Usaha Aa Kades untuk meng-Kribo-kan rambutnya demi bisa mendapatkan Mbak Kembang, berbuah manis. Sejak Aa Kades ber-wajah baru, Mbak Kembang seolah-olah terkena hipnototis oleh Kribo palsunya Aa Kades itu. Inin, yang merasa terdzolimi, mulai mencari cara untuk membalas sakit hatinya pada Aa Kades yang terkenal penggombal ulung itu.
“Awas saja kau Aa Kades. Sekarang boleh ketawa-ketiwi, jungkar balik ala casting film silat gagal. Tapi, besok-lusa, pasti akan nangis kokosedan.. awas saja, tunggu tanggal mainnya,” Inin berbisik gemetar sambil mengepalkan tangannya.
Seketika wajah Inin berbinar-binar, setelah mendapatkan ide untuk membalas Aa Kades yang dinilainya selalu menghalangi usahanya untuk jalan bareng Mbak Kembang. “Belum puas juga Anjeun (Anda) teh Aa Kades ke Sayah teh. Kemarin Teh Dewaku dihasut. Sekarang Mbak Kembangku digombalin juga. Tidak kapok-kapok yah, padahal sudah dijewer sama Pak RW waktu main ke MbakAjeng kemarin,” semakin emosi Inin mengingat peristiwa kemarin.
Malam hari, sekitar pukul 10 malam, Inin mengendap-ngendap di kios kripiknya Mbak Sekar Mayang. Bukan, sepertinya bukan untuk main gapleh atau ngopi bareng. Karena memang di kios itu sudah sepi, setelah hujan dari sore tadi. 5 menit berselang, Inin sudah kembali ke jalan raya dengan karung penuh, entah berisi apa. “Rasain besok Aa Kades, Anjeun teh” merasa menang, Inin menyeringai
Baru 17 meter Inin berlalu, Inin berpapasan dengan Mbak Sekar, yang berjalan dari arah rumah Mbak Kembang. Kaget melihat ada Mbak Sekar, Inin tunggang langang ngibrit, ambil langkah seribu. “Hey, maling- malingggggggggggggggg.. malingggggggggggggg tolong ada malinggggggggggggggggggg” teriak Mbak Sekar dengan towa yang entah dari mana. Kontan saja penduduk Rangkat berhamburan ke arah Mbak Sekar.
‘Tadi ada maling.. Rambutnya Kribo” kata Mbak Sekar. ‘Wah, pasti si Kang Inin ini mah.. dia kan satu-satunya yang Kribo di Desa Rnagkat ini,’ timpal Om Garong. “ya sudah, besok kita datangi rumah Kang Inin. Kita hajar habis-habisan,” suara Mas Lala geram ‘Eh, tapi katanya Kang Inin di rebonding, loh. Saya tau dari Mbak Mahar(ani). Sampai-sampai Mbak Mahar keliatan sedih, karena Kang Inin direbonding. Mbak Mahar kan senang Kang Inin gara-gara Kribonya,” sahut Pak Edy “Jadi gimana? Besok kita cari yang Kribo saja. Kita ngga usah ke rumahnya Kang Inin?” kata Mbak Dorma gemas “Setuju, setuju, setuju.. kita hajar si Kribo itu”teriak warga
Sementara Inin, sudah asyik nyantai ngisep rokok di rumahnya. ‘Rasain besok Aa Kades” Inin berdesir sambil melepas Wig Kribo dari rambutnya yang sudah direbonding.
“Ngaku kamu! Kamu khan yang tadi malam masuk ke kios ku? Dasar maling, nggak mau ngaku. Sudah jelas-jelas ketahuan nyuri Kripikku, masih ngeles” umpat mbak Sekar sambil memukul Aa Kades dengan sandal jepit
‘Ampunnnn… ampunnnn… sumpah bukan Hans… Hans tadi malam sampai jam 11 malam di rumahnya Dek Kembag” jerit Aa Kades di tengah-tenagh menahan sakit
“Eleuh-eleuh.. naon ari Aa teh..? (apa Aa bilang?) Tadi malam di rumahnya Mbak Kembang? Sudahlah ngaku saja.. Tadi malam Aa ngambil keripiknya Mbak Sekar kan?” Inin, yang mendengar Aa Kades di rumah Mbak Kembang, tambah geram. Emosi Inin dilampiaskan dengan sarung yang dipakainya untuk memecut Aa Kades
“Hayow, hajar saja.. hajar… Nyuruh kita ngejaga Desa, dianya malah nyuri.. hajarrr terus hajarrrr..” teriak Inin ngasih komando. “hayowwhh hajar hayowhh” kompak, warga Desa Rangkat nggebugi Aa Kades yang tidak berdosa itu. Sementara Inin senyum imut penuh kemenangan.. ‘Bongan pisan siyah.. tuman.. ngalawan ka Sayah”

