
Tanah kuburan itu masih merah basah. Tak ada pusara menyerupainya dan jejeran makam yang lain tertata rapi di tempat itu, sore itu hanya kesedihan yang mengisi udara dan jiwa-jiwa yang baru saja berlalu, gelap yang sebentar lagi datang menambah misteri batas waktu yang harus ditempuh. Matahari yang masih sedikit memendarkan kilau kini telah berangkat, dan udara yang hangat itu lamat-lamat disambut oleh burung-burung malam, senyap dan perih.
***
“ ibu, jika restumu menyertai, aku siap berangkat”
“ berangkatlah Naomi, berangkatlah nak- tanah papua adalah bumi perantauan, dan om kamu di sana siap menjemput”, ibu itu memeluk lututnya sendiri, seolah-olah dia menyembunyikan gelisah dalam gerak-geriknya.
“ tapi bu, ibu kan sendiri, dan batuk ibu belum sembuh”
“ ada adikmu yang rawat ibu, berangkatlah jangan habiskan waktumu hanya untuk bimbang”
Malam itu dia berkemas, beberapa lembar pakain dilipat rapi dan dimasukkan pada sebuah tas jinjing, sebuah ijazah SMU dijejalkan diantara pakain tadi, ibunya masih di dapur. Adiknya di ujung kamar masih sibuk menatap lembara-lembaran kertas dari sekolah. Baginya walau perpisahan akan membuat hati remuk, dan sangat sulit mengumpulkan keberanian untuk bertahan dan melawan jarak, tapi dalam benak imaginernya hanya dengan cara demikian maka dia bisa berbuat sesuatu. Sesuatu yang kelak dikemudian hari menjadi asa-asa yang nyata. Hanya beberapa saat, karena dia ingin segera kembali, ingin melipatkan pakaian ibunya seperti biasa, bercanda bertiga di meja makan, sambil melahap sayur bening serta lauk pauk buatan ibunya.
***
Di tanah yang hijau itu, kita bisa takjub akan sebuah ciptaan yang serba ada. Di sana ada gunung-gunung yang perutnya berisikan emas, laut yang dibatasi pesisir indah hidup berbagai kekayaan laut- serupa samudera biru yang luas dan di dalamnya berisikan nafas, nafas yang dapat menghidupi generasi ke generasi, di tanah Papua- serupa serpihan ciptaan yang memeluk zaman, berusaha menguji dirinya dengan sebuah komitmen kebangsaan. Di sana- adakah keadilan menetes dari sebuah sentrum kekuasaan. Di sanalah, seorang anak gadis menguji nasib, menutup gelisah ketakberdayaan, melawan arus dan tatanan nilai, ataupun moralitas yang selalu didengunkan.
***
Sejak hari yang penuh petaka itu. Sebuah rentang waktu yang berbuah traumatis, manusia adalah sebagaimana dia dituntun oleh nurani, belas kasih dan akal sehatnya. Dia harus mengubur trauma dengan menggali lubang sedalam mungkin. Walau ibunya kerap berkisah tentang kebaikan lelaki yang jangkung itu, tapi malam itu sama sekali sirna tanpa bekas. Dia harus menerima kenyataan akan sifat manusia yang tak bisa ditebak, sebuah kebaikan tak selamanya muncul dari ranting keikhlasan, terkadang dia lahir dari motif-motif terselubung. Dan malam itu, Naomi terisak dan meratapi langit, meringkuk di pinggir ranjang sambil menopang tubuhnya yang lemah dan ringkih, sesekali dia melirik lelaki yang terbaring ibarat sebongkah batu di atas ranjang itu. Lelaki itu tidur bermandikan keringat.
***
Kini setelah itu pekerjaan Naomi adalah memeluk malam, dia terhimpit di antara kebutuhan keuarga di kampung, dosa, dan dendam yang dalam. Hidupnya adalah pemberontakan yang berbuah kehidupan malam. Dia menjemput detiknya dengan langkah tegap, melayani, dan menerima. Hanya kerap beberapa bulir air bening jatuh dari pelupuk matanya. Hal ini sering terjadi terutama ketika setiap sebulan sekali dia menghitung lembaran-lembaran uang untuk dia kirim ke kampung. Biaya berobat ibunya dan sekolah untuk adiknya.
Setiap malam, ketika semua orang terlelap dalam peraduan- dimana awan yang gelap mengitari langit dan menghasilkan udara dingin yang berisikan embun-embun tipis, dia tetap terjaga berada pada suatu tempat yang dipenuhi gelas-gelas minuman, aroma keringat dan asap rokok mengepul di langit-langit sebuah kamar, beberapa jarum suntik tergeletak di atas meja. di luar kamar itu beberapa pria menanti nomor urut. Naomi adalah muara hasrat bagi mereka. Begitulah setiap malam.
Sorot mata itu tak seperti dulu, binarnya tak seteduh ketika pertama kali pamanya menjemput di pelabuhan. Dan lelaki yang sekaligus pamanya itulah yang pertama kali memantik dunia hitamnya, menarik jiwanya ke dalam kubangan pergaulan bebas, narkoba dan menjual diri.
***
5 tahun kemudian
Naomi terduduk pada sebuah kursi kayu, menatap keluar jendela yang dipenuhi deburan ombak-ombak kecil. Di luar sana lelangit sedang mendung dan di penuhi arakan awan yang gelap, mungkin pertanda akan hujan. Tubuhnya yang semakin hari semakin kurus, kelopak matanya yang hitam menampakkan kombinasi kepedihan yang sangat.
Dia menyeruput air putih setiap kali batuk mengguncang tubuhnya. Surat dari ibunya telah berapa kali dia baca, berulang-ulang- hanya dengan membaca surat itu, wajah dan jiwanya sedikit tenang walau terkadang hanya sesungging senyum yang dia nikmati sendiri. Kembali dia membaca surat terakhir.
Makassar, 21 mei 2005
Buat anaku Naomi
Di,-
Perantauan
Ibu dan adikmu sehat walafiat
Ibu sudah berobat ke dokter dan kini telah sembuh
Adikmu, sekolahnya baik-baik saja
Ibu berharap, kembalilah ke kampung .
Kami sudah sangat merindukanmu
Dari
Ibu dan adikmu Desy
Di penghujung tahun 2005 itu, dia menyerah setelah sekian lama harus menutup rapat-rapat hasrat untuk pulang. Naomi beranjak untuk berkemas, dia membuka lipatan tas jinjing yang dia pakai datang untuk pertama kalinya, membersihkanya dari debu kemudian memasukkan pakainya seperti ketika pertama dia akan merantau.
Pagi yang cerah itu, burung-burung kecil bercicit di batang pohon jambu di halaman rumah, Naomi meninggalkan rumah pamanya tanpa menoleh. Jalanya yang sangat pelan dari kejauhan menopang tubuhnya yang nyaris jatuh. Dengan tubuh yang masih amat sakit dan lemah dia terus melangkah, suara-suara motor ojek yang bising tak cukup untuk membuat jiwanya bereaksi akan sebuah fenomena bising, dia benar-benar sedang kalut, sakit dan bingung yang pada akhirnya semua itu memaksa dirinya untuk berangkat, menuju kampung halamanya.
Di atas kapal, di sebuah lorong dek yang dijejali barang-barang penumpang, Naomi meringkuk berselimutkan kain tipis. Hidupnya kini memiliki tujuan untuk bertemu dengan ibu dan adiknya. Mungkin secercah kepedihan dan rasa rindu cukup membuat dirinya sedikit berarti. Hidupnya yang dia defenisikan sebagai lumpur dosa dan penyakit.
Terbayang dalam dirinya, sejak dokter memvonis dirinya mengidap HIV dan terjangkit AIDS hidupnya ibarat jiwa yang kosong, seperti hidup yang tanpa cahaya. Setiap pagi dia menyambut hangatnya matahari tanpa asa-asa seperti dulu, tanpa semangat yang sejak dulu dia siram dengan pengorbanan yang tak bertepi. Penyakit yang dia derita sungguh amat mengerikan, membuatnya sering bertanya pada keheningan malam, apakah AIDS yang dia derita karena taqdir? Ataukah karena efek spiral dari ketidakadilan serta petaka sosiologis tempat itu yang membuatnya terjerumus? Ataukah karena lelaki jangkung yang menjanjikan pekerjaan itu yang harus bertanggung jawab?
Baginya, keadilan hanyalah sebuah simbol dimana dirinya adalah bagian dari simbol itu, hanya untuk mempertegas bahwa ada orang-orang seperti dirinya hidup di dunia ini. Wajah lelaki jangkung itu kembali hinggap dan meremas kepalanya yang semakin berkunang-kunang. Kombinasi berbagai kejadian kembali teringat satu demi satu, semua itu semakin melemahkan jiwanya yang semakin rapuh. Tubuhnya yang semakin lemah hanya menyisakan secuil semangat, sisanya adalah rasa sakit yang amat dalam.
***
Setelah tiga hari berlalu, Naomi masih terbaring sekarat. Ibunya dan adiknya yang setia mendampingi duduk dengan diam. Hanya air mata mereka berdua yang sesekali meluncur deras, tangannya terkadang membelai lembut rambut anaknya yang sekian tahun berpisah dan kini pulang dengan tubuh yang sakit. Beberapa larik sinar menerobos masuk melalui celah jendela, senja sebentar lagi tiba, dan kesedihan mereka bertiga disambut oleh malam yang penuh hening. Dan Naomi semakin hari semakin sekarat , daya tahan tubuhnya seolah-olah tak tersisa dan semua penyakit kini seakan melahap semua organ-organ tubuhnya.
Subuh di malam terakhir itu, usai tersenyum kepada ibu dan adiknya, Naomi menghembuskan nafas terakhir.
***
Kota makassar tak pernah senyap, tapi desy dan ibunya masih duduk di pusara merah itu tanpa menghiraukan suara-suara yang menderu di jalanan.
Kedua perempuan itu tak pernah tahu, Naomi tak sedikitpun mengeluarkan kisah-kisak kelamnya selama di perantauan. Sejak dia menginjakkan telapak kakinya di tanah kelahiranya sebulan yang lalu dia bersumpah untuk menutup rapat penyakit mengerikan yang dia derita. Dan dalam hatinnya senantiasa berdoa, agar usai pertemuan dengan ibu dan adiknya kelak, dia ingin segera dijemput oleh sang pemilik segala sesuatu.
Dan subuh itu, Tuhan mengabulkanya .

