkunjung dipanta Jenu dua kali ini. Pantai ini akan semakin indah jika ada beberapa pembenahan dan perbaikan di berbagai sisi untuk menarik para wisatawan datang kepantai. Seperti penyediaan fasilitas bermain baik darat dan air. Untuk yang darat bisa dibangun arena bermain untuk anak-anak seperti di WBL. Untuk diair bisa dibangun ski, snorkling dsb. Selain itu harus ada juga tempat peristirahatan yang nyaman seperti hotel, cottage dsb. Fasilitas- fasilitas umum seperti toilet, canteen juga perlu ada. Pemberdayaan sumber daya alam dan manusia harus berjalan seimbang. Usahakan yang mengelola adalah orang Tuban asli bukan pihak yang lain Pantai ini lokasinya sangat strategis. Terletak dijalan Pantura yang mudah dijangkau dan tidak jauh dari pusat kota Tuban. Jadi para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini bisa juga berkunjung ke Sunan Bonang Di Tuban. Selain itu dapat dipamerkan oleh-oleh khas Tuban yaitu legen. Selain pantainya, hutan Mangrove adalah salah satu kebanggaan yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Di tempat ini aku dapat menemukan berbagai bibit tanaman dan bisa mendapatkannya secara gratis dari Abah Ali Mansyur.

Setelah puas menikmati indahnya pantai Jenu Tuban, kami berkumpul lagi di Aula tentu saja dengan memakai kaos kebesaran kami. Setelah para peserta datang acara akan segera dimulai dengan pembukaan. Yang bertindak sebagai Presenter kali ini adalah Ustad Munir. Acara akan dibuka Oleh Ketua KAPAL Jatim, Prof Suparto. Beliau adalah contoh generasi muda yang sukses. Meskipun dalam kondisi kurang sehat beliau usahakan datang ke Tuban untuk membuka acara Dai daiyah lingkungan Jawa Timur. Setelah memberikan sedikit semangat kepada kami acara resmi dibuka. Kemudian acara selanjutnya adalah pemberian lencana kepada beberapa orang. Seperti kepada Abah Ali MAnsyur beliau mendapatkan tiga buah lencana. Pertama dari Gubernur Jawa Timur Pak Dhe, yang kedua dari ketua Kapal Jawa Timur, Prof, Suparto Wijoyo. Dan yang ketiga dari Abuya lutfi Muhammad PENUS MTI. Abah Ali mendapat julukan dari Abuya, Yai ali bukan Kyai ali. Abuya memanggil beliau Bupati Swasta Tuban. Abah Ali pantas mendapatkan penghargaan diatas karena dedikasinya terhadap lingkungan yang luar biasa dan sangat menginspirasi generasi pemuda untuk menjadi generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Bukan generasi yang cuek dan tak peduli apapun. Kemudian acara dilanjutkan dengan pengesahan reporter dari Kapal. Ada lima orang yang disyahkan secara resmi. Mereka adalah Ustad Hadi, Ustad Nefi, ms Deni lensa, ms Pandu. Ada satu reporter perempuan yang disyahkan juga dan aku tidak mengenalnya siapa dia. Acara ini disiarkan ulang di TVRI hari senin.

Setelah acara pembukaan diklat kegiatan dilanjutkan dengan pemanasan oleh para Trainer. Pertama-tama Para trainer membagi kelompok kepada kami menjadi lima kelompok. Mereka adalah dua kelompok putri dan tiga kelompok putra. Setiap kelompok memiliki nama masing-masing. Mereka dapat menentukan nama kelompoknya sendiri-sendiri. Kelompok putra terdiri dari kelompok Jati diketuai oleh Ustad Munir. Kelompok Phiton diketuai oleh Abu Shakir. Dan kelompok Cemara, aku tidak tahu siapa nama ketuanya. Salah satu nama kelompok putri adalah green spirit. Mereka terdiri dari sepuluh orang, termasuk adikku. Dan kelompokku sendiri namanya adalah Kelapa. Kami memilih kelapa karena kelapa memiliki filosofi kehidupan yang sangat dalam. Jadilah orang seperti kelapa mulai dari akar sampai daun semuanya ada gunanya. Setelah menentukan nama kelompok kami harus membuat yel-yel untuk kelompok kami. Kami membuat yel-yel judulnya iwak peyek lagunya bonek dan ditutup dengan jargonnya Syahrini, “Alhamdulillah ya, sesuatu”. Ketua dalam kelompokku adalah Ummi Yayuk, Beliau sangat lincah dan aktif sekali.

Panitia memberikan waktu kepada kami untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya. Menu untuk sarapan pagi ini adalah pecel. Dalam hati kecilku kok pecel ya?karena memang aku tidak suka pecel. Meskipun tidak suka aku tetap memakannya. Rasa pecel Tuban lain dari yang lain mempunyai ciri khas tersendiri dari pecel daerah lain. Pecel yang lezat ditambah situasi yang nyaman membuat kami sangat menikmati hidangan pagi yang disuguhkan itu hingga kami tidak sadar bahwa guru kami Abuya dan ketua kapal, Prof. Joyo belum sarapan juga. Biasanya kalau acara-acara lain bahkan untuk acara pengajian sekalipun, untuk urusan makanan atasan atau Yai selalu didahulukan atau bahkan mereka dilayani khusus, lain dari yang lain. Dan baru kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri salah satu contoh pemimpin yang bagus dan layak ditiru. Mereka tidak mendapatkan perlakuan khusus bahkan mereka makan dengan sisa makanan yang ada dan tidak protes. Subhanallah. Semoga aku bisa meneladani sifat kepemimpinan Abuya dan Prof. Suparto Wijoyo. Disini aku mendapatkan ilmu yang sangat berharga untuk dipraktikkan dalam masyarakat, jika menjadi seorang pemimpin harus mendahulukan orang yang dipimpinnya jangan egois dengan kepentingan pribadi. Karena pada hahekatnya seorang pemimpin adalah seorang pelayan masyarakat yang harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Bukan pemimpin yang mendapatkan fasilitas utama seperti pemimpin indonesia kini. Kita butuh sosok pemimpin yang benar-benar memiliki jiwa kepemimpinan, sehingga kita yang di pimpinnya dapat hidup damai, tidak merasa takut. Inilah pelajaran pertama yang aku dapatkan selama diklat.

