Back to Kompasiana
Artikel

Dongeng

Heddy Yusuf

Tulislah apa yang mau kau tulis

Eyang Subur (Mungkin Saja) Capres RI 2014

OPINI | 11 April 2013 | 07:26 Dibaca: 3110   Komentar: 0   0

13656392951418778990

Mungkin saja Eyang Subur jadi Calon Presiden (capres) RI tahun 2014, terlepas dari pro-kontra, benar atau salah perseteruan Eyang Subur vs Adi Bing Slamet, faktanya berita Eyang Subur menyentak publik, rakyat Indonesia tersihir di depan kotak televisi yang mengagumkan.

Eyang Subur nyatanya lebih populer dibanding capres lainnya; Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, Ani Yudhoyono, Joko Widodo, Rhoma Irama, Hatta Rajasa, Mahfud MD, Sutiyoso, bahkan Dahlan Iskan. Aksi Dahlan Iskan yang lolos dari tabrakan maut mobil listrik sport Tuxuci, bagaikan Tom Cruise dalam film Mission Impossible itu tidak ada apa-apanya dibanding aksi Eyang Subur yang punya bini delapan. Apalagi jika Eyang Subur berhasil lolos dari jerat fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), mungkin saja Eyang Subur akan menjadi semakin sakti mandraguna.

Para politisi cengeng di Indonesia butuh artis, buktinya dalam setiap kampanye jelang pemilu, politisi tidak pede. Pilgub Jawa Barat dulu Ahmad Heryawan (PKS) butuh popularitas Dede Yusuf untuk mendongkrak perolehan suara dalam meraih kursi Gubernur Jabar. Kini PKS menang lagi setelah menggaet artis Deddy Mizwar (Naga Bonar).

Eyang Subur tidak butuh artis, malah sebaliknya artis butuh Eyang Subur. Mungkin saja kalau si Eyang mencalonkan jadi Presiden RI dijamin kualat artis-artis itu jika tidak ikut tim sukses. Mungkin saja semua artis papan atas dan komedian itu takut dikutuk dan akan berusaha kampanye mati-matian untuk kemenangan Eyang Subur sang panutan, guru spritual yang legendaris.

Jenis apa Eyang Subur itu? Menurut seorang Antropolog, Clifford Geertz (The Religion of Java), dalam kebudayaan masyarakat Jawa ada trikotomi; Priyayi, Santri dan Abangan. Eyang Subur bukan Priyayi (bangsawan) dia tukang jahit, bukan pula Santri karena suka mabuk-mabukan, punya isteri delapan dan mantan bandar judi Togel (hal yang diharamkan Islam). Dalam kategori Gertz, Subur lebih tepat disebut Abangan, yakni, kelompok Jawa muslim yang cenderung mempraktekan kepercayaan adat yang di dalamnya mengandung unsur tradisi Hindu, Budha dan Animisme.

Anehnya di zaman modern Jahiliyah sekarang ini praktek perdukunan, klenik semakin menggila. Kebodohan dan kemusyrikan bukan hanya monopoli orang dusun kaum miskin saja. Setan bertahta tidak hanya di gunung, hutan dan laut saja, tapi Setan juga berada di gedung mewah rumah artis, para pejabat dan orang-orang penting di kota besar. Saya sendiri tidak pernah melihat Setan, terkecuali waktu membayar pajak.

Menurut Maman Suherman Jurnalis Infotainment kawakan dalam acara Bukan Empat Mata mengatakan, “waktu kecil Riyanto sakit-sakitan terus, maka harus mengganti namanya menjadi Tukul, langsung sehat.” Kata Maman kepada Tukul Arwana.

Kata Maman, ada tujuh keriteria mengapa orang mau pergi ke dukun. Pertama, jika orang sakit-sakitan tidak bisa sembuh melalui jalur medis yang ilmiah maka mencari jalur lain, ketemulah orang pinter. Ke dua merasa kehilangan, pernah ada artis yang kehilangan mobil, pacarnya bilang mobil dicuri orang, artis itu tidak percaya karena ada hal yang aneh, lalu artis pergi ke dukun dan terbukti, ternyata mobil dijual oleh pacarnya. Yang ke tiga karena cinta, minta aji pengasihan, pelet-memelet. Yang ke empat masalah karier, ingin cepat sukses dan bisnis lancar, kadang melakukan ilmu-ilmu (magic) atau harus ke gunung Kawi, duduk di bawah pohon suci menunggu daun jatuh di kepalanya. Ada juga yang harus ke Kemukus mengadakan ritual tidur dengan perempuan berkali-kali setiap datang (perzinahan), untuk pesugihan, jodoh atau karier. Dan yang ke lima karena unsur dendam, harus menggunakan tukang sihir, guna-guna, santet. Yang ke enam dan ke tujuh, yang juga sering dianalisa oleh sosiolog, yakni, ada fenomena dimana orang tidak bisa menjelaskannya (tekanan hidup) secara rasional, lalu mencari orang pinter, paranormal, perdukunan. Nah… tujuh fenomena ini yang menjadi alasan orang untuk pergi ke dukun atau orang pinter tsb, kata Maman. Di Kalimantan ada yang namanya Balian, di Sumatera Utara ada Begu Ganjang, mistik, parewangan bukan hal yang baru di Indonesia ini.

Jelas bin jelas, populernya berita Eyang Subur mengalahkan berita apapun di layar kaca. Trend negatif rating berita TV adalah potret masyarakat yang sakit. Mungkin saja masyarakat sudah muak serta bosan dengan berita rasional tapi nyatanya tidak rasional. Berita polisi suap menyuap, berita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tangkap mantan menteri, berita berantakannya partai politik, berita hukum keadilan dan pajak untuk pembangunan dianggap basi. Hanya berita orang sakti, aki-aki kaya-raya, banyak bini seperti Eyang Subur yang mampu menembus rating tertinggi.

Mungkin saja ada benarnya yang dikatakan Ramadhan Alamsyah pengacara Eyang Subur, “mana fakta hukumnya Eyang Subur sesat? mana buktinya? sepertinya semua orang harus diperiksa ke RS Jiwa, kita semua sudah gila, karena masyarakat memang dibikin gila oleh pemberitaan yang tidak masuk akal ini.”

Mungkin saja masyarakat kita dari sejak dahulu kala sudah gila, karena nenek moyang selalu mencekoki anak-cucu dengan dongeng mistis irasional. Mungkin saja Nyai Roro Kidul menjaga laut selatan, hingga Indonesia tidak pernah di serang oleh negara asing dari selatan, semua pendatang dan penjajah asing datang dari arah utara; “India, Arab, Portugis, Belanda, Inggris, China, Jepang datang dari utara”, pidato raja-raja Jawa pada rakyatnya. Belakangan rakyat baru tahu, tidak ada satu peradabanpun di selatan, kecuali kutub, dataran es beku tak berpenghuni.

Mungkin saja Eyang Subur berilmu tinggi bisa nyantet Presiden Obama, hingga Amerika Serikat bertekuk lutut. Mungkin saja Eyang Subur punya Jin penunggu goa harta karun, hingga program Bantuan Langsung Tunai (BLT), Berantas Kemiskinan, Kartu Sehat Gratis dan Pendidikan Gratis bisa terealisasikan, pasti rakyat Indonesia Subur-makmur gemah ripah loh jinawi, repeh rapih kertaraharja.

Mungkin saja Eyang Subur sanggup memberdayakan perempuan, semua janda seksi dan PSK senang dilamar dan dinikahi tanpa surat dari KUA. Mungkin saja Eyang Subur berhasil Swa Sembada Pangan, hingga tidak ada kelaparan lagi di negeri ini. Mungkin saja Eyang Subur bisa menyatukan NKRI, hingga Aceh, Maluku dan Papua tidak berani mengibarkan bendera pemberontak lagi. Mungkin saja Eyang Subur bisa bikin Nuklir. Mungkin saja Eyang Subur bisa bikin pesawat terbang ulang-alik ruang angkasa. Mungkin saja Eyang Subur mahluk Alien dari planet Mars. Mungkin saja Eyang Subur free Masonry, mungkin saja Eyang Subur yang nyantet Magaret Thatcher, Iron Lady yang belum lama ini mati. Mungkin saja Eyang Subur Dajjal yang ditunggu-tunggu karena dunia mau kiamat. Mungkin saja Eyang Subur begini, begitu.

Atau mungkin saja Eyang Subur jadi calon presiden RI tahun 2014. Ya…mungkin saja…kan?. Mungkin saja toh? Karena tidak ada yang tidak mungkin di negeri dongeng.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: