Aku telah melupakan masa laluku yang pahit itu. Memaafkan Kyle. Memaafkan Indah. Memaafkan demi ketenangan bathinku sendiri. Dan aku telah hidup bahagia dengan seorang pria tampan yang mencintai aku.
Suatu hari di Sabtu pagi yang cerah, aku menemukan sebuah container plastik berisi dokumen berserakan di dalamnya. Aku menariknya dari gudang. Memeriksa isinya satu persatu untuk kurapihkan dan membuang yang tidak perlu.
Mataku tertuju pada sebuah map berwarna merah muda. Aku mengambilnya. Tiba-tiba handphoneku berdering. Dari kawan lama, seorang petugas administrasi di Pengadilan Negeri. Ah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dia. Pak Ajat.
“Hai.. apa kabar Pak?” Kataku girang menerima teleponnya.
“Baik. Gimana kabarmu? Kapan dong main ke Pengadilan lagi..” Katanya.
“Waah… boleh, kalau ada waktu aku mampir. Kita makan bareng ya” Kataku. “Tumben telpon, ada apa?”
“Kenal sama yang namanya Indah nggak?” katanya.
“Kenapa dengan Indah?”Tanyaku.
“Ya aku tanya dulu, kamu kenal sama yang namanya Indah nggak?” tanyanya lagi.
“Kenal, dia guru di Sekolah International yang dulu Kyle kerja disitu. Ada apa?” kataku.
“Dia datang kemari mengaku sebagai rekan kerja Kyle” katanya.
“Mau apa Indah ke Pengadilan?”tanyaku.
“Menanyakan Putusan Kasasi Sidang Cerai Kyle” kata pak Ajat.
“Kenapa baru sekarang? Memangnya putusan baru turun?” tanyaku.
“Putusan Kasasi sudah turun tiga tahun yang lalu, permohonan hak asuh ditolak. Tapi waktu kita datangi rumahnya, Kyle sudah pindah. Pindah kemana ya?” tanya pak Ajat.
“Wah, coba pak Ajat tanya sama bu Indah, dia pasti tahu Kyle tinggal dimana” kataku.
“Bu Indah mengaku tidak tahu Kyle tinggal dimana. Tapi menurut saya tidak mungkin. Ini rekan kerja atau istri baru?”tanya pak Ajat lagi.
“Mana aku tahu?” kataku.
“Aaahh…. Bohong kamu yaa… Nggak mungkin kamu nggak tahu, bilang aja, ini rekan kerja atau istri?” tanyanya lagi.
“Mau jawaban dari sisi hukum atau bukan hukum?”tanyaku tertawa.
Pak Ajat tertawa. “Dua-duanya”
“Dari sisi hukum, bukan istri. Karena putusan kasasi dari Mahkamah Agung nyatanya baru diminta sekarang. Dari sisi bukan hukum, bisa jadi dia istrinya.” Kataku.
Pak Ajat tertawa lagi. “Bisa aja kamu, tapi ada masalah lain nih. Putusan sidang cerai Pengadilan Negerinya dia nggak punya, fotokopinya pun nggak punya. Ada di kamu nggak?” kata pak Ajat.
“Wah, saya kan cuma mengurusi urusan imigrasi dan penetapan hak asuh. Saya nggak ngurusi cerai.” Kataku.
“Lalu bagaimana caranya saya membuatkan akta cerai kalau putusan sidangnya nggak ada? Mau saya cari dimana dokumen 7 tahun lalu?” katanya.
“Wah, itu sih derita lo.. “kataku tertawa.
“Tolongin saya ya, carikan di tempatmu, saya yakin, kamu pasti punya salinannya” katanya.
“Ya, nanti saya kabari” kataku. Telepon ditutup.
Aku memandang map merah muda yang ada di tangan kiriku sejak tadi.
Map berlogo Pengadilan Negeri Jakarta Selatan:
Putusan sidang cerai Kyle Johnson dengan Punita Ralhee.