

MALAM Lebaran selalu saja meriah dimana-mana. Gema takbir menjelang hari kemenangan yang