Belum lama ini aku menikah dengan Mas Agus seseorang yang sangat aku cintai tetapi rasa bosan telah menghiasi hidupku. Ada suatu hal yang kutahu baru sekarang membuat aku kecewa dan ingin mengakhiri pernikahan ini. Dulu sewaktu berpacaran Mas Agus adalah laki-laki yang tangguh menurutku kemudian setelah menikah semuanya berubah.
Awalnya aku ingin agar Mas Agus mengontrak rumah saja ketimbang tinggal di rumah mertua. Namun kata Mas Agus lebih baik uang kontrakannya ditabung supaya beberapa tahun kemudian bisa membeli rumah sendiri. Aku menurut saja, sebenarnya mertuaku itu adalah orang yang sangat baik. Saking baiknya dia sampai merebut perhatian Mas Agus dariku. Menyedihkan!
Hari pertama menikah…
Kau tahu? Di malam pertama dia diam tak berkutik. Aku seperti tidur dengan batang pisang yang tak ada gunanya. Keesokan paginya, Maminya mengetok pintu kamar kami. Kontan aku terkejut mengapa Maminya tidak segan sedikit pun mengetok pintu kamar anaknya yang kini di dalamnya sudah ada aku? Apa dia tak pernah tahu tentang apa itu kegiatan suami istri? Dengan kesal aku bangkit berdiri lalu membukakan pintu. Tanpa menyapa aku dia langsung menghampiri anaknya yang terkulai lemas di tempat tidur.
“Kamu tidak kenapa-napa, nak?” Maminya kelihatan kuatir yang dilebih-lebihkan.
“Enggak, Mi…” Jawab anaknya. Aku hanya bisa mengigit bibir aneh dengan kejadian di depanku ini.
“Ya, sudah… Kamu pergi ke kantor hari ini khan nak?” Tanya Maminya.
“Iya…”
Mami mertuaku itu segera berjalan menuju ke lemari dan mengubek-ubek mencari handuk dan pakaian kantor Mas Agus. Segera kudekati mami mertuaku itu untuk sekedar mengambil alih apa yang seharusnya menjadi tugasku sebagai istri. Namun apa yang terjadi…
“Sudahlah… Kamu pergi sarapan saja gih…”
Aku tak menjawab dan berjalan mundur meninggalkan kamar. Hah? Apa-apaan ini? Dia suamiku bukankah seharusnya aku yang memperlengkapi dia sebelum pergi ke kantor? Kenapa Mami mertuaku lagi?
Sepuluh hari menikah…
Mas Agus selalu lengket sama Maminya kayak anak kecil jadinya. Sudah berkali-kali aku ngambek sama Mas Agus tapi dia tak mengerti juga. Sungguh baru kali ini kutahu Mas Agus anak Mami banget. Di hari kesepuluh ini dia membawa Maminya tidur bersama kami.
“Mas?”
“Aku sayang banget sama Mami aku…” Katanya memelas. “Mami sakit… Plis…”
Aku ga bisa omong apa-apa. Akhirnya kurelakan Mami mertuaku tidur diantara kami berdua. Uh, dia mendengkur keras sekali. Sedari kecil aku sudah sangat membenci bunyi dengkuran tetapi sekarang ini aku musti memaksakan diri tetap mendengar suara-suara aneh itu. Ya, TUHAN…
Yang lebih tidak mengenakkannya lagi ketika pagi hari aku harus membangunkan suamiku, Mas Agus. Mami mertuaku melarang karena kasihan kecapaian. Alhasil, Mas Agus telat ke kantor. Malah aku yang kena marah-marah oleh Mas Agus.
Ah, rasanya sakit sekali…
Sebulan menikah…
Aku mulai curhat sama Mama dan Papa kandungku mengenai nasibku diperistri oleh anak mami. Aku sungguh tak menyangka ternyata orang yang aku nikahi itu manja sekali.
“Airin ga tahan, Ma… Dia lebih sayang sama Maminya. Terus Maminya justru lebih sayang sama Mas Agus. Lalu aku ini siapanya?” Aku bercerita sambil menangis tersedu-sedu.
“Biar Mama semprot dia melalui telepon, nak…” Kata Mama sambil berjalan ke arah telepon di atas meja. Diputarnya nomor Mas Agus. Lama Mama bertelepon ria lalu kembali lagi ke arahku dengan wajah berseri-seri.
“Berhasil, Ma?” Tanyaku dengan semangat ‘45.
“Iya… Dia gugup gitu jawabnya…”
Aku pun segera meninggalkan rumah Mamaku. Dengan semangatnya ku pacu kendaraanku sampai ke rumah Mami mertuaku. Segera aku berlari-lari memasuki halaman rumah namun betapa terkejutnya aku begitu melihat semua koperku berada di teras rumah.
Rumah tertutup rapat, aku masih tidak mengerti kenapa suamiku melakukan ini. Namun semakin aku mencerna kejadian ini semakin mataku terasa panas. Menetes sudah airmataku…
“Tega…” Bathinku.
Segera aku mengetok pintu rumah dengan penuh harapan. “Mas… Mas…” Panggilku namun tiada satu pun yang menjawab. Kemudian aku berjalaan ke arah jendela samping kamarku. Kuketok-ketok dengan keras. “Mas… Mami… Bukain Airin pintu…”
“Mas…”
“Mami…”
Setahun berlalu…
Tak ada penjelasan apa-apa dari suamiku maupun mami mertuaku. Aku betul-betul ditinggal begitu saja. Sekarang aku menjadi perempuan yang diam dan murung. Sekali-kali hatiku bertanya. “Haruskah sebegitu berlebihannya tingkah Mami dan Mas Agus. Padahal aku hanya butuh kasih sayang. Bukan penonton mereka.”
Suamiku… Suamiku manja…
Begitu yah jadi suami?
Ingin rasanya kusumpal mulutmu dengan dodot
Manja oh manja…
Thanks yuuuaaahhh sudah baca… :D

