Kisah ini dimulai ketika kami masih duduk di kelas 3 SMA. Kami adalah sahabat yang dekat dan kompak, tak ada satupun yang bisa memisahkan kami. Kami begitu dekat, karena kami satu sekolah, satu kelas, dan teman satu bangku. Namaku Amar dan sahabatku Dani. Aku dan dia begitu sehati, hingga kami saling curhat jika kami memiliki suatu masalah dan berusaha saling membantu.
Waktu itu aku curhat dengan Dani, aku jujur dengan dia bahwa aku sedang jatuh cinta dengan seorang gadis yang kebetulan aku ketemu di depan kantin sekolah. Wajahnya cantik, punya lesung pipit dan berkacamata menandakan dia seorang gadis yang pintar. Hari-hariku begitu indah, walau hujan dan badai aku tetap tersenyum. Datang sekolah tak pernah terlambat, ini semua karena dia, karena seorang gadis itu. Bila ku bertemunya tak ada kata lain yang bisa ku ucap selain “aku mabuk kepayang! oh, ini kah namanya cinta”.
Dani tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkahku, hingga kemudian dia juga curhat kepadaku. Dani mengatakan bahwa dia juga sedang jatuh cinta dengan seorang gadis yang kebetulan juga ditemuinya ketika berjalan di depan ruang OSIS. Dani mengatakan bahwa waktu itu dia tanpa sengaja menabrak seorang gadis dan menjatuhkan bukunya. Dani mengatakan, seperti inilah yang dia inginkan ketika dia berjumpa dengan gadis pujaannya mirip seperti impiannya yang dia tiru dari kisah-kisah di film romantis.
Hingga beberapa saat kemudian, tanpa sepengetahuanku, Dani mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sama dengan gadis yang aku suka. Dani bingung dan galau dengan semua yang terjadi, dia bingung akan perasaannya apakah harus memilih cinta atau persahabatanya. Dan Dani telah menyusun sebuah rencana dengan menemui gadis pujaan tersebut.
Hari demi hari telah aku lewati dan yang kurasakan cinta yang selama ini kupendam telah melewati batasnya. Hingga kurasa sudah saatnya aku mengutarakan perasaanku ini kepada gadis tersebut. Aku curhat kepada Dani, tanpa keberatan dia bersedia membantuku.
Hari itu hari sabtu, selepas pulang sekolah ku temui gadis itu. Dengan ditemani sahabatku, aku merasa pede sekali. Kudekati gadis itu, tentunya ini adalah puncak dari PDKT-ku selama ini, dengan pelan aku mengucapkan apa yang selama ini aku rasakan. Semuanya aku keluarkan, seluruh uneg-uneg dihatiku, gadis itu terdiam mungkin sedikit kaget, sesekali aku lihat dia memandang Dani. Hingga akhirnya dia mengatakan bahwa dia akan memberikan jawabannya hari senin setelah upacara pagi di kantin sekolah.
Ketika tiba saatnya, gadis itu mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima cintaku. Sungguh, aku kecewa, aku lemas dan lunglai, Dani yang melihatku langsung menemuiku dan menghiburku. Betapa sakit yang kurasakan, sakit hati ini sungguh pedih kurasa. Aku merasakan yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Selama 3 hari hanya diam yang dapat kulakukan.
Aku mendengar desas-desus di kelasku yang mengatakan bahwa Dani telah jadian dengan gadis itu, adik kelas kami. Kutemui Dani, tanpa basa-basi kutanyakan mengenai desas-desus itu. Dani jujur mengatakan bahwa kabar itu benar. Aku naik pitam, darahku mendesir kuat, jantungku juga ikut berdetak kencang. Gelap mata, kupukul Dani, kutendang dia hingga berdarah bibirnya. Aku tak perduli lagi, aku merasa dikhianati, yang dulu sahabat kini menjadi renggang dan berakhir benci. Aku benci itu..
Kini setelah 4 tahun setelah aku lulus sekolah, aku teringat lagi dengan Dani. Dia datang dimimpiku seminggu ini, tak ada yang membuat aku gelisah selain hal tersebut. Kami telah berpisah, lama tak berjumpa karena kami memilih jalan sendiri-sendiri. Namun aku begitu gelisah, hingga rasanya aku perlu bertemu dengannya.
Dengan sedikit ingatanku, aku berhasil menemui rumahnya. Tak ada yang berubah sedikitpun, dulu aku sering mampir main kerumahnya, bahkan menginap pada saat hari libur sekolah. Tapi setelah kejadian itu, aku benci, bahkan segera ingin melupakan semuanya.
Rumah itu terasa sepi, hingga akhirnya ibunya Dani yang menemuiku. Kutanyakan bagaimana kabarnya dan kabar Dani. Ibu Dani langsung menangis, aku terkejut bukan kepalang, wajahnya berubah menjadi sendu, matanya bengkak dengan sedikit memerah. Dengan terbata-bata, Ibu Dani mengatakan bahwa Dani telah meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan motor. Aku kaget, lemas dan pikiranku berkecamuk. Aku hanya bisa diam seribu bahasa.
Aku terkejut ketika Ibu Dani memberiku sebuah diary milik Dani kepadaku. Beliau sengaja memberikannya, karena inilah pesan terkahir dari Almarhum Dani. Aku menangis,sungguh aku menangis, makin lama semakin deras jatuh air mataku ketika lembar tiap lembar aku membuka dan membaca isi diary tersebut. Sungguh, baru ini aku ketahui, Dani selama ini sengaja mengalah demi aku. Dia mengalah memendam perasaannya terhadap gadis itu, walaupun Dani tahu bahwa gadis itu juga menyukainya. Dia berusaha menyakinkan gadis tersebut untuk menerima cintaku itu. Namun semakin lama Dani menyakinkan gadis tersebut, semakin dia merasakan sakitnya akan cinta. Gadis itu lebih memilih Dani daripada aku, dia sengaja memberikan waktu agar aku bisa siap menerima penolakan tersebut. Tapi ternyata tidak, aku malah semakin sakit dan ini membuat Dani sedih. Dani memilih ini semua demi aku, tapi sayang ketika dia jujur aku lah yang menjadi benci.
Aku menyesali semua perbuatanku terhadap Dani, aku benci dengan diriku sendiri. Tapi tak ada yang bisa kuperbuat kini. Sekarang aku berada di samping makam Dani, mendoakannya agar dia mendapat tempat yang layak disisinya. Hujan pun turun, deras semakin deras seolah menghapus rasa kebencian ini. “Dani, maafkan aku, kamulah sahabat sejatiku, kamu tulus kepadaku” aku berbicara pelan menghadap kelangit yang basah.
Cerpen ini dibuat oleh Dimas Sumarsono | dibuat utuh dari sebuah rangkaian twit dari twitter (follow) @maassson | disending ulang di facebook : dimas arif sumarsono | semoga bisa menghibur.. ^^ | uikpokpok.blogspot.com

