Matanya indah, bibirnya merah dan rambutnya panjang terurai. Dia kekasih tetapi sayang dia bukan istriku. Dulu dia adalah teman satu kampus dan sejak itulah aku mulai memiliki hubungan dengannya. Aku sangat mencintainya begitu juga dengan dia. Dunia seperti milik kami berdua, bahkan saat lulus kuliah kami melamar ke tempat kerja yang sama sehingga kami memang tidak pernah terpisahkan. Sungguh aku tak pernah tahu bahwa adakah wanita yang bisa menggantikan posisinya? Ah, sepertinya tidak ada. Tidur seranjang sudah pernah aku lakukan dan itu atas dasar suka sama suka. Hei, aku ini lelaki sejati. Tauuu!!! Aku akan melakukannya jika memang saling suka. Jika tidak? Ya, sudah… Silahkan pergi. Dan pada kenyataanya hanya dialah belahan jiwaku.
Beberapa tahun kemudian, apa yang aku pikir akan tetap sama walau di masa yang akan datang ternyata berubah total. Entah bagaimana jalannya aku bisa menikah dengan seorang wanita yang tidak terlalu cantik. Mungkin alasannya karena harta! Ya, bisa jadi harta! Istriku ini anak orang kaya dan kehidupanku akan sangat terjamin bila hidup dengannya. Aku fikir ini adalah jalan terbaik untuk lepas dari kehidupanku yang kurang bahagia. Dan sampai sekarang aku telah memiliki anak-anak yang lucu-lucu yang membuat aku semakin memiliki tanggung jawab yang besar.
Kau tahu bagaimana nasib kekasihku yang dahulu? Aku masih ingat saat dia menangis tersedu-sedu karena pilihanku untuk menikah. Permohonannya agar aku tetap berada di sampingnya aku tolak. Aku hanya bilang padanya bahwa aku mencintainya tanpa alasan. Sementara aku menikah dengan istriku penuh dengan alasan. Jadi artinya aku lebih mencintai kekasihku daripada istriku. Walau aku tak dapat menjelaskannya sama sekali. Sekarang dia bukan kekasihku tetapi kekasih gelapku.
Saat aku merasa bosan aku akan datang padanya. Saat aku sedang konflik dengan istriku aku akan pergi ke ranjangnya. Dan itu masih kunikmati sama seperti dahulu saat masih satu kantor bersama. Karena kekasih gelapku ini aku maka mengkhianati istriku. Karena kekasih gelapku ini aku bahkan pernah lupa arah pulang ke rumah. Aku seperti terjatuh dalam kubangan dosa dan tak bisa bangkit untuk memandang mana yang benar dan salah. Hatiku lebam dan aku ingin menjerit-jerit, mengapa aku bisa melakukan pilihan yang salah di masa dulu sehingga aku menyianyiakan hati orang yang paling kucintai? Ah, andai waktu bisa diputar.
Semakin lama… Aku makin terbawa pada sebuah perasaan bersalah. Persalahan bersalah pada dua wanita. Yang satu mencintaiku tetapi tanpa ikatan. Dan yang satu lagi sangat mencintaiku dan telah memberikan anak yang lucu-lucu padaku. Tetapi yang menariknya tentang istriku bahwa dia sebenarnya sudah tahu bahwa aku dan kekasih gelapku sedang berhubungan gelap. Kau tahu apa reaksinya? “Kembalilah padaku seutuhnya jika kau sudah sadar bahwa apa yang kau lakukan salah…” Katanya pelan. Hatiku seketika terkoyak-koyak dan aku ingin terjun bebas dari gedung 100 lantai dan aku mati. Yang lebih menyedihkan saat dia masih dengan tulus menyediakan sarapan bagiku saat ingin pergi ke kantor. Setulus itukah cinta yang diberikan seorang wanita yang sudah aku sakiti…?
Aku mulai kebingungan tak tentu arah di tengah-tengah kedua wanita yang betul-betul sangat mencintaiku. Aku terjerembab pada pilihan yang menyesakkan. Tatapan lembut kedua wanita itu seperti sedang mempersalahkan aku. Aaarrrggghhh!!!
Pada akhirnya…
“Rose… Maafkan aku…” Kataku pelan lalu memberikan pelukan terakhir padanya.
Kekasih gelapku itu aku relakan sia-sia hanya karena istri dan anak-anak yang sah bagiku. Aku tahu ini kali kedua aku menghianatinya tetapi ini harus terjadi. Aku memang mencintai kekasih gelapku tanpa alasan sedikitpun tetapi aku meninggalkannya karena satu alasan yaitu karena istri dan anak-anakku. Aku lelaki sejati yang bukan berpikiran seperti dulu bahwa tidur satu ranjang atas dasar suka sama suka. Tetapi sekarang defenisi lelaki sejati bagiku adalah… Mempertanggungjawabkan janji suciku tentang pernikahanku pada istriku.
Oh… Kekasih gelapku… Karenamu aku pernah tersesat… Tetapi ini harus kita sudahi walau tidak bisa hati nurani ini berbohong bahwa aku masih mencintaimu… Ya, aku masih sangat mencintaimu walau kita tidak bisa berbagi rasa lagi. Kekasih gelapku, cepatlah lupakan aku dan jangan menangis lagi. Memang kisah kita harus berakhir tetapi hidupmu tidak berakhir bukan? Realistislah sayang…
Thanks yuah sudah baca… :D

