Teeeetttttttt……..teeeeeetttttttttttt…………ttteeeeeeeeeettttttttttt……….
Bel sekolah berdentang 3 kali pertanda pelajaran akan segera dimulai. Aku segera menyiapkan buku, jurnal dan rencana pembelajaran untuk bergegas melangkahkan kakiku keluar ruang guru.
“ Bu Arini, hari ini ada jam di kelas berapa ?” tiba-tiba saja langkahku terhenti di depan meja kepala sekolah.
“ Saya di kelas VI, Pak. Jam pertama.”
“ Oh, begitu ya. Kalau tukar jam untuk besok bagaimana ? bisa ?” Tanya Kepala Sekolahku lagi dengan lembutnya.
“ Kalau saya, bisa-bisa saja, Pak. Ada apa ya ?”
“ Begini, Bu. Hari ini kan seharusnya ada pelatihan Kader Tiwisada. Kemarin yang bertugas adalah Pak Wisnu, dan hari ini Pak Wisnu berhalangan hadir, bagaimana jika Bu Arini yang menggantikan Pak Wisnu menjadi Pembina Pendamping Kader Tiwisada…?”
“ Oh…. Begitu ya, Pak. Baiklah… saya besok bisa bertukar jam dengan Pak Andreas. “
“ Ya sudah kalau begitu, terima kasih Bu Arini. “
“ Iya… Sama-sama, Pak.”
Aku langsung berputar arah dan berbalik badan untuk meletakkan peralatan mengajarku yang sudah siap ku bawa tadi, kemudian kuletakkan di atas mejaku kembali. Kuambil kunci motor dan ku temui kedua anak kelas 4 yang sudah duduk dengan manisnya, menungguku.
“ Sudah siap…?” tanyaku menyapa mereka untuk melumerkan wajah tegangnya.
Tidak menjawab mereka hanya mengangguk.
“ Tarik nafas dulu….” Perintahku, “ kenapa kalian ini tegang sekali…? Kalian kan akan mengikuti pelatihan jadi dokter kecil, kenapa seperti mau maju perang saja…?” tanyaku dengan nada bercanda.
“ Jadi, kita bukan mau ikut lomba, Bu…?” Tanya Dino kepadaku dengan tatapan polosnya.
“ Tentu saja tidak. Kalian nanti, akan diberi pembekalan bagaimana cara merawat teman kalian yang sakit atau memberi P3K, kepada teman kalian yang terluka.” Jawabku lagi memberi penjelasan.
“ Oh…” mereka mendeoh bersama-sama tanpa diberi aba-aba.
Muhammad Sefdino dan Miftha Melinda Putri, kedua anak cerdas murid kelas 4 itu yang didaulat menjadi duta kesehatan sekolah untuk mengikuti pelatihan dokter kecil. Dan aku, akan menjadi saksi sejarah dan pelaku sejarah ketika melihat dan membimbing mereka menjadi terampil menolong sesamanya.
Aku sangat berharap kepada tunas-tunas kecil ini, yang setiap hari kupupuk ini, kurawat, dan kusiram ini, agar kelak dia mampu berbuat sesuatu untuk negerinya. Tidaklah perlu menjadi sesuatu untuk berbuat sesuatu, selama ada niat pasti semuanya bisa terlaksana.
Pelatihan kali ini benar-benar lain dari pelatihan yang sudah-sudah. Mereka bertemu dengan 48 perwakilan sekolah satu kecamatan. Betapa membanggakannya menjadi anak yang terpilih untuk bisa mengenal dan bersosialisasi dengan teman lain dalam forum kecerdasan. Kejadian ini sedikit membuka memoriku saat aku terpilih mewakili sekolahku untuk mengikuti lomba murid teladan. Rasa bangga dan bersemangat jelas tidak bisa disembunyikan. Sama seperti wajah sumringah anak-anak ini. Begitu tekun dan bersemangatnya mereka mengikuti instruksi-instruksi dari para instruktur kesehatan dari para petugas.
“ Bagaimana? Senang tidak?” tanyaku pada mereka setelah selesai pelatihan sembari menikmati semangkuk bakso dihadapan kami. ” Sudah dapat teman baru berapa…?”
“ senang banget, Bu. Banyak. “ jawab Dino dengan semangatnya, “ apalagi, dibelikan bakso sama Bu Arini…”
AKu tersenyum dan mengusap kepalanya, “ kamu gimana, Mel?” tanyaku kepada Melinda yang sedang asyik menikmati bola dagingnya.
“ Ya. Banyak juga, Bu. “ jawabnya agak acuh.
Sepertinya mereka berdua sangat lapar. Maklum saja, biasanya pulang jam 12.15, karena pelatihan ini mereka jadi pulang pukul 14.00.
“ Kalau jadi dokter itu harus pintar ya, Bu?” Tanya Dino lagi kepadaku, masih dengan suara mengunyah bakso dalam mulutnya.
“ Oh, iya. Harus. Dokter itu pekerjaan keahlian. Tidak semua orang bisa jadi dokter. Dan hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan super saja yang mampu menjadi dokter.” Kataku menjelaskan. “ kenapa? Dino pengen jadi dokter ?”
Dia hanya tersenyum, “ iya, saya ingin bisa menyelamatkan nyawa orang banyak, Bu.” Jawabnya berapi-api.
“ Makanya, harus rajin belajar, Dong.” Kataku kemudian.
“ Mana mungkin kamu bisa jadi dokter…” tiba-tiba Melinda yang dari tadi cuek menyeletukan kalimat yang mengandung pertanyaan.
“ Kenapa tidak mungkin, Mel ?” tanyaku heran.
“ Dino kan anak yatim, Bu. Enggak mungkin dia bisa jadi dokter.” Katanya lagi
Kupandangi wajah Dino yang tertunduk sembari memainkan sendok dan garpunya di mangkok baksonya yang telah kosong. “ memangnya kenapa dengan anak yatim, Mel ? kenapa bisa kamu bilang kalau anak yatim tidak bias jadi dokter ? dokter-dokter kita itu banyak juga lo yang anak yatim…” kataku keheranan.
“ Kata ibuku, kalau mau jadi dokter itu biayanya mahal. Orang yang tidak mampu seperti kami tidak mungkin bisa menjadi dokter, Bu. ” Dia berhenti sejenak sambil mengingat sesuatu, “ dulu, saya pernah bercita-cita menjadi dokter, tapi sama ibu saya tidak boleh. Katanya saya disuruh cari cita-cita lain yang tidak memiliki biaya banyak untuk sekolah. Makanya, sekarang saya tidak ingin menjadi dokter.”
“ ha..ha..ha…” aku tertawa geli dengan alasan kepolosannya, “ memangnya, sekarang cita-citamu apa, Mel ?”
“ Guru….”
“ Guru…?” tanyaku lagi sambil menyernyitkan dahi.
“ Iya, kata ibuku boleh. Kalau jadi guru, biaya sekolahnya tidak mahal dan tidak perlu di universitas ternama. Di kota kecil kita ini banyak sekolahnya, dan tidak perlu jauh-jauh keluar kota…”
“ Ha..ha…ha…” lagi, aku tertawa dengan celotehnya.” Kalau kamu Dino ? dulu cita-citamu apa ?”
Sedikit tertunduk dan malu-malu dia berkata, “ Dokter…”
“ Sekarang masih pengen jadi dokter ?”
Dia hanya mengangguk dan masih membenamkan wajahnya. Aku merasa tak tega meneruskan percakapan tentang cita-cita yang sederhana ini.
“ kamu yatim, Din…?”
“ iya, Bu.” Jawabnya terbata, “ ayah saya meninggal saat mencari rumput.”
“ kok bisa…?”
“ kata ibu tertabrak Bis….”
“ Oh….” Jawabku miris, “ kamu tinggal sama ibu…?”
“ Enggak, sama nenek. Ibu saya keluar negeri, jadi TKW, Bu.”
“ Lama tidak ketemu ibu…?”
“ Terakhir saya ketemu, saat lebaran kelas 1….”
Kuusap kepalanya… tak terasa mataku semakin berkaca menatapnya. Calon dokter ini, harus melawan hidup untuk mewujudkan keinginannya.
“ Din, Mel. Dengarkan ibu baik-baik, ya.” Kataku sembari kuraih tangan mereka dalam genggamanku, “ apapun cita-cita kalian, kalian harus berusaha untuk meraihnya. Bercita-citalah setinggi mungkin, tidak akan ada yang melarang. Boleh…, kalian ingin bercita-cita apapun boleh. Mau jadi dokter, mau jadi guru, mau jadi apapun, boleh…. Bercita-citalah…. Bermimpilah…. Karena jika kalian tidak memiliki cita-cita dan mimpi, hidup kalian tidak akan memiliki tujuan. Kalian tidak akan mampu mencapai keberhasilan. Dan cita-cita itu adalah pengukur keberhasilan kalian.”
Mereka tidak bergeming, dengan seksama mereka mencermati setiap kata-kata yang kuucapkan. “ kamu bisa jadi dokter, Din. Kamu boleh jadi dokter. Tidak ada yang membatasi cita-cita mulia kamu. Tidak ada seorang pun yang bisa melarang kamu menjadi dokter.”
Mesih dengan seksama mereka mencerna kata-kataku, “ yatim atau tidak, miskin atau kaya itu tidak bisa menjadi ukuran kesuksesan kalian. Raihlah cita-citamu dengan kerja keras dan kegigihan. Mereka yang berhasil itu bukanlah orang-orang yang mudah menyerah dan berpasrah pada takdir. Percayalah… bermimpilah….dan berusahalah mewujudkan mimpi-mimpi kalian. Karena kegigihan dan kerja keraslah yang mampu menjadikan kalian berhasil. Bahkan, orang yang pandai pun kalah dengan orang yang gigih dan rajin. Jadi, yatim, miskin, atau pun kaya itu tidak bisa menjadi batas untuk kalian sukses meraih keinginan kalian.”
“ saya boleh jadi dokter…?”
“ harus, ya…! Kamu harus bisa jadi dokter, Din. Dan kamu akan jadi Dokter.”
Aku melihat senyum di bibrnya melebar dan mengembang. “ kamu, Mel..? Kamu masih ingin merubah cita-citamu lagi ?”
Dia berfikir sejenak dan menatapku, “ enggak, Bu. Saya tetap ingin menjadi guru. Supaya saya bisa mendidik calon-calon dokter, seperti Bu Arini.”
Aku tertawa…. Mereka pun tertawa…
Kedua anak ini… anak sekecil ini, sudah haruskah mereka mengerti tentang hidupnya ? Tentang hidup yang tidak berpihak pada orang miskin. Tentang jaminan pendidikan yang hanya berhenti pada undang-undang dan selogan kosong. Dan tentang anak miskin yang tidak bisa menjadi professional muda karena biaya pendidikan yang fantastis. Sekarang sudah tidak ada lagi nyanyian anak masa kecilku dulu, “ Om Tono, anak tukang koran jadi dokter, Om Ramli anak tukang bakso jadi insinyur…., Tante Indah anak tukang ojek jadi Peragawati…. Om Rahmat anak tukang cendol jadi pilot…”
Padahal lagu itu, sampai saat ini masih begitu terngiang-ngiang di telingaku dan menjadikan aku bersemangat menuntut ilmu. Tapi, lagi-lagi…. Tidak ada tempat untuk anak pintar tanpa biaya di Negara ini. Sepertinya kerja keras dan kegigihan hanya berputar-putar pada slogan-slogan di ruang kelas yang tertempel di dinding saja, bahkan nyaris tidak terbaca.
Semoga suatu saat nanti aku masih bisa menyaksikan dan menemui masa dimana mereka berdua meraih mimpi dan cita-citanya.

