Back to Kompasiana
Artikel

Cermin

Nuraman Sjach

Freelance Media # Penyimak Kompasiana # Penikmat Buku # Penikmat Musik # ... .

Cinta Dunia, Takut Mati

OPINI | 13 March 2013 | 16:15 Dibaca: 483   Komentar: 0   1

Konon, sebelum kita mati, kita akan dipertemukan oleh orang-orang yang pernah “mengisi” hidup kita. Entah orang itu teman kita, orang-orang yang pernah ada di hati kita, atau juga orang-orang yang pernah menjadi musuh kita.

Teman kita, musuh kita, adalah orang-orang yang turut andil memberi makna hidup kita – selain orang tua tentunya. Dari merekalah kita mematok arti hidup di dunia. Terkadang, saking tidak ingin berpisahnya dengan mereka, kita lupa bahwa hidup ini cuma sementara. Dalam hal ini, sudah berapa banyak “berita kematian” yang kudengar. Mulai dari almarhum bapakku sendiri, paman/bibiku, tante-tanteku, bahkan saudaraku seumur lainnya. Seorang teman waktu aku sekolah menengah pertama, kabar terakhirnya justru telah wafat sewaktu ia kuliah. Sakit. Ada lagi kawan beda kelasku waktu di sekolah menengah umum: meninggal karena tertabrak.

Duh, tanpa kita sadari sebenarnya kita begitu lekat dengan dunia. Akhirnya, kita pun takut mati. Apakah ini maksud dari cinta dunia dan takut mati? Padahal kalau kita rasa-rasa saja hidup kita ini sungguh-sungguh ada di tangan-Nya. Bahkan di saat kita tidur pun Ia dapat mematikan kita. Untuk yang terakhir ini, aku ingat model kematian nenekku, ibunda ibuku. Katanya ia meninggal dengan cara pamit ingin tidur. Ketika itu, kakak ibuku, tanteku, berpikir bahwa ibundanya memang ingin tidur. Lalu, ditinggalkannyalah nenekku itu di kamarnya. Tetapi, hari berganti, dan ia pun tidak bangun-bangun. Akhirnya, setelah dicermati, benarlah bahwa ia telah wafat.

Saat mantan Presiden kita, Soeharto, meninggal, ada yang menangisi dan ada pula yang acuh menikmati berita meninggalnya. Mungkin aku termasuk yang bagian terakhir untuk itu, sedikit acuh, sambil ‘sadar’ bahwa generasiku banyak yang dibesarkan di masa ia berkuasa pula. Orang yang punya kekuasaan mati, apalagi kita yang biasa-biasa ini. Yang sibuk dengan kerjaan masing-masing. Yang sibuk memikirkan apa yang harus dikerjakannya besok. Yang sibuk menghitung jumlah uang untuk bertahan hidup di hari-hari berikutnya.

Acuh. Tidak pedulian. Peduli diri sendiri. Lalu, apa yang sudah didapat? Kenyataannya, meski kita memikirkan diri kita sendiri pada galibnya tak sedikit pula yang urusannya jatuh lagi ke urusan dunia. Lagi-lagi dunia! Dan realitanya memang seperti itu: kita hidup di dunia dan terkadang tanpa sadar diperbudaknya. Ya seperti kita menjalani rutinitas harian kita belaka tanpa menanyakannya. Otomatis dunia! (bukan Otomatis Romantis, lho!)

Suatu malam, aku sempat susah tidur memikirkan tentang hal ini. Ngeri juga rasanya bila kita tiba-tiba mati tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti, terutama amal-amal yang akan “menemani” kita di alam sana. Hasilnya, tidurku tidak nyenyak. Esoknya pun aku bangun dalam keadaan resah.

Rasanya, memang ada yang kurang di hidup yang kujalani sampai saat ini … .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kicauan Seputar Lion Air Ini Sulut Amarah …

Iskandarjet | | 26 February 2015 | 22:06

Operasi Pasar Beras, Solusi Sesaat dengan …

Isson Khairul | | 26 February 2015 | 22:24

Revisi “Pasal Karet” UU ITE? …

Fidelis Harefa | | 26 February 2015 | 23:50

Film Korea Penuh Drama Sarat “Pesan …

Wardah Fajri | | 26 February 2015 | 23:48

Lauret …

Fandi Sido | | 26 February 2015 | 19:57


TRENDING ARTICLES

Dibandingkan Korea Utara, Timor Leste Lebih …

Mozes Adiguna | 8 jam lalu

Ahok Pandai, Tapi Tidak Pandai-pandai …

Juru Martani | 8 jam lalu

Nelayan Indonesia Jangan Egois …

Eddy Mesakh | 9 jam lalu

Blunder Kicauan Akun @OfficialLionAir …

Wahyu 'wepe' Pramud... | 9 jam lalu

Perampokan Perlementer oleh DPRD DKI Jakarta …

Agustus Sani Nugroh... | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: