gambar colongan dari www.ursispaltenstein.ch
Orang bertubuh kecil kurus dengan mata yang liar ini adalah orang terakhir di antara empat datuk persilatan. Tapi julukannya sebagai sin-tok-touw (copet racun sakti), datuk silat wilayah Selatan, akan segera berakhir. Tangan kananku memainkan cakar peremuk tulang berhasil mencengkeram lengan kirinya. Pada saat yang sama totokan satu jari dari tangan kiriku masuk telak ke dada kanannya. Sementara serangan mautnya ke leherku berhasil kuelakkan dengan mudah dan tendangan yang dia sasarkan ke pusarku luput, berhasil kusampok dengan kaki.
Lengan kirinya remuk dan tubuh sebelah kanan lumpuh. Tapi aku tak berniat membunuhnya. Dengan muka meringis, ia melompat lari macam monyet kena sumpit ia dan masih berseru menjauh, “Orang she Sie! Sejak hari ini aku tak akan memakai sin-tow-ong lagi. Julukan bu-tek-touw-sian (dewa copet tanpa tanding) atau touw mo (iblis pencopet) silakan kau pakai. Biarlah kali ini aku mengalah dan bila ada waktu aku akan kembali mengadu kepandaian denganmu! Itu pun seandainya nyawamu selamat sampai besok pagi!”
Di akhir kalimatnya kudengar dia terkekeh lalu terbatuk-batuk. Sudah pasti dia terluka dalam akibat beberapa pukulanku. Sebenarnya orang macam dia patut dikasihani. Sudah luka berat masih mengancam sambil tergelak. Aku senyam-senyum sendiri menyayangkan lawan yang lari terbirit-birit karena kupikir dia pada satu ujar-ujar, “siapa tertawa terakhir dialah pemenang.”
Tiba-tiba aku merasa punggungku sangat pedih-panas-gatal. Dasar copet sial dangkalan! Rupanya sambil terbirit-birit dia masih sempat membokongku dengan senjata rahasianya. Jarum terbang beracun. Cepat-cepat aku mematikan jalan darah di tempat yang terkena jarum, agar racunnya tak menyebar ke seluruh tubuh.
Raja copet itu saja yang goblok. Percuma aku mati-matian bertanding dengan raja copet sialan itu agar dia mengakui bahwa soal copet-mencopet aku lebih sakti ketimbang dia kalau aku tak bisa mencopet kantung obat pemunah racun racun terbang yang ia sembunyikan di sebelah dalam bajunya.
Tidak mudah menyembuhkan luka akibat senjata rahasia sin-tok-touw, sekalipun obat penawar racunnya ada di tanganku. Pengobatan akan berlangsung cepat bila darah yang tercampur racun disedot dengan mulut. Bagaimana mungkin kulakukan, letak luka ada di bawah tulang belikat. Sesaat setelah merobek baju lalu mengoleskan penawar racun dan mengumpulkan tenaga, sesegera mungkin aku berlari mencari penginapan di kota terdekat untuk dapat beristirahat sambil mengobati luka tanpa kuatir mengalami gangguan.
Dari punggungku yang terbuka, pemilik penginapan dapat melihat lukaku memar bengkak berwarna hitam. Ia menawarkan bantuan untuk memanggilkan tabib. Tentu saja kutolak mentah-mentah. Itu penghinaan. Tiga bulan lalu aku berhasil mengalahkan ang-bin-yok-ong (raja obat muka merah), seorang datuk dunia persilatan yang merajai wilayah Barat. Tidak mungkin aku merendahkan diri minta bantuan tabib.
Aku jadi teringat pibu (adu ilmu) dengan ang-bin-yok-ong. Kami saling memberi pukulan beracun ke bahu lawan, lalu berlomba mengobati luka masing-masing. Pukulan beracun yang mengenaiku memang ampuh dan bereaksi cepat. Tubuhku tiba-tiba menggigil dan panas. Meski sudah mengerahkan sinkang, tetap saja tubuhku diserang suhu sedingin es dan panas semembakar api, bergantian. Racun ular sendok putih yang hanya hidup di Sjahjapur, India.
Tapi aku juga bukan orang bodoh yang mengantarkan nyawa ketika menantang ang-bin-yok-ong. Aku sudah siap dengan giok merah burung hong, pusaka yang kucuri dari istana. Batu kemala ini memang dipercaya mampu memunahkan semua jenis racun, dan aku sudah membuktikannya berkali-kali. Dengan tenang sambil menahan sakit, kukeluarkan giok merah burung hong dari saku baju, menempelkannya ke bahuku yang terluka. Pelan-pelan giok berwarna merah itu berubah hitam, lalu meneteskan cairan hitam darah bercampur racun yang berhasil disedot dari lukaku.
Ang-bin-yok-ong sendiri dengan tergesah-gesah mengaduk-aduk keranjang obatnya, lalu menelan beberapa pil buatannya, tapi kondisinya makin lama makin payah. Mukanya yang kemerahan memucat kearah hitam. Obat-obat buatannya yang selama ini terkenal mujarab, tidak bisa menyembuhkan luka beracun akibat pukulanku. Setelah lewat setengah hari, dia pingsan dalam keadaan duduk bersilah. Barulah dia siuman dengan tubuh menggigil ketika kualirkan hawa murni dari telapak tanganku ke punggungnya.
“Yok-ong, telan pel ini sekali sehari atau kau lebih memilih mati keracunan tak lama lagi!”
Dengan gemetar datuk silat wilayah Barat ini mengambil pil yang kuberi, menelan satu, dan menyimpan dua sisanya.
“Sial kau orang she Sie! Pil yang kau beri, tanah belaka!” dia menyumpah-nyumpah lalu memuntahkan darah segar.
“Memang pil yang kuberikan hanyalah tanah, Yok-ong! Tapi itulah obat yang paling tepat untuk racun laba-laba tanah yang hidup di gurun gobi.
Tampaknya Si Raja Obat Muka Merah ini percaya omonganku tak bohong, lalu mengangguk. Pelan-pelan dia bangkit dan berkata lirih, “baiklah orang she Sie, ternyata dalam pengobatan racun aku masih kalah denganmu. Julukanku sebagai raja obat tak layak lagi kupertahankan. Kaulah sekarang yang berhak. Walau kau masih mengasihani selembar nyawaku, untuk itu aku berterimakasih. Kau patut kujuluki toat-beng –yok-sian (Dewa Obat Pencabut Nyawa),” katanya sambil tersenyum menahan sakit lalu pergi menjauh memikul keranjang obatnya.
Kalau saja dia tahu saat menusuknya dengan pukulan beracun aku sudah mencopet kitab obatnya, ucapan terima kasih Yok-ong pastilah berganti makian menyakitkan. Tindakanku mencopet bukan semata-mata karena aku tertarik pada kitab ilmu pengobatan yang pernah diperebutkan para tokoh dunia kang-ow. Aku sengaja mencopetnya sambil mematangkan ilmu mencopet sebelum pibu menantang seorang datuk silat yang belum kutaklukkan. Begitu bayangan Yok-ong menghilang aku berkelebat lari dan melanjutkan perjalanan ke Selatan mencari sin-tok-touw.
[Bersambung]
sumber gambar: http://www.ursispaltenstein.ch/blog/weblog.php?/weblog/2006/02/

