Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
*Di pojokan lampu merah sana, di bawah jalan layang.
Mereka yang kotor, lapar, tapi manis. Duduk beristirahat sambil menunggu nyala lampu merah tanda mereka harus manggung beraksi dengan suara yang sebetulnya tidak ada merdunya sama sekali.
Si Bulan menatap kakaknya si Bintang. Melihat adiknya Bulan yang menatapnya tanpa berbicara sepatah katapun, Bintang menjadi heran dan ia pun bertanya kepada adiknya Bulan.
“…hmm, kenapa kau Bulan ??…“.
Si adik, Bulan hanya diam dan menggelengkan kepala. Bintang pun kemudian diam tidak melanjutkan perbincangan sebab Bulan menggelengkan kepala menandakan tidak ada apa apa yang perlu untuk di khawatirkan.
Lampu merah telah menyala, Bintang bergegas lari mengincar angkot yang lumayan banyak penumpangnya untuk ia hibur dengan nyanyiannya berharap ada belas kasih dari penumpang angkot.
“ayo, Bulan…” katanya lalu mengambil kerincing yg ad di tangan Bulan.
…
Lampu kembali hijau.
“hei, Bulan kenapa kau?…kenapa tidak mengikut aku sewaktu mengamen tadi ?…kau sakit ??? Tidak enak badan iya ???…mana yang sakit ???…” kata Bintang sambil memeriksa tubuh Bulan memastikan kondisinya.
Si bulan menghalau tangan kakanya Bintang, “ah…aku tidak apa apa kak…kenapa kau pegangi badanku…aku geli…” ujarnya.
“lalu kenapa kau…hari ini kau aneh dan tak biasa...”.
“kakak, aku heran…aku tak sama seperti anak kecil sebayaku yang tadi siang ku lihat sewaktu mengamen di depan lampu merah ujung jalan sana…ia berada di dalam mobil mewah, memakai pakaian bagus, duduk di pangkuan ibunya, sambil mengisap isap gulali manisnya…padahal, aku pikir aku lebih cantik dari dia…tapi kenapa nasib dia bagus…sedang aku tidak…Tuhan ini bagaimana sih!…huh“.
Bintang yang mendengar ucapan adiknya si Bulan, tertawa kecil lalu ia elus rambut adiknya itu yang sudah dua hari tak di shampo.
“ah…kakak, sedari tadi kau pegangi badanku…sudah ku bilang geli!…” ucapnya dengan bibirnya yang ia manyunkan dan kembali menolak tangan kakaknya yang mengelus elus rambutnya.
“hei Bulan…apa yg kau keluhkan ????…“.
Bulan diam dan berpikir.
Bintang melanjutkan kata katanya, “rumah ???….kau lihat, mereka hanya memiliki rumah sepetak atau dua petak…sedangkan kita, lihatlah…betapa luuuaaasssnyaaaa rumah kita satu indonesia ini adalah rumah kita…tidak ada batas…sebab kita anak jalanan…rumah kita seluas jalanan ini…sangat luasss…” ujar Bintang sambil berputar putar di hadapan adiknya menunjukkan betapa luas rumah yang mereka miliki.
“ah kakak…” kata Bulan sambil tertawa malu melihat tingkah kakaknya.
“lalu apa lagi yang ingin kau sadari Bulan ???…baju bagus ???….hmm, ayo kemari…lihat, nampak wahhh bukan?…” Bintang menarik Bulan dan menyuruhnya berdiri di bawah lampu jalan yang berkerlap kelip warna warni membuat dirinya dan bajunya serta seluruh tubuhnya bersinar tersinari cahaya lampu yang terang benderang yang membuat bajunya nampak seperti di kilaui tumpukan berlian dan batu mewah.
Bulan yang memang adalah anak yg sangat percaya diri, kemudian bergaya bak yg di katakan kakaknya adalah seolah nyata. Ia berhayal sedang mengenakan baju seperti putri kayangan.
“…dan satu lagi…tringgg…” lalu dari balik kantung baju Bintang, ia beri adiknya kejutan sebuah permen.
Bulan langsung mengambilnya dan mengemutnya, ia belah dua permen itu untuk kakaknya separuh…
“tadi siang aku lihat kau melihat dengan nafsunya gadis kecil yang kau ceritakan itu yang duduk di pangkuan ibunya sambil menikmati gulali manis…makanya aku beli permen ini sebab aku tak sampai hati melihat ilermu yg turun itu…hahha, enak bukan permennya meski tak sama seperti yang di makan anak tadi…“.
Bulan yang terharu kemudian memeluk kakaknya.
Di sela Bintang yang dipeluk adiknya, Bintang berucap “Bulan, dengarkan aku Bintang kakakmu…tidakkah kau sukuri memiliki aku Bintang kakakmu ??…hoh, aku sangat sedih sekali mendengar kau mengeluh…Bulan, aku ada di sampingmu…seperti bintang yang ada di atas langit sana mengelilingi bulan…bersinar bersama sama di malam hari…jadi Bulan, sesusah apapun kita, meski dunia ini nampak gelap…tapi, kau punya aku dan kita akan selalu bersinar bersama…tidakkah itu cukup bagimu ???…”.
Bulan setelah mendengar ucapan kakaknya, ia sadar dan semakin merasa yakin bahwa kakaknya adalah harta kekayaan yang sesungguhnya. Bulan pun mempererat pelukannya kepada si kakak sang bintang hatinya.
…
Malam pun di lewati dengan kehangatan.
/end/

