Tik tik tik bunyi hujan di atas genting…
Aku duduk dengan segelas kopi tubruk panas di tangan. Di luar hujan deras sejak jam dua belas siang. Selimut menyelimuti tubuhku, lumayan mengenyahkan udara dingin khas hujan. Seteguk kopi mengalir melalui tenggorokan panasnya terasa menghangatkan dada membuat enggan beranjak dari sofa. Aku benci hujan! Hujan selalu membuat kemalasan menjadi sahabat karibku, membuatku tiba-tiba tidak ingin melakukan apa-apa bahkan mengerjakan proyek kantor yang deadlinenya besok. Alasan pertamaku membenci hujan
Seteguk kopi mengalir lagi melalui tenggorokan, dada tak sehangat tenggukan sebelumnya. Hujan rupanya mendinginkan kopi ku. Seketika udara dingin khas hujan menusuk kulit, segera kurapatkan selimutku, tetap dingin. Lalu kuraih pasangan sehati kopi, sebatang rokok. Asap nikotin mengepul di udara, dada kembali terasa hangat. Seketika, udara dingin hujan pergi, tetapi pergi hanya sementara. Karena ketika rokok ini menjadi puntung dingin itu kembali, membuat ku meraih batang rokok berikut, dan berikutnya lagi dan berikutnya lagi. Memperbesar rekening nikotin di dalam darah hingga kemudian mati karena Infark miokard (penyakit kegagalan otot jantung yang salah satu penyebab utamanya rokok). Aku tak mau mati dengan jantung rusak tetapi berhenti merokok sama saja dengan mati bagiku. Alasan kedua kenapa aku mebenci hujan.
Kuhembuskan asap rokok ke udara. Satu isapan lagi, batang rokok ini akan menjelma menjadi puntung, di luar hujan masih terus turun belum ada tanda untuk berhenti. Kupandangi hujan yang bernafsu menyentuh tanah menimbulkan suara memekakkan telinga dari jendela dan seketika aku mengingatmu. Kamu yang menyukai hujan, kamu yang bilang kalo bunyi nyaring hujan yang memekakan telinga itu adalah teriakan sedih awan-awan yang akhirnya mencair menjadi air. Sial! Ku teguk kopi yang sekarang telah benar-benar menjadi dingin, double sial!. rokokku telah manjadi puntung, kuraih bungkus rokok yang ternyata telah kosong, tripple sial!. Terpaksa satu-satunya cara untuk menghilangkan dingin ini adalah merapatkan selimut dan termenung di sofa. Termenung mengenangmu. Ahhh, kira-kira apa reaksimu? Apa yang akan kau lakukan jika tahu aku kehabisan rokok dan kopi dan kedinginan karena hujan? Biar kutebak: pertama, kau pasti sangat senang karena kau tak suka aku merokok. Kedua pasti kau akan tersenyum menggoda dan menawarkan diri membuatkanku secangkir kopi ( yang kutolak dengan sepenuh hati, karena kau selalu berhasil menawarkan rasa kopi). Hingga akhirnya, kau menawarkan dirimu sendiri, yang selalu kusambut dengan tangan terbuka lebar. Kau selalu mampu menghangatkanku di cuaca sedingin apapun. Dan tiba-tiba aku merindukanmu, merindukan tubuh kita berdekatan disaat hujan. Ahh! hujan selalu membuatku teringat akan dirimu. Alasan ketiga dan paling ku benci tentang Hujan
*
Airnya turun tidak terkira..
Masihkah kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Hari itu hujan deras seperti sekarang. Berdua kita berteruh di sebuah halte. Hujan terlalu deras untuk diterjang dengan sepeda motor. kau dengan blouse putih dan rok hitam mini menampilkan betismu yang indah (dan bahkan aku masih mengingat bajumu) terlihat tidak suka ketika aku merokok. Kumatikan rokokku mengerti, kau terkesan tersenyum dan percakapan mengalir deras antara kita. tiga jam terjebak hujan, aku tau impianmu menjadi pianis tapi terjebak menjadi sekertaris, kecintaanmu pada Klub bola Chelsea, kesukaanmu menonton film komedi dan bahkan filosofimu tentang hujan.
“Tau ga kenapa hujan turunnya rame-rame?” Katamu bersemangat aku tersenyum mendengar tebak-tebakkan jayusmu itu
“Karena kalo turunnya sendiri kita bisa silih : eh ga kena, eh ga kena” jawabku disambut gelak tawa nyaring dan cubitan mesramu di lenganku.
“Aku serius kenapa hujan turunnya rame-rame?” Tanyamu lagi. Aku menggeleng tidak tahu
“Karena mereka takut turun sendiri setelah lama bersama. Sebelum menjadi hujan air-air merupakan genangan air di selokan, genangan air di jalannan rusak, air laut, air danau dan semua jenis air. Karena matahari, air-air tersebut menguap dan membentuk awan. Dalam rupa awan, mereka menjadi satu tak ada lagi air selokan kotor, tak ada lagi air laut asin, tak ada lagi air danau yang jernih mereka telah menjadi satu. Ketika mereka harus kembali menjadi air karena bentuk mereka sebagai awan tidak dapat berlangsung selamanya, mereka memutuskan untuk turun bersama, terakhir kalinya sebelum kembali menjadi air. Bunyi hujan yang memekakkan telinga ini adalah tangisan perpisahan awan-awan yang berubah menjadi air kembali.” Kau terdiam sejenak tersenyum menatapku yang takjub.
“Itulah mengapa kita selalu mengingat hal-hal sedih saat hujan” Kau bercerita penuh semangat. Saat itu, saat bunyi hujan yang kau bilang air mata awan yang kembali berubah menjadi air, aku sadar telah jatuh cinta padamu.
“Bisa kah ku minta no HPmu, punyaku hilang.” Kataku kemudian dan dimulai hari-hari kita bersama
*
Cobalah tengok dahan dan ranting..
Hujan masih terus deras, sepertinya tidak berhenti dalam waktu yang dekat. Tangisan-tangisan awan-awan yang telah menjadi hujan terdengar lebih nyaring aku kembali melamunkan dirimu. Kau benar, hujan membuatku terkenang akan kisah sedih. Kisah sedih tentang kita.
Setahun kita jalani hubungan bersama, berbagai hobi, berbagi kesenangan, berbagi duka, berbagi keringat. Ketika kita sama-sama tahu kita telah jatuh begitu dalam, kita sadar kebersamaan kita tidak akan berlangsung lama. Suamimu telah mencium ada yang tidak beres denganmu
Waktu itu juga hujan. Saat awan-awan menangis karena harus kembali menjadi air, kau juga menangis saat meminta hubungan kita berakhir. kau bilang sangat mencintaiku tetapi tak bisa hidup tanpa suami dan anak laki-lakimu
“Seharusnya aku tau hati itu ibarat amoeba. Mereka bisa terbelah dua yang satu milikmu yang satu lagi miliknya”katamu waktu itu di sela isak tangismu dan rinai hujan yang nyaring
“Kita tak akan bisa bersama selamanya, kita hanya awan bukan air.” Isak mu lagi.
Aku mengerti dan memelukmu erat. Mungkin kau benar, kita ini air yang berubah menjadi awan melewatkan waktu bersama yang indah tapi tak bisa bertahan lama karena kita harus kembali menjadi air.
*
Pohon dan kebun basah semua..
Akhirnya hujan itu berhenti. Kulirik jam dinding, pukul enam sore. Aku menghela napas panjang. Mengenangmu saat hujan selalu menyisakan gumpalan-gumpalan di dada. Suasana rumah yang sepi tiba-tiba berubah ramai. Seorang bocah perempuan berusia lima tahun berlari menghampiriku
“Papa di luar ada pelangi loh!” katanya senang aku tersenyum menatapnya, dia pasti baru saja bangun dari tidur siangnya yang panjang.
“Habis liat pelangi, ade makan yah!” Itu suara istriku yang sudah muncul. Aku tersenyum menatapnya. Dia menghampiriku dan mencium dahiku.
“Udah selesai, kerjaannya mas? Aku buatkan kopi yah!” Aku tersenyum mengangguk. Tidak sepertimu, istriku jago membuat kopi enak.
Tamat

