Aku sedang menunggu bus malam yang akan membawaku ke kota tempat segala kisah setengah hidupku tertulis pada lembar - lembar hari dan tak lagi sering sejak 3 tahun lalu, Surabaya. Apakah kamu mau tahu kenapa aku bisa ada di ibukota saat ini, sendiri ?, entahlah, aku juga tidak merencanakan sebelumnya. Ini semua karena mimpi. Tahukah kamu jika mimpi itu ternyata bisa memperbudak kita ?, aku baru tahu. Dulu waktu aku masih kelas 6 SD aku selalu bermimpi bisa melanjutkan sekolah ke Jepang dan menjadi seorang insinyur handal. Lalu pada waktu berikutnya aku ingin sekali menjadi astrounot agar bisa dikalungi bunga dan berjabat tangan dengan presiden sesampainya aku dari ekspedisi luar angkasa. Dan aku lupa bagaimana awal mulanya, tapi suatu pagi di kelas, aku menjadi bahan tertawaan teman - temanku karena menjawab dengan lantang bahwa aku bercita - cita menjadi pasukan kopasus agar bisa pergi berperang ke timur tengah.
Aku tiba di kota ini kemarin, I. dan berlomba dengan detik jam yang larinya sangat cepat dan meninggalkan aku yang terangah - engah dibelakang. Aku memasuki kampus Universitas Indonesia dengan mata berbinar - binar seperti akan duduk di salah satu bangkunya sebagai mahasiswa Magister Hak Atas Kekayaan Intelektual. Demi Tuhan, atmosfer gedung itu benar - benar ingin membuatku menangis. Lalu selebihnya tidak ada hal istimewa yang kulakukan kecuali berbincang dengan seorang teman ditemani dua cangkir teh latte lalu mengurung diri di kamar hotel.
***
Kepalaku meronta, kamu dan mimpiku saling singkur didalam rongganya. Untuk bersemayammu, aku mungkin butuh ruang seluas semesta, I. Aku tidak bisa memampatkanmu, aku bahkan tidak berani mengutak - atik adamu di hatiku. Sejujurnya malah aku tidak tahu bagaimana kamu bisa berdiam disana. Aku tahu cinta suka usil, I. Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu membutakan kita dan mungkin akan tetap terperosok kedalam jebakannya meski telah berjalan dengan meraba dinding - dinding sangkar yang sengaja ia bangun umtuk mengukung kita. Aku mencintai kamu tapi takkan pernah menjejakkan satu langkahpun untuk bisa memelukmu. Panggil aku pengecut, aku tetap akan bergeming. Kamu adalah kekalahanku yang nyata, yang bahkan takkan pernah kucoba untuk memenangkan.
***
Aku suka matamu, I. aku tergila - gila pada cawan oval yang beningnya memabukkan itu. Iya, sepasang yang selalu menjadikanku musafir yang tersesat di gurun pasir dan bersimpuh ditepian oase tapi tak sekalipun punya daya mereguk sedikit airnya. Bukan tidak mau, tapi begitu enggan mengotori jernihnya dengan jemariku yang kotor. Aku ingin sekali berenang hingga ke dasarnya, meski akan mati tenggelam, aku mau. Tapi lagi - lagi aku enggan menjadi manusia tidak tahu syukur dengan merusak perigi suci yang menampung mata air surga itu. Kamu tahu kan jika kamu adalah kekalahaku yang nyata.
***
Aku juga tidak pernah menyangka jika jatuh cinta bisa membuat seseorang menjadi lebih memahami seni. Aku pernah jatuh cinta, I, dan itu adalah cinta yang gagal. Tapi baru jatuh cinta kepadamu, aku menjadi suka menghabiskan waktu didalam kamar, berbisik kepada gitarku agar dia mau akur denganku saat kuciptakan dua lagu untukmu. Dua lagu tentangmu, lebih tepatnya. Itu sebuah lelucon, I. Saat aku memetik gitar ala pemula dan menyanyikan lagu - lagu itu seolah kamu duduk didepanku mendengarkan dengan segenap haru, lucu dan mengingatnya saja aku bisa menjadi sangat malu. Betapa kecilnya aku dihadapanmu, karena kamu adalah kekalahanku yang nyata.