Setelah kami selesai sarapan pagi akhirnya kami harus kembali lagi ke aula untuk mengikuti acara selanjutnya. Para trainer sebelum melanjutkan acara menanyakan apakah kami masih membawa telur-telur yang diberikan kepada kami tadi malam. Aku merasa deg-degan karena sebelum sarapan aku tadi meninggalkanya diatas meja aula bersama tiga kelompokku yang lain. Mereka adalah Ummi Yayuk, Alfi, dan wasi’. Ummi Yayuk tadi menyarankan kepada kami untuk meninggalkannya agar tidak kerepotan ketika sarapan. Kami tidak pernah berfikir bahwa telor-telor kami akan di ambil oleh panitia. Dan kami pasti akan mendapatkan punishment. Para trainer meminta kami untuk mengangkat tangan bagi peserta yang menghilangkan telornya. Aku juga mengangkat tangan. Selain aku dan ketiga kelompokku dari kelompok kelapa ada satu peserta dari kelompok lain. Total ada lima peserta yang mendapatkan hukuman. Terbanyak dari kelompokku. Dan hukumannya adalah kami mendapatkan bendera hitam. Tidak itu saja punishmentnya. Para trainer meminta anggota kelompok juga memberikan punishment. Dari kelompok kelapa aku mendapatkan hukuman untuk menyanyi bersama ketiga temanku. Kami menyanyikan lagu balonku dengan lirik yang sudah kami ubah. Lucu banget. Rasanya malu kami harus menyanyi didepan para panitia, trainer dan peserta yang lain. Alhamdulillah ada temannya jadi aku merasa agak confident. Setelah mendapat hukuman kami kembali ke kelompok untuk berdiskusi tentang lima tata tertib yang harus kami taati selama diklat. Sementara peserta sibuk menyusun peraturan, para trainer memanggil ketua kelompok masing-masing kelompok untuk mengambil sesuatu. Ummi Yayuk membagikannya kepada kami. Ternyata itu adaah balon. Setiap anggota kelompok mendapat satu balon. Aku memilih warna hijau karena memang itu adalah warna kesukaanku. Aku tidak tahu akan diapakan dengan balon itu. Tiba-tiba para trainer memberikan aba-aba untuk meniup balon sampai meletus. Aku deg-degan. Aku paling takut dengan bunyi-bunyian seperti kembang api, mercon dan balon. Dan ini aku harus meniupnya sampai meletus. Aku berdoa pada Allah semoga aku bisa melakukanya. Aku berusaha untuk menghilangkan rasa takut dengan melihat teman-temanku. Ada satu peserta yang sudah berhasil meniupnya sampai meletus. Dan beliaunya mendapatkan satu reward yaitu satu bendera putih. Semua peserta berusaha meniup balonnya sampai berhasil. Hampir semua peserta sudah berhasil meniup balonnya. Tinggal empat peserta yang belum selesai. Mereka adalah mb Utami, Asya, satu peserta cowok dan aku sendiri. Banyak teman-teman yang menyemangati kami. Tidak berapa lama alhumdulillah aku berhasil. Kemudian disusul Asya. Dan tinggal mb utami dan satu peserta cowok. Para peserta dengan bersemangat memberikan dukungannya. Akhirnya tinggal mb Utami saja yang belum meletuskan balonnya. Setelah beberapa lama ditunggu ternyata mb Utami masih belum meletuskn balonnya. Akhirnya panitia membantunya dengan sebuah jarum. Akhirnya meletus juga. Setelah acara tiup balon selesai para trainer menyampaikan pesan yang terkandung pada acara tiup balon itu yaitu kita harus yakin akan keberadaan ALLAH. Dia lah yang akan membantu kita dalam menyelesaikan setiap problem kita.

Setelah permainan selesai acara dilanjutkan dengan pemberian materi pertama oleh Resi Agung Kapal Jatim Abuya Lutfi Muhammad. Abuya memberikan materi dengan gaya yang renyah, santai, enak didengar dan mudah diterima. Abuya mengajak kami para peserta untuk tidak mencintai uang. Beliau mengajarkan untuk membenci uang. Beliau berpesan untuk bekerja secara cerdas artinya bukan kita yang memburu uang tetapi uanglah yang seharusnya mengejar kita. Jika seseorang yang belum waktunya kaya meskipun dia bekerja siang malam, ibarat kepala dipakai kaki, kaki dipakai kepala maka dia tidak akan bisa kaya. Kekayaan itu hanyalah sebentar, tidak abadi. Ada orang yang kaya raya tapi ketika Allah menakdirkan dirinya untuk menjadi miskin maka dia akan menjadi miskin. Dan sebaliknya meskipun seseorang dari keluarga miskin kalau Allah sudah menakdirkan menjadi kaya maka dia akan menjadi orang yang kaya. Intinya bahwa kita boleh bekerja mencari uang tetapi jangan sampai berfikiran bahwa uang adalah segala-galanya dan mendewakannya.

Abuya kemudian melanjutkan dengan bertanya kepada peserta sebenarnya apa tujuan para peserta mengikuti diklat. Dan kamipun mempunyai jawaban yang bermacam-macam. Ada peserta yang menjawab tujuannya mengikuti diklat adalah untuk bersyukur kepada ALLAH, dan ada yang menjawab untuk dapat memilah sampah dengan baik dan benar. Dan akupun memiliki jawaban sendiri. Abuya mengatakan bahwa kita datang ke diklat di Mangrove center Jenu Tuban ini tujuannya adalah untuk tholabul ilmi bukan yang lain. Itu artinya bahwa selama dua hari diklat di Tuban para peserta harus benar-benar belajar. Belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sekarang. Hadist nabi barang siapa yang hari ini sama dengan hari ini adalah orang yang merugi. Sehingga ilmu yang diperoleh selama diklat dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara dan juga lingkungan sekitar. Dan apabila ada peserta yang memiliki tujuan lain segera dihilangkan dari pikiran sehingga niat kita tidak tercampur dengan niat-niat lain yang tidak diperlukan selama diklat. Niat adalah langkah utama dalam menjalankan setiap pekerjaan. Segala sesuatu dilihat dari niatnya, jika niatnya baik maka hasilnya akan baik juga, insyaALLAH.

Abuya melanjutkan dengan menjelaskan enam etika sebagai Dai Daiyah Lingkungan Hidup. yaitu :

1. Berdakwah berbasis prinsip dasar Pancasila bagi keunggulan NKRI yang maritim sebagai wujud peneguhan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk kemaslatan makhluknya.

2. Mendakwahkan ilmu pengetahuan diniah dengan mengedepankan tanggung jawab Alquran dan Alhadist guna menjaga martabat kemanusiaan dan kealaman sebagai wujud syukur atas alam NKRI.

3. Menjalankan tugas Dai/Daiyah dengan penuh etika daan estetika untuk menjadi penuntun budi pekerti dalam rangka memperkokoh kebangsaan Indonesia dengan dakwah lingkungan berkelanjutan.

4. Memantapkan kaidah ilahiah, insaniah, dan alamiah dalam setiap kebutuhan jelajah KAPAL Jawa Timur.

5. Meneguhkan gerakan ramah lingkungan dan ramah kemanusiaan dengan dedikasi yang benar lagi bersih sebagai tugas untuk membangun eco-society.

6. Menghormati guru dan memberikan teladan hidup harmoni mewujudkan Indonesia Bersih, Hijau dan Biru.

Itulah keenam hal yang disampaikan Abuya dan harus ditaati bagi semua Dai dan Daiyah Lingkungan hidup. Untuk point pertama Abuya mengulas tentang Menomorsatukan Allah dalam berbagai kesempatan. Allah ada dalam diri setiap orang. Ketika kita membutuhkan Allah kita tinggal memanggil Allah. Kita harus sharing dan curhat hanya kepada Allah bukan kepada manusia yang notabenya sama. Sama-sama bergantung kepada yang lain. Sama- sama suka mengeluh jika memiliki masalah. Abuya bercerita sewaktu kecil ketika belayar dilaut bersama Ayahnya tiba-tiba perahunya terbalik. Dan Ayahnya membiarkanya kalau belum waktunya meninggal maka beliau tak akan meninggal dunia. Beliau berdoa kepada Allah untuk diselamatkan. Dan Beliau diselamatkan Allah melalui pertolongan ayah beliau. Ayah beliau berkata bahwa yang menyelamatkan beliau bukan ayah beliau tetapi Allah. Dalam hal ini Abuya memberikan motivasinya kepada kami bahwa dalam kondisi apapun ALLahlah yang akan menolong kita asalkan kita selalu berfikir positif percaya dan yakin 100 persen akan keberadaan Allah. Dan Abuya menyarankan mintalah Allah untuk mengapresiasi semua karya kita. Jangan sampai meminta apresiasi pada manusia karena itu tidak ada gunanya.

