

SETELAH seminggu Ayahku diculik suasana dalam keluargaku semakin berbeda. Tak ada lagi suara canda khas untuk si bungsu di pagi hari. Dan aku tak akan pernah mendengarkan lagi wejangan khusus sebelum berangkat ke sekolah yang indah namun bijaksana. Semua kebersamaan kami dirampas pasukan biadab berinisial K itu. Mereka tak pernah berpikir sedikit pun bahwa menghilangkan paksa seorang Ayah dengan anak-anaknya adalah pelanggaran hak asasi yang sangat besar. Negara seharusnya mengajarkan itu kepada setiap aparatnya. Jangan bisanya hanya membunuh, merampok, menculik dan memperkosa hak-hak masyarakat sipil seperti kami.
*****
Kini, usia penculikan Ayahku hampir melewati angka dua puluh. Kami semua telah lewati begitu banyak penderitaan lengkap dengan kegetiran-kegetirannya selama itu. Hanya aku, ibu, dan dua adikku yang sangat tahu bagaimana kami mampu lewati semua itu.
Perih? Tentu, bahkan aku tak bisa gambarkan bagaimana keperihan hidup yang diakibatkan oleh kejadian yang menimpa Ayah kami.
Jika kalian bertanya padaku sekarang, apakah kamu dendam pada pasukan berinisial K itu? Aku tak perlu dendam pada siapapun. Untuk apa aku dendam pada mereka? Bukankah jika Ayahku memang telah mereka siksa dan meninggal dunia saat itu arwahnya tidak akan pernah tenang jika salah satu dari kami menyimpan dendam. Bahkan, ibuku selalu katakan bahwa Ayah sudah tenang disisi-Nya. Tak perlu kalian tuntut siapapun di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.
Aku sedih jika ingat kerja keras Ibu yang begitu sabar bekerja menjadi tukang cuci tetangga untuk memenuhi kehidupan kami bertiga. Sedang aku ikut membantu dengan bekerja setengah hari setelah jam sekolah usai sebagai penjual jagung bakar di pinggir jalan. Semua kulakukan sebagai bentuk dedikasi terhada Ibu dan dua adikku yang masih kecil saat itu.
Aku tak mau Ibuku sedih dan aku mencoba menghiburnya setiap hari.
“Ibu, aku tak mau membuatmu terus menangisi kepergian Ayah. Jangan menangis lagi ibu, karena aku selalu ada disisimu setiap saat membantumu keluar dari masalah ini.”

Baguss baget Vii, tp blom tuntas yaa???kamu jago klo buikin org penasaran dan sedikit jengkel…hehehee
+1
-1
om jay, udah lumayan panjang om, mohon dilanjutin bacanya.
+1
-1

udh ke-3…wah jadi ge ketinggalan lagi..gila baru off 2 hari aja udh kelewatan gw….
+1
-1

ini tentu kisah nyata kan, bung bahagia arbi.
sedih ya. banyak orang senasib dnegan bung di negeri yang katanya memegang prinsip panca sila
+1
-1

mmhmhmhmhhm so sad be continue y bang
ditungu y
+1
-1

Sabar.sabar..and sabar…….pengalaman keluargaku nggak jauh beda juga..
+1
-1
Guest User