Bagian II Pertemuan
“mmm waktu sudah tengah hari, lebih baik aku sholat dulu”
“hey, John, mau kemana kau?” sapa seorang temannya
“mau ke mesjid dulu”
“sholat ya” “masih belum adzan tau”
“emang, mau tidur dulu aku”
“oh.. ok, tunggu dulu”
“ada apa lagi” dengan wajah sudah mengantuk
“nantikan tugas dikumpulkan, kamu sudah mengerjakan apa?”
“yang mana?”
“yang hari jum’at dulu”
“nih” “itu cari saja di buku aku”
“????”
“dadah”
Akhirnya John pun menuju masjid, dan tidur tepat didalam masjidnya. Tidur dengan pulas. Bersamaan itu, terjadi percakapan antara Anita dengan seniornya
“jadi begitu Anita?”
“iya teh”
“terus kamu bagaimana?”
“saya jelaskan semampunya saja”
“itu bagus ko” “nanti kita bahas setelah dzuhur ya”
Bla-bla..
“mmmhh” “(suara siapa?)” “(lagi enak tidur juga)” “(zzzzz)”
Akhirnya waktu dzuhur pun tiba, John pun terbangun
“….(belum ada yang adzan kah?)”
“…(adzan nga ya)” “(nanti dibilang sok-sok an lagi)”
Suara adzan mulai terdengar dari masjid diluar sekolah
“ala, ala, gimana ya”
Terdenegar suara dari sebelah
“maaf, ada ikhwan kah?”
“ikhwan??” “nga ada yang namanya ikhwan mba”
“oh…, maksud saya laki – laki” “bisa tolong adzankan “
“???!!!”
“Tapi..”
“kenapa??” “nga bisa ya” tanya Anita
“BISA!!!”dengan tegas John bicara.
“….”
“(ah bodoh ah)” “(untuk apa malu, EGP aja)”
Dan…. John pun mengumandangan adzan dzuhur, dengan perasaan dag-dig-dug, karena baru pertama kali dia menjadi muadzin, ada perasaan takut ketika mengumandangkan itu, tapi dia abaikan saja, anggap saja tempat itu kosong melompong…
Tak lama kemudian datang Alex bersama teman – teman selepas touring. Mereka biasa bolos kelas kalau sudah jemu dengan pelajaran yang diberikan. Kalau hari biasa, touringnya hanya terhenti pada mall atau plasa ibukota, jadi tidak terlalu jauh, lumayan ketika pelajaran terakhir masih bisa ikut dengan sembunyi – sembunyi.
“huaaaa,” “ aku ngantuk nih” Alex menguap
“wahhh, kesedot aku” canda seorang temannya
“huss. Kau ini” “lagi ngantuk, dicandain”
“hehe”
“hey, mau kemana?” “itu bukan arah ke kelas kan?”
“sholat dulu ah”
“nanti dimarahin guru loh karena telat”
“Bodoh ah” “ngantuk”
Alex pun pergi menuju masjid, dimana Anita dan John berada.
“….” Alex melihat John dan tidak menyapa
“….” John pun sama
“oh gitu ya teh” Anita sedang sibuk berbicara dengan seniornya di sebelah
Alex pun menunaikan sholat dan .. kembali tertidur di masjid. Hingga menjelang sore, dan masjid sudah tampak kosong
“mmmmhh” “wah sudah sore, lama juga tidurku”
“…??” “ini apa”
Alex menemukan sebuah amplop tergeletak di pinggir teras
“amplop siapa ini?”
“ada uangnya lagi, dasar orang jaman sekarang?”
“biarin aja ah” Alexpun menjauhi dan mengembalikan perangko itu
“… nanti kalau ada yang kehilangan, bagaimana ya?” “ah bodoh aja”
“.. nanti kalau ada yang mencari , bagaimana ya?” “Emang gua pikirin..”
….@#$%^&&**(() dia panik
“ukh.., saya pegang dulu ni uang” “ketemu orangnya, awas aja” “dasar uang kok dibuang – buang”
Berkeluh macam-macam, berpura – pura nga peduli, tapi akhirnya merasa risih juga kalau melihat kesusahan orang lain. Begitulah sifat Alex,
Lima belas menit setelah Alex pulang, ada yang datang ke masjid
“mana itu amplop ya” bingung seseorang itu
“… aduh?” “besok tanya teman dulu, semoga ada….”
