Santri Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir. Seorang yang kagum dengan Mesir karena banyak kisah dalam Al Qur'an yang terjadi di negeri ini. Seorang yang mencoba mengais ilmu pengetahuan di ramainya kehidupan. Seorang yang ingin aktif kuliah di Universitas terbuka Kompasiana.
Anjing Malam (google.com)
Hanya suara hembusan angin malam yang dingin dan menembus hingga ke tulang. Sekarang sudah masuk musim dingin. Tubromly, satu kawasan pinggiran Cairo sudah sepi seperti kota mati, tidak seperti musim panas yang ketika malam masih banyak orang lalu lalang. Aku berdiri sendiri di balkon apartemen. Ditemani secangkir kopi. Di depanku, jalan raya yang kotor, seberangnya adalah apartemen mewah yang belum genap pembangunannya.
Aku masih tidak percaya atas kejadian tadi yang menimpa, saat pulang dari tahlil dam di kulliyah tibb (fakultas kedokteran) universitas al-azhar. Bagi mahasiswa asing yang pulang ke Indonesia dan kembali lagi ke Mesir, maka baginya wajib untuk tahlil dam (pengambilan sample darah) untuk memastikan dia tidak terkena penyakit berbahaya ketika mamasuki Mesir kembali.
Pagi tadi aku berangkat dari terminal biasanya. Terminal Tubromli yang sepi. Sebenarnya aku masih was was atas beberapa kejadian yang pernah menimpa teman-teman mahasiswa beberapa hari lalu. Saat teman-teman dari Malaysia hendak berangkat kuliah pagi hari, saat dingin benar-benar menembus kulit, sekitar jam 6 pagi, mereka ditodong oleh beberapa orang kulit hitam dan semua barang berharga termasuk uang raib. Kasus itu hilang begitu saja. Siapa yang peduli dengan orang lain disaat keadaan negara ini belum begitu stabil. Polisi pun mungkin malas membantu.
Namun, aku, demi kelanjutan kuliah di fakultas syari’ah, harus berani keluar. Hanya beberapa orang yang lewat. Hanya ada beberapa anak Mesir yang hendak berangkat sekolah. “Bening-bening”, entah kenapa, tiap kali melihat wajah remaja putri, aku gak bisa bohong untuk selalu mengagumi kecantikan mereka, walaupun sebenarnya aku tahu sekali setelah mendengar dan ngobrol dengan orang Mesir, bahwa sifat perempuan mereka kurang baik jika dibandingkan dengan para perempuan dari asia.
Beberapa bus sudah menunggu. Aku lagsung naik di nomor 926. Hanya ada beberapa teman Rusia yang tidak aku kenal. “Assalamu’alaik”, sudah biasa di sini ketika memasuki kendaraan, apa saja, mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam terlebih dahulu. Berbeda dengan cerita temanku yang ketika sedang liburan ke Indonesia. Saat dia masuk angkot, dia langsung mengucapkan salam kepada seluruh penumpang yang ada di dalam.
Secara spontan, seluruh penumpangnya menoleh dia dengan penuh heran dan lucunya, saat dia naik, seluruh penumpang menyalaminya, mungkin mereka menganggap temanku sebagai kiai atau gimana. Di sini, usai menjawab salam, mereka melanjutkan dengan aktifitas membaca diktat kuliah masing-masing. Tujuan kami semua sama, kuliah di universitas al-azhar. Aku sendiri tidak ada niat masuk kampus, hanya ingin mengambil surat keterangan tahlil dam saja.
Jalan-jalan masih sepi. Yang ramai hanya di dekat pabrik Pepsi Cola yang ada di belakang Hayyu Sabi’. Banyak para pekerja yang sudah menunggu di depan pintu gerbang. Di depannya ada penjual full, makanan khas untuk sarapan di Mesir. Menurutku unik, karena di sekitar penjual sarapan pagi itu tidak ada kursi dan meja. Hanya ada gerobak kecil yang tengahnya ada panci besar berisi full layaknya penjual bakso di negeriku.
Sehingga, para pelanggan mesti makan memegangi isy (gandum, nasinya orang Mesir) dan mencelupkan ke wadah yang berisi full yang diletakkan di gerobak yang kecil itu. Mereka sederhana sekali. Tidak jauh dari pabrik pepsi, banyak kendaraan lalu lalang masuk ke kawasan industri tekstil. Hawa dingin masih benar-benar terasa. Aku selalu memilih kursi paling belakang. Di samping bisa lebih bebas, kursi di sini tidak takut direbut oleh ibu-ibu Mesir yang sering memaksa penumpang untuk berdiri ketika mereka tidak mendapatkan tempat duduk.
