Kalau saja aku tak memilih naik ferry dari Osaka menyeberang ke Shikoku tiga malam lalu, belum tentu aku membeli sekaleng bir lalu memilih duduk di buritan, belum tentu aku bertemu seorang pemabuk yang menawariku beberapa gelas sake, belum tentu mendengar satu cerita tentang petani peniup harmonika yang menikahi jasad renik dan hanya menabur benih di bawah sinar bulan purnama. Karena semula kukira itu sekadar ceracau pemabuk.
Sampailah aku pada bukit di pulau ini. Siang makin pendek mengejar musim gugur. Matahari terbenam lebih gancang. Pukul 5 sore kini segelap pukul setengah delapan di musim panas. Beruntung purnama sedang bulat sempurna, hingga aku bisa meniti jalan mendaki tanpa kesukaran menuju sumber suara harmonika yang menyanyikan irama balada “Tsukinowa Guma” (ツキノワグマ), satu lagu tentang beruang madu. Satu lagu berulang-ulang.
Di bawah sinar purnama, peniup harmonika itu tampak macam orang-orangan sawah. Rambutnya riap-riapan tak ubahnya tumpukan jerami. Mirip rambutku ketika masih remaja. Dia berhenti meniup harmonika, menyambutku dengan beberapa pertanyaan.
Kuceritakan padanya bahwa aku pendaki gunung yang kebetulan sedang melintas, dan bila diizinkan bermalam di pondoknya, sebuah rumah pohon, aku akan senang sekali. Dia mengiyakan tanpa ekspresi khusus. Wajah berumur enam puluh tahunan itu tak mirip tersenyum senang, tak pula nampak keberatan.
Sejurus kemudian ia menyilakanku untuk istirahat karena dia harus bekerja menebar benih sesayur. Kubilang aku belum butuh istirahat. Kebetulan pula ia tak keberatan aku temani bekerja. Sesungguhnya aku penasaran kenapa ia menabur benih hanya pada malam hari dan cuma ketika purnama penuh. Jawabannya sesuai dugaanku. Mirip dengan teknik pertanian bio-dinamic yang diperkenalkan ahli pertanian modern.
Dari obrol-obrol, kutahu dia tak pernah menebar pupuk di lahannya. Katanya, tanaman hanya mengambil sedikit sari pati tanah untuk bertumbuh.
Aku mengiyakan. Berlagak ahli kubilang, “Hanya sekitar satu setengah hingga dua persen bahan makanan yang diambil tanaman dari tanah.”
Dia mengiyakan. Sisanya didapat dari energy matahari, udara, dan air. Tapi dia menambahkan, semua bahan makanan yang dibutuhkan tanaman sudah tersedia di tanah. Hanya saja, bahan makanan itu dalam kondisi yang tak dapat diserap langsung oleh tanaman.
“Ibarat kau tinggal di satu rumah penuh dengan bahan makanan. Tapi makanan itu masih dalam bentuk beras dan tepung gandum. Bukan dalam bentuk nasi atau roti. Kalau kau tak bisa masak, atau tak punya istri yang bisa masak, kau bisa saja keluar rumah dan makan di restoran. Tapi tumbuhan tidak bisa! Tumbuhan tak bisa memasak unsur hara belum siap serap yang disediakan tanah. Karena itu mereka butuh istri yang memasakkan makanan mereka. Tugasku sebagai petani, mencarikan mereka istri.”
Ketika kubilang apakah yang ia maksudkan sebagai istri para tanaman adalah jasad renik alias mikroorganisme, ia mengangguk tanpa menoleh dan menghentikan pekerjaannya menebar benih. Tapi dia terdiam beberapa saat setelah kutanya apakah dia tak beristri karena ia mampu memasak sendiri? Aku merasa menyesal mengajukan pertanyaan tak berguna itu.
Tapi kemudian dia terbahak seraya mengatakan, “Siapa bilang aku tak beristri. Sama seperti tanaman di kebunku, aku pun menikahi jasad renik yang membuat aku bertahan hidup hingga kini.”