Dia menatap saya dengan mata berbinar-binar, sorot matanya memberikan isyarat bahwa dia akan menceritakan sesuatu yang sangat rahasia. Mungkin hanya kepadaku dia akan menuturkan kisahnya.
***
”Sejak beberapa bulan yang lalu, aku tak bisa nyeyank tidur, malamku telah direnggut oleh keterasingan yang luar biasa” dia bertutur seraya meremas-remas kesepuluh jemarinya.
Aku tak bisa meyakinkan ibuku, bahwa yang kumiliki terhadap perempuan itu bukanlah rasa picisan, aku benar-benar ingin beribadah dengan mempersunting dia. Tapi ibu sudah terlalu tua, dan semua yang ingin kukatakan tak kuasa menjelaskan kepada dia.
***
Dia kemudian mengalihkan pandangan ke sudut kota, seolah-olah menatap jauh para penghuni kota yang lalu lalang. Sorot matanya kini semakin teduh, di sudut kelopak itu ada setetes bening ingin mengalir, tapi gagal, mungkin jiwa lelakinya menolak untuk terisak, terutama di awal sebuah perjuangan seperti ini.
Ketika era siti nurbaya pernah merajai zaman, setiap orang belum sempat memetik setangkai bunga lalu memberikannya kepada seorang gadis, mengirim surat, atau sekedar berimajinasi saling memiliki.
Konon, istri atau suami harus mengikuti sistem perjodohan keluarga. Dan mereka menerima semuanya sebagai suatu kekuatan budaya, sebuah tradisi yang tabu untuk ditolak.
***
dia kembali berkisah;
aku kini berada pada suatu titik, dimana aku di dalamnya adalah seonggok entitas yang tak berdaya. Saya selalu membayangkan sebuah ketidakadilan. Mengapa aku harus menyakiti orang yang kucintai untuk membahagiakan orang lain yang aku cintai. Mengapa matahari di siang hari tak bisa aku renggut cahayanya, dan cahaya bulan di malam hari tak bisakunikmati sebagai cahaya dalam gelap. Aku kini berada pada sebuah paradoks.
Aku tak sampai hati melihat tangan renta itu, meniti tasbih untuk sekedar menebar doa-doa, dan setelah itu dia meraih tanganku seraya berkata, ” Menikahlah dengan sepupumu nak”?……
Tapi aku juga sesak menatap langit, karena di sana ada cinta yang terlanjur kuukir sejauh mata memandang, kedalamnya adalah sebuah pertanda ketulusan, aku benar-benar ingin merenggut bunga itu, lalu menyiramnya setiap hari dengan senyum, juga tekad akan hidup yang biru, itulah cita-citaku.
dan sampai hari ini, aku masih menggenggam sebuah ketidakpastian. Karena aku ingin sekali meyakinkan kepada dunia. Bahwa kedua cinta yang berlawanan ini ingin aku hirup sambil menghabiskan sisa umurku.
***
dia kembali melempar pandangan ke diriku. Dan sangat jelas aku melihat di sana ada sebuah kesedihan yang dalam, sekaligus tergambar cinta yang begitu lembab.