Penerangan di ruang khusus merokok sedang bermasalah. Tapi perokok hanya perlu tempat mengisap nikotin tanpa perlu mengganggu peng-anti-rokok. Dan dalam cahaya seadanya, kutandai seseorang mendekat. Perempuan muda dengan tas kamera terselendang di bahu.
Aku tak perlu tahu apa yang ia ucapkan. Bahasa Inggris dalam lidah Jepang. Tapi begitu melihat bahasa jarinya, aku angsurkan pemantik ke arahnya. Mukanya berbayang tudung capuchon. Dan begitu pemantik menyala, sudah cukup untuk kukenali lesung pipit dan tahi lalat mungil di atas bibirnya.
“Umm… membeli jeruk-jeruk,” kataku tenang seolah bicara sendiri. Sebuah kode yang hanya dipahami dua orang di dunia ini.
Ia mengembalikan korekku dengan melambungkannya ke udara, lalu kutangkap.
“Kau,” katanya… lalu beberapa detik yang cuma kujawab dengan deham. “Kau masih merokok? Setelah dokter memvonismu mati gancang bila tak hentikan itu?”
“Kau, masih memotret? Setelah lelaki penyemangatmu menghilang tak kembali pada suatu malam?”
“Aku tak suka omonganmu. Itu sepuluh tahun lalu.”
“Vonis dokter yang kuterima juga sepuluh tahun lalu, Aiko!”
***
Catatan: Saya sendiri tak ingat lagi sebenarnya waktu menulis ini mau bikin cerita apa? Tapi, saat periksa berkas-berkas sampah di komputer ternyata lumayan banyak sampah 11-12 kb macam ini. Duuuh… ketimbang cuma jadi sampah di komputerku, mending nyampah di kompasiana… ahahahaha!