Back to Kompasiana
Artikel

Cermin

Nuraman Sjach

Freelance Media # Penyimak Kompasiana # Penikmat Buku # Penikmat Musik # ... .

Cinta Dunia, Takut Mati

OPINI | 13 March 2013 | 16:15 Dibaca: 474   Komentar: 0   1

Konon, sebelum kita mati, kita akan dipertemukan oleh orang-orang yang pernah “mengisi” hidup kita. Entah orang itu teman kita, orang-orang yang pernah ada di hati kita, atau juga orang-orang yang pernah menjadi musuh kita.

Teman kita, musuh kita, adalah orang-orang yang turut andil memberi makna hidup kita – selain orang tua tentunya. Dari merekalah kita mematok arti hidup di dunia. Terkadang, saking tidak ingin berpisahnya dengan mereka, kita lupa bahwa hidup ini cuma sementara. Dalam hal ini, sudah berapa banyak “berita kematian” yang kudengar. Mulai dari almarhum bapakku sendiri, paman/bibiku, tante-tanteku, bahkan saudaraku seumur lainnya. Seorang teman waktu aku sekolah menengah pertama, kabar terakhirnya justru telah wafat sewaktu ia kuliah. Sakit. Ada lagi kawan beda kelasku waktu di sekolah menengah umum: meninggal karena tertabrak.

Duh, tanpa kita sadari sebenarnya kita begitu lekat dengan dunia. Akhirnya, kita pun takut mati. Apakah ini maksud dari cinta dunia dan takut mati? Padahal kalau kita rasa-rasa saja hidup kita ini sungguh-sungguh ada di tangan-Nya. Bahkan di saat kita tidur pun Ia dapat mematikan kita. Untuk yang terakhir ini, aku ingat model kematian nenekku, ibunda ibuku. Katanya ia meninggal dengan cara pamit ingin tidur. Ketika itu, kakak ibuku, tanteku, berpikir bahwa ibundanya memang ingin tidur. Lalu, ditinggalkannyalah nenekku itu di kamarnya. Tetapi, hari berganti, dan ia pun tidak bangun-bangun. Akhirnya, setelah dicermati, benarlah bahwa ia telah wafat.

Saat mantan Presiden kita, Soeharto, meninggal, ada yang menangisi dan ada pula yang acuh menikmati berita meninggalnya. Mungkin aku termasuk yang bagian terakhir untuk itu, sedikit acuh, sambil ‘sadar’ bahwa generasiku banyak yang dibesarkan di masa ia berkuasa pula. Orang yang punya kekuasaan mati, apalagi kita yang biasa-biasa ini. Yang sibuk dengan kerjaan masing-masing. Yang sibuk memikirkan apa yang harus dikerjakannya besok. Yang sibuk menghitung jumlah uang untuk bertahan hidup di hari-hari berikutnya.

Acuh. Tidak pedulian. Peduli diri sendiri. Lalu, apa yang sudah didapat? Kenyataannya, meski kita memikirkan diri kita sendiri pada galibnya tak sedikit pula yang urusannya jatuh lagi ke urusan dunia. Lagi-lagi dunia! Dan realitanya memang seperti itu: kita hidup di dunia dan terkadang tanpa sadar diperbudaknya. Ya seperti kita menjalani rutinitas harian kita belaka tanpa menanyakannya. Otomatis dunia! (bukan Otomatis Romantis, lho!)

Suatu malam, aku sempat susah tidur memikirkan tentang hal ini. Ngeri juga rasanya bila kita tiba-tiba mati tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti, terutama amal-amal yang akan “menemani” kita di alam sana. Hasilnya, tidurku tidak nyenyak. Esoknya pun aku bangun dalam keadaan resah.

Rasanya, memang ada yang kurang di hidup yang kujalani sampai saat ini … .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Mahasiswa Vietnam tentang …

Hizkia Huwae | 5 jam lalu

Ngoplak Bareng Pak Jonan, Pak Ahok, Pak …

Priadarsini (dessy) | 6 jam lalu

Polisi Serbu Mushollah Kapolri Diminta Minta …

Wisnu Aj | 8 jam lalu

Demi Kekuasaan, Aburizal Mengundang Prabowo …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Pernahkah Ini Terjadi di Jaman SBY …

Gunawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Proyek APBN Senilai Rp. 7.2 M Diduga Tak Ber …

Fajar Agustyono | 8 jam lalu

KPK Menjemput “Bola Pertama” di NTT …

Pietro Netti | 8 jam lalu

Gaya-Gaya Kalimat Morfologis (Al-Asalib …

M. Khaliq Shalha | 8 jam lalu

Kecewa dengan BliBli …

Ahmad Husaeri | 8 jam lalu

Pandangan Saya atas Konflik Mahasiswa-Aparat …

Putu H | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: