Fiksi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Seorang Pria yang senang pada kata Cinta dan sedang belajar menuliskanya dengan indah untuk dibaca semua manusia; para pencinta! Penerjemah untuk Bahasa Inggris dan Italia ini sedang bekerja sebagai Kordinator Program Pada Lembaga Aceh Human Health Foundation (AHHF) di Banda Aceh. Kini aktif bersama para penulis muda Aceh di Forum Penulis Aceh DIWANA.
Pasukan Berinisial K Merampas Ayahku #1
Bahagia Arbi
|  29 Juli 2010  |  09:34
121
40
8 dari 12 Kompasianer menilai Inspiratif.

Ilustrasi Dari Om Google Nih

Ilustrasi Dari Om Google Nih

TAK sempat kami berteriak malam itu ketika tiga anggota pasukan dengan nama depan huruf K membawa ayahku dengan paksa. Menarik kedua tangannya dan mendorong dari belakang dengan paksa sebelum mereka melemparkan Ayahku ke belakang truk reo yang membawa mereka ke rumah kami malam itu. Semua masih jelas terlintas dalam benakku. Cara mereka memperlakukan Ayahku begitu binatang! Kalian pikir aku sudah lupa meskipun itu terjadi Sembilan belas tahun yang lalu?!

Ibuku hanya bisa menangis keras sambil menggendong si bungsu. Aku sendiri bersama adik juga ikut terisak melihat Ayah yang tak sempat berkata sepatah kata pun saat salah satu pasukan berinisial K itu menghardik ibu dengan kasar.

“Sudah, masuk ke dalam rumah sekarang! Kalian mau kutembak ya??!!!!”

Beberapa menit kemudian mereka menghilang dengan truk reo kebanggaannya tersebut besama Ayahku dibelakangnya yang dijaga beberapa orang anggota pasukan mereka. Suasana begitu hening. Mencekam. Tak ada suara apa-apa selain jangkrik-jangkrik dari kebun kopi di belakang rumah yang kami tempati. Belum terdengar suara manusia lain selain isak tangis ibu, dan kami berdua; aku dan adik perempuanku. Sementara si bungsu yang masih dalam gendongan ibu hanya menatap kosong. Dia tak mengerti apa-apa saat itu. Binar wajah seorang balita yang ayahnya direnggut paksa sekelompok iblis memancarkan binar yang tak bisa kuterjemahkan seorang anak kelas V (Lima) Sekolah Dasar sepertiku.  Sambil menangis tersedu-sedu dengan wajah memerah ibuku masih sempat menenangkan kami.

“Ayah dibawa teman-temannya ke kota. Besok pagi Ayah sudah kembali ke rumah. Sekarang, kita …”

Ibuku tak bisa meneruskan kata-katanya. Hanya isak tangis kudengar semakin keras. Hingga beberapa orang di luar rumah sambil mengetuk pintu berteriak bergantian.

Isakan tangis ibu berhenti sesaat setelah mendengarkan suara ketukan pintu dan teriakan dari ibu-ibu para tetanggaku.

“Tolong buka pintunya….ini kami…”


Tags: K, Bahagia Arbi, Penculikan, Kompasiana

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
29 Juli 2010 09:35
0

dibelangnya :arrow: dibelakangnya ya bang :P

29 Juli 2010 | 09:41
0

hiks, sedih… :cry:

29 Juli 2010 | 09:43
0

makasih ami, sudah abg edit. hehe

31 Juli 2010 | 01:37
0

lalu lalu ……………. ke tkp 2.. :)

29 Juli 2010 09:41 via Mobile Web
0

Dorrr tiarapp…

29 Juli 2010 | 09:44
0

ada granat jengkol tuh bud..hahaha

29 Juli 2010 09:44
0

terus keluarkan apa yang ada di dalam isi hati dan kepalamu… ini akan sangat membantu dirimu sayang…

29 Juli 2010 | 09:47
0

:(( iya kakakku. Terimakasih telah mau menemaniku berdamai dengan diriku sendiri hingga kini. Selalu saya ingat namamu, Mariska Lubis!