Abuya menyampaikan materi sampai tak terasa waktunya hampir habis, kamipun terhanyut oleh ihtibar-ihtibar yang beliau sampaikan. Setelah beliau selesai menyampaikan materi dengan tanya jawab dengan dipandu oleh trainer. Setelah selesai, acara dikembalikan lagi kepada para trainer. Mereka mengulas sedikit penjelasan Abuya tentang menomorsatukan Allah dan meminta peserta untuk menghubungkanya dengan permainan peniupan balon tadi. Mereka meminta mb Utami untuk maju kedepan untuk menjelaskan. Para trainer meminta mbak utami untuk maju pertama kali dengan alasan karena dialah yang terakhir yang meletuskan balon. Mb Utami mengatakan bahwa dia harus optimis bahwa dia dapat meniup balon sampai meletus dan dia akan berusaha terus. Setelah mb Utami para trainer juga memanggil para peserta yang lain. Dan mereka juga memiliki pendapat sendiri. Ada yang mengatakan karena dia lagi beruntung dan ada juga yang mengatakan kalau semua sudah takdir Allah. Selain itu para trainer meminta kelompok untuk memberikan ulasannya termasuk kelompoku kelapa. Karena tertarik sekali dengan penjelasan dan tausiah Abuya aku segera menulis hingga dapat satu lembar lebih tentang materi yang disampaikan Abuya. Beberapa kelompok lain sudah dikumpulkan dan dibacakan oleh para trainer. Ketika tiba giliran kelompokku Ummi Yayuk mengusulkan agar aku membacakannya sendiri. Dengan senang hati para ustad mempersilahkanya. Dan Ummi Yayuk memintaku untuk membacakanya karena aku yang telah membuatnya. Rasanya gemetar aku menerima tugas ini. Akhirnya aku maju kedepan untuk membacakanya. Sebelumnya aku meminta maaf pada trainer karena tidak menyangka Ummi Yayuk mempunyai usulan seperti itu dan aku yang harus membacakannya. Dengan sedikit gemetar aku bacakan poin-poinnya saja, tidak kubaca semua. Alhamdulillah akhirnya selesai.

Acara selanjutnya adalah outbond. Kami berkumpul menurut kelompok kami masing-masing. Kemudian kami harus menutup mata dengan slayer yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Kami harus membuat lingkaran, karena kelompok kami ada sembilan peserta maka susunannya menjadi, dua ditengah, tiga membentuk lingkaran luar dan tiga lagi membentuk lingkaran di luarnya. Kemudian masing-masing ketua membimbing kami untuk berjalan di suatu tempat. Ummi Yayuk luar biasa sekali dalam membimbing kami menuji tempat yang akan kami tuju. Setelah sampai kami boleh membuka mata ternyata dibawah pohon cemara dekat laut.

Kegiatan selanjutnya adalah menutup mata tanpa slayer. Ini lebih sulit dari yang pertama. Disini para peserta dituntut akan kejujurannya. Kami di bimbing Ummi yayuk, mengelilingi daerah pantai dengan mata tertutup. Ummi Yayuk ingin kami segera sampai jadi kami harus cepat-cepat menyalib kelompok yang lain. Sebenarnya kalau kita mau kita bisa membuka mata kita. Karena tidak mungkin para trainer dan panitia yang jumlahnya terbatas akan mengawasi kami satu persatu. Kami tidak berani membukanya karena meskipun mereka tidak tahu, Allah Maha tahu. Inilah ujian kejujuran untuk kami yang sebenarnya. Ini untuk mengetahui dan mengecek diri kita jujur apa tidak. Tapi alhamdulillah kami bisa menyelesaikan rintangan dari para panitia dan trainer. Dan panitia mengatakan hampir 99% dari kami jujur, tak ada yang membuka mata.

Setelah kegiatan ini selesai para peserta dipersilahkan untuk istirahat dan makan siang sampai jam satuan. Kami juga dapat memanfaatkan waktu istirahat untuk sholat. Untuk peserta yang perempuan bisa sholat di Mushola. Tetapi untuk peserta laki-laki di sarankan untuk sholat di tepi pantai, di bawah pohon cemara. Sungguh-sungguh dai lingkungan yang nyata. Sholat yang menyatu dengan semilirnya angin dan hembusan ombak pantai, membuat sholat dhuhur mereka kian terasa khusuk dengan Ustad Munir sebagai imamnya. Sayang sekali kami yang perempuan tidak ikut. Setelah sholat kami disuguhi hidangan yang lezat juga, rata-rata ikan laut. Kami sangat menikmati hidangan tersebut. Kami istirahat sebentar sampai sekitar jam dua kami kembali lagi ke aula untuk mendapatkan materi selanjutya. Penyajinya kali ini adalah seorang profesor. Namanya profesor Prasetyo Riyadi. Beliau ahli dalam bidang Hukum. Beliau adalah salah satu dosen yang sangat konsen dalam bidang lingkungan. Beliau akan memberikan materi tentang etika ekologi.

Beliau menerangkan tentang kebenaran. Menurut beliau tak ada kebenaran yang absolut. Ada dua jenis kebenaran yaitu kebenaran sementara dan kasat mata (empirik). Untuk mengetahui kebenaran Allah dapat melalui kebenaran pancaindra, akal, dan hati. Beliau juga menyarankan agar kita tidak boleh berkomentar sebelum mengetahui kenyataanya. Lebih baik diam. Sebenarnya aku kurang mengerti dengan penjelasan beliau soalnya temanya tentang etika ekologi tetapi beliau menjelaskan tentang kebenaran. Yang jelas kita harus menyakini akan kebenaran keberadaan Allah SWT. Jangan pernah berbicara dan berkomentar kalau kita tidak mengetahuinya secara pasti, begitu kira-kira isi materi dari beliau.

Tak terasa waktu berjalan sangat cepat meskipun moderator hanya memberikan waktu tiga puluh menit tetapi acara menarik hingga berlanjut berlanjut hingga lebih dari satu setengah jam. Setelah itu acara dilanjutkan dengan istirahat dan membersihkan diri dan sholat asyar dan magrib. Setelah itu makan malam bersama. Makan malam terasa sangat menyenangkan dengan panorama alam yang alami yaitu semilirnya hembusan angin malam dan pemandangan air tambak yang terlihat sangat indah.

Selesai makan malam panitia mengarahkan kami untuk mengikuti acara selanjutnya. Setelah kami semua berkumpul panitia menjelaskan bahwa hari ini akan diterapi kesehatan oleh ustad Sahl Asrori. Ustad Sahl juga salah satu peserta diklat yang memiliki keahlian khusus. Ustad Sahl maju kedepan untuk menjelaskan tentang terapi yang telah beliau praktikkan atas persetujuan Abuya. Ternyata beliau sudah memiliki pasien yang sangat banyak. Beliau meminta salah satu peserta untuk maju kedepan untuk dijadikan sebagai model dalam praktek beliau. Beliau mengatakan bahwa dalam melakukan gerakan terapi ini harus maksimal untuk mendapatkan hasil yang maksimal juga. Tapi yang terpenting adalah bahwa ketika melakukan terapi harus yakin dan percaya dengan sepenuh hati bahwa nantinya yang menyembuhkan adalah Allah SWT, bukan yang lain.

