
Aku pernah berfikir dengan sangat pragmatis tentang dunia.Mengapa aku diciptakan untuk melengkapi kebahagiaan manusia yang lain.mereka diciptakan sempurna dan aku tidak sama sekali.
Karena kami dilahirkan sebagai keluarga kecil yang miskin,hidup pada sebuah desa petani yang terbelakang. Itulah sebabnya ayah dan ibu selalu hidup berpindah pindah, mencari nafkah di beberapa tempat untuk menghidupi kami berempat,juga berjuang keras agar kami semua bisa mengenyam bangku sekolah.
Di desa kami, udara selalu sejuk, terutama ketika aroma pagi menjemput, menggantikan embun embun pagi yang bening,yang semenjak subuh tentunya bertengger di dedaunan pohon pohon kelapa,semak semak,juga pada hamparan padi menguning di sawah sawah yang sebentar lagi akan dipanen,memamerkan bulir bulirnya yang bersilewaran, melengkung indah pada tangkainya.
Tapi ayah tak pernah kehilangan akal,ketika ibu mengingatkan ayah untuk istirahat sejenak,karena jelang beberapa hari lagi padi dua petak sawah kami akan dipanen,dan ayah harus menyiapkan energi lebih,maka dia tak mengubris,dia akan mengangkat jaring ikanya dan segera kabur ke sungai,juga untuk mencari ikan ikan lele segar buat kami semua,dicicipi pada saat anak anaknya pulang sekolah, hingga sewaktu kami berkumpul di malam hari,makan malam bersama.
Ibu akan seharian di rumah,menjahit baju dan celana kami yang robek ketika main petak umpet,mengatur buku buku kami, melipat dan merapikan sarung mengaji kami,atau sekedar membuat kue kesukaan kami. Ibu sangat senang nantinya,sepulang dari sekolah kami akan berebutan kue kue itu.
Tapi kakak seorang perempuan yang terlalu cepat mewarisi kasih sayang ibu,dia akan memberikan bagianya kepadaku,karena aku adalah anak laki laki satu satunya,maka terkadang aku terdorong oleh perasaan ingin mendominasi. Walau kedua adik perempuanku akan protes tapi kakaku tak bergeming.
Hanya ketika kedua adiku akan menangis,ibu akan menemukan cara lain untuk menenangkan mereka,dan jurus yang paling jitu buat dia adalah membuat kami akan saling berbagi,ceria seperti sedia kala.
‘tahukah kamu seorang anak laki laki harus menjadi penolong buat adik adik perempuanya? demikian ibuku sambil mencubit lembut kedua pipiku
Aku akan berhenti mengunyah,dan segera memberikan sebagian kue kue di tanganku itu untuk adik adiku, aku akan senang sekali dipuji dan disanjung oleh ibuku,begitu juga adik adiku yang kecil kecil itu. Mereka akan tersenyum kembali,yang paling kecil dan cadel itu akan merangkul dan duduk di pangkuan ibuku.
Sewaktu aku akan mendengar pengumuman kelulusan dari sekolah dasar,pagi itu Ibu kelihatan sangat sibuk,dia akan menyeterika pakaianku tak seperti hari hari sebelumnya, menyiapkan bara api untuk mengisi seterika , sesekali akan membasahi lipatan lipatan baju dan celanaku dengan air dingin bening rendaman daun pandan,dia juga akan memasak paling banyak. Ayah akan bangun lebih cepat mempersiapkan diri untuk mendampingiku ,adik adiku akan libur, dan mereka hanya akan tinggal di rumah menunggu kami pulang nantinya. Hari itu adalah yang aku tunggu tunggu,hari yang menentukan.
Ketika kami pulang dari sekolah, mereka telah berkumpul di serambi rumah,duduk dan kelihatan gelisah di kursi kursi kayu, hanya ibu yang kelihatan komat kamit,mungkin dia sedang membaca doa doanya untukku,seperti biasanya. sejak lama mereka akan awas menungguku,apakah aku lulus apa tidak.
