Lahir di tanah Minahasa saat dimana tembok Berlin runtuh. Putra dari anak suku Minahasa; Tontemboan. Sekarang sedang aktif keluar masuk kelas di salah satu universitas di Jogja, sambil setiap hari berangan - angan. Sekian Terima Kasih. Ini rumah maya saya tampialan.blogspot.com silakan mampir dan berbincang - bincang.
Liburanku hampir habis di Jakarta. Sudah seminggu aku tinggal di rumah tanteku dan keliling – keliling Jakarta. Minggu depan aku sudah mau kuliah. Jadi besok sudah harus pulang karena mesti ngurus administrasi lagi di kampus.
Aku agak sedih harus pulang secepat ini. Bukan apa, tapi tinggal di keluarga tante ku ini nyaman rasanya. Maklum aku tidak nyaman di keluarga sendiri jadi jarang – jarang bisa se akrab ini. Om ku juga baik, terus ketiga anaknya sungguh berkesan. Maklum anaknya masih kecil – kecil, ada yang belum sekolah dan ada yang masih SD. Yang paling tua baru kelas satu SMA.
Masih dari tadi malam waktu jalan – jalan ke daerah Kuningan aku sudah kepikiran. Kalau besok lusa sudah mesti balik. Padahal aku masih senang jalan – jalan dengan mereka. Apalagi dengan adik – adikku ini. Aku pasti rindu mereka begitu sampai Jogja.
Apa lagi Rina,anak yang sulung. Aku senang sekali melihatnya. Senyumnya menawan dan menenangkan hati. Apalagi kalau kita jalan – jalan bareng dialah yang paling akrab denganku. Aku sudah menganggapnya sebagi adik sendiri meski kadang – kadang menyukainya bukan sebagai adik.
Sungguh aku merasa bersalah. Dia saudaraku tapi seakan – akan aku menyukainya bukan sebagai adik dan kadang – kadang berharap bisa menjadi pacarnya. Meski hidungnya agak pesek wajahnya tetap enak di pandang apa lagi kalau senyum, kadang kadang aku suka senyum – senyum sendiri juga.
Nanti subuh aku pulang naik kereta. Aku tidak bilang ke adik – adikku apa lagi Rina. Aku takut mereka sedih Padahal aku yang takut mengucapkan salam perpisahan pada Rina. Apalagi kalau sampai mereka mengantarku sampai stasiun, pasti akan sedikit menyakitkan. Padahal aku cuma di Jogja tapi aku tetap takut untuk berpisah.
Malam yang berat bagiku. Aku tidak bisa tidur memikirkan akan pulang besok. Aku perlahan membuka pintu kamar Rina yang cuma di sampingku dan mengamati tidurnya. Tidak terasa sudah jam 4 alaram sudah berbunyi. Aku langsung mandi dan bersiap – siap.
Setengah enam aku sudah siap. Sarapan dengan om dan tante dan langsung menuju ke stasiun. Kereta ku jam 8 cuma karena takut macet kita sudah jalan. Masih jam 7 sudah sampai stasiun aku pamit pulang dan masuk ke peron meninggalkan om dan tante.
Aku masih memikirkan Rina. Kapan lagi aku bisa melihat senyumnya itu. Belum apa – apa aku sudah kangen suaranya apalagi kalau dia manja – manjaan dengan aku.
Pagi yang kelabu. Nampaknya aku memang mencintai Rina. Tapi dia itu saudaraku. Bagaimana dengan Om dan Tante kalau tahu aku suka sama Rina. Sungguh memalukan pastinya. Aku terpaksa menguatkan hati dan hanya bisa termenung menunggu kereta.
7.15, jam delapan kereta datang. Handphone ku berbunyi, Rina yang menelpon. Aku bingung mau bilang apa. Aku tidak mengangkatnya dan membiarkanya sampai berapa kali menelpon. Aku tahu om dan tante pasti belum sampai rumah dan dia tidak tahu kita pergi kemana. Aku semakin sedih.
7.45 sms masuk dari Rina. “kakak koq pulang nggak bilang – bilang aku, sudah dimana?” Pasti om dan tante sudah sampai rumah dan Rina sudah di kasih tahu. Membacanya aku semakin sedih. Aku berpikir mengatakan persaanku saja, tapi aku ragu. Mungkin dia menganggap aku kakak saja tidak lebih. Ya sudah aku sok dewasa aja pikirku. ‘tadi kan kamu masih tidur, kakak takut bangunin nanti kamu marah, ini sudah di stasiun sebentar lagi berangkat’. Balasku.
Kereta sudah tiba. Aku beranjak. Pas duduk sms Rina masuk ‘emang kakak nggak mau bilang salam perpisahan dulu sama aku? Ini aja aku sudah kangen sama kakak tahu’. Aku terharu. Agak menyesal dan sedih tidak melihat Rina lagi. Aku tidak berani lagi membaca sms nya terpaksa aku matikan handphone.
Baru 5 menit aku matikan, aku berubah pikiran. Paling tidak aku mengucapkan salah perpisahan lah biar cuma pendek baru habis itu kumatikan nanti kuhidupkan lagi besok handphone ku. Waktu kunyalakan sms Rina langsung masuk ‘ kak? Aku suka tahu sama kakak sebenarnya, cuma malu kakak kan lebih tua dan aku masih anak SMA, jangan bilang mama papa yah, I miss you kakak, jangan lupa telpon yah kalau sudah sampe’. Aku kaget, dan senangnya bukan main. Begitu masuk stasiun Bekasi aku langsung turun dan naik kereta balik lagi ke Jakarta.
Aku senang sekali mengetahui ini, aku bergegas ke sekolah Rina dan ingin menemuinya sekali lagi sebelum pulang ke Jogja. Aku sampai disekolahnya udah siang. Biasanya Rina kalau sekolah siang pulangnya sore jam 5 an. Aku senang sekali saat itu dan berpikir untuk membelikannya hadiah,tapi uangku benar – benar tinggal untuk membeli tiket kereta ke jogja lagi.
Sekolah sudah selesai. Aku semakin bersemangat. Aku menunggunya di gerbang depan. Sudah hampir setengah jam Rina tidak keluar – keluar. Anak – anak sudah banyak yang pulang tapi Rina belum keluar juga. Jangan – jangan di tidak kesekolah, tidak mungkin kan aku ke rumah tante lagi. Rasanya sia – sia semuanya.
Aku langsung lesuh. Kira – kira setengah jam aku memutuskan untuk pulang saja. Langit sudah mulai gelap. Sebelum pulang aku masih menoleh kearah sekolah dan melihat ada yang datang. Dengan pesimis tapi masih berharap kalau itu Rina aku menunggu. Dan benar itu Rina, jalannya pelan sekali seperti orang sakit.Aku tertawa dan memanggilnya dengan kencang.
Aku hampir menangis waktu dia berlari dan datang memeluku. Aku mengelus-ngelus rambutnya waktu dia terisak – isak mengangis dan memarahiku. Aku masih terus mendekapnya dan berharap hidup ini begini terus. Lama di memeluku sampai dia berhenti menangis dan dengan wajah cemberut menengadah marah pada ku. Aku mengecup keningnya dan tertawa’udah besar kok nangis?’ ejekku. Dia kembali memeluku dan menangis.
Rasanya senang sekali waktu itu. Aku hampir lupa kalau dia ini saudaraku. Indahnya sore ini pikirku. Dia melepaskan pelukan dan menyeka air matanya. Aku mengatur rambutnya yang berantakan dan kembali mengecup keningnya dan menyuruhnya tersenyum. Dia akhirnya tersenyum lagi dan tanpa malu lagi aku mengucap cinta padanya. Dia tersipu malu dan membenamkan kepalanya di dadaku. Ku dekap dia erat erat .
Tapi ada yang aneh, aku menoleh ke samping dan mendapati om dan tenteku berdiri di dekat kami. ‘OM MY GOD’ kataku waktu itu.
Jogja 23 ferbruari 2012

