Onozaki. Aku kenal gelandangan tua ini tak sengaja. Pada malam pengujung musim semi, usai belanja panganan di Shiobaraya, sebuah toko. Sepuluh langkah dari pintu masuk toko ada mesin penjual kopi dan beberapa asbak rokok. Di sana biasanya kuhabiskan secangkir kopi hangat dan sebatang rokok sebelum mengayuh sepeda tuju pulang.
Pertemanan kami bertunas gara-gara kretek. “Boleh kuminta rokokmu?” katanya waktu itu. Ia tawarkan sebatang Wakaba, rokok murah. Kuberi dia sebatang kretek kiriman saudara di tanah air. Matanya berpejam ketika ia isap asap tembakau campur cengkeh. Seolah dunia berhenti sekejap. Baru dia buka mata ketika kubilang rokok Indonesia.
Akhirnya, saban malam begitu. Dia menolak saat hendak kuberi satu bungkus. Dia bilang sebatang saja cukup. Asalkan tiap malam kami bertemu dia dapat satu. Tiap bertemu kami bercakap ringan, tentang kampung halaman, tentang hidup, cinta, kesendirian, kadang aku mengajarinya beberapa kata bahasa Indonesia dan Inggris. Dia akhirnya tahu beberapa lagu Indonesia. Kesukaannya lagu ‘Ambilkan Bulan, Bu’!
Bulan sudah tua malam ini. Ujung musim gugur. Dingin mulai menusuk kulit. Suhu kadang di bawah angka 10 derajad Celsius. Kutawari dia secangkir kopi. Dia menggeleng dan mengajak minum sake saja. Katanya, tinggal masuk ke dalam toko dan beli satu dua botol. Padanya kujelaskan aku tak bisa minum sake atau alkohol apa pun. Keyakinanku melarang itu.
“Tuhanmu melarang minum sake?” katanya dan kuangguki saja.
“Tapi kau percaya bahwa sake bisa bikin tubuhmu hangat?” dia meminta aku mengangguk lagi.
Lalu Onozaki duduk di lantai dan bicara menatapku, “Tuhan macam apa Dia? Tak bisakah Dia toleran pada kebutuhanmu? Tak bisakah sekali-kali Dia izinkan kau minum sake, Samu-san!”
Aku garuk-garuk kepala, setengah ngakak setengah menolak. Kulihat para pelayan Shiobaraya bersiap-siap menutup toko.###