Keesokan harinya, jam istirahat
“Alex, mau kemana kita hari ini hehe?” tanya rekan akrabnya
“kemana ya?” ”gimana kalau ke dago puncak”
“ohhh” “wah bisa- bisa boros bensin motor nih”
“tenang aja, ada nih dananya”
“wah, oce de bos”
“Yo…, kita cau”
“on your count hehe” Alex dan temannya kabur
“oh gitu, ada yang kehilangan”
“iya John, Anita sepertinya”
“anak perempuan yang sering ke masjid itu”
“kasihan, manalagi”
“manalagi apanya?”
“uang organisasi katanya”
“innalillahi atuh”
“memang berapa uangnya?”
“aduh apa nih” “kamu mau ganttin ya?”
“berisik kau?” sudah jawab saja?”
“satu juta katanya”
“minta amplop aku?” “sana beliin”
“??” “ini?”
John memasukkan beberapa lembar uang ratusan kedalam amplop itu. Dan menutupnya kembali
“??” “kau yakin John”
“apanya”
“itu kau mau menggantikan uangnya”
“enak saja” “aku cuman tidak suka melihat perempuan menangis”
“tau dari mana kau dia menangis”
“tadi pagi, di gerbang” “sampai tersedu ke temannya yang baru datang”
“…ehhhh”
“apa lagi”
“kau suka ya pada Anita?”
“E… enak saja” “untuk apa aku suka?”
“lah, itu lalu apa?” “kalau tidak suka, kok bisa menggantikan uangnya”
“ahhhh, berisik sekali kau ini”
“hehehe”
Akhirnya John pergi menuju ke masjid dan menemui Anita yang bersama teman – teman pengurusnya.
“(manggilnya gimananya?)” “…mmm…. hufffft..” “MAAF”
“???” Anita dan teman pengurusnya kaget mendengar suara teriakan John
“..iiya, ada apa”
“SAYA MENEMUKAN AMPLOP INI KEMARIN!”
“…?”
“PUNYA KAMU KAN !!” “INI!!”
“…” “terimakasih kang… nemu dimana?” tentu saja Anita tidak tahu kalau John yang menggantinkan uang amplop itu
“KEMARIN DISINI !!!” kata disini tentu saja berbeda dengan persepsi setiap orang, tapi lebih baik seperti itu. Pikir John dalam hatinya
“oh.. gitu ya kang”
“ya kalau GITU, saya pergi dulu” “lain kali jaga dan jangan hilang lagi”
“….Kang, namanya siapa?”
“John..”
John pun menjauh dari tempat Anita, dan duduk di kelas kembali, rasanya seperti panik menyerang ketika berbicara dengan Anita
“DOOOR!!”
“AH, kau ini bikin kaget saja”
“ehehe” “bagaimana pangeran?”
“dia sudah terima kok” “kau jangan bilang- bilang”
“tenang John, my mouth as steel like ever”
“awas ya”
Dilain tempat, Alex yang sedang asyik touring ke daerah dago puncak. Sepertinya dia lupa tentang amplop yang ditemukan kemarin dan bersenang – senang bersama temannya
“Beuuuuuuu…” “segerrrr”
“benar lex” “sampai minum kelapa gini, makin pas “
“eh, tadi aku dengar dikelas ada kejadian ya?”
“…. dem-dem” masih asyik mendengar musik
“WOOOOY”
“???” “ada apa lex” “’sorry nga kedengeran nih”
“aku mau tanya ?” “dikelas ada kejadian apa?”
“dikelas??” “memang ada ya?”
“nanya balik lagi, oon” “katanya ada yang nangis tah”
“mmmmm”
“jadi…?”
“mmmmm” “oh iya, iya” “Nita”
“Nita??”
“itu loh siswi yang berjilbab?”
“yang mana sih”
“anak masjid itu”
“?? Oh iya- iya” “lalu?”
“dia kehilangan amplop lex”
“amplop??”
“iya denger – denger sih kemarin?”
“KEMARIN??” terkejut Alex
“ops, tenang?”
“sorry, terus?”
“iya , amplopnya itu ada uangnya”
“beuh, kok nga bilang dari tadi sih” Alex pun segera menyalakan motor
“mau kemana kau?”
“mau pulang duluan aku?”
Dan Alexpun segera melaju seperti angin , menuju sekolah, dan menuju masjid. Tujuannya cuman satu, yaitu mengembalikan uang Nita itu. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 16.00
Setibanya di sekolah, dia segera menuju masjid
“…Nita”
“oh, ada apa ya” sambil membersihkan teras masjid
“ini amplop kamu?”
“ini apa”
“kemarin kehilangankan”
“…”
“aku menemukan di sisi teras masjid, sore hari”
“ sini aku cek” salah satu teman Nita mengecek amplop itu
“….” “iya Nita, ini amplopnya”
“lha, jadi ini darimana ?”
“kalau boleh tahu, itu darimana”
“dari kang John”
“John, si anak perpustakaan ya”
“nga tau itumah” jawab Nita sambil memegang dua amplop itu
“haha, iya – iya”
“kenapa?” “kok ketawa?”
“tidak” “itu amplop kamu, sudah aku kembalikan ya” “aku pulang dulu”
“eh, boleh minta tolong kembalikan ini ke kang John”
“…nga ah” “kembaliiin sendiri aja”
“???” “kenapa…?”
“sudah, kamu kembaliin saja ke orang nya langsung ok” “dah” Alex pun pergi
“jadi bagaimana teh” Anita pun bingung
“… ya sudah besok kembalikan saja, satu kelas ini kan” “dan bilang terimakasih ke dia”
“kenapa terimakasih”
“kamu ini, dia sengaja uda menolong kan”
“…iya juga sih”
Keesokan harinya, John sedang membaca buku di kelas, saat itu sedang waktu istirahat
“…” “…?”
“…mmm”
“ada apa?” tanya John melihat Anita didepannya
“ini dan terimakasih ya…” Anita pun langsung beranjak pergi keluar kelas
“…” “apa ini”
“…??”
“heh, ketahuan ya yang kemarin” “dasar orang aneh” “terimakasih ya” “cukup menyenangkan juga”
“nah loh!”
“akh, kau ini bikin kaget saja”
“hehehe, itu??”
“kau ya yang ngomong ke dia?”
“suer, bro. Bukan aku”
“jadi siapa?”
“Dia sendiri yang tahu, John” Alex tiba – tiba menyapa dari belakang
“…kau Lex”
“hehe” “sorry ya”
“sorry kenapa?”
“kemarin aku mengembalikan amplop yang asli kepadanya”
“ohhh, pantas saja” “jadi tahu dia”
“hehe”
“ya sudahlah, intinya semua sudah selesaikan”
“nanti juga ada waktunya?” potong temannya
“waktu apa?” John terheran
“ahaha”
“he-hei, apa – apaan kalian senyum itu hah!!”
“adeuh…”
“aku tidak memiliki perasaan seperti itu, cuman teman?” nada suaranya mulai panik
“adeuhhhh…”
“beneran, tahu… dasar kalian ini?” semakin panik
“hehehehe”
“ah sial kalian, aku mau keluar dulu”
“adeuhhh mau melihat Anita ya”
“?#$%” “apanya, dasar kalian ini” akhirnya John pun keluar kelas, suasana dikelas semakin rame karena kesan pada John itu. Malu besar rasanya John, dia pun segera beranjak keluar kelas tanpa melihat ke belakang.
Semenjak itu mereka pun saling berkomunikasi dan menjalin persahabatan. Suatu ketika Anita diminta mencari lokasi untuk kegiatan masjidnya, saat itu Alex yang terkenal tukang jalan – jalan memberikan bantuan dengan survey ke lokasi kegiatan dari estimasi dana transportasi pulang dan pergi diperkirakan oleh Alex, sedangkan John dengan kemampuan manajemen diminta untuk mengatur barang barang perjalanan. Dari kebiasaan mereka yang berbeda ternyata dapat saling membantu kegiatan Anita. Terkadang sesama rekan Anita ada yang menanyakan keheranan padanya, mereka sedikit mempertanyakan kok bisa Anita berteman dengan orang yang masih dalam ungkapan “belum mengenal agama itu” namun Anita dengan ceria menjawab “Berteman itu dengan siapa saja, kita berbaur tapi tidak bercampur, John dan Alex adalah temanku yang baik, kami saling menjaga dan menghormati privasi masing - masing”
Begitulah hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa, persabahatan itu tetap terjalin

