
.
“Kamu tau gak, apa yang lagi saya pikirin; Jak?” tanya Jakarta sembari duduk ngangkang di pelataran singgasana langit Djawa Dwipa. Saya diem tanda tak tahu. Ia nunduk. Lalu nenggak ke sudut atas cakrawala. Pupilnya yang burem alirkan titik terjauh. Kumpul asap putih rasa cerutu Fidel Castro ngegelontor muram dari liang hidungnya yang tiga biji. Saya pun kibas-kibas, sebab pengap.
“Saya lelah Jak. Pengen tidur. Memanunggal bersama taman eden bertabur yakut dan mutiara. Tapaki labirin penuh belukar asmara dan ngimpi basah dinina bobokan garba bidadari surga berketiak cinta” lirihnya tembangkan murung kerinduan yang ngawang-ngawang. Jakarta galau.
Saya manggut-manggut. Sebagai abdi dalem dengan tingkat kasta yang paling bontot, saya memang kudu dipaksa selalu ngerti apa yang jadi keinginan Bos. Dan kini, Jakarta tengah dirundung nestapa. Gundah gulana lantaran pengen tengkurep di kasur yang empuk dengan semua embel-embel dan tetek bengeknya.
“Apa kamu bilang?” tanya Jakarta matanya lekat menatap saya. Sepertinya ia tahu apa yang tengah saya pikirkan.
“Mmm. Iya Bos. Saya ngerti banget itu” Saya coba timpali. “Kita memang kudu tidur. Tidur adalah sajadah peribadatan terselubung. Ada kumandang siulet Tuhan yang berputar di sana. Dan itu bisa jelas terdengar memeluk ruang kolbu terdalam. Jauh dari propaganda mesum yang selalu jilati dubur dan kemaluan demokrasi. Jauh dari deret sesat radikalisme yang mengaborsi distorsi ideologi. Jauh dari orbit diktator politis birokratis yang mengebiri merah darah anak negeri dengan manifestasi kapitalisme atheis. Juga jauh dari lembar moral rohani yang terstruktural zaman revolusi dajjal” tutur saya panjang lebar sampe nafas saya kembang-kempis.
Jakarta tepuk tangan. Ia terkekeh-kekeh dengar ocehan saya. Tawa ningrat khas gegeden yang mulia dan dipertuan agung itu, khusus dipunyai oleh sifat kodrati jagad Jakarta.
“…Sontoloyo” Ia pun sruput teh manis dalam cangkir emas yang diukir sisa tangis kerontang papua.
Bibir pucat raksasanya sunggang-sungging bahagia. Ia seka dahi peradaban yang berkeringat bau matahari pucat dengan celemek gombel penuh potret paradoksal pusaran statistik angka-angka kemiskinan. “Miskin adalah citra buruk dunia” ujar Thomas Robert Maltus. Namun di sini, miskin adalah urat nadi bangsa. Saya diam.
“Tumben ente sok bijak gitu Jak” ucap Jakarta kemudian. Saya senyum simpul semar mesem. Ia usap-usap kepala saya. Rasanya senang sekali. Maklum, setelah sekian lama saya jadi Babu, baru kali ini Bos muji saya.
“Hehe. Lagi jamnya pinter Bos. Tapi bisakah Bos tidur sementara 238 juta jiwa terjaga dalam tatap culas sang penguasa?” jawab saya sekaligus nanya. Jakarta senyum, tangannya mengelap sayang lahan komersil kapitalistik hasil alih fungsi arogansi sejarah yang suram.
“Akulah sang penguasa itu Jak. Aku ini arif. Bijaksana. Aku ini lambang adiluhung gemah ripah loh jinawi. Bukankah jika aku tertidur lalu bahagia, mereka juga akan terlelap dengan damainya” ucap Jakarta yang mulai merenkarnasi dialektika egoisnya. “Aku ingin bidadari surga berketiak cinta Jak”
Bidadari surga? Tentu saja ia mahluk Gusti yang paling seksi. Tapi rasionalkah jika pengalokasiannya juga ditujukan untuk Jakarta. Yang kadang tak sungkan obrak-abrik doktrin luhur transedental bangsa. Dan sekali lagi, Jakarta sepertinya tahu apa yang tengah saya pikirkan. Ia kembali terkekeh-kekeh. Sruput lagi teh manis yang sudah dingin.
“Aku seperti ini, karena aku berdiri di tengah mesin-mesin pertentangan kelas di atas rekontruksi luka-luka bangsa yang kelam. Kaum kaya dan miskin. Buruh dan pengusaha. Budak dan tuan besar. Lalu…”
“…Tidak” potong saya. “Bukan anda. Tapi saya. Kami. Rakyat. Anda tidak berdiri di sana. Tapi kami” Saya mulai protes. Berontak oleh sebab otoritas keyakinan dan kebenaran yang dikamuflasekan.