Aku menghitung ada sembilan gerakan dalam terapi beliau. Sebelum melakukan gerakan ini harus membaca basmallah dulu, salah satu tanda bahwa kita menomorsatukan Allah dalam setiap langkah hidup kita. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan pertama yaitu dengan membungkukkan badan, tangan menyentuh ibu jari kaki, kepala menunduk kebawah dagu menyentuh dada. Dan pernapasan yang dilakukan adalah pernapasan perut. Pernapasan perut dilakukan agar kita bisa melakukan gerakan sampai selesai. Selama kita menunduk harus membaca salawat atas nabi Muhammad sebanyak sebelas kali. Setelah itu tengok kepala kekanan dan kekiri sambil mengucapkan kalimat tasbih. Tangan diletakkan ke lantai. Bernapas dengan tenang seperti bayi. Pada gerakan pertama ini berfungsi untuk melancarkan aliran darah. Biasanya aliran darah yang tidak lancar yang membuat kita gampang merasa capai. Selain itu gerakan pertama ini berfungsi untuk membuat otak lebih encer. Bahasa halusnya membuat manusia menjadi lebih pintar dan smart. Aku sendiri tidak tahu apakah itu benar atau salah. Yang terpenting percaya dulu dan melakukan semua yang diperintahkan Ustad Sahl. Pada mulanya untuk melakukan gerakan pertama ini sangat sulit sekali, tetapi setelah Ustad Sahl menotok aliran darah kami dipunggung gerakan pertama dan terakhir menjadi lebih mudah. Beliau menotok tiga bagian dari punggung kami semua. Aku tidak tahu bagian mana yang ditotok. Agak sedikit sakit bekas totokan beliau. Tapi setelah beberapa lama sakitnya hilang.

Gerakan kedua dilanjutkan dengan memegang jari kaki yang kedua. Semua gerakannya sama dengan gerakan pada ibu jari. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan memegang jari tengah. Semua gerakannya juga sama dengan ibu jari dan jari yang kedua. Jika kita memiliki sakit ketika setelah selesai salawat atas nabi bisa berdoa sepenuh hati kepada Allah untuk diberikan kesembuhan. InsyaAllah semua sakit akan sembuh.

Gerakan keempat dengan memegang jari yang keempat cara melakukannya sama dengan memegang jari pertama, kedua, dan ketiga. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan kelima dengan memegang jari kelingking. Ketika kita memegang jari kelingking dan merasa bergetar ketika bersalawat itu tandanya bahwa kita masih belum bisa sabar. Untuk masalah kesehatan berarti kolesterol dalam tubuh kita terlalu tinggi yang menyebabkan banyak penyakit dalam tubuh kita. Setelah beberapa kali melakukan terapi jika jari kelingking kita tetap bergetar maka kita perlu memeriksakan kesehatan kita ke dokter. Cara yang mudah mengetahui kesehatan kita.

Gerakan ke enam adalah memegang semua jari-jari kaki dengan semua jari-jari tangan. Cara-caranya sama dengan gerakan pertama. Gerakan ke tujuh sama dengan gerakan ke enam. Bedanya kalau gerakan ke tujuh siku-siku agak dibengkokan. Gerakan ke delapan yaitu membuka kedua kaki dengan menggunakan jari-jari tangan dengan jarak satu jengkal. Caranya sama dengan gerakan –gerakan sebelumnya.

Gerakan yang terakhir adalah gerakan relaksasi yaitu dengan merebahkan seluruh tubuh ke lantai diiringi bacaan sholawat nariyah. Ustad Sahl mengatakan bahwa kita harus benar-benar dalam kondisi nol tidak memikirkan apapun ketika melakukan terapi ini, harus konsentrasi penuh tidak boleh bercabang. Dan percaya Allah yang akan menyembuhkan.

Ketika pertama kali melakukan terapi ini rasanya sakit sekali di bagian punggung kebawah sampai kaki. Jika sakit dibagian kaki itu berarti kita menderita sakit maag. Jika yang sakit bagian paha berarti kita sakit punggung. Jika sakit semua berarti badan kita merasa capek. Terapi kesehatan ini juga cocok bagi penderita asma dan diabet melitus. Mereka dapat menjalankan terapi ini dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Bagi orang normal dapat melakukannya setelah sholat shubuh. Sebelum tidur minumlah satu gelas air. Sediakan segelas air untuk diminum setelah bangun tidur. Biasanya terapi ini membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Setelah melakukan terapi ini usahakan agar kaki tidak ditekuk. Ketika terjadi kram pada perut, langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah tidur tengkurap dengan tangan diletakkan dibawah perut dan memegangnya. Kemudian bangunlah perlahan-lahan sampai kram hilang, tidak terasa lagi.

Setelah terapi kesehatan secara alami ustad Sahl juga ahli dalam pijat listrik. Beliau terkenal dengan ustad listrik. Prinsip kerjanya yaitu dengan menyetrum penderita suatu penyakit dengan listrik yang berdaya rendah. Tentu saja diiringi dengan do’a-do’a untuk meminta kesembuhan. Untuk sementara Ustad Sahl hanya membuka praktik khusus kaum lali-laki saja. Untuk kaum perempuan beliau mengatakan masih belum mendapatkan ijin dari Abuya. Jadi beliau tidak berani untuk membuka praktik tanpa restu Abuya Lutfi.

Untuk praktik pertama ustad Sahl meminta salah satu peserta untuk maju kedepan. Ummi Yayuk meminta untuk diterapi pijat listrik. Beliau tetap menolak. Kemudian Abuya memberikan ijin karena ummi Yayuk memakai kaos kaki. Tetapi ustad Sahl tetap menolak dengan memberikan alternatif bagaimana kalau praktik bareng dengan suaminya. Akhirnya praktik pertama itu ummi Yayuk dan suaminya. Aku melihat sepertinya sakit sekali, tetapi aku tidak tahu karena aku juga belum pernah sama sekali praktik memakai pijat listrik. Kemudian terapi dilanjutkan ke Pak Lurah. Setelah itu kami para kelompok putri meminta ijin untuk istirahat.

Dengan badan yang capai kami tidur sangat lelap. Sesungguhnya malam ini Abuya berencana untuk membawa kami ke laut, untuk mempraktekkan theori pertama yaitu tentang menomorsatukan Allah dalam segala hal. Tetapi karena hujan deras sampai pagi sehingga kegiatan ini dibatalkan. Aku pun tidur pulas sampai pukul 3.30 kemudian segera bangun untuk melaksanakan sholat tahajud dan sholat shubuh seperti biasa. Kemudian dilanjutkan dengan hailallah. Hailallah kali ini sungguh luar biasa seperti menggema dilangit suaranya. Aku pun terhanyut dengan hailallah ini kami melakukannya sampai aku tidak tau berapa hitungannya. Aku merasa merinding mendengar kalimat Allah ditegakkan di bumi mangrove ini.