‘ anak kita bukan hanya lulus,dia juara 1 umum,Alhamdulillah’ . Ayahku segera memberitahu ketika kami telah pulang ke rumah
‘Alhamdulillah,ibu tersenyum bahagia’
‘Alhamdulillah’ ,demikian semuanya mengucapkan kesyukuranya
wajah kami semua berbinar binar ,haru bercampur bahagia yang sangat.
Aku merasa sangat berarti waktu itu,ketika perlahan lahan kupandangi langit di sana, di atas sana biru langit menyejukkan dadaku,tapi setelah itu, sesak rasanya mengingat runutan jengkal jengkal masa lalu. Karena di sana ada keluarga kecilku yang begitu menyanyangiku, di sana kesederhanaan telah membentuk jiwaku, di sana waktu telah menguji kami begitu panjang. Walau kami tahu selalu bahwa kuasa Allah s.w.t tak pernah lepas dari deru nafas kami manusia. Tapi kisah kisah masa laluku sampai hari ini telah menggoreskan duka,kesedihan,perjuangan panjang juga air mata ibuku yang mengalir di setiap dia melepaskan aku merantau demi kelanjutan sekolahku.
Tahun 1995, aku harus berpisah dengan keluarga kecilku,ayah,kakaku,adik adiku yang selalu kuajak bertengkar,juga ibuku yang tak pernah lelah mengasuhku, memarahiku ketika kerap kali aku terlambat belajar mengaji, dan membuatkanku pepes ikan emas setiap kali aku demam.
Karena ayah tak mampu membiayai kami semua untuk sekolah,aku sudah tamat SMP, adiku sudah akan masuk kelas 1 SMP,adiku yang bungsu masih kelas IV SD,beban biaya yang begitu besar tak akan cukup hanya dengan pekerjaan ayahku sebagai kuli bangunan pembangunan irigasi Kalola, di sana di Kabupaten wajo sulawesi selatan.
Ibuku yang dari dulu sebagai ahli dalam mencari solusi,berniat menitipkan aku ke adik sepupunya di Maluku Utara, di sanalah aku akan merantau, dengan harapan aku bisa di sekolahkan sambil membantu apa saja yang bisa kubantukan pamanku. Mencuci pakaian, menyapu,memasak , dan pekerjaan lainya.
Aku tak punya pilihan lain,adik adiku juga punya hak untuk sekolah,aku sangat bersemangat, ketika Ibu menemaniku saat pengumuman kelulusan SMP,guru guru kami menguatkan hati ibu,agar aku tetap lanjut sekolah, aku tak parnah melepaskan rangking kelas,Allah S.W.T maha adil,dari setiap usahaku untuk belajar sungguh sungguh,juga dari setiap bimbingan ibu yang selalu berusaha membelikan buku buku bekas bagi siapa saja senior mantan siswa SMP yang ingin menjual bukunya dengan harga murah, akhirnya aku juga bisa lebih giat, dan menuai hasilnya dengan prestasi.
Ketika aku dipercayakan untuk memberi kesan dan pesan perpisahan sekolah waktu itu, guru matematikaku, pak Abidin Raukas, rasa rasanya ingin kuprotes,naskah yang dia buat itu membuatku menangis tersedu sedu,mengapa beliau membuat naskah pidato yang mengharukan dan memasukkan aku di dalamnya,sehingga ibuku yang duduk di pojok ruangan itu,tak kuasa menahan derai air matanya.
Semuanya terbayang bayang di ingatanku, aku selalu ingat, sewaktu sepatuku robek tepat di ibu jari kaki sebelah kanan,menyusul yang kiri,aku selalu merengek sama ibu,aku sangat paham bagaimana susahnya hidup kami,tapi aku juga terkadang malu,teman temanku tidak pernah ada yang usil,hanya saja terkadang aku merasa minder ketika ada di antara teman temanku yang mungkin secara tak sengaja menatap sepatuku yang robek persis seperti lubang tikus itu.
Tapi ibuku tak pernah marah,dia akan berjanji,bahwa kelak dikemudian hari jika sudah cukup uang sepatuku akan di ganti,kemudian dia akan membesarkan hatiku dengan mengingatkan prestasi prestasiku di sekolah, lalu setelah itu aku kembali tersenyum esok paginya,melangkah dengan pasti ke sekolahku.
Ketika pidato perpisahan itu membuatku bersedih,semua orang yang mendengarkan juga bersedih,termasuk guru guruku tercinta,mungkin mereka sangat paham mengapa aku begitu sedih membaca teks teks pidato perpisahan itu. Perjuangan ibuku selama ini yang membuatku sangat terpukul,apalagi ketika di sana,di pojok ruangan itu,aku melihat dia memakai bajunya yang paling bagus,juga baju yang sama kerap dipakainya ke pesta,atau dia pakai ke pasar.Baju itu terlalu sering dia pakai.
Setelah masa itu,aku harus melanjutkan kesedihanku dengan cara berpisah,aku harus berangkat ke Maluku Utara demi kelanjutan sekolahku ke tingkat SMU.
Besarnya jiwa pamamku yang ingin membantu ibuku, senantiasa membuat kelurga kami berterima kasih, di umur yang masih belia,aku sudah harus memaknai arti sebuah pengorbanan,aku betul betul merasakan itu,mengarungi betapa sesuatu yang ingin di raih tak semudah yang kita bayangkan.
Aku menginjakkan kaki di MalukU Utara,dari kota Ternate aku masih harus naik kapal kayu ke kecamatan Bacan,selama sehari semalam kami harus mengitari beberapa pulau, perjalanan yang melelahkan ini akan terobati dengan pemandangan yang indah,laut begitu biru,ombak ombak kecil mengayun perahu perahu nelayan yang tampak dari kejauhan, pohon pohon kelapa yang bersilangan di beberpa pantai memberikan kesejukan dan indah di pandang mata
Di sini aku kembali melewati hari hariku sebagai siswa,perbedaan budaya,geografis dan bahasa membuatku harus bersabar untuk beradaptasi,aku kembali berprestasi di tempat ini,dan karena ini pula memuluskan usahaku untuk bersosialisasi, aku memiliki banyak teman, teman berdiskusi dan belajar,juga teman teman berorganisasi di OSIS.
Ibu hanya berkomunikasi dengan aku lewat surat, Kami akan bertukar kabar,bagaimana kesehatan mereka,bagaiamana kabar adik adiku, bagaiaman ayah yang setiap pagi masih mengayuh sepedanya 5 Km setiap pagi, di sana di tempat dia bekerja.
Setelah itu,pasti aku akan membalasnya,bahwa di sini aku baik baik saja, aku akan menulis secara detail bagaiamana aku rindu kepada mereka satu persatu. Aku akan mengatakan ,aku sangat rindu dengan masakan ibu, terutama sayur daun kacang panjang dengan bumbu khasnya,juga berbagai macam kue setiap bulan ramadhan telah tiba; ada kolak kolang kaling pohon enau yang di petik sendiri, kolak sagu, dan racikan kue kue bugis yang khas buatan ibuku.
Oleh karena itu,Ibu adalah kekuatan utama rumah kecil kami, aku tak pernah bisa mengusir ketakjubanku,ketika ibuku setiap hari akan mengurus semuanya dari A- Z, subuh dia akan bangun dan membangunkan kami semua untuk shalat subuh,sebelum dia sendiri shalat subuh,pagi pagi dia akan mengurus sarapan kami semua sebelum kami berangkat ke sekolah, dia juga akan menyiapkan bungkusan nasi ayah,sebelum beliau berangkat kerja, setelah pekerjaan rumah usai dia akan ke kebun,melihat berbagai macam tanaman jangka pendek yang setiap sorenya kami semai,tanam,bersihkan rumputnya dan menancapkannya pagar pagar bambu kecil agar tak dirusak oleh hewan hewan yang lewat.
Pohon pohon pepaya,kacang panjang,tomat,timun,cabe, dan berbagai macam sayuran jangka pendek kerap menuai hasil panen yang banyak, itulah sebabnya ketika ibu menjualnya di pasar dan mendapatkan uang lebih,maka adik adiku akan senang karena baju baju sekolahnya yang lusuh akan di ganti,demikian juga dengan aku, kisah sepatu robek itu akan berakhir,karena ibuku segera menggantinya dengan yang baru.
Kampung kami yang sejuk,sebagai tempat ke dua kami setelah pindah itu,menampakkan fenomana alam yang kontras dengan sebelumnya, di tempat yang baru ini,kami akan menikmati pegunungan timbul tenggelam di depan mata kami, air sungai mengalir jernih nan sejuk, jalan jalan yang berkerikir,juga sepoi sepoi angin sore yang tak akan ditemukan kecuali hanya di tempat ini. Suasana hati kami tetap teduh di bawah rumah kami yang kecil,beratapkan dedaunan juga beralaskan papan papan, serta suasana kelurga kami yang harmonis dari hari ke hari
Sementara itu jiwaku berusaha bertahan di Maluku Utara, ibuku telah mengajarkan secara tidak langsung sebuah imunitas kehidupan, bertahan hidup dalam keadaan sulit,bagaimana menapaki hari hariku dengan sebuah keuletan,tekad, dan tak menyerah, walau hanya akan mundur sejengkal saja.
Tiga tahun kemudian kulalui dengan manis di tempat ini, aku menjadikanya sebagai sejarah yang kuukir di dalam kisahku,sekarang sedang kutulis kisah itu,terus hingga memasuki era baru,era yang lebih dinamis dan semakin banyak tantangan dan kerumitan kerumitan baru,yang membuatku akan mengirim surat ke ibuku dan memohon doanya agar aku tetap tegar dan perkasa. Di sana ketika dia pindah untuk kedua kalinya ke tempat yang baru ,di sebuah pelosok desa terpencil di provinsi mamuju utara, untuk sebuah pekerjaan yang sama, yaitu mengolah kebun kebun orang lain agar ayah dan ibu mendapat upah agar aku bisa melanjutkan kuliah.
Aku menginjakkan kaki di kampus Unhas tahun 1998,waktu itu kami di sambut dengan sebuah kosakata paling pupoper hingga saat ini yaitu reformasi 98. Kota makassar Menyambutku dengan modernitasnya,sementara aku anak pulau nun jauh di sana,sehingga terkadang teman temanku akan tertawa melihat tingkahku yang polos, cara berpakaian teramat aneh,seperti ketika aku memakai celana jeans merah dan baju kemeja putih polos,yang membuat senior seniorku terbahak bahak sambil mengankat tangan kananya ke ujung kening masing masing,seperti ketika hormat kepada sang saka merah putih.
Ketika desa kami sedikit gempar karena aku lulus di perguruan tinggi,ibuku hanya tersenyum, ayah akan bercerita panjang lebar kepada kerabat kerabatnya bahwa anaknya akan kuliah dan kelak dikemudian hari lulus dengan gelar dokter gigi.
Para tetangga akan menampakkan ekspresi wajah dua kemungkinan, demikian juga dengan kerabat kerabat ayah tadi, ada yang senang dan merasa terlibat dalam keberhasilanku, tapi mereka penduduk desa yang rutin menerima nasib, di antara mereka ada yang mencibir,bahwa tak mudah untuk menggapai cita cita untuk orang semiskin kami,aku harus seperti teman temanku yang lain, berkeluarga,punya anak, dan menggarap sawah sawah, seperti orang tua tua kami sebelumnya.
Tapi ibu akan tampil ke depan,mengajak ayah untuk memikirkan bagaimana cara selanjutnya agar aku tetap akan masuk kuliah,itulah sebabnya di tengah desakan kebutuhan yang semakin menanjak, mereka memutuskan merantau ke kabupaten lain,kabupaten Mamuju Utara, di sana di sebuah desa yang baru di mekarkan, ada kerabat yang merelakan kebun coklatnya untuk di jaga dan dipelihara, kemudian ketika panen tiba, ibu dan ayah akan di beri sekian persen sebagai upah telah bekerja di kebun itu.
Kami sudah tak memiliki apa apa lagi, sejak semester tiga berlalu, keluarga kecil kami harus merelakan sepetak tanah milik satu satunya,juga rumah sederhana kami, tentunya di jual dengan harga tak begitu mahal.
Kebutuhan kuliah setiap 3 bulan sekali untuk sementara terpenuhi, ibu tak pernah kehilangan cara untuk memenuhi permintaan surat suratku.
Dadaku terasas sesak, setiap kali membuka amplop kiriman ibuku, tak jarang ibuku mengirimkan uang pecahan seribu rupiah,pertanda beliau senantiasa menabung, aku pernah begitu bersedih, lalu ingin lari dari kenyataan ini, batinku sangat dilema.
’sudahlah,hentikan penderitaan ibumu,ayahmu sudah sakit sakitan!’ aku membatin
‘kau lihat,adik adikmu telah kehilangan hak karena dirimu!’
‘ lihatlah kalian tidak punya tempat tinggal lagi,keluargamu kini terlunta lunta di tengah kebun yang jauh di sana, ibumu sudah semakin renta’
‘apakah engkau tak kasihan kepada mereka?’ Aku betul betul lemah, hatiku begitu perih
ketika pertanyaan pertanyaan itu muncul.
Pergulatan batin itu telah mengguncang jiwaku, aku memang telah meraih sarjana Kedokteran Gigi, dan masih harus melanjutkan kuliah profesi untuk mencapai gelar dokter gigi, tapi bayang bayang wajah ibuku yang semakin kurus,ayah yang juga sudah tak setegar dulu, adik adiku yang kini terlunta lunta, dan semuanya itu menjadi kombinasi yang terkadang membuatku ciut.
Hingga pada suatu ketika aku memutuskan untuk tidak mengirim surat lagi kepada ibu, aku tak ingin membuat dia gelisah bagaimana caranya mendapatkan uang lagi,biaya perkuliahan yang begitu besar di Fakultas Kedokteran Gigi benar benar membuatku tak berkutik, tapi biarlah aku menenangkan pikiran dulu,meliburkan diri, dan memberi nafas kepada kehidupan ibu,ayah dan adik adiku,mereka juga memiliki kebutuhan hidup.
Aku meliburkan diri,aktivitasku yang paling banyak adalah menulis,juga membaca buku buku apa saja. Hanya ini yang sedikit memberi pencerahan pencerahan baru tentang hari hari esok yang akan kujalani. Aku sering sekali ke biblioholic ,sebuah kafe baca di depan kampus , disana aku sering membaca buku sastra dan juga buku apa saja yang mengisahkan tentang perjuangan dan tragedi tragedi anak manusia.
Tapi Kesehatanku sudah mulai tergganggu, dua kali terserang typoid dalam waktu yang hampir berturut turut. aku tak memberi kabar apa apa kepada ibuku, sejak hari itu.
Waktu terus berjalan, naluri ibuku terbukti lagi, aku yang menerima suratnya,tapi bukan sebagai balasan suratku, tapi dia yang mengirim surat.
Limua,Mamuju Utara tgl 14 April 2006
Assalamu Alaikum Wr.Wb.
Sebelumnya,ibu sampaikan bahwa sewaktu ibu menulis surat ini,ibu dalam keadaan sehat sehat saja,hanya ayah yang masih terkadang sakit sakit, adik adikmu sekarang tinggal di rumah nenekmu di kecamatan maniangpajo Anabanua. Dan semoga saja ananda juga sehat sehat wal afiat di makassar.
Akhir akhir ini ibu gelisah memikirkan ananda, semoga ananda sehat sehat saja,oh ya apakah ananda sekarang libur? Mengapa tak mengirim surat lagi seperti biasa, sekarang memang musim paceklik, panen coklat sudah menurun, itupun ibu hanya dapat 10 persen dari hasil setiap panen.
Tapi jangan kawatir nak, ibu akan tetap berusaha bagaimanapun supaya ananda bisa mencapai cita cita,sekarang ibu menanam tanaman jangka pendek seperti biasa untuk dijual di pasar, Insya Allah ada saja rejeki dari Allah S.W.T. anandalah satu satunya harapan keluarga ,kebanggaan kami semua.
Adikmu yang bungsu pernah bertanya,apakah dia juga akan kuliah. Aku menangis nak, kupeluk adikmu itu, ibu katakan kakakmu masih kekurangan biaya nak,bagaimana mungkin kamu bisa kuliah. walau setelah dia sedikit merenung akhirnya dia perlahan lahan bisa mengerti.
Alhamdulillah kami semua mendoakan dan mendukungmu nak.sekali lagi anandalah yang menjadi kebanggaan kami.
Salam dari kami semua yang merindukanmu
pesan ibu jagalah shalat lima waktu.
nb:* ibu kirim uang bersama surat ini Rp 300.000
*ayahmu minta dikirimi foto wisuda sarjana ananda, dia mau pasang fotomu di dinding rumah
* ibu juga kirim kue kering kesukaan kamu.
Balas
Wassalam
Aku duduk mematung usai membaca surat ibuku, dadaku begitu perih,kembali kubayangkan wajahnya yang lembut, wajah ayah yang kelihatan kelelahan,aku membayangkan mereka di gubuk sana, tinggal di sebuah rumah kebun beratapkan sulaman dedaunan, jauh,dingin,hening dan dikelilingi oleh hutan hutan yang habis di babat,juga kesunyian malam yang sangat.
Tanganku bergetar melipat surat ibu,kutatap sebungkus kue kiriman ibu, dia begitu rapi membungkusnya, di sisi bungkusan kue itu di tempelkan amplop berisi uang, biaya kuliahku yang mungkin hasil tabungan ibu dan ayah selama beberapa bulan terakhir, atau upah beliau menjaga kebun coklat orang lain.
Aku bersedih sekaligus mendapat kekuatan baru, aku harus membanggakan keluarga kecilku, bertahun tahun mereka terlunta lunta,hidup berpindah pindah dan menjadi buruh penggarap kebun hanya untuk sebuah harapan dan tekad, aku anaknya harus berhasil.
Esok harinya aku menyambut matahari tak seperti biasa, kulangkahkan kakiku dengan pasti, walau makassar begitu bising dengan hiruk pikuknya,tapi aku begitu sunyi berada di dalamnya. Aku terus merangkak menyelesaikan tugas tugas kuliah.
Naluri ibu sangat tajam, dia tahu jika anaknya lagi bimbang, aku senantiasa berharap dalam doaku, mereka diberi kesehatan dan kelak dikemudian hari melihat keberhasilan anaknya.
Hidupku pada akhirnya semakin mekar,kesederhaan dan ketegaran keluarga kecilku menjadi lokomotif,aku terus berjuang,walau masih tetap perlahan,perlahan tapi pasti.Di tengah tengah kerumitan biaya praktek, aku mendapat sms dari jakarta, dari PB PDGI,artikel yang kukirim dalam perlombaan LKTI juara 2 kategori umum, I Juta adalah adalah hadiah yang sangat berarti untuk biaya praktek,hari hariku kembali kujalani dengan nafas penuh rasa syukur, Allah S.W.T telah mendatangkan pertolonganya di waktu tak di sangka sangka.
Ketika pada akhirnya, di atas podium yudisium Dokter gigi,aku melihat tubuh tubuh kurus ibu dan ayahku bergabung dengan para orang tua kawan kawan wisudawan yang lain. Hatiku begitu terharu bercampur bahagia.
Kali ini kembali terulang, aku naik ke podium menyampaiakan kesan dan pesan mewakili para wisudawan. Aku tak menangis kali ini,air mataku telah tumpah habis di hadapan salah satu dosenku ketika suatu saat dia bertanya kepadaku, mengapa aku terlambat membayar SPP,aku tiba tiba menangis karena pertanyaan itu mengingatkan aku tentang kehidupan orang tuaku yang tak pernah lelah berjuang,menderita, mencari pembayaran SPP itu.
Di podium itu,aku hanya mengatakan beberapa hal,bibirku bergetar menyampaikan beberapa kalimat.
Tapi hatiku seolah olah ingin mengucapkan banyak hal, terutama tentang ibuku yang duduk di sana, wajahnya nampak bersinar dan cerah, ayahku yang seakan akan tak kelelahan lagi. Dua duanya adalah seolah olah ingin kuperkenalkan kepada dunia, dunia yang selama ini begitu angkuh,juga pada jutaan anak anak Indonesia yang senasib denganku.
Lihatlah ibuku, ayahku.mereka keluarga miskin yang tak pernah menyerah. Kekuatan yang paling besar di dunia ini adalah kemauan. Jangan pernah berfikir akan berhasil jika kemauan dan cita cita harus ditutup dengan dalih kemiskinan,juga kesempatan yang tak pernah di terima.
Allah S.W.T telah mengasihi kami semua,doa doa ibu yang tertulis dalam surat suratnya kini terbukti.
***
Pagi yang cerah,kabut tipis rimba rimba kalimantan menyambut bumi dengan damai,burung burung dari kejauhan sudah mulai nampak,bersilewaran menampakkan kehebatannya mengitari langit, cakrawala putih putih biru yang luas.
Ketika siang beranjak datang, sebagian orang orang akan berbondong bondong,masuk ke ruanganku bekerja, berdiskusi dan mengharapkan keterlibatanku untuk kesembuhanya. sesudah itu, mereka akan keluar dari ruanganku dengan senyum dan sebuah ucapan ‘terima kasih’
Kini, aku duduk di sini menulis sebuah kisah membayangkan ibu dan ayah tersenyum bahagia.
Tuhan telah mengirimkan kepadaku seorang istri yang cantik jelita, baik hati dan mewakili jiwaku yang begitu sayang kepada ibuku. Dia juga telah memberikan aku seorang putri ‘Najwa Azizah Azzahra’.
Subhanallah
alhamdulillah wasyukurillah
suatu ketika istriku mengingatkan ‘ jangan pernah kau biarkan tubuh dewasamu tak sempat berbakti kepada orang tuamu’
Itulah sebabnya aku masih mengabdi dan berusaha di tempat ini, sebuah desa terpencil di kalimantan timur. Perpisahan dengan keluarga kecilku,istriku,juga putriku yang masih berumur 2 bulan adalah sebuah perjuangan Indah yang kujalani demi sebuah cita cita yang aku dan istriku rencanakan sejak dulu.
Setiap hari aku akan menelpon istriku,menanyakan kabar putriku yang semakin lucu,kesehatan keluarga besar kami, bapak dan ibu, juga sesekali menanyakan perkembangan pembangunan rumah baru yang layak untuk Ibu dan ayahku.
Aku tak Ingin lagi mereka seperti dulu
Hidup terlantar di sebuah gubuk tua, beratapkan sulaman dedaunan juga beralaskan papan papan, seperti 10 tahun ibu dan ayahku jalani,berjuang demi aku,juga adik adiku.
Aku selalu yakin, aku tak akan pernah bisa membalas kebaikan Ibu dan ayahku
setelah usai kisahku ini kutulis, jiwaku menari nari, dan akhirnya , di shalat subuhku yang terakhir aku menangis bahagia mengucapkan rasa syukur, perjuangan panjang ini, kelak ingin kutitiskan sebagai sejarah kepada anak anaku, sebagaimana ibu telah mendidik aku menghadapi dunia dengan jiwa yang tak pernah surut.

