“Kakak, ngapain di atas? Di panggil mama tuh,” panggil Rina dari balkon kamarku. Adik perempuanku satu itu memang sedikit bawel. “Kakak, cepetan turun!” Dia kembali berteriak.
“Iya sebentar,” jawabku, tak menghiraukan ucapannya. Pandanganku tertuju pada seorang gadis dari kampung di belakang kompleks rumahku. Rambutnya hitam panjang diikat ke belakang. Kulitnya sawo matang, berbeda sekali dengan warna kulitku yang putih. Tubuhnya langsing, lebih tepatnya sih kurus. Wajahnya tidak terlalu cantik, tapi cukup manis ketika dia tersenyum. Aku memandangnya dari atas atap rumahku. Cukup jelas memandangnya dari sini. Hampir setiap hari aku melihatnya diam-diam. Kini gadis itu tengah mengomeli adik laki-lakinya yang bandel. Sama seperti adekku, rupanya gadis itu bawel.
“Kakak ngapain sih?” tiba-tiba Rina sudah ada di sampingku. Saking asyiknya aku mengamati si Gadis Kampung itu, aku sampai tak menyadari kehadiran Rina.
“Astaga, kamu bikin kakak kaget saja!” Aku mengelus dadaku pelan. Seperti hantu saja Rina itu. Mengejutkanku.
“Habis kakak di panggil nggak turun-turun,” dengusnya kesal. Dia meruncingkan bibirnya ke depan. Mirip bibir Donald, tokoh kartu yang dulu sering aku tonton.
“Hehe lagi asyik.” Aku meringis. Memamerkan deretan gigi putihku.
“Halah, asyik ngintipin orang. Udah Kak, ayo turun! Nanti kan Kakak masih bisa melihat gadis itu di taman,” omel Rina. Dia turun dari atap rumah melalui dinding kamarku. Hup. Kakinya berhasil menginjak balkon kamarku.
“Iya, iya.” Aku menurut dan ikut turun. Acara pagiku yang biasa aku lakukan harus terganggu oleh kicauan dari adikku. Yah, apa boleh buat.
#####
Ketika sore menjelang, aku memakai kaca mataku dan membawa buku sketsa gambar beserta alat tulisku ke taman. Aku suka melukis di taman. Yah, melukis senyum manis gadis itu. Setiap sore dia selalu membantu ibunya berjualan kue di dekat taman kompleks rumahku. Aku selalu datang untuk melihatnya.
Aku duduk di bangku yang terletak di pinggiran taman. Tepat di bawah pohon yang rindang, tempat biasa aku memandangnya. Di tengah taman terdapat kolam berbentuk lingkaran dengan air mancur kecil di tengahnya. Aku mengedarkan pendanganku menelusuri seluruh bagian taman itu. Mataku akhirnya menangkap sosok gadis yang kucari. Dia berdiri di seberang tempatku duduk. Menggelar dagangannya di atas meja besar. Gadis itu tengah melayani beberapa orang yang membeli kuenya.
Kubuka buku gambarku dan mulai kulukis wajahnya yang tampak ceria. Senyumnya benar-benar manis. Membuat hatiku bergetar dan terisi sesak oleh keceriaan yang dia pancarkan. Senyumnya adalah sinar dalam hidupku.
######
Aku berlari-lari kecil di tengah gelap malam. Malam-malam seperti ini papa malah menyuruhku ke mini market cuma buat beli rokok. Huh, runtukku dalam hati.
Saat melewati taman kompleks aku berjalan pelan. Menikmati segala kenanganku saat memperhatikan dirinya. Tiba-tiba mataku menatap sosok yang aku kenal. Dia duduk di bangku yang biasa aku duduki. Meski cahaya lampu penerangan di taman itu tak cukup terang untukku melihat dengan jelas wajahnya, tapi aku tahu itu dia. Aku berjalan ke arahnya. “Kamu ngapain malam-malam begini di sini?” tanyaku.
Dia menoleh. Matanya merah, entah karena cahaya lampu atau karena hal lain. Pipinya basah, sepertinya habis menangis. Dia mengusap air mata di pipinya. “Tidak apa-apa kok, memang tidak boleh?” suaranya bergetar serak.
Kenapa Mentariku menangis? Tanyaku dalam hati. Aku duduk di sampingnya. “Kok nangis?” Aku langsung menanyainya. Rasa penasaranku tak sanggup lagi aku bending.
“Siapa yang nangis? Aku nggak nangis,” elaknya. Dia berusaha menutupi kesedihannya dengan tersenyum. Meski begitu aku bisa menangkap getir kesedihan di hatinya.
“Jadi jelek kalau tersenyum dipaksa seperti itu,” sindirku. Aku terus mengamati ekspresi wajahnya. Dia melotot kepadaku. Itu membuatku tertawa geli. “Hahaha makin jelek.”
Dia memalingkan wajahnya. Menghembuskan napas. Mendengus kesal. Marah mungkin. “Sudah jangan marah, aku cuma bercanda. Apa yang membuatmu menangis?” Meski tahu mungkin dia tak akan menjawab pertanyaanku itu dengan jujur, aku tetap menanyainya.
“Tidak ada,” ujarnya bernada ketus.
“Kau bisa bercerita padaku,” tawarku mencoba menilik lebih dalam apa yang dia rasa. Dia menatapku. Menyelami tiap ucapanku melalui sorot mataku.
“Iya, aku tahu. Aku hanya orang asing yang belum kau kenal. Meski kita sempat berpapasan beberapa kali, tapi kita tidak pernah saling berkenalan. Ya, kan? Aku bukan bermaksud sok tahu. Tapi, aku selalu mengamatimu, melihat apa saja yang kamu lakukan. Aku selalu memandangmu diam-diam. Kamu selalu tersenyum ceria. Dan tanpa kamu sadari senyummu itu memberi arti yang luar biasa untuk orang lain, seperti aku,” sambungku memberi penjelasan untuk lebih meyakinkannya. Dia menatapku dalam-dalam. Menungguku berbicara lagi.
“Ketika aku kesal atau sedih, aku selalu ke taman supaya aku bisa melihat senyummu. Jika sudah bisa melihat senyummu, seolah-olah kesedihan atau kemarahanku lenyap begitu saja.”
“……..” Dia masih terdiam. Membiarkan aku berbicara.
“Jadi, jangan bersedih lagi ya!” bujukku sembari menggoreskan senyum tulus untuknya.
Dia menunduk, diam sejenak. Seolah mencari sesuatu melalui binar mataku. “Terima kasih”, ucapnya kemudian. Dan senyumnya kembali terukir manis di wajahnya. Senyum Mentari yang biasa aku lihat.

