
Ketika aku melintas daerah ini, cerita tentang rubah jadi-jadian sedang santer. Konon ia telah banyak mengelabui para pemburu dan pelintas macam aku yang memilih meneruskan perjalanan pada malam hari. Diceritakan bila bertemu perempuan cantik di tempat sepi, itu rubah yang sedang menyamar. Kupikir cerita ini tak lebih dari karang-karangan para pemilik penginapan. Kalau pun rubah itu benar-benar ada, aku akan tangkap. Pemilik kebun binatang atau rombongan sirkus akan mau membelinya mahal, jawabku terkekeh tiap kali ada yang mengingatkan.
Malam ini cukup terang. Bulan tiga per empat. Kata penyair kesukaanku, Nyonya Sun dari Sìchuān, “bila malam ini bulan tiga perempat, mungkin lusa akan purnama.” Hitungan sebenarnya aku tak pernah tahu benar tidaknya. Aku tak pernah amati langsung perubahan fase bulan dari malam ke malam.
Untuk sampai ke kota berikutnya aku mesti melintas padang gelagah mendaki untuk sampai ke hutan bambu lalu mengikuti alur sungai sampai ke kota di sebelah Timur. Langit kelabu gabak tampak di ujung arah yang kutempuh.
Di arah depan, dari sela-sela rumpun gelagah di tikungan tiba-tiba menyeruak seekor rubah yang lalu berjalan perlahan searah dengan langkah kudaku. Aku sempat bergidik, kulit di tengkuk rasa tebal macam kena sakit gabak. Beberapa saat aku menertawakan diri sendiri karena bila aku merasa takut, berarti aku telah termakan omongan orang-orang kota sebelah Barat.
Rubah itu cantik sekali. Bulunya merah keemasan. Dia dan kudaku seperti sejiwa. Kalau kudaku berjalan pelan, si rubah berjalan pelan. Kalau kupacu kudaku melesat, dia berlari tunggang langgang. Aku akhirnya menikmati hal ini macam kanak-kanak menemukan permainan baru. Aku mengatur langkah kudaku pelan kencang pelan kencang untuk bersenang-senang. Perjalanan pun terasa tak sendirian.
Sesampai hutan bambu, si rubah berhenti sejenak seperti menungguku. Kupikir dia jinak. Saat jarak antara kami tinggal 3 langkah, si rubah masuk ke belukar bambu. Aku meloncat dan menambatkan kuda, sebab semak bambu yang berusaha menyembunyikan rubah tak bisa dilalui kudaku. Kupikir aku bisa menangkap itu rubah tanpa perlu melesatkan anak panah, tentu dengan sedikit tipuan pemburu.
Begitu masuk sesemak, ternyata bambu tak demikian rapat. Berganti hutan plum bersemi bunga. Pengejaranku dihentikan pemandangan di depan mata. Rubah itu juga berhenti dan mendengking pelan.
Pada sebatang plum, kulihat sesosok perempuan dibalut sutra merah keemasan, duduk dipangku dahan. Titik-titik peluh kecil di dahinya, seperti embun di batu giok. Bibirnya yang mungil membentuk senyum bersudut sekadarnya tapi tak memudarkan kesanku bahwa perempuan ini sedang pada titik gairah yang dalam. Dahan-dahan utama pohon plum perlahan bergerak mendekap tubuh sang perempuan, lalu tunas-tunas kecil bertumbuhan, pada reranting yang semula tak berdaun sama sekali pun bermunculan pucuk-pucuk dedaun baru, kemudian segala dedahan, reranting, tetunas, dan dedaun bergerak dengan irama menyapu semua kulit di tubuh sang perempuan hingga mengeluarkan lenguh layaknya lenguh pengiring percintaan yang selama ini kuhadapi bila sedang bercinta dengan perempuan. Tapi lenguh sang perempuan yang bercinta dengan pohon ini amat-sangat-kelewat dahsyat hingga suit angin terhenti dan daun-daun yang dijatuhkan angin tertahan tanpa gerak di awang-awang. Aku mematung tak berkejap. Kukira aku orgasme berkali-kali dalam hitungan sepersekian detik.
Aku merasa tungkaiku melemas dan jatuh terduduk dengan lutut menimpa tanah. Sesaat perempuan itu mengerling ke arahku. Aku merasa mengenalnya dalam pertemuan beberapa masa lalu. Ya, dia perempuan yang mengenalkan diri sebagai Nyonya Sun sambil menyoja padaku di Sìchuān.
Perlahan namun seolah tiba-tiba tubuh Nyonya Sun lesap ke pohon plum. Selesap titik hujan jatuh ke padang pasir. Aku melenguh pendek. Iri pada percintaan yang kusaksikan. Ketika salah satu merelakan diri sebagai sari pati dan pasangannya menyerap setiap titik sari pati tak termubazir, demikianlah percintaan yang sempurna.
Kuputuskan untuk tetap duduk di sini, tempat kusaksikan seorang perempuan bercinta dengan pohon, sampai kapan pun. Sampai kapan pun. Aku berharap bisa menyaksikan pemandangan serupa di masa-masa datang. Atau mungkin akulah yang bercinta dengan pohon, kelak saat aku mati, jasadku membusuk terurai, dan akar-akar pohon plum tempatku bernaung menyerap semua sari patiku, itulah percintaan sempurna yang kugapai.
[SyamAR; Lebul, 10 Januari 2012]
sumber gambar : shadowscapes.com

