Mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi mata pelajaran inilah yang jadi musuh utama saya. Bahkan guru yang mengajar juga jadi musuh. Memang belajar bahasa inggris itu “SUSAH”. Aneh begitu update status di media sosial sok jago bahasa inggris, saat ada tanggapan balik terhadap status yang baru dibuat, nah baru rasa, diam seribu bahasa, buka kamus, atau minta mbah google yang terjemahkan.
Itulah salah satu dari sekian alasan judul tulisan ini. Alasan lain, mencoba ikut program kursus sampai waktu kursus berakhir, masih tetap tidak bisa. Mandeg.
Alasan yang paling konyol adalah, hampir 50 tahun usia ini masih tetap nol bahasa inggris. Suatu hari, terbenak dalam pikiran untuk mengurus paspor untuk kunjungan ke inggris.
Hallo ..! saat ini saya sudah di Inggris, setiap orang mengajak saya untuk berkomunikasi saya hanya menggunakan bahasa isyarat, sambil menunjukkan pipi yang sengaja ditempel koyok. “maksudnya, maaf saya lagi sakit gigi dan sariawan” Alhamdulillah cara ini ampuh.
Ketika bertemu anak TK yang baru pulang sekolah, saya coba mengambil hati mereka dengan cara mengangkat ibu jari sebagai simbul ok atau juga bisa bermakna seperti khas dari “rcti ok”.
Tapi ketika anak-anak itu mengajak saya dialog, saya cuma bisa bilang OK OK OK, bahkan saya tidak bisa menghitung dengan jari saya, ditambah jari anak-anak itu, tetap saya cuma bisa berkata “OK” demikian terus menerus sambil memutuskan untuk meninggalkan suasana itu. Kabur lagi.
Setelah sekian hari di Inggris, saya bertemu dengan orang Indonesia, namanya Hendrik Lattul, wow dalam hati “merdeka dan selamat” Saya menikmati kunjungan saya di Inggiris berkat bantuan Hendrik Lattul sebagai juru bahasa saya.
Tak terasa saya sudah 30 hari berada di Inggris, semua tempat hiburan hampir sudah saya kunjungi, termasuk menyaksikan secara langsung pertandingan sepak bola liga inggris. Saat chesea main saya duduk di nomor kursi 13 dan Hendrik Lattul sendiri di kursi nomor 12 sementara satu cewek cantik duduk di kursi 12.
Lagi-lagi keberuntungan, ternyata yang duduk di kursi nomor 12 itu, mahir bahasa indonesia. Terjadilah dialog kursi nomor 13, saya dan kursi nomor 12. Saya kira detail dialog saya tidak perlu saya sampaikan disini, tapi cukup dialog terakhir saja yang ingin saya katakan.
Dia bilang ingin menikah dengan orang indonesia, itulah curhatnya ke saya, lalu saya pun bertanya, kira-kira tipe laki-laki indonesia yang kamu inginkan seperti apa?. Spontan dia menjawab dan menunjuk saya. “wooow, boleh juga tu” itu kata yang terucap dalam hatiku.
Saat saya ingin menjawab dengan kata-kata, tiba-tiba hujan turun saya dan dia basah. Saya kaget tiba-tiba ada suara lain yang muncul “bangun…. bangun…. sudah jam 8” ya ampun saya terbangun, istriku menyiram air dimukaku. Ternyata cerita tadi Cuma mimpi. Maaf ya.