Jakarta berdiri. Ia mendengus kesal. Ia lempari muka saya dengan buku tebal punya Karl Marx. Lenin. Aristoteles. Brak! Dasar keledai yang memikul buku-buku. Ia hanya bisa membaca tanpa mengetahui makna yang ada di dalamnya. Jakarta mulai meledak-ledak, asap kembali gelontor kini lebih banyak dari liang hidungnya yang tiga biji. Pekat.
“Ya. Seperti itulah sistim tiga liangmu Bos. Kotor”
“Sialan. Kau penghianat Jak” umpatnya keras menuding. Inilah langit gangster Indonesia makin kacau balau. Mabuk sempoyongan dan nyenggeseng sana-sini. Begawan Dorna dan Rahwana terbahak-bahak menonton sembari mengulum botol alkohol.
Ya. Indonesia terkapar di atap pertentangan kelas. Itulah yang banyak dilansir tokoh-tokoh revolusioner. Kesenjangan yang membuat sekat kasta antara manusia disebabkan oleh sistem institusi yang sinting. Eksekutif yudikatif legislatif yang awung-awung. Matanya buta. Telinganya tuli. Mulutnya bisu. Maling yang bersanding dengan pemimpin. Agama jadi topeng makar kroni-kroni berjas hitam. Dan justitie? Pakar Indonesia dari Nortwestern University AS, Prof. Jeffry Winters menyebutkan, “salah satu kegagalan utama gerakan reformasi 1998 adalah ketidaksiapan sistem hukum yang kuat”. Neracanya adalah kesewenangan. Pedangnya adalah uang. Kitabnya adalah seringai setan. Rakyat pun makin angkat tangan. Tak ada istilah keadilan bagi rakyat. Indonesia makin terluka. Sengsara. Indonesia belumlah merdeka. Ini adalah eksistensialisme duka abadi manusia.
Glek. Glek. Glek. Saya telan lembaran itu dan ngedorongnya dengan segelas jamu kuat. Bah. Kumpul teks barusan jelas lahir dari rahim teori retorika absurditas. Basi. Busuk. Banyak ulat. Karena nyatanya, Indonesia lebih bobrok dari itu.
“Itu sebab dari ulahmu wahai Jakarta. Tapi ingat. Rakyat sekarang tambah pinter. Mampus kau Jakarta. Silahkan jika mau tertidur. Bila perlu selamanya. Kami selalu akan terjaga” Saya mengacungkan jari tengah ke arah mukanya yang coreng moreng.
Jakarta makin parno. Jakarta sewot sekaligus keok. Garuda tak mampu membelanya. Ia malah asyik tertidur di kuncup Monas yang kerlap-kerlip, mungkin nanti bakal membelot. Jakarta mondar-mandir tak karuan. Jadi pesimistis. Ia mengumpat serapah. Ia meludah berdahak nanah. Cuih! Wajahnya kian memerah. Dengusnya melipat angin murka memanjat kolam kelam Indonesia. Lalu keras memukul cermin retak yang sedari tadi ia tatap terus dengan lekat-lekat. Prang!!! Ia memukul sekali lagi. Prang!!!
“Matilah kau Jak…”
* * *
“Apa yang sebenarnya ingin kamu tangkap di sini?” tanya Omboss pemilik satu majalah anak muda ibu kota. Saya mengangkat bahu. “Jaka. Bacalah novel-novel Mira W biar kamu sering-sering jatuh cinta. Bacalah novel-novel Hilman Hariwijaya biar kamu banyak-banyak ketawa”
“Menurutmu? Teori humanisme aneh dari sisi kebinatangan yang kamu buat ini bisa diterima pembaca kita Jak?” tanyanya melolong-lolong.
“Kamu ini aneh Jak” Omboss menggeleng-geleng. Rambut boyband yang gondrong dibelakang jadi goyang-goyang. “Buatlah tulisan seperti cerpenmu SUNGGUH AKU CINTA BANCI ITU Atau puisi seperti Sajak Linglung. Untuk kesekian kalinya, tulisanmu ini bakal nongkrong di tempat sampah. Pembaca tak perlu tulisan-tulisan sok suci seperti ini. Di zaman serba sinting, yang kita butuh cuma ketawa. Inget itu Jaka. K E T A W A” tegasnya.
Brewek. Ia pun merobek lembar tulisan saya. Lalu membuangnya jauh-jauh.
.
pic : google