Jangan samakan ibu-ibu Mesir dengan di Indonesia. Walaupun, semua orang mengakui, kalau cewek Mesir itu cantiknya lebih lebih, karena kalo yang jalan dua orang, maka yang cantik tiga orang, tetapi ketika sudah menjadi ibu-ibu, penilaian itu berbalik 200 derajat. Badan mereka mekar bisa tiga kali lipat, sehingga bisa dibayangkan, seperti apa mereka. Sepertinya untuk kasus ini bisa langsung membuktikannya dengan menumpang bus seperti aku saat ini di manapun di Cairo.
Entah sudah berapa kali aku mesti berdiri di dalam bus karena tempat dudukku diminta oleh mama-mama Mesir. Biasanya trik mereka dengan mendekati penumpang dan berdiri lama. Siapa yang tidak tega melihat ibu-ibu gendut yang sepertinya payah berdiri. Bagaimanapun, tidak sampai hati membiarkan mereka tetap berdiri. “Tafaddhaly”, silakan, sambil berdiri kadang aku mempersilakannya. Kadang, banyak yang secara terang-terangan meminta tempat duduk. Tapi lucunya, kalo ke remaja Mesir, jarang dari mereka yang berani terus terang, beraninya orang-orang asia seperti diriku.
Tidak begitu lama. Aku diberhentikan di depan pintu masuk di universitas al-azhar yang ada di kawasan hayyu sadis. Ini adalah kawasan kampus yang terkenal dengan universitas yang baru. Universitas al-azhar lama berada di kawasan Darrasah, jika naik bus 926, maka aku harus turun di madinat buus dan mencari kendaraan lagi yang bisa mengantarkanku ke Darrasah. Dari universitas al-azhar tidak terlalu jauh, paling hanya 20 menit.
Banyak para mahasiswa yang lalu lalang. Termasuk ada beberapa orang perempuan. Tempat ini juga dikenal dengan Kulliah Tibb (jurusan kedokteran). Jarang ada mahasiswa Indonesia. Dari asia, jurusan kedokteran kebanyakan di isi oleh teman-teman dari Malaysia, disamping biaya pendidikan yang mahal, Indonesia kurang tertarik dengan jurusan umum yang ada di Mesir, seluruh mahasiswa Indonesia di Mesir mengambil jurusan agama.
Aku baru pertama kali ini masuk ke kawasan ini. Beruntungnya aku bertemu seorang teman satu jurusan bernama Afandi yang juga hendak tahlil dam, padahal aku tidak pernah janjian sama dia. Aku ikut saja ke mana arah dia. Kami melewati beberapa gedung yang bagiku benar-benar baru. Walaupun hampir tiga tahun aku berada di Cairo, ini adalah pertama kalinya aku berada di kawasan kulliah tibb.
Dulunya, aku tahlil dam di rumah sakit Husain yang terletak di dekat kampus al-azhar yang ada di kawasan Darrasah. Di sana aku diantarkan dengan seorang broker yang membantu keberangkatanku ke Mesir. Saat kami bersama memasuki rumah sakit itu, pandanganku bahwa setiap rumah sakit itu bersih, rapi dan megah, tidak selamanya benar. Apa yang ada di depanku adalah kotor, jorok, dan tidak teratur, apalagi saat kami hendak menuju ruang administrasi yang ada di belakang rumah sakit, kami harus mencari jalur alternatif di beberapa lorong rumah sakit dan aduhh, banyak suntikan, perban dan beberapa bekas darah yang dibuang begitu saja.
Tetapi, di kawasan gedung kulliah tibb ini bersih. Aku tidak melihat pemandangan seperti yang ada di rumah sakit Husain yang memang terkenal dengan rumah sakit untuk kalangan orang bawah. Rumah sakit yang memang miliknya universitas al-azhar. Yang memeriksa para mahasiswa. Aku tidak tahu persis sejak kapan tahlil dam dipindah dari rumah sakit husain menuju kulliah tibb. Hanya perkiraanku saja, mungkin ini adalah salah satu jalan agar para mahasiswa bisa praktek. Yah, bahasa kasarnya biar bisa dijadikan sebagai kelinci percobaan lah. Tahlil dam juga tidak sulit, hanya mengambil sample darah saja dan membayar sejumlah uang yang tidak besar.
“Ba’da usbu’ gai hina”, setelah satu minggu datang ke sini, kata seorang dokter yang menangani kami. Tadi nyuntiknya agak ngawur dan sakitnya terasa, yah, mungkin juga sedikit dipengaruhi dari watak orang Mesir yang keras sehingga mereka menyuntiknya juga cepat dan seperti tidak hati-hati ketika ada jarum masuk ke kulit.