Hari ke tiga di Mangrove center di mulai dengan menunggu sarapan. Sambil menunggu sarapan aku melihat foto bersama dengan teman-teman yang lain. Kemudian Aku memutuskan untuk mandi dulu. Ketika mau mandi tiba-tiba Abuya memanggilku . Beliau sedang makan ikan sisa tadi malam. Tadi malam beliau tidak sempat makan karena tadi malam beliau ada acara. Aku bertanya ada apakah gerangan kok Abuya memanggil aku. Beliau menanyakan apakah ada nasi. Aku coba tanya mbak yang mengurusi mangrove center. Tetapi dia mengatakan kalau nasinya belum ada. Aku pergi keluar Alhamdulillah tidak berapa lama tiba-tiba ada mobil box yang datang membawa nasi untuk sarapan kali ini. Aku segera mengambilkan nasi untuk beliau. Aku menanyakan kepada Ustad Hadi apa kesukaan Abuya. Ustad Hadi dulu pernah menjadi abdi dalam beliau jadi saya pikir dialah yang mengetahui semuanya tentang kesukaan Abuya. Ustad Hadi bilang kalau Abuya lebih suka dengan sayur-sayuran dan ikan asin. Kalau bisa sayur-sayurannya yang banyak. Aku meuruti saran Ustad Hadi dan segera memberikan Kepada Abuya. Aku agak takut juga karena ini adalah pertama kalinya aku sebagai murid beliau melayani makan beliau. Rasanya seperti melayani makan Bapakku yang didesa. Aku kangen pada Beliau, Bapakku. Sungguh aku merasa sangat beruntung. Mungkin tak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Setelah aku memberikan nasinya kepada Abuya, beliau menanyakan selain menu yang aku berikan apakah ada menu lain. Aku jawab pilihan lainnya adalah nasi goreng. Beliau memintaku untuk mengambilkannya untuk sarapan beliau. Beliau juga berpesan agar aku juga mengambil makanan jadi bisa sarapan pagi bersama-sama. Aku juga mengambil menu nasi goreng. Aku menghidangkan kepada beliau. Abuya mengajak teman-temanku yang lain untuk sarapan bersama-sama. Ada tujuh temanku yang ikut sarapan bersama dengan Abuya. Sambil sarapan beliau bercerita tentang istri beliau, Ummi Makfiah. Beliau pernah menguji ummi untuk tidak memberikan uang belanja kepada ummi selama lima belas hari, tetapi karena kuasa Allah ummi memang hebat beliau selalu dapat kiriman makanan. Entah dari siapa. Mungkin Malaikat-malaikat Allah yang datang untuk menolong beliau. Hal ini membuatku sangat kagum pada Ummi. Ummi adalah istri yang hebat, sosoknya yang lemah lembut tidak pernah marah membuat banyak orang mencintainya, termasuk aku. Selain itu beliau juga sangat pintar memasak, kata Abuya rasa masakan ummi tidak ada duanya. Abuya juga tidak tahu apa resep masak ummi sehingga membuat rasa masakan beliau sangat lezat, beda dari yang lain. Ustad Hadi Juga mengatakan hal yang sama. Ketika dia dulu pernah jadi Abdi dalem mencoba memasak dengan menu yang sama tetapi tetap saja rasanya berbeda, lebih lezat masakannya ummi. Dan satu hal lagi Ummi orangnya sangat sabar sekali. Aku berharap bisa meneladani sifat-sifat beliau yang sangat mulia itu. Meskipun agak sulit, tapi aku akan berusaha.

Sungguh pelajaran yang sangat berharga dari guru kami Abuya. Setelah sarapan pagi bersama Abuya aku ikut melanjutkan acara selanjutnya. Seperti biasa kami harus berkumpul di Aula untuk mengikuti perintah dari para Trainer dan para panitia. Setelah kami berkumpul ustad Wadud, salah satu trainer memberikan wejangannya. Sebagai manusia kita harus menyayangi makhluk lain. Seperti nyamuk meskipun dia itu kadang-kadang menggigit kita tetapi nyamuk menggigit untuk mempertahankan diri. Untuk hidupnya yang hanya berlangsung sehari semalam saja. Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi pasti ada manfaatnya. Oleh karena itu, sebagai dai daiyah disarankan untuk tidak membunuh binatang maupun menebang pohon sembarangan. Kemudian dilanjutkan dengan Tanya jawab, Acara berlangsung dengan hangat, banyak para peserta yang memberikan pendapatnya. Akhirnya panitia memberikan kesimpulan bahwa dalam kehidupan sebagai manusia harus bisa menyeimbangkan hubungan dengan ALLAh ( habluminallah ), hubungan dengan manusia (Hablumminanas), dan yang terakhir adalah hablumninallalam, yaitu hubungan keharmonisan manusia dengan alam sekitarnya. Ketiga hal tersebut sangat berkaitan dan harus seimbang, jika ada satu hal yang tidak seimbang maka kehidupan akan terganggu.

Kemudian para trainer memberikan beberapa games kepada kami. Setelah itu gantian para peserta yang memberikan permainan kepada panitia dan trainer. Permainan yang paling seru adalah permainan dari para peserta untuk para panitia. Panitianya adalah Ustad Nefi, Ustad Zaenal dan Ustad Hadi. Pertama kali gamesnya tidak terlalu berat. Jadi para panitia dapat menyelesaikan permainan itu dengan mudah. Dilanjutkan dengan permainan yang kedua yang agak berat, yaitu dua tangan dan dua kaki. Panitia berfikir sebentar. Kemudian mereka menemukan cara menyelesaikan permainan itu, yaitu dengan cara seperti bermain kuda-kudaan. Pada mulanya mereka bingung untuk memutuskan siapa yang akan berada dibawah. Akhirnya diputuskan Ustad Zaenal yang berada dibawah. Kemudian diatasnya adalah Ustad Hadi dan yang terakhir adalah ustad Nefi. Kami para peserta menghitungnya sampai sepuluh. Dan akhirnya mereka berhasil. Jika teringat dengan permainan ini aku masih ingin tertawa, karena memang sungguh lucu.

Setelah permainan selesai kemudian dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada panitia dan para trainer. Penghargaan ini dari Abuya untuk mereka atas hasil kerja mereka selama diklat. Abuya meminta para peserta untuk memberikan hadihnya kepada para trainer. Bingkisannya dibungkus kertas kecil, diatasnya ditulis nama barang dari daerah tertentu. Seperti Ustad Wadud kebagian Trasi dari mbah Bonang. Aku yang kebagian memberikannya kepada Beliau, karena aku yang dari Tuban.

Acara pembagian tanda penghargaan selesai, kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Yai Ali Mansyur. Beliau menerangkan tentang keiklasan dan kesabaran selama menanam mangrove.

Dulu didaerah sekitar mangrove center itu adalah tanaman kelapa. Hampir seluruh wilayah Jenu penuh dengan pohon kelapa. Atas kuasa Allah, tanaman kelapa ini terkena hama tanaman yang menyebabkan seluruh pohon kelapa didaerah Jenu mati dan habis tak tersisa. Karena tidak adanya tanaman didaerah sekitar pantai menyebabkan abrasi didaerah sekitar pantai. Hampir seluruh wilayah pantainya habis oleh abrasi air laut ini. Atas insiatif sendiri Yai mansyur yang saat itu mengajar disebuah madrasah di kawasan Jenu berusaha untuk menanam pohon mangrove disekitar rumahnya yang dekat pantai. Kemudian secara bertahap beliau membeli tanah sekitar pantai yang berupa lautan. Harga tanah saat itui relative sangat murah. Setelah membelinya beliau menanaminya dengan bibit-bibit Mangrove yang baru. Hingga sampai sekarang luas hutan Mangrove mencapai 56 ha. Beliau menanam mangrove tanpa bantuan pihak manapu juga, beliau mengatakan ini adalah bantuan dari langit yang merupakan kiriman dari ALLAh swt. Beliau menyarankan kalau mengerjakan sesuatu harus ikhlas karena ALLAH bukan karena yang lain. Sama ketika menanam harus dengan hati. Beliau mengatakan hampir semua tanaman yang beliau tanam selalu tumbuh dengan subur. Rahasianya adalah ketika menanam harus mengucapkan bismillah dulu dan harus niat lillahi ta’ala . Selain itu kita harus jujur. Saat ini untuk menjadi manusia yang jujur itu sangat susah, tetapi kita harus berusaha untuk selalu jujur, yaitu jujur pada diri sendiri, manusia dan Allah. Orang yang jujur akan selalu mujur, begitu kata beliau.

