

TAK sempat kami berteriak malam itu ketika tiga anggota pasukan dengan nama depan huruf K membawa ayahku dengan paksa. Menarik kedua tangannya dan mendorong dari belakang dengan paksa sebelum mereka melemparkan Ayahku ke belakang truk reo yang membawa mereka ke rumah kami malam itu. Semua masih jelas terlintas dalam benakku. Cara mereka memperlakukan Ayahku begitu binatang! Kalian pikir aku sudah lupa meskipun itu terjadi Sembilan belas tahun yang lalu?!
Ibuku hanya bisa menangis keras sambil menggendong si bungsu. Aku sendiri bersama adik juga ikut terisak melihat Ayah yang tak sempat berkata sepatah kata pun saat salah satu pasukan berinisial K itu menghardik ibu dengan kasar.
“Sudah, masuk ke dalam rumah sekarang! Kalian mau kutembak ya??!!!!”
Beberapa menit kemudian mereka menghilang dengan truk reo kebanggaannya tersebut besama Ayahku dibelakangnya yang dijaga beberapa orang anggota pasukan mereka. Suasana begitu hening. Mencekam. Tak ada suara apa-apa selain jangkrik-jangkrik dari kebun kopi di belakang rumah yang kami tempati. Belum terdengar suara manusia lain selain isak tangis ibu, dan kami berdua; aku dan adik perempuanku. Sementara si bungsu yang masih dalam gendongan ibu hanya menatap kosong. Dia tak mengerti apa-apa saat itu. Binar wajah seorang balita yang ayahnya direnggut paksa sekelompok iblis memancarkan binar yang tak bisa kuterjemahkan seorang anak kelas V (Lima) Sekolah Dasar sepertiku. Sambil menangis tersedu-sedu dengan wajah memerah ibuku masih sempat menenangkan kami.
“Ayah dibawa teman-temannya ke kota. Besok pagi Ayah sudah kembali ke rumah. Sekarang, kita …”
Ibuku tak bisa meneruskan kata-katanya. Hanya isak tangis kudengar semakin keras. Hingga beberapa orang di luar rumah sambil mengetuk pintu berteriak bergantian.
Isakan tangis ibu berhenti sesaat setelah mendengarkan suara ketukan pintu dan teriakan dari ibu-ibu para tetanggaku.
“Tolong buka pintunya….ini kami…”
Tags: K, Bahagia Arbi, Penculikan, Kompasiana

terus keluarkan apa yang ada di dalam isi hati dan kepalamu… ini akan sangat membantu dirimu sayang…
+1
-1
:(( iya kakakku. Terimakasih telah mau menemaniku berdamai dengan diriku sendiri hingga kini. Selalu saya ingat namamu, Mariska Lubis!
+1
-1

Ya Allah…. hiikksss…. turut berduka cita Om :((
+1
-1
Nathalia…dukaku..duka kita semua. terimakasih!
+1
-1

Cerita yang menegangkan sekaligus menyedihkan…. fiksi atau fakta ?……. ![]()
+1
-1

nice story…
dari awal sudah menegangkan…
begini seharusnya awal sebuah cerita sehingga pembaca penasaran…
tapi ngomong-ngomong, tulisan ini enggak diniatkan buat mengingat kembali peristiwa demi peristiwa berdarah di aceh kan? seoga ini hanya menjadi pertanyaan..
ditunggu kelanjutan ceritanya… ![]()
+1
-1
hafidz…makasih ya? ditunggu aja kelanjutannya, utk pertanyaanmu saya hanya bisa tuliskan satu kalimat;
“Konflik yg terjadi di Aceh haram dilupakan!”
itu sahaja. saat ini.
+1
-1

kreeeeeekkkkkk!! kubuka pintu dan dorrrrrrrrrrr……..!!
+1
-1
dor…tembakan cinta dengan rasa yg dalam…membuatku dan kamu mati dalam kenikmatannya. hahahaha
+1
-1

Bang…ceritakan dengan lugas…aku turut bersedih…tapi hanya kamu yg bisa menceritakan semua dg lugas…ku do’akan…
+1
-1

Nice story..tpi endingnya kurang ‘memukul’…keep your pen dancing!
+1
-1
oke..saya akan buat lebih memukul nantinya.
+1
-1

Emang ini dah slesai Biii? rasanya belum deh…masih ada yg membengkak dihatimu…ayo keluarkan teman…u’ll feel better…
+1
-1

jadi bergetar Bang…..
membayangkan jika posisi Ibu ada pada jatahku…
tak bisa dibayangkan apa yg dapat aku lakukan untk anak2 serta suamiku…?
+1
-1
tak ada yg bisa ibu lakukan saat itu anie. selain menangis.
+1
-1
dalam cerita #2 nanti.ceritanya akan lebih menyedihkan..nasib kami…setelah ditinggal ayah!
+1
-1
http://fiksi.kompasiana.com/group/prosa/2010/07/30/pasukan-berinisial-k-merampas-ayahku-2/
terimakasih ya..
+1
-1

wuih ttg fakta yg pernah terjadi…sy terus menyimak tulisan ini…
+1
-1

Jadi teringat penggalan adegan favorite di TV yang selalu diputar malam tanggal 30 september dan wajib ditonton untuk dibikin ringkasan sewaktu sd….
+1
-1
Guest User