Back to Kompasiana
Artikel

Cermin

Mohamad Rian Ari Sandi

Mahasiswa S1 PKn FPIPS UPI. Hobi membaca, menulis, main bola, diskusi politik-sosial-agama-sepakbola. Masih Lajanggg.

Menantu Idaman adalah…

OPINI | 24 April 2013 | 06:41 Dibaca: 479   Komentar: 1   0

Akhir-akhir ini saya sedang gelisah, karena ada sesuatu yang sangat meresahkan. Dan harusnya hal itu tidak terjadi, kawan.

Kegelisahan saya ini sebetulnya terakumulasi sekitar satu minggu yang lalu, ketika saya berkunjung ke Koperasi Mahasiswa Bumi Siliwangi-UPI. Ada sebuah spanduk yang membuat saya mengernyutkan dahi, spanduk itu bertuliskan “Menantu Idaman adalah Anggota KOPMA”. Saya berteriak di dalam hati disertai gelengan kepala “Apa-apaan ini?”.

Tulisan tersebut seakan mengakumulasi kegelisahan saya karena sebelum-sebelumnya juga banyak bertebaran tulisan sejenis, tentunya dengan objek yang berbeda. “Menantu idaman adalah bidan”, “menantu idaman adalah guru”, “menantu idaman adalah anggota rohis”, “menantu idaman adalah sopir angkot”, adalah beberapa dari tulisan tentang klaim menantu idaman yang ada dan mungkin ada. Sungguh sangat mengkahawatirkan.

Saling klaim dengan nuansa gejala narsisme tersebut sudah seperti para politisi di pemilu atau pemilukada yang juga sering saling meng-klaim “rakyat menginginkan saya untuk maju menjadi…….”. Padahal pada realitanya kita tidak tahu rakyat mana yang dia maksud. Pun dengan klaim menantu idaman. Saya rasa organisasi percamer (persatuan calon mertua) tidak ada yang pernah mengeluarkan statement yang berisi dukungan kepada salah satu organisasi dari percamen (persatuan calon menantu), baik itu pejabat, bidan, alumni rohis, anggota koperasi, atau pun seorang tentara. Artinya, boleh dikatakan tulisan-tulisan klaim tersebut hanyalah sebuah gertakan, agar orang-orang yang tidak mempunyai afiliasi kepada salah satu organisasi percamen berkecil hati.

Pemerintah terutama menteri agama harusnya segera turun tangan untuk mengatasi permasalahan ini. Jikat tidak, psy war diantara organisasi-organisasi percamen bukan tidak mungkin akan semakin meruncing. Dan justru dikhawatirkan para calon menantu mengalami disorientasi dalam merancang masa depan. Ditakutkan, yang jadi fokus mereka hanyalah menjadi menantu idaman calon mertua, tidak peduli siapa yang akan menjadi pasangannya. Padahal akan menjadi absurd jika para calon menantu sibuk menata diri hanya karena ingin menjadi idaman seorang Ibu yang bercita-cita memiliki menantu tentara—misalnya–, padahal kenyataannya Ibu tersebut sama sekali tidak mempunyai anak.

Untuk itulah, saya mengajak kepada para calon menantu dimanapun anda berada, baik itu di percamen korwil daerah atau pun pusat, agar kembali ke khittah kita sebagai para calon menantu yang baik. Tidak perlu lah membuat spanduk berisi saling klaim bahwa hanya dia dan kelompoknya lah menantu paling idaman. Karena hal itu sama sekali tidak tercantum dalam AD/ART atau pun peraturan penerimaan menantu baru di organisasi Percamer, UUD 1945, apalagi di Alquran dan Sunnah. Buat apa seorang mertua punya menantu anggota koperasi –misalnya–, kalau ternyata anaknya malah dijadikan seperti barang simpan pinjam? Atau buat apa juga seorang mertua punya menantu seorang sopir angkot –misalnya–, kalau ternyata anaknya malah dijadikan kondektur yang setia menemani suaminya kemana pun ia menarik penumpang? Itu kah menantu idaman? Tentu tidak seperti itu.

Kesimpulannya, menantu idaman tidak lah dilihat dari organisasi percamen mana kamu berasal (walaupun itu dijadikan bahan pertimbangan), tetapi menantu idaman sejatinya adalah dia yang bisa memastikan anak camernya berbahagia dengan perlindungan, perhatian, dan kasih sayang yang diberikan.

*Tulisan ini dibuat dalam keadaan antara sadar dan tidak.

- - Mohamad Rian Ari Sandi, yang berharap termasuk kategori calon menantu idaman.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 6 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 7 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 10 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Usia 30 Batas Terbaik Untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 7 jam lalu

Sepenggal Cerita dari Takabonerate Islands …

Hakim Makassar | 7 jam lalu

Demokrat Dukung Pilkadasung, PKS Kebakaran …

Revaputra Sugito | 7 jam lalu

4,6 Juta Balita Gizi Buruk-Kurang di …

Didik Budijanto | 7 jam lalu

‘Belgian Waffles’, Menggoyang …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: