
“Warte bitte draußen..!”
Tiba-tiba suara keras mengagetkanku di sebuah musholla kecil Goethe Institut, Göttingen. Kalimat keras yang menyuruhku untuk menunggu di luar, karena musholla itu sedang dipergunakan untuk kaum perempuan (schwester) dan bukan gilirannya untuk laki-laki. Sebuah suara yang keluar dari sosok dingin muslimah Rusia.
Kalimat singkat padat dan keras itu seolah mampu menyihirku membeku beberapa saat. Sementara si pemilik suara langsung memalingkan wajahnya dariku. Aku hanya menatap dengan pandangan bodoh dan mulut terbungkam.
Itulah awal perkenalanku dengan Nikita Litvinenko, seorang muslimah Rusia yang tengah menyelesaikan studinya di Göttingen, Jerman. Meski diawali dengan fragmen yang sangat tidak meng-enakan, namun setelah itu ia menghampiriku dan mengucapkan permintaan maaf atas kalimatnya yang mungkin menyakitiku.
Sejak itu kami kerap bertegur sapa, bahkan saling berbagi cerita. Sangat tidak mudah untuk membuka tabir seorang Nikita yang terselubungi begitu banyak ‘lapisan-lapisan tirai’-nya.
Sosok Nikita bagiku bagai sebuah matryoshka (Матрёшка)…
ilustrasi : collectiblereview.com
Matrioska adalah semacam boneka mainan khas Rusia yang dapat dibuka, dan di dalamnya terdapat boneka serupa yang lebih kecil, lalu jika dibuka lagi di dalamnya terdapat boneka yang lebih kecil lagi, dan seterusnya hingga yang paling terkecil.
Matrioska yang kuketahui saat Prof. Evers membawanya ke kelas untuk menjelaskan tentang Struktur Sosial. Beliau menjelaskan bahwa di dalam struktur itu terdapat sub-struktur, dan di dalamnya lagi terdapat sub-sub-sruktur. Struktur itu sendiri pun sebenarnya berada di dalam sebuah super struktur yang lebih besar lagi.
Nah.. bagiku, sosok Nikita itu bagaikan matrioska yang memiliki beberapa lapis ‘tirai’ untuk menutupi bagian dalam dirinya sendiri. Dan hanya menunjukkan ‘lapis’ terluarnya di permukaan. Tidak sembarang orang yang bisa melihat sisi terdalam dari dirinya…
Nikita selalu menampilkan dramaturgi dalam kesehariannya. Ia menampilkan apa yang diharapkan orang lain terhadap dirinya. Ia menganggap bahwa itulah yang harus ia lakukan di front region (wilayah panggung depan). Sementara dirinya yang ‘asli’ sesungguhnya ada di back region (wilayah panggung belakang). Dan hanya orang-orang yang dianggap sangat dekatlah yang bisa mengetahui siapa Nikita seutuhnya.
Butuh waktu dan pengertian yang tulus untuk bisa menyibak lapis demi lapis tirai yang membungkusnya. Dan aku termasuk beruntung bisa mengenalnya lebih jauh. Di balik sosok misterius Nikita, ternyata ia menyimpan segudang pengalaman yang menyakitkan.
ilustrasi: favim.com
Ayahnya adalah seorang mantan agen intelijen Federal Security Sevice Rusia, yang telah meninggal diracun secara misterius, tepat dua hari setelah ayahnya itu memeluk Islam. Dan peristiwa itu telah berselang beberapa tahun yang lalu. Semenjak itu, Nikita memutuskan untuk hijrah dan meneruskan studinya di Jerman.
Sebelumnya Nikita bukanlah muslimah. Selama tiga tahun di Jerman ia tinggal bersama kekasihnya, yang berprofesi sebagai designer interior, di sebuah apartemen. Namun perjalanan cintanya tidak berjalan mulus… setelah serentetan pertengkaran yang seakan ’sengaja’ dibuat oleh kekasihnya, Nikita pergi dari apartemen tersebut.
Belakangan melalui surat yang ditinggalkan di dalam apartemennya, Nikita baru mengetahui bahwa kekasihnya itu perlu menyendiri dalam melakukan kemoteraphy untuk mengatasi penyakit kronis yang dideritanya. Kekasihnya tidak ingin Nikita terbebani akan sakitnya. Hingga akhirnya ajal pun menjemput kekasihnya.
Nikita sangat terpukul… ia merasa selalu kehilangan orang-orang terdekat yang sangat dicintainya…. Nikita marah dengan hidupnya sendiri… ia memacu kendaraannya ke arah utara negeri itu… namun malang menghampirinya.
Perempuan asal Bashkiria itu mengalami kecelakaan. Ia mengalami luka yang sangat parah hingga koma beberapa hari. Setelah sadar, Nikita mengalami kelumpuhan. Di saat-saat kritis itulah, ia merasa tidak memiliki penolong selain ‘dorongan’ untuk meminta kepada Sang Pemilik Jiwa Raga.
Keajaiban pun terjadi. Nikita berangsur-angsur mampu berjalan kembali. Pen yang tertanam di dalam kaki kirinya kini telah ber-adaptasi dengan sempurna.
“Saya merasa ada kekuatan besar yang dapat menyembuhkan keadaan ini,” katanya. “Dan saya yakin Allah berada di balik kekuatan besar tesebut,” tambahnya.
Tidak semua orang mengetahui latar belakang Nikita tersebut. Dan aku menjadi orang yang sangat beruntung, bisa mengupas layer demi layer yang membalutnya selama ini.
“Ini mungkin menjadi tahun terakhirku di sini… Aku akan kembali ke Bashkir, untuk terlibat dalam project pembangunan pusat belajar Islam, sekaligus pusat perempuan Islam di sana. Rencananya di tempat tersebut juga akan dibuka beberapa kelas bahasa Arab dan juga ilmu-ilmu keislaman. Mampirlah ke sana jika ada kesempatan….” ujar Nikita padaku.
“InsyaAllah Nikita…. ah… die zeit verläuft wirklich so schnell….
… If there comes a time
… nothing to hold you
… if you’re free to make a choice
… Just look towards the west and find me as your friend….”
*****
*Bersambung : Sekeping Cinta di Balik Pegunungan Ural

