
.
.
Ketika masih kecil, saban pagi aku gemar berlarian ke pantai yang tak jauh dari rumahku. Turut mengantar Bapak melaut, mencari ikan. Bersama para nelayan lainnya, beliau mempersiapkan jala dan memeriksa perahu berwarna merah-kuning. Beberapa sudut kayunya tampak mengelupas catnya, lembab dan termakan cuaca.
Anak-anak sebayaku pun ikut menjejakan kaki-kaki mungilnya, sebagian membawa bungkusan bekal, sekedar penganan dan minum untuk berlayar nanti. Kami berlarian gembira, secerah matahari yang mulai melongok dari ujung cakrawala. Angin mengibaskan rambut kemerahan kami. Rambut anak-anak pantai yang bagai daun-daun nyiur kecil dan kering kecoklatan. Senantiasa masai dan terayun kencang tiupan angin. Angin yang meniup layar perahu-perahu pula hingga menggembung, memperlihatkan tisik di sebagian lembarannya.
Aku dan anak-anak melambaikan tangan ke arah perahu-perahu yang mulai menjauh, mengangkat sauh menuju lautan bebas. Menyatu dengan gelombang yang bersahabat saban pagi. Dan seperti biasa sehabis itu, aku dan teman-teman sekampung nelayan bermain di pinggiran pantai. Kebanyakan dari mereka sepantaran denganku, sewindu umurnya. Mencari lokan kosong untuk dikumpulkan, atau menangkap kelomang yang menyembul di antara hamparan pasir.
Setelah siang menyapa dengan terik, beberapa anak pulang membantu Ibunya, membersihkan ikan hasil tangkapan kemarin untuk dijual ke pasar. Ikan-ikan kecil di letakan di tempat yang berbeda dengan yang berukuran besar. Aku melihat wajah ibu-ibu teman-temanku begitu gembira, mereka bekerja sembari tertawa-tawa dan bernyanyi. Aku jadi teringat Ibuku sendiri. Aku ingin seperti mereka, bekerja membantu Ibuku sambil sesekali menggoda kelomang-kelomang yang kami tempatkan di baskom.
Jika wajah Ibuku menyeruak hadir di benak, selaksa rasa rindu mulai menyergap. Karena, sejak kecil aku tak pernah melihatnya. Aku tak tahu bagaimana wajahnya, senyumnya, belaiannya. Selama ini aku hanya mendengar dari orang-orang, bahwa Ibu adalah perempuan berperangai halus, berkulit kuning langsat. Meski sering terkena panas pantai, kulit Ibu tak sehitam perempuan dewasa lainnya. Matanya bundar seperti mutiara. Rambutnya sepunggung berwarna kemerahan mirip rambutku, selalu dirapikan dengan sisir kulit penyu buatannya sendiri.
Rasa kangenku terhadap dirinya begitu rupa, sampai-sampai aku sering menggambar sosoknya di pasir. Lalu kesedihan menyelinap diam-diam tatkala arus ombak menghapusnya begitu saja. Tatkala malam tiba, wajah Ibu seperti terbentuk pada rembulan. Aku dapat melihat jelas: wajahnya tersenyum mengembang. Seolah senantiasa menemaniku, meski ia tak ada di sampingku. Saat itu, aku sering bertanya kepada siapa saja, mengapa ia menghilang begitu saja? Meninggalkanku sendiri dalam kesepian yang teramat sangat. Kurasakan hal itu, terutama ketika Bapak tak kunjung pulang, setelah berangkat melaut beberapa hari, dan rembulan tertutup hitam awan di keheningan malam.
Ranjang tempatku berbaring yang terbuat dari batang kelapa, adalah saksi betapa malam-malamku sering dibasahi oleh air yang tak terasa turun dari kedua mataku. Aku hanya bisa menggenggam sisir kulit penyu peninggalannya, untuk setidaknya sedikit menepis keinginanku untuk bertemu Ibu.
Dan waktu itu Bapak sering bercerita, bahwa Ibu pergi ke sebuah tempat yang begitu indah, sesaat setelah melahirkanku. Beberapa kali ia berkisah tentang Ibu, setelah surya tenggelam dan kegelapan hari mengepung kampung kami. Beliau berkata-kata sambil mengisap kreteknya dalam-dalam. Matanya menerawang jauh, dapat kulihat setitik kesedihan terpantul dari matanya. Aku mendengarkannya dengan seksama sambil mempermainkan sisir indah berukir motif bunga, peninggalan Ibu. Kata Bapak, Ibu pandai membuat kerajinan tangan dari kulit penyu, kalung lokan dan anyaman daun nyiur muda.
Suatu hari ketika usiaku masuk di umur dua belas tahun, di beranda rumah aku bertanya pada Bapak,
“Bapak, aku begitu kangen sama Ibu. Apakah aku dapat bertemu dengannya?”
Bapak meletakkan kreteknya seraya memelukku, lalu mengatakan, bahwa suatu saat aku akan bertemu dengan ibu, jika saatnya tiba. Bila aku sudah cukup umur.
“Kapan itu, Bapak?” desakku.
“Jika kamu sudah cukup umur, Surti…!”
“Dimanakah Ibu kini, Bapak?” lanjutku.
“Ibumu ada di sebuah tempat yang indah, menunggu kamu, menunggu kita.”
“Bilamana aku bisa menemuinya?”
“Nanti, saat kau dewasa, cukup umur dan kau akan tahu…,” kata Bapak sambil memelukku erat-erat.
Bapak lalu menuntunku masuk ke kamar. Dan kembali ia memelukku, aku merasa desah nafasnya begitu dekat dengan leherku. Aku tak tahu apa yang dilakukannnya, aku hanya merasa seluruh tubuhku nyeri. Bagai mimpi buruk diterkam gurita raksasa, binatang laut yang sering diceritakan penduduk setempat, yang membuat sebuah kapal tak kembali. Kerap terjadi sekali setiap tahunnya. Aku merasa binatang itu merengkuhku dengan kesepuluh tangannya yang dipenuhi semacam alat penghisap, membuat tubuhku tak berdaya.
*****
Seperti para nelayan lain, Bapak tak setiap hari pulang. Aku sendirian di rumah, hanya berteman si Belang, anjing kampung hitam yang setia menemani. Dan aku beruntung ada Mak Inah, tetangga yang kerap menengokku sambil mengantarkan makanan. Aku sendiri saban siang membantu Mak Inah, memasak, membersihkan kuali dan menyiapkan ikan-ikan yang hendak diasinkan, untuk dijual ke pasar.
Jika Bapak tak ada, Mak Inah yang menemaniku menjelang tidur, sambil bercerita tentang mendiang Ibuku. Sudah lama ia menjanda, sehingga menggagapku seperti anaknya sendiri. Mak Inah selalu meneteskan air mata ketika berkisah tentang Ibu, sambil mengamati sisir kecoklatan bening, warisan Ibuku. Mak Inah juga kerap menghiburku, sambil menyanyi tembang terang bulan. Membawa kantukku segera menghampiri, membawa ke lelap mimpi.
Malam itu rembulan penuh putih tembaga, aku bermimpi Ibu datang padaku dan berkata,
“Surti anakku, buah hatiku. Usahlah kau bermuram, tunggulah waktunya. Lima tahun dari sekarang. Temui Ibu, nak… di pinggir pantai. Dan turutlah denganku, kita akan pergi bersama…..”
Entah kenapa, pada setiap purnama aku selalu bermimpi hal yang sama: kedatangan Ibu. Dan selalu membisikanku hal yang sama, untuk menemuinya kelak nanti aku beranjak dewasa. Aku bergembira luar biasa untuk kali pertama, lalu sirna segala penantianku yang dulu tak kunjung jelas. Aku akan bertemu Ibu, aku akan bertemu Ibu……!
****
Musim berganti, hari bergulir begitu cepat bagai laju gelombang laut yang datang dan pergi, tak terasa usia Surti masuk tahun ketujuh belas. Banyak perubahan dalam diri dan tubuhnya, dan sejumlah peristiwa telah terjadi menerpa keberadaan Surti sebagai perempuan remaja.
Mak Inah berkata, dia bukan lagi Surti yang dulu, dia menjelma menjadi perempuan yang sakit jiwa dan kerap bertindak aneh, mirip orang gila. Berbicara sendiri, tertawa sendiri kadang berteriak-teriak histeris. Orang-orang sekampung sedikit tahu tentang Surti, namun mereka enggan membicarakannya, karena Bapak Surti adalah figur yang dituakan di daerah tersebut. Meski begitu Surti tetap waras akan ingatan terhadap Ibunya, sosok yang masih hinggap pada mimpi-mimpinya.
Hari ini ini genap usia Surti tujuh belas tahun dan tiba waktunya menemui Ibunya, seperti sosok itu berkata dimimpi-mimpinya. Tengah malam ia beranjak ke pantai, tidak sepengetahuan Bapak yang beberapa hari ini belum pulang ke rumah. Diam-diam, Surti berjalan menyusuri cahaya bulan yang nampak keemasan. Angin kencang bertiup tak seperti biasanya, hembusannya begitu dingin dan meninggalkan suara riuh tatkala menggoyang sekelompok nyiur di sepanjang pantai.
Di bibir pantai Surti berdiri di atas karang, hatinya berdebar sambil memandang ombak bergulung dari kejauhan hingga mata kaki. Lalu ia mencoba berbisik memanggil sang Ibu,
“Ibu, aku datang, akankah kau memenuhi janjimu untuk menjemputku?”
Di antara ombak-ombak berbuih berkilau kekuningan, sesosok perempuan muncul perlahan dari dalam air. Rambutnya tergerai, beberapa helainya kebyar masai tertiup angin malam. Lantas sosok itu mendekati Surti hingga terlihat jelas raut wajahnya. Cantik dan begitu muda, tak seperti yang bayangannya. Surti pikir Ibu kini sudah menua seperti Mak Inah. Namun, apakah benar ia Ibunya?
Perempuan itu kemudian berjalan mendekat dari arah laut pasang dan bergemuruh suara ombak. Lalu meraih tangan Surti yang menggenggam sisir kulit penyu.
“Surti, ….aku Ibumu! Kemarilah, Nak…sudah waktunya kau kini ikut bersamaku…”
Surti menurut apa yang dikatakannya, lalu turut sosok Ibunya berjalan masuk ke dalam ombak yang serasa lembut menerjang tubuh. Sejenak ia masuk ke air dan bahkan tak peduli, mengapa pula ia dapat bernafas di dalam air. Terbenam bersama arus laut, melayang-layang seperti ikan. Sepintas Surti melihat bagian bawah Ibunya, kakinya menyerupai ekor ikan, besar dan melambai-lambai, bagai terbang di air laut.
Kemudian Surti digandeng berjalan mengayuh air bersamanya. Sekelompok ikan-ikan kecil mengelilingi, seiring gelembung-gelembung udara yang berhamburan. Lalu pandangannya kabur, ingatannya meredup, lalu sirna.
*****
Tiba-tiba Surti terbangun dan melihat sekeliling. Mencoba menerka apa yang terjadi. Dan ternyata ia menggelepar terdampar di tepian pantai. Ia lihat rembulan masih di atas sana. Warnanya memudar, ukurannya tinggal setengah kelapa, pertanda fajar sebentar lagi merekah. Belum pulih kesadarannya, tanpa dinyana Surti dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggilnya,
“Ibu, ini aku, anakmu…!”
“Siapa kamu, wahai gadis..?” Surti bertanya keheranan, melihat seorang gadis berjalan kearahnya.
“Aku Arumi, anakmu, Ibu. Bukankah Ibu yang memintaku kemari, seperti dalam mimpi-mimpiku? Aku sudah tujuh belas tahun, Bu….,” lanjut Arumi.
Surti terdiam memandang gadis remaja itu. Seorang gadis yang tangannya menggenggam sebuah sisir dari kulit penyu.
“Katanya engkau akan mengajakku pergi. Tiap hari aku bermain di pantai menunggu Ibu. Kata Bapak, Ibu akan menjemputku…!”
“Aku tak pernah punya anak, Arumi…Aku di sini baru saja bertemu dengan Ibuku sendiri. Mungkin kau salah, aku justru menunggu Ibuku yang sekian lama tak kutemui,” katanya sambil mencoba menepis keheranan.
“Aku anakmu Bu, aku Arumi, anakmu…!”
“Anakku?….Maksudmu…?”
“Aku anakmu, yang terbuahi dari sesesorang yang selama ini kau panggil: BAPAK..!”
.
Mak Inah tak pernah mengulangi cerita tentang Surti yang dihamili ayah kandungnya sendiri. Sepeninggal sang istri membuat laki-laki tetua kampung itu hilang akalnya, hingga menghilangkan akal anaknya pula, Surti.
Saat ia hamil hingga melahirkan, Surti sudah menjadi sosok perempuan gila. Anaknya lahir di beranda rumah, ditolong oleh Mak Inah, lalu dilarikan kekampung sebelah, dibesarkan oleh saudaranya. Agar Bapak tak kena malu oleh kehadiran Arumi. Sementara Surti tak ingat kejadian itu dan tak pernah ingin ingat.
*****
.
.
Granito, Februari-2012
.
gambar: devianart.com

