Penulis Kolaborasi : Chyput + Bells , Nomor 178
Kelabu Jingga di Matamu
Winnie membahana menatap awang-awang. ‘Tinggal 12 hari lagi ya? Andai Ia masih di sini, itu adalah usia kami yang ke-8 tahun jadian. Hmm~’
Meratapi hati yang luka atas meninggal nya sang kekasih, membuat Winnie trauma pacaran lagi. Kira-kira 10 bulan yang lalu tepatnya. Mereka sedang berdua mengadakan wisata ke Gunung Bromo. Mereka masih sangat buta tentang Hiking , tetapi mereka nekat melakukan nya. Tanpa perlengkapan mendaki yang memadai, berkelana lah mereka berdua tanpa pendamping lain nya.
“Bei, jangan cepet-cepet lah jalan nya~! Aku capek, ini!”
“Iyaaa, maaf, maaf… Gomen~”
“Cari tempat istirahat yuk, Bei?”
“Ini posisi mendaki, sebentar lagi juga nyampe kok. Tahan lah sedikit lagi~?”
“Aku lape~rr”
“Dasar mbull ku yang canti~k!!! ckckck”
“Hehehe”
Bei pun mencarikan tempat bersantai dekat lembah sekitar. Namun akibat jalan yang licin karena hujan, Bei pun terpeleset tanpa kendali menuju jurang yang curam. Secara refleks, Bei menjerit memanggil Winnie. Winnie si telinga kucing langsung berlari ke arah datangnya suara Bei. Terlambat! Bei sudah berlumur darah tak sadarkan diri.
“Beeee~iiiii!!!!”, jerit Winnie panik.
Untunglah di sana masih ada sinyal. Winnie menelpon keluarga yang dekat dengan tempat mereka mendaki. Satu jam berlalu, akhirnya pertolongan pun tiba. Winnie pucat pasi. Kalang kabut hilang kendali dan hanya bisa menangis. Operasi otak segera dilaksanakan. Biaya tak jadi masalah bagi keluarga Bei. Untunglah Orang Tua Bei tidak menyalahkan ataupun memojokkan Winnie. Justru mereka sama-sama berdoa ’semoga operasi berjalan lancar dan Bei segera siuman’.
Detik demi detik ditatapnya detak jarum jam di tangan Daddy Bei. Winnie terus memandangi jam dan lampu ruang operasi silih berganti.
“Tenang, Winnie sayang. Bei pasti selamat. Memang, benturan di kepala Bei cukup kencang. Tapi…”
“Suatu mukzizat, Maaa, kalau Tuhan mengizinkan Bei selamat! Jurang nya sangat dalam! Aku yang biasa manjat pohon atau masuk ke gua-gua saja ngeri melihatnya?”
“Iyaa, kami mengerti, Winnie manis. Tapi Daddy dan Mama juga gak bisa lakuin apa-apa sama seperti kamu, hanya dapat menunggu sambil berdo’a penuh harap.”
“Betul yang Daddy bilang, Win.”
Mama mengusap air mata Winnie yang tak ada hentinya. Rei, kakak Bei yang sangat mencintai Winnie pun datang dan merangkul Winnie.
“Udah, dek… Kalo kamu nangis terus kayak gini, Bei juga gak akan seneng ngeliatnya.”
“Nie tau Rei, tapi Nie sedih campur takut! Kamu kan tau aku cinta banget sama adik kamu?”
Rei hanya tersenyum bimbang dan mendekap sayang Winnie. Rei tak membantah apa yang Winnie lontarkan. Mama dan Daddy Bei pun mengerti tentang kisah cinta segitiga ini. Mereka bergegas ke kantin mencarikan makan untuk Winnie dan Rei. Satu jam pun berlalu, Dokter keluar dengan wajah yang sungguh pasrah. Rei sudah tau apa yang akan dikatakan Pak Dokter, tapi Winnie…..
“Dok! Dok! Bei gak kenapa-napa kan? Bei selamet kan? Bei tertolong kan, Dok! Dok! Jawab dong,Dok! Bei gimana, Dok!”
“Sabar. Sabar mbak. Kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa, tapi…..”
“NGGAAAAK!!!!”
“Sabar,Nie…”
“NGGAAAAAK!!! Pokoknya aku gak percaya! Dokter pasti BOHONG!”
“Maafkan kami, mbak, mas, tapi kondisi pasien sungguh sangat kritis ketika kami memulai operasi. Kurangnya persediaan darah B+ juga menghambat kami. Dan pasien sudah tidak kuat dengan jalannya operasi ini.”
“Iya, Bei memang satu-satunya yang berdarah B+, Dok.”
“Aku B?!”
“Tapi B biasa, Nie. Sama seperti aku.”
Hening sejenak. Mama dan Daddy pun bergegas mendekati dokter dan seperti yang terlihat dari gelagat Winnie, Mama pun ikit menangis dan merengkuh Winnie. Daddy dan Rei jauh lebih tabah. mereka langsung mengurus segala administrasi dan persiapan pemakaman.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Winnie hanya dapat menghabiskan waktu bersama leptop nya tercinta. Laptop kado ulang tahun nya yang ke-16 dari Bei. Di dalam nya penuh dengan segala kenangan dia dan Bei. Tanpa basa-basi, Winnie mem-back up seluruh data ke DVD-RW nya yang segunung. satu hari penuh dia mengurusi laptop nya. menghapus satu demi satu seluruh kenangan bersama Bei. Tak ia sisakan satu file pun di dalam nya. Winnie berjanji untuk mencoba meng-ikhlaskan Bei dan membuka lembar baru. Namun Winnie pun berjanji, tak akan mau membuka hatinya lagi untuk siapa pun. mengingat hubungan nya bersama Bei sudah terbilang cukup jauh. Sempat juga dua kali Winnie menggugurkan kandungan nya, karena saat itu merea masih SMA. Hanya Rei satu-satunya orang lain yang tau akan hal itu.
‘Sekarang udah tanggal 2 Februari yah? Hmm~ sebentar lagi Rei ulang tahun yang ke 23. Guw kasih apa ya? Yaaaa~hh gimana pun juga, Rei udah guw anggep seperti kakak kandung guw juga kan?’ Winnie merenung memimikirkan acara apa yang cocok. Sambil memilah milih gaun pesta untuk dinner dengan Rei, Winnie pun teringat gaun tercantik yang menjadi favorit Bei di masa silam. Tadinya Winnie ingin mengenakan gaun itu untuk terakhir kalinya dengan menganggap Rei adalah Bei. Namun Winnie segera sadar. Rei adalah Rei. Betapa pun miripnya Rei dengan Bei, namun mereka tetaplah berbeda.
“Hei Rei! Apa kabar, kamu?”
“Winnie~!!? Baik. Sangat baik bahkan setelah mendengar suara kamu, sweettie.”
“Iiiih gombaaal! Hehehe”
“Beneran! Aku tuh mikirin kamu terus. Kenapa gak pernah main ke rumah? Kami semua kangen sama kamu! Apalagi masakan kamu, Nie?”
“Ehhm~ aku butuh waktu untuk memperbaiki semuanya.”
“Yaa.. Yaa.. Aku tau, sebagai cewek emang ga mudah ngelepasin cowok nya apalagi dengan kematian. Padahal sebentar lagi kalian juga udah mau nikah. Kau yang tabah ya manis~?”
“Iya, Rei. Hehe. Aku udah gak kenapa-napa kok sekarang. Oh ya, lusa ada acara gak?”
“Belum. Tapi kalo perginya sama kamu, Rei mau! KEMANA PUN POKOKNYA!”
“Laaaahh girang banget jawabnya? Hahahaha”
“Ya iya lah! Kapan lagi Rei dapet kesempatan bisa berdua sama cewek yang paling Rei dambain s’lama ini?”
“Bisa aja sih…”
“Kamu mau ke mana?”
“Yaa pokoknya jam setengah 7 malem jemput aku ya? Kita pergi ke suatu tempat yang paling aku suka.”
“Okey! SIIIIIP Nona-ku yang cantik jelita!”
“Ya udah, udah malem, aku mau tidur dulu ya? Sampe jumpa lusa malem yah Rei! See You~!”
“See You, Winnie sayaaaaang! mmmmuuu—-”, namun Winnie sudah menutup telepon nya.
Malam yang indah akhirnya tiba. Winnie dan Rei tiba di suatu pelataran bak bukit yang indah. Tempat piknik favorit Winnie bersama Bei setiap bulan. Juga tempat pertama kalinya Bei menyatakan cinta ditaburi bintang-bintang dan rembulan. Dari sana dapat terlihat temaram lampu kota di malam hari. Wahh! Pokoknya indah banget deh!
“Cantik banget, ayy!”
“Yaa, Aku ingin melihat temaram kota di malam hari, Rei,”
“Tapi tetep kamu lah yang tercantik!”
“Haha, dasar raja gombal!”
“Seriuuu~ss”
“Hemm~ ini!”, Winnie menyodorkan kotak berlapis bungkus emas berpita merah kepada Rei. “Happy Birthday yah Kakak ku tercinta~!”
Sambil mengerutkan kening bercampur haru, Rei menerima bungkusan hadiah Winnie dan merapatkan tubuh Winnie ke tubuhnya. Winnie pun tak tau mengapa ia menurut begitu saja, dan ciuman itu pun terjadi. Ciuman pertama Rei selama 23 tahun hidupnya! Itulah yang Rei impikan selama ini! Mendapat ciuman pertama bersama wanita yang ia cintai.
Dua jam berciuman, akhirnya Winnie mendorong lembut Rei yang masih terlena bersama cumbuan mesranya kepada Winnie.
“Rei, udah ahh! Kita kan kakak dan adik. Jangan kaya gini, aku gak suka.”
“Maaf, Nie. Tapi kalo kamu mau tau, inilah kado erindah yang aku impikan selama ini! Selama 23 tahun ini aku hidup. Aku selalu menjaga diri untuk gak ciuman, sekalipun dulu pernah diminta dan akhirnya putus karena aku tolak.”
“Huhumm. Kok aneh, ya? Biasanya, cowok yang mutusin cewek kalo ceweknya nolak untuk kissing.”
“Yah, begitulah yang terjadi. — by the way, Rei buka yah kadonya?”
“Iya, buka aja. Aku harap kamu suka.”
“WAW! Tulisan kamu udah diterbitin? Apa judulnya—- Kelabu Jingga di Matamu?”
“Yup! Kelabu Jingga di Matamu. Itu aku buat special untuk kamu Rei!”
“Hah!? Bukan nya Bei? Aku?”
“Iya, kamu. Karena….”
“Karena apa?”
“Dulu cinta aku untuk kamu, Rei!”
“Kenapa jadiannya sama Bei?”
“Karena justru dia yang mencintai aku begitu tulus tanpa pamrih yang berlebih. Di saat itu pula kamu masih di Amrik, kan? Yah… Baca aja, deh. Hehehe. Nanti juga kamu tau maksudnya.”
Setelah asik mengobrol dan makan malam di bawah terang rembulan, mereka pun pulang. Semenjak itu, TL facebook dan twitter Winnie dipenuhi wall serta mention dari Rei. Handphone pun laris manis! Dan akhirnya….
“Happy Val’s Day, Niewiii~!! mmmmuaaaach!”
“Hey Rei! Kok dateng gak bilang-bilang dulu, sih? Main cium-cium aja, lagi?”
“Kan surprise… Hehehe”
“Apaan tuh?”
“Nih!”
Jingga
begitulah matamu memancaran mentari
Bak lembayung senja menghiasi taman hati
Cinta
Adakah diri ku membawamu melayang
Patutkah aku bersanding dengan mu
Kelabu di hatimu
Usahlah kau ratapi perginya
Tataplah aku wahai jelita
Ku disini untuk mu s’lalu
Wahai hati yang ku cintai
Terima persembahan kalbu ku
yang begitu besar mencintamu
Hati yang luka, biarlah berlalu
Karena
Kelabu jingga di matamu
Kini t’lah berlabuh pelangi indah di telaga cinta
Dekaplah aku,
Rasakan kecupan hangat ku
yang ‘kan selalu ku persembahkan
satu untuk mu
Selamat hari kasih sayang
“Ini…. Ini kamu yang bikin, Rei?”
“Hehe. Iya! Keren gak? Jawaban nya apa nih?”
“KEREN!!!! Keren banget, Rei!”
“Makasih~—trus?”
“Trus apanya?”
“Would you marry me?”
“Ehh~?”
Hanya terdiam dan langsung berlabuh dalam pelukan Rei, begitulah cara Winnie menjawab segala kerisauan nya di masa silam, menjelang Valentine. Selasa yang indah, Selasa terindah bagi Rei dan juga Winnie.
NOTE : Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Cinta Fiksi dengan judul : Inilah Perhelatan & Hasil Karya Peserta Event Kolaborasi Cerpen Valentine
Silahkan bergabung di FB Fiksiana Community

