Debu-debu itu awalnya terserak tak bernilai. Perlahan-lahan, entah bagaimana caranya, debu-debu itu kemudian menjadi para kurcaci di tangan sang guru.
“Sebarkan pada tiga penjuru mata angin”, perintah itu terdengar sangat berwibawa.
Angin timur yang kering dan angkuh, tertunduk patuh pada perintah sang guru. Ditiupnya semua kurcaci layaknya sekumpulan daun kamboja kering. Barat, timur, dan selatan kini tidak lagi menjadi daerah yang kosong melompong. Para kurcaci telah mengisi kekosongan itu dengan rata di setiap penjurunya. Sang guru kemudian meletakkan satu tongkat emas pada semua kelompok kurcaci.
Para kurcaci beranak pinak dan semakin besar tanpa saling mengenal dengan kelompok yang lain. Mungkin jutaan hektar tanah dan perbukitan tandus itulah yang patut disalahkan. Ia telah membuat dunia mereka begitu jauh terpisah.
Suatu waktu, ketika akal sudah berkembang sangat pesat, terciptalah sebuah benda yang ajaib. Benda itu membuat jutaan hektar tanah kini seperti menjadi beberapa mili meter saja jaraknya. Pertemuan pun terjadi tanpa perjanjian di tengah lapangan yang besar dan terbuka. Mereka saling menatap heran, mengapa ada kurcaci lain selain mereka. Keheranan berubah menjadi keterkejutan ketika mereka melihat setiap kelompok kurcaci membawa tongkat emas yang sama dengan mereka.
Gempar!! Semua kurcaci goyah batinnya. Angin barat, yang sejak dahulu tidak setuju penciptaan kurcaci, dengan lembut meniupkan isu bahwa salah satu tongkat emas itu adalah palsu.
“Tapi tongkat yang mana?”, begitulah pertanyaan mereka.
Para tetua dan pemimpin berunding di kelompoknya masing-masing.
“Kita tidak bisa membiarkan rakyat kita menganggap bahwa tongkat emas yang kita miliki adalah palsu”, ujar yang paling tua.
“Kalau begitu kita harus katakan kepada semua orang bahwa tongkat asli hanya yang berasal dari kelompok kita. Di luar itu palsu.”
“Bagaimana kalau mereka tidak menerima perkataan kita?”, tanya yang muda semangat.
“Kalau mereka tidak mau menerima, kita perangi mereka. Kalau mereka sudah “habis”, bukankah tongkat emas kita otomatis akan menjadi asli”, ketua kelompok muda yang paling kekar badannya berbicara sambil menghunus pedangnya.
Semangat itu terus dihembuskan oleh angin barat ke semua kelompok. Akhirnya, dengan mutlak, terpilihlah jalan kekerasan sebagai cara untuk membuktikan keaslian tongkat emas mereka.
Di sekitar tempat itu ada sebuah bukit. Di puncak bukit ada sebuah rumah berdiri. Di situlah sang guru berdiam. Dari tempat itu sayup-sayup sang guru mendengar suara senjata, suara teriakan, dan suara kematian membahana sampai kejauhan. Guru itu keluar dari rumahnya dan segera menghampiri kekacauan itu. Ketika sampai, ia sangat terkejut melihat kurcaci-kurcaci yang ia ciptakan saling membunuh satu dengan yang lain.
Guru itu kecewa lalu berkata: “dari debu kembalilah kepada debu!”
Sekejab yang bertarung itu kembali menjadi debu tanah. Sebagai debu mereka tidak terpisah tetapi bercengkrama tanpa pertengkaran dan perbedaan.
Dalam keheningan, tiba-tiba tiga kurcaci yang terlambat datang karena sakit menghampiri sang guru, sambil masing-masing membawa tongkat emas.
“Apakah engkau yang menciptakan kami?”, tanya kurcaci dari timur.
“Ya!”, jawab sang guru.
“Lalu mengapa engkau memberi kami hanya satu tongkat emas yang asli?”, kurcaci dari barat berujar.
“Saya memberikan tongkat itu kepada setiap kalian untuk memberitahukan tentang keberadaanku. Seandainya kalian tidak bertengkar dan mau berbincang bersama dengan baik, kalian akan menemukan apa tujuanku memberikan tongkat emas itu”.
Sudah genap tujuh kali Kunang membaca cerita ini. Setiap ia membaca, setiap itu pula matanya memerah dan meneteskan air yang berasal dari jiwa yang tercabik. Sering tubuhnya bergetar menahan kemurkaan jiwa yang memantul dalam bunyian kertakan giginya. Namun, tarikan nafas yang ia pelajari dari seorang guru meditasinya, sangat menolong dia untuk tetap menjalankan fungsi korteks dalam otaknya.
Pikiran Kunang seolah berjumpa dengan jalan buntu. Dia tidak habis pikir mengapa saudara, sahabat, dan orang lain harus terkapar dengan kegerian hanya karena klaim-klaim tentang “tongkat emas asli”. Mengapa debu-debu tanah ini tidak dapat bercengkrama ketika ia berwujud manusia. Apakah manusia harus kembali terlebih dahulu menjadi debu tanah untuk dapat belajar saling menghargai, saling menghormati, saling mencintai, dan saling bekerjasama? Haruskah darah terserak untuk mengaslikan tongkat emas itu? Apakah pembuktian tentang keaslian harus ada korban yang dikorbankan? Tidak hanya sejuta, tetapi semilyar pertanyaan melintas sangat cepat dalam neuronnya. Tidak ada jawaban. Tidak ada jalan tikus, ini jalan buntu bagi Kunang.
Kunang merindukan setiap manusia bergumul tentang tujuan yang mulia, lebih daripada keaslian emas pada tongkat. Setiap manusia hadir untuk mewartakan suatu harapan akan masa depan yang berpengharapan pada dunia yang porak poranda. Menjadi penerus dan pelaku tatanan nilai universal, sehingga keharmonisan yang ideal dan solidaritas seluruh alam semesta dapat terwujud.
Entah apa pun wujud dari manusianya. Bagaimanapun pakaian yang membungkusnya. Selama ia masih terdiri dari darah dan daging, ia adalah manusia yang sama. Ia berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu tanah. Sebagai debu tanah, sesama manusia memiliki kemuliaan yang sama di hadapan Tuhan. Kemuliaan yang tidak berasal dari manusia tetapi pemberian yang Ilahi.
Kunang memahami semua itu sama baiknya dengan para pakar ilmu agama dan kemanusiaan. Tetapi pengetahuan Kunang tidak cukup tebal untuk menjadi bendungan bagi derasnya kemarahan yang ada dalam dirinya.
Harus ada keputusan! “Saya ini manusia. Saya ber-Tuhan”, kata-kata itu mondar-mandir di relung hatinya.
Hampir dua jam Kunang memikirkan semua pengetahuan dan pengalamannya itu. Akhirnya, tangan itu tidak lagi terlipat erat tetapi terjulur ke depan mengetuk pintu rumah wanita tua disamping rumahnya.
“Saya akan melakukannya”, tutur Kunang perlahan.
Wanita tua itu tersenyum dan membawanya ke ruangan kecil di bagian tengah rumah. Ia membungkuk dan berusaha mengangkat tubuh muda yang terkulai lemah didepannya. Dengan perlahan Kunang memapahnya ke luar rumah. Ia naikkan tubuh muda itu ke atas motornya dan membawanya ke rumah sakit di desa sebelah.
Hari itu Kunang telah memutuskan untuk menyelamatkan hidup seorang anak manusia pemimpin dari para pejuang “Klaim Tongkat Emas Asli”. Kelompok yang sangat melukai hatinya selama ini.
Hari itu juga Kunang belajar bahwa dibutuhkan lebih daripada pengetahuan dan kepandaian untuk dapat “mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri”. Dibutuhkan hikmat dan kasih yang kuat untuk dapat menjadi orang yang baik hati.
Dua jam itu telah mengubah Kunang menjadi debu yang mampu bercengkrama dengan debu lainnya ketika ia masih dalam wujud manusia.