“Mas, saya langsung pulang saja yah”, aku langsung pamitan dengan temanku tadi. Dia mau melanjutkan perjalanan menuju kampus al-azhar di Darrasah untuk mengikuti jam mata kuliah di jurusan Syari’ah. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi, sejak kemarin aku maraton nonton film drama korea yang membuatku penasaran untuk merampungkannya, drama berjudul City Hunter tentang teka teki beberapa komandan militer yang telah membunuh 21 orang yang ditugaskan menyerang balik ke Korea Utara dan kisah romance seorang yang ditugaskan menjadi IT dan bodyguard presiden.
“Taksiii”, taksi putih berhenti setelah aku agak berteriak memanggilnya. Di mahattah seberang jalan pintu masuk al-azhar sebenarnya masih banyak teman-teman mahasiswa yang menunggu bus, tapi aku sudah tidak sabar menunggu bersama mereka. Di sana ada tempat duduk, tapi mereka tidak duduk di kursinya, dengan asyik dia duduk di atas tembok yang ada di atas kursi, sehingga kursi mereka injak dengan kakinya.
Selama perjalanan pulang, aku hanya diam. Tidak menyapa supir sama sekali. Jalanan sudah ramai. Kemacetan sedikit hanya ada di dekat markaz polisi yang perempatan jalan di hayyu sadis yang dekatnya banyak dijadikan sebagai tempat mangkalnya mobil-mobil hancur akibat kecelakaan, bahkan aku melihat sendiri, ada beberapa bekas darah yang masih ada di badan mobil, aku membayangkan, seperti apa parahnya kejadian kecelakaannya. Kebanyakan di Mesir kecelakaan tabrak dari belakang karena menyopir yang ngawur karena hampir semua jalan di kota adalah satu jalur. Berbeda dengan di Indonesia yang kebanyakan tabrak dari depan karena ruas jalan dibuat kebanyakan dua jalur.
“Nazil fein?”, turun di mana?, aku lupa tidak memberitahu sopir taxi untuk turun di mana, dia nanya ketika kami sudah berada di dekat Suq Sayyarat, tempat luas seperti lapangan bola tapi lantainya beraspal yang ada di kawasan Hayyul ‘asyir, Nasr City. “Yamin ya ‘am, ila Tubromly”, ke kanan ke Tubromly. Agak tergesa-gesa dia membelokkan mobil ke jalan masuk ke tempat tinggalku di Tubromly.
Naas, di jalan pertigaan dekat Bayt Malaysia, beberapa apartemen milik Malaysia yang ditempati oleh mahasiswa mereka, sopir taksi tidak mau mengantarkanku sampai rumah. Dia ingin aku turun di sini dikarenakan seluruh jalan yang ada di tempatku kebanjiran. Entah kenapa, dari dulu di kawasan ini, sejak aku datang ke Mesir dua setengah tahun lalu sampai sekarang, jalan ini sering sekali banjir karena sistem saluran air bocor.
Ya sudahlah, aku turun dan menutup pintu mobil. Aku berjalan ke depan dan memberikan uang 50 pound ke sopir taxi. Biaya dari kampus al-azhar ke Tubromly palingan hanya sekitar 15 pound sehingga ada kembalian 35 pound. Tapi, saat uang 50 pound aku berikan ke sopir, dia langsung tancap gas meninggalkanku yang berdiri. Aku kaget dan mengejarnya. Langkah kakiku tidak dapat mengejar mobil putih itu, aku juga tidak sempat mengingat berapa nomor taksinya. Ah! mungkin uang 35 pound kembalian itu bukan rejekiku, sehingga sopir taxi itu lari untuk mengambil hakku.
Aku tersadar dari lamunanku ketika adzan subuh terdengar dari seantreo Cairo. Kopi aku minum, sudah dingin. Dari balik suara adzan yang bersahutan, aku hanya mendengar suara-suara anjing yang ada di gurun pasir di samping kanan apartemen tempatku tinggal. Ya mungkin itu cara anjing bertasbih kepada Tuhan yang menciptakannya di subuh yang dingin ini saat banyak dari manusia yang masih terlelap dalam mimpinya. Aku masih tidak percaya, tadi aku mengalami kejadian itu. Aku ikhlaskan saja, pasti nanti ada gantinya. Aku hanya yakin, mungkin sopir taksi itu sedang butuh uang.
=======================
cerita fiksi dari kisah nyata.
Cairo, 23 Oktober 2011 04:39 AM
Salam Kompasiana
Bisyri Ichwan