Materi dari Yai Ali Mansur sungguh menarik. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan mengenai dukanya ketika menanam Mangrove. Yai Ali Mansyur mengatakan selama beliau menanam pertama kali sampai sekarang beliau tidak pernah menemukan kendala sekecil apapun. Beliau selalu mendapatkan pertolongan dari Allah. Ada peserta yang sharing tentang daerahnya yang ada tanah kosongnya. Abah Mansyur menyarankan untuk menanaminya saja. Mengenai bibitnya dapat mengambil secara gratis di Abah Mansyur. Jika suatu saat ada yang mengaku memiliki hak tanah tersebut biarkan saja. Yang terpenting sekarang adalah menanam.

Dari Abah Mansyur aku belajar banyak hal. Aku sangat kagum akan beliau. Saat ini beliau selain aktif dalam mengurus bisnis keluarga sebagai direktur utamanya juga sangat konsen dalam mengamalkan ajaran islam, tentang hablumminalam yaitu dibuktikan dengan menanam Mangrove tersebut. Menurutku wajah beliau memancarkan aura yang tak bisa aku deskripsikan. Sungguh salah satu tauladan yang luar biasa, sebagai generasi pemuda saya harus dapat mengikuti jejak beliau. Pancaran keiklasan, ketulusan dan kejujuran beliau sungguh menginspirasiku untuk menjadi manusia baru yang lebih baik.

Setelah abah mansyur selesai memberikan materi acara dilanjutkan oleh para trainer. Para trainer meminta pada peserta diklat untuk mengambil benda-benda yang menurut kami paling unik. Kelompok putri mengambil benda-benda di sekitar pantai. Dan kelompok putra mengambil benda-benda di sekitar tambak. Setelah para peserta mendapatkan barang- barang yang mereka cari mereka termasuk aku harus menyetorkankannya pada Abuya. Kami harus tahu alasannya kenapa kami memilih barang tersebut dan harus mempertanggungjawabkannya pada Abuya. Aku tidak tahu apa maksud dari perintah ini. Aku hanya berusaha untuk menuruti perintah dari para Trainer saja. Akhirnya setelah kami jelas dengan perintah para trainer, kami kelompok putri pergi kepantai.

Kami kelaut dipandu oleh Ustad Wadud. Aku menemukan keong yang aku anggap menarik. Keong memiliki manfaat yang sangat besar bagi manusia, salah satunya adalah dapat mengobati batuk. Waktu aku kecil orang tuaku sering memberiku keong bakar jika aku sakit batuk. Dan alhamdulillah karena kuasa Allah aku bisa sembuh dari sakitku.

Setelah beberapa saat kami kembali ke aula untuk membuat laporan ke Abuya tentang barang yang kami ambil. Sudah ada beberapa peserta yang memberikan laporannya kepada Abuya. Kemudian giliranku untuk maju ke Abuya. Aku jelaskan apa yang telah aku pilih. Semua peserta memiliki jawaban yang bermacam-macam, yang paling menarik adalah penjelasan dari Wasi’. Dia menjelaskan barang yang dia bawa adalah udara. Udara menurut dia sangat menarik karena tanpa ada udara manusia tidak dapat bernapas dan akhirnya mereka akan meninggal. Tidak hanya manusia tetapi semua makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup tanpa udaranya. Oleh karena itu sebagai manusia yang masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bernapas dengan udara yang melimpah kita harus bersyukur kepada Allah swt. Karena nikmat udara sangat bermanfaat sekali bagi manusia.

Acara selanjutnya adalah istirahat, sholat dan makan. Selama kami disini kami selalu diberi hidangan yang selalu mengundang selera karena makanan yang dihidangkan selalu bervariasi dan sangat mengundang selera. Semua peserta para trainer menikmati hidangan.

Setelah makan kami kembali lagi ke aula untuk mendapatkan pengarahan dari para trainer tentang apa yang akan kami kerjakan selanjutnya. Dalam keesempatan kali ini Abuya menerangkan dan mengharapkan mangrove Center menjadi Wisata Nasional dan Internasioal. Beliau mengatakan ada banyak potensi alam yang dapat dikembangkan, dan kami diharapkan dapat menyumbangkan ide-ide segar yang dapat kami sumbangkan demi kemajuan hutan mangrove center ini. Pengarahan dilanjutkan oleh para trainer. Mereka mengatakan acara selanjutnya adalah observasi wilayah setempat utuk menindaklanjuti keterangan Abuya tentang rencana pengembangan pantai mangrove menjadi wisata nasional dan internasional. Setiap kelompok harus membuat paper nantinya dikumpulkan di Abuya. Selain itu pembuatan makalah ini adalah salah satu prasarat untuk mendapatkan sertifikat dan sertifikat itu untuk mendapatkan ID card sebagai kartu pengenal resmi anggota Kapal angkatan pertama.

Setelah itu kami para peserta dengan anggota kelompok masing-masing melakukan observasi dilapangan. Tempat pertama yang kami observasi adalah hutan mangrove. Kami mau menyeberang melewati jembatan yang ada hutan mangrovenya. Tapi kami memutuskan untuk tidak melewati jalan tersebut karena kami belum mengenal daerah tersebut sama sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk melewati jalan yang umum. Setelah menyusuri jalan-jalan sekitar mangrove kami menemukan sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah ini berfungsi ganda selain untuk tempat tinggal juga berfungsi untuk toko untuk jualan. Kami berusaha melakukan wawancara kepada salah satu penghuni rumah yaitu yang perempuan, tapi sepertinya perempuan tersebut sangat sibuk jadi kami memutuskan untuk tidak mewancarai beliau. Ada seorang laki-laki yang duduk didepan warung ternyata beliau adalah suami perempuan tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk mewancarai bapak ini mengenai apapun tentang hutan mangrove. Kelompokku sangat kompak, ada yang bertugas sebagai reporter, ada juga yang bertugas sebagai securiti. Dan aku sendiri bertindak sebagai seksi dokumentasi, istilahnya sebagai photographer. Tugasku mendokumentasikan gambar-gambar yang menarik sebagai bahan penunjang dalam makalah kami nanti.

Kami bertanya tentang sungai sekitar hutan mangrove. Disini ada dua sungai yang terdekat yaitu kali Gedhe dan Kali Buntu. Kami bertanya dimana jalan terdekat yang bisa kami lalui, dengan ramah bapak tadi menunjukkan kepada kami. Setelah puas bertanya kami melanjutkan perjalanan untuk oservasi ke kali Gedhe. Karena tidak tahu jalan, ditengah jalan kami bertanya pada sebuah keluarga yang saat itu sedang berkumpul. Alhamdulillah Allah memberikan kemudian kepada kami, mereka juga sangat ramah. Kami tidak tahu kalau yang kami tanyai adalah seorang anggota polisi. Pak polisi ini namanya bapak Sugeng. Beliau adalah salah satu polisi yang sangat lama sekali bertugas di Jenu. Sebenarnya beliau berasal dari Bandung. Karena menikah dengan orang Jenu akhirnya beliau menetap di daerah ini. Beliau menerangkan banyak hal tentang Jenu. Beliau sangat baik sekali, beliau siap mengantarkan kami keliling Jenu dengan mobil beliau. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kali gedhe. Di kali ini biasanya digunakan oleh warga setempat untuk mandi, mencuci dan kegiatan yang lain. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami ke Balai Desa. Sayang ini adalah hari minggu sehingga kami tidak dapat bertemu dengan bapak kepala desa setempat beserta jajarannya. Setelah kami mengambil foto untuk dokumentasi bapak sugeng mengajak kami untuk mengunjungi masjid Astana. Salah satu masjid yang terkenal di Jenu. Beliau mengatakan bahwa di belakang Masjid Astana ini ada makam salah satu Syech. Kami memutuskan untuk tidak masuk wilayah makam, hanya berkeliling sekitar masjid. Kami mencari bapak Sugeng ternyata beliau tidak ada. Setelah beberapa saat akhirnya beliau kembali dengan seorang bapak. Beliau mengatakan bahwa beliau adalah Kasun (kepala Dusun) daerah ini. Beliau yang mengetahui banyak hal tentang masjid Astana. Kami pun segera bertanya banyak hal tentang masjid Astana.

Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan kami kembali ke Mangrove center. Sepanjang perjalanan bapak Sugeng bercerita banyak hal tentang Jenu. Ternyata daerah ini dilalui oleh Jalur Pantura yang sangat ramai. Dalam hati aku membenarkan perkataan Abuya bahwa hutan mangrove sangat potensial untuk dikembangkan sebagai wisata Nasional maupun Internasional karena salah satu faktornya yaitu letaknya yang sangat strategis yaitu dijalur Pantura. Beliau orang yang sangat ramah. Hampir semua orang mengenali beliau dan menyapa beliau. Berbeda sekali dengan polisi didaerah ku, Parengan. Kami sebagai penduduk asli sana hampir tidak mengenali polisi didaerah kami. Karena rata-rata para polisi tidak pernah sambang ke desa-desa. Mereka datang hanya pada acara-acara tertentu saja. Berbeda dengan bapak Sugeng beliau selalu keliling desa untuk sekedar bersilahturahmi kepada warga. Beliau mengatakan kalau semakin banyak silahturahmi maka rejeki akan semakin lancar. Selain itu dengan bersilahturahmi manfaat yang lain yaitu dapat memperpanjang usia kita. Jadi beliau selalu menyempatkan diri untuk bersilahturahmi disela-sela kesibukanyya sebagai salah satu anggota polisi. Salah satu pelajaran hidup yang luar biasa dari bapak Sugeng. Dan kalau bisa kita juga harus dapat meneladaninya. Dijaman yang serba canggih ini banyak orang yang melupakan silahturahmi dan mereka terlena dengan kesibukan masing-masing, termasuk aku juga.

Kami kembali ke hutan mangrove center. Kami membawa bapak Sugeng untuk bertemu dengan Abuya, tapi karena Abuya saat itu lagi beristirahat kami tidak berani mengganggu tidur beliau, bapak Sugeng di temui oleh para trainer. Mereka mengobrol banyak hal. Sementara kami membagi kelompok kami setengahnya pergi ke laut untuk observasi dan sebagian menemani bapak Sugeng.

Setelah kami mengumpulkan data-data yang kami perlukan. Kami mengadakan rapat sebentar untuk memutuskan daerah mana yang patut kami kembangkan. Aku mengusulkan untuk mengembangkan daerah pantai saja. Semua anggota kelompok setuju. Ada lima aspek yang akan kami kaji yaitu aspek ekonomi, aspek sosial budaya, aspek pendidikan, aspek sumber daya alam dan sumber daya manusia, dan yang terakhir adalah aspek penelitian dan pengembangaanya. Kami memutuskan untuk mengambil daerah pantai karena beberapa pertimbangan diantaranya: yaitu berdasarkan observasi kami disekitar wilayah mangrove center ini. Observasi kami lakukan dikali Gedhe, kali Buntu, masjid Astana, mangrove center dan terakhir dipantai. Kami melakukan wawancara pada warga dan juga para petinggi didesa. Mereka berpendapat bagus sekali kalau ada pengembangan pantai sebagai objek wisata. Didesa ini juga ada berbagai potensi alam yang perlu dikembangkan seperti tambak dan perkebunan, karena hampir semua jenis buah dapat tumbuh disini. Sehingga hal-hal tersebut dapat menarik para wisatawan untuk datang.

Observasi terakhir yang kami lakukan adalah di pantai Jenu Tuban. Sesungguhnya pantai ini sangat indah. Dengan pemandangan pantai yang berwarna biru dan semilinrya angin dari hutan mangrove menambah eksotisnya pantai ini. Apalagi waktu sore hari dan pagi hari. Pemandangannya akan terlihat semakin bagus. Selain itu pasir disini sangat putih, sayang masih ada sampah yang sedikit mengganggu pemandangan. Agar menarik para wisatawan untuk datang maka perlu diadakan berbagai penambahan fasilitas umum. Tempat penginapan yang nyaman seperti hotel, dan cottage juga sangat diperlukan sekali demi mendukung hutan mangrove center ini sebagai wisata nasional. Selain itu berdasarkan observasi kami masih belum ada permainan-permainan air. Hal ini sangat bagus sekali untuk dikembangkan.

Berdasarkan observasi diatas maka kami memutuskan untuk memilih pantai Jenu Tuban untuk dikembangkan sebagai pendukung Mangrove Center sebagai objek wisata nasional maupun internasional. Kami segera membagi kelompok kami yang terdiri dari sembilan peserta untuk segera mengerjakan. Kami diberikan wktu selama seminggu untuk mengerjakannya. Ustad nefi menyarankan agar tidak terlalu lama dalam mengerjakan, jika sudah selesai segera dikumpulkan ke Abuya. Kami mengerjakan didepan Guest House. Disana kami bertemu Ustad Sahl Asrori. Beliau bercerita banyak hal. Beliau menyarankan kepada kami untuk sabar dan dapat menahan marah. Aku bertanya bagaimana kalau kita marah dan bagaimana cara menghilangkannya beliau hanya menyarankan untuk membaca istiqfar dan baca kalimat laaqoulawallaquattaillabillah. Beliau mengatakan bahwa meskipun didalam hati ada rasa marah hal itu menandakan bahwa kita masih belum bisa sabar. Orang yang menahan marah juga beliau katakan masih belum bisa sabar. Selain itu ustad Sahl memiliki karakter yang low profile. Beliau tidak mau dipanggil ustad. Beliau lebih suka dipanggil kang Sahl. Panggilan itu terasa lebih dekat, seperti kepada saudara sendiri. Memang betul apa yang beliau ucapkan karena hal ini membuatku teringat saudara-saudaraku didesa. Kami selalu memanggil saudara kami dengan sebutan ‘kang’ untuk saudara tua kami yang laki-laki. Untuk yang perempuan kami memanggil dengan sebutan ‘yu’. Mungkin berbeda dengan surabaya mereka memanggil dengan sebutan cak dan ning. Ustad Sahl juga Sami’na waato’na sama guru kami, Abuya. Apa yang Abuya katakan pasti beliau laksanakan karena itu sangat bermanfaat sekali bagi kehidupan beliau, seperti tidak membuka praktik untuk perempuan. Kemudian Ustad Sahl memberikan Doa-doa untuk tangan kami sehingga kami bisa mengerjakan terapi pijat salawat dengan mudah. Ada sekitar enam peserta yang beliau kasih doa. Yang lainyya banyak yang istirahat. Mereka kecapean setelah melakukan observasi sekitar pantai.

Waktu untuk mengerjakan selesai kami harus segera berkumpul di Aula lagi untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Kegiatan selanjutnya adalah pengambilan pin. Pin ini dapat kita ambil setelah kita mampu melewati rintangan yang diberikan oleh panitia. Pertama kami berkumpul menurut kelompok kami masing-masing. Kami harus menutup mata. Seperti kemarin. Disini kejujuran adalah nomor satu. Setelah itu kami harus mengikuti aba-aba dari panitia. Satu persatu peserta masuk di air tambak dengan mata tertutup. Aku, mbak Utami dan Alfi bersamaan masuk kedalam air. Setelah ustad memberikan petunjuknya akhirnya kami harus berjalan menurut insting kita sendiri dengan berpegangan pada pohon mangrove yang ada disekitar tambak. Ditengah jalan aku, mbak Utami dan Alfi terpisah. Sebenarnya yang jalan duluan mb Utami, aku tidak tahu mbak Utami tersesat dimana. Aku yang tiba duluan. Abuya memberikan aba-aba untuk belok kiri dan naik ke suatu tempat. Alhamdulillah aku dapat naik dan Abuya memberikan pin tersebut kepadaku. Kemudian Abuya mengarahkanku untuk berkumpul dengan kelompokku. Setelah semua anggota kelompok berkumpul kami diajak ke suatu tempat tentu saja dengan mata yang masih terpejam. Aku mencoba menebak-nebak seperti apakah bentuk pin yang sudah diberikan Abuya. Tetap saja aku tidak mengerti seperti apa bentuk pin tersebut. Sambil menunggu kelompok lain selesai mendapatkan pin, aku duduk dengan mendengarkan merdunya suara burung di sore hari dan suara gemericik air dari tambak. Sungguh damai rasanya. Dalam keadaan yang tenang itu aku masih kepikiran ketika melewati tambak tadi. Aku membayangkan seandainya aku buta aku tidak akan pernah mengetahui keindahan alam yang Allah ciptakan, seperti pemandangan laut yang baru tadi pagi aku nikmati keindahanya. Sungguh hal ini membuatku sangat bersyukur atas nikmat mata yang Allah berikan padaku.

Setelah semua kelompok selesai kami dijinkan untuk membuka mata. Para trainer memberikan selamat kepada kita akan keberhasilan kita dalam mendapatkan pin. Kami diijinkan ntuk membersihkan diri setelah tadi masuk kedalam tambak. Segera setelah diijinkan panitia untuk meninggalkan aula aku segera mandi membersihkan diri. Setelah magrib kami disuguhi hidangan yang tak kalah lezatnya dengan hari-hari sebelumnya.

Malam ini adalah malam terakhir kami mengikuti acara diklat. Sekitar jam delapan panitia menyuruh kami untuk berkumpul lagi di Aula. Ini adalah malam renungan untuk kami semua. Kami dikumpulkan menurut kelompok kami masing-masing, tentu saja aku berkumpul dengan kelompokku, kelapa.

Para trainer mematikan semua lampu, sehingga suasana sangat gelap sekali. Kemudian mereka memberikan lilin kepada kami, setiap peserta mendapatkan satu lilin, dan tiga batang korek api. Kami hanya diberi kesempatan menyalakan lilin selama tiga kali. Jika batang korek api habis maka lilin kami tidak boleh dinyalakan lagi. Selain diberi lilin kami juga diberi buku renungan. Buku ini tidak boleh dibuka sebelum ada perintah membuka.

Para trainer mengingatkan kami tadi sore sewaktu kita berpegangan pada pohon bakau ada diantara kita yang tidak sengaja merusak pohon mangrove tersebut. Oleh karena itu sekarang saatnya untuk meminta maaf kepada pohon mangrove yang telah kami sakiti tersebut.

Aku pun segera pergi ke bawah pohon mangrove. Aku meminta maaf secara tulus pada pohon mangrove tersebut. Para trainer meminta kami untuk membuka buku renungan.

Dengan pelan-pelan aku buka buku tersebut, dan aku resapi isinya. Sementara aku meresapi isi buku renungan aku mendengar suara orang laki-laki menangis meraung-raung. Dalam hati aku bertanya-tanya ada apakah gerangan dengan mereka, kok mereka bisa menangis sesedih itu. Aku tetap membuka lembaran buku renungan ini. Isinya sungguh menyentuh kalbuku. Ini membuatku merinding. Belum selesai membaca buku ini rasanya aku sudah ingin menangis. Kemudian halaman-halaman berikutnya aku baca lagi sampai selesai. Sungguh menakjubkan. Rasanya aku sudah tidak dapat menahan tangisku. Kemudian aku pergi ke aula. Aku mulai mengerti kenapa orang yang tadi didalam aula menangis meraung-meraung. Kini tiba giliranku untuk menghadap Abuya. Aku tak bisa bicara sepatah katapun. Yang dapat aku lakukan saat itu adalah menangis, menangis dihadapan abuya. Teringat semua dosa-dosa yang sudah aku lakukan selama ini. Aku tidak malu meskipun harus menangis dihadapan Abuya. Abuya membimbingku dengan menyebut asma ALLAH, ALLAh dan asmaul Husna. Beliau mengatakan Allahlah guruku sebenarnya. Air mataku terasa tidak mau berhenti. Meskipun aku sudah selesai menghadap Abuya. Tetap saja yang aku lakukan adalah menangis, menangis dan menangis. Aku merasa disebelah kanan tanganku ada yang membisikiku tentang semua dosa-dosa yang pernah aku kerjakan dan aku tidak pernah sadar kalau aku memiliki dosa tersebut. Bisikan terus menerus terngiang-ngiang di telingaku. Dan membuatku sangat-sangat takut sekali. Aku takut sekali sama ALLAh. Seumur hidupku baru kali ini aku dapat menangis yang benar-benar menangis karena takut akan dosa-dosaku. Selama menangis aku tidak sadar kalau disekitarku banyak peserta yang lain. Mereka juga menangis tetapi tidak seperti yang aku lakukan. Rasanya air mata ini tidak mau berhenti. Bisikan itu muncul memberitahukan semua kesalahanku sewaktu aku kecil sampai sekarang. Aku heran darimana kah bisikan itu?. Aku bisa berhenti menangis setelah mbak Via dan mb Utami memegang tanganku dan menyadarkan aku, astaqfirullah. Ya allah ampunilah dosa-dosaku.

Sesampai dirumah setelah sholat tahajud dan sholat shubuh rasanya bisikan itu muncul lagi. Ya allah dengan segenap kekuatanku aku mencoba menyadarkan diriku sendiri dan mencoba merenunginya. Setelah pagi hari aku merasa menjadi manusia baru, rasanya hati ini lega sendiri. Aku harus menjadi manusia baru yang selalu menomor satukan ALLAH dalam segala kondisi dan keadaan. Terimakasih aku ucapkan kepada Abuya yang sudah membantu menyadarkanku untuk selalu ingat ALLAH.

Semoga catatan ini berguna dan para dai dan daiyah bisa amanah dalam menjalankan tugasnya.amin

THE END

Tags: freez freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: