Kasian Mbak Kembangku.. Sekarang dia harus ribet bawa payung ke sekolah, biar ngga keujanan pas berangkat ke sekolah. Kalau Sayah mah, seneng-seneng saja, biar keujanan juga. Yang penting, Mbak Kembang aman dari jamahan c Aa Kades yang sok Caper itu. Keujanan juga, tidak apa-apa selagi ada Mbak Kembang
“Kang, Akang pake jas ujan ateuh.. biar ngga keujanan. Ntar kalau keujanan terus, Akang bisa sakit. Ntar Kembang diganggu sama c Aa Kades’ kata Mbak Kembang suatu ketika.
“Tidak ah, Mbak.. Pan airnya bisa dihalau sama Kribo Sayah Mbak. Lagian, selagi ada Mbak Kembang, Sayah mah tidak akan sakit, Mbak. Hehe” jawab ku sekenanya.
“Ya sudah ateuh.. Kalau ujannya gede, terus angin kenceng, Akang berenti dulu yah… Jangan maksa nerobos,” Mbak Kembang mengingatkan sambil ngacak-ngacak Kribo
Sepulang dari nganterin Mbak Kembang ke sekolah
Hujan semakin deras dengan angin yang cukup kencang, masih berasa dari tadi nganterin Mbak Kembang ke sekolah. Tapi, karena pengen cepet ngopi, Sayah terus ngayuh pedhal Onthel ku. Sekitar 57 Meter dari sekolah Mbak Kembang, tiba-tiba pohon Mahoni di jalan tumbang dan mengenai tubuhku. Aku masih sadar ketika terpelanting, terpisah dengan onthel kesayangan. Mataku terasa sakit dan panas, sepertinya ada dahan yang masuk menusuk mata. Setelah itu, aku tidak tahu lagi, apa yang terjadi.
Di Pondok Sehat Teh Dewa
Samar-samar aku mendengar suara riuh, panik di sekelilingku. Tapi aku belum bisa mengenali suara siapa itu. Mataku pun hanya menangkap warna hitam gelap, tanpa bisa menangkap sosok yang riuh di sekitar. Pelan, namun pasti, aku mulai bisa mengenali satu-persatu suara riuh itu. Ya, aku kenal dengan suara itu. Itu adalah suara Teh Mom, Aa Hans, Mbak Asih, Mbak Acik, Bunda Selsa, Mas refotter, Pak Rt dan suara-suara tetangga ku di Desa Rangkat lainnya. Dan, akupun bisa mengenali isak tangis dari seorang perempuan. Ya, itu suara isak tangis Mbak Kembang. Aku kenal sekali. Tapi, aku hanya bisa mengenali dari suara. Mataku hanya mampu menangkap warna yang pekat.
“Mbak Kembang..” suaraku lirih menyapa Mbak Kembang
Mendengar aku bersuara, kontan mereka semakin riuh dengan penuh kegembiraan
‘Kang Inin.. Kang Inin.. Alhamdulillah, Kang Inin sudah sadar,” suara Aa Hans penuh kegembiraan mendengar aku bersuara.
minjem dari Om Google
‘Kang.. Kang Inin tidak apa-apa Kang.. Mom yakin, Kang Inin akan sehat,” suara Teh Mom tampak panik, di sela-sela suara riuh tetanggaku yang lain.
“A.. Teh… Sayah di mana? Saya kenapa Teh..? Saya tidak bisa melihat Aa, Teteh, Mbak Kembang, Teh Dewa, Teh..” jawabku dengan suara pelan.
‘Kang.. Kang Inin tenang dulu ya.. Jangan banyak gerak.. Kang Inin di pondok sehat Sayah Kang.. Akang tenang ya,” sahut Teh Dewa mencoba menenangkan
Tiba-tiba pipiku merasa panas.. Ada rasa panas di kelopak mata dan pipiku.. Ya, berangsur-angsur aku mulai ingat apa yang terjadi. Memoryku sedikit demi sedikit, mulai kembali. Aku tidak bisa melihat orang-orang di sekitarku, karena memang mataku terluka, setelah dihantam oleh dahan Mahoni yang roboh sepulang dari sekolah Mbak Kembang.
‘Teh.. A.. Saya buta, Teh.. Saya butaaaaaaaaaaaaa!!!” histeris Aku menjerit, setelah memoryku kembali normal.
‘Tidak Kang, tidak.. Akang akan sehat lagi Kang.. tidak” aku dengar Mbak Asih mencoba menenangkanku..
“Tidak.. Saya buta.. Saya Buta dan saya tidak akan punya teman lagi.. Tidak ada orang yang sudi berteman dengan orang buta seperti saya.. Saya sampah, saya tidak berguna Mbak.. Saya butaaaaaaaa, Mbak..” kembali aku histeris. Dan tangispun mulai pecah.
“Tidak Akang.. Kita tidak akan meninggalkan Akang.. Apapun yang terjadi, Bunda dan temen-teman di Desa Rangkat tidak akan pernah meninggalkan Akang.. percayalah Kang.. Kami tidak akan pernah meninggalkan Akang,” suara Bunda Selsa menahan tangis, mencoba menenangkan sambil memelukku.
‘Tidak Bund… orang buta seperti Saya tidak bisa menjadi teman kalian smeua. Saya tidak berguna Bund.. Saya hanya akan merepotkan Bund.. Saya sampah, tidak berguna Bund,” suara ku bergetar menahan tangis yang siap meledak.
‘Kang…. Kang Inin janji sama Kembang.. Akang tidak ngomong lagi seperti itu.. Kita semua di Desa Rangkat sodara Kang.. Kami tidak akan membuang Akang begitu saja. Akang mungkin buta. Tapi, bukan berarti harus kami tinggalkan.. Akang adalah kami.. Kami adalah Akang, Kang.. Akang janji,” dengan terbata Mbak Kembang mencoba meyakinkanku.
“Kang Inin.. Apapun yang terjadi dengan Kang Inin dan warga Desa Rangkat lainnya.. Kita tetap sodara Nak.. Kita di Desa Rangkat sayang sama Kang Inin..”
“Nak.. Dengarkan Nak.. Saya orang pertama yang akan selalu ada buwat Kang Inin.. apapun dan bagaimanapun Kang Inin, kami sayang sama Kang Inin.. Kami semua mencintai Kang Inin.. Yakin, Nak.. pasti akan kembali sehat dan bisa bercengkrama lagi bersama kita.. Yakin.. Tuhan Sayang sma Kang Inin,” suara Pak Astoko dengan penuh kasih sayang , mencoba menguatkan jiwaku…
Seketika, tidak ada lagi suara terdengar di ruangan yang nampak warna pekat itu… Aku sibuk dengan pikiranku, yang akan ditinggalkan oleh Warga Desa Rangkat karena kebutaanku…
Terangnya dunia tak dapat dipandanginya
Indahnya dunia tak dapat dinikmatinya
Terang bagi orang, gelap bagi dia
Indah bagi orang, suram bagi dia
Tanpa penglihatan dihalani hidup ini
Tongkat yang di tangan menjadi teman abadi
Begitu derita nasib orang buta
Hidup di dunia di dalam gulita
Suara cuma dengan suara
Dia mengenal orang sekelilingnya
Meraba cuma meraba-raba
Dia menelusuri jalan hidupnya
Terangnya dunia tak dapat dipandanginya
Indahnya dunia tak dapat dinikmatinya
Terang bagi orang, gelap bagi dia
Indah bagi orang, suram bagi dia
Tanpa penglihatan dihalani hidup ini
Tongkat yang di tangan menjadi teman abadi
Begitu derita nasib orang buta
Hidup di dunia di dalam gulita
Suara cuma dengan suara
Dia mengenal orang sekelilingnya
Meraba cuma meraba-raba
Dia menelusuri jalan hidupnya
Suara cuma dengan suara
Dia mengenal orang sekelilingnya
Meraba cuma meraba-raba
Dia menelusuri jalan hidupnya
*Rhoma Irama ‘Buta’*
*Terinspirasi, darisalah seoarng teman yang mengalami misubah*

