Fiksi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Seorang Pria yang senang pada kata Cinta dan sedang belajar menuliskanya dengan indah untuk dibaca semua manusia; para pencinta! Penerjemah untuk Bahasa Inggris dan Italia ini sedang bekerja sebagai Kordinator Program Pada Lembaga Aceh Human Health Foundation (AHHF) di Banda Aceh. Kini aktif bersama para penulis muda Aceh di Forum Penulis Aceh DIWANA.
Pasukan Berinisial K Merampas Ayahku #3
Bahagia Arbi
|  31 Juli 2010  |  14:09
53
27
5 dari 7 Kompasianer menilai Inspiratif.

Ilustrasi Dari Om Google Nih

Ilustrasi Dari Om Google Nih

SETELAH seminggu Ayahku diculik suasana dalam keluargaku semakin berbeda. Tak ada lagi suara canda khas untuk si bungsu di pagi hari. Dan aku tak akan pernah mendengarkan lagi wejangan khusus sebelum berangkat ke sekolah yang indah namun bijaksana. Semua kebersamaan kami dirampas pasukan biadab berinisial K itu. Mereka tak pernah berpikir sedikit pun bahwa menghilangkan paksa seorang Ayah dengan anak-anaknya adalah pelanggaran hak asasi yang sangat besar. Negara seharusnya mengajarkan itu kepada setiap aparatnya. Jangan bisanya hanya membunuh, merampok, menculik dan memperkosa hak-hak masyarakat sipil seperti kami.

*****

Kini, usia penculikan Ayahku hampir melewati angka dua puluh. Kami semua telah lewati begitu banyak penderitaan lengkap dengan kegetiran-kegetirannya selama itu. Hanya aku, ibu, dan dua adikku yang sangat tahu bagaimana kami mampu lewati semua itu.

Perih? Tentu, bahkan aku tak bisa  gambarkan bagaimana keperihan hidup yang diakibatkan oleh kejadian yang menimpa Ayah kami.

Jika kalian bertanya padaku sekarang, apakah kamu dendam pada pasukan berinisial K itu? Aku tak perlu dendam pada siapapun. Untuk apa aku dendam pada mereka? Bukankah jika Ayahku memang telah mereka siksa dan meninggal dunia saat itu arwahnya tidak akan pernah tenang jika salah satu dari kami menyimpan dendam. Bahkan, ibuku selalu katakan bahwa Ayah sudah tenang disisi-Nya. Tak perlu kalian tuntut siapapun di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Aku sedih jika ingat kerja keras Ibu yang begitu sabar bekerja menjadi tukang cuci tetangga untuk memenuhi kehidupan kami bertiga. Sedang aku ikut membantu dengan bekerja setengah hari setelah jam sekolah usai sebagai penjual jagung bakar di pinggir jalan. Semua kulakukan sebagai bentuk dedikasi terhada Ibu dan dua adikku yang masih kecil saat itu.

Aku tak mau Ibuku sedih dan aku mencoba menghiburnya setiap hari.

“Ibu, aku tak mau membuatmu terus menangisi kepergian Ayah. Jangan menangis lagi ibu, karena aku selalu ada disisimu setiap saat membantumu keluar dari masalah ini.”


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
31 Juli 2010 14:11
1

huahahahahahhahah….
nomer siijjjiii………………

31 Juli 2010 | 15:02
0

iya mas..dah lanjut tuh..

31 Juli 2010 14:15
0

Baguss baget Vii, tp blom tuntas yaa???kamu jago klo buikin org penasaran dan sedikit jengkel…hehehee

31 Juli 2010 | 15:03
0

hai…udah byk tuh,,thanks

31 Juli 2010 14:17
0

kok dikit amat mas, hehehehe

salam
Omjay

31 Juli 2010 | 15:03
0

om jay, udah lumayan panjang om, mohon dilanjutin bacanya.

31 Juli 2010 14:19
0

udh ke-3…wah jadi ge ketinggalan lagi..gila baru off 2 hari aja udh kelewatan gw….

31 Juli 2010 | 15:03
0

sari…dah selesai nomor 3…dibaca ya?

31 Juli 2010 14:27
0

trus???trus???

31 Juli 2010 | 15:04
0

iya sudah…dibaca yaa…jimmy..hehe

31 Juli 2010 | 15:04
0

iya sudah…dibaca yaa…jimmy..hehe

31 Juli 2010 14:41
0

Lanjuuttttt… makin penasaran nih……..

31 Juli 2010 | 15:04
0

mom..udah tuh…dah sy lanjutin.

31 Juli 2010 14:45
0

dikit amat bang….

lanjut……always waiting…..

31 Juli 2010 | 15:05
0

sudah anie. dibaca ya..thanks.

31 Juli 2010 15:08
0

ini tentu kisah nyata kan, bung bahagia arbi.
sedih ya. banyak orang senasib dnegan bung di negeri yang katanya memegang prinsip panca sila

31 Juli 2010 | 15:11
0

benar!

31 Juli 2010 15:09
0

ini beneran gak pak??

31 Juli 2010 | 15:12
0

ini kisah nyata.

31 Juli 2010 15:57
0

jadi sedih bacanya ….ada sambungannya kah ?

31 Juli 2010 | 17:19
0

ada…

31 Juli 2010 18:00
0

mmhmhmhmhhm so sad be continue y bang

ditungu y

31 Juli 2010 | 18:44
0

iya..thanks

31 Juli 2010 20:56
0

Sabar.sabar..and sabar…….pengalaman keluargaku nggak jauh beda juga..

1 Agustus 2010 | 09:25
0

iya satrin….makasih.

2 Agustus 2010 17:20
0

ayahmu… akh… turut bersedih bung,..

2 Agustus 2010 | 17:30
0

iya..mks.

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
Kompasiana Muda Blogshop
Copyright 2008 - 2010