29 Juli 2010 09:47
0

Ya Allah…. hiikksss…. turut berduka cita Om :((

29 Juli 2010 | 09:49
0

Nathalia…dukaku..duka kita semua. terimakasih!

29 Juli 2010 09:48
0

Cerita yang menegangkan sekaligus menyedihkan…. fiksi atau fakta ?……. ;)

29 Juli 2010 | 09:50
0

fakta yg difiksikan!

29 Juli 2010 | 09:53
0

Duh…. ikut berduka…..

29 Juli 2010 | 10:00
0

terimakasih ya..

29 Juli 2010 10:07
0

nice story…
dari awal sudah menegangkan…
begini seharusnya awal sebuah cerita sehingga pembaca penasaran…

tapi ngomong-ngomong, tulisan ini enggak diniatkan buat mengingat kembali peristiwa demi peristiwa berdarah di aceh kan? seoga ini hanya menjadi pertanyaan..

ditunggu kelanjutan ceritanya… :)

29 Juli 2010 | 10:16
0

hafidz…makasih ya? ditunggu aja kelanjutannya, utk pertanyaanmu saya hanya bisa tuliskan satu kalimat;

“Konflik yg terjadi di Aceh haram dilupakan!”

itu sahaja. saat ini.

29 Juli 2010 10:13
0

kreeeeeekkkkkk!! kubuka pintu dan dorrrrrrrrrrr……..!!

29 Juli 2010 | 10:17
1

dor…tembakan cinta dengan rasa yg dalam…membuatku dan kamu mati dalam kenikmatannya. hahahaha

29 Juli 2010 10:49
0

Bang…ceritakan dengan lugas…aku turut bersedih…tapi hanya kamu yg bisa menceritakan semua dg lugas…ku do’akan…

29 Juli 2010 | 17:00
0

thank u

29 Juli 2010 10:49 via Mobile Web
0

Nice story..tpi endingnya kurang ‘memukul’…keep your pen dancing!

29 Juli 2010 | 17:02
0

oke..saya akan buat lebih memukul nantinya.

29 Juli 2010 11:41
0

Jadi bertanya-tanya inisial K itu…

29 Juli 2010 | 17:03
0

jangan tanya…nanti juga akan tahu.

29 Juli 2010 18:52
0

Emang ini dah slesai Biii? rasanya belum deh…masih ada yg membengkak dihatimu…ayo keluarkan teman…u’ll feel better…

29 Juli 2010 | 21:18
0

belumm….ini masih #1

29 Juli 2010 20:57
0

jadi bergetar Bang…..

membayangkan jika posisi Ibu ada pada jatahku…

tak bisa dibayangkan apa yg dapat aku lakukan untk anak2 serta suamiku…?

29 Juli 2010 | 21:19
0

tak ada yg bisa ibu lakukan saat itu anie. selain menangis.

29 Juli 2010 | 21:22
0

Ya Allah………….jadi ikut sedih…..

29 Juli 2010 | 21:33
0

dalam cerita #2 nanti.ceritanya akan lebih menyedihkan..nasib kami…setelah ditinggal ayah!

29 Juli 2010 | 21:42
0

ikut waiting bang….

29 Juli 2010 | 21:59
0

iya..makasih.

30 Juli 2010 09:45
0

merinding……………………………

30 Juli 2010 14:37
0

i really sad with ur story..be patient!

30 Juli 2010 | 14:56
0

thanks.

31 Juli 2010 14:24
0

wuih ttg fakta yg pernah terjadi…sy terus menyimak tulisan ini…

31 Juli 2010 | 14:41
0

selamat menyimak sari.

2 Agustus 2010 17:14
0

Jadi teringat penggalan adegan favorite di TV yang selalu diputar malam tanggal 30 september dan wajib ditonton untuk dibikin ringkasan sewaktu sd….

2 Agustus 2010 | 18:12
0

persis, malah lebih traumatis jadinya.

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
Kompasiana Muda Blogshop
Copyright 2008 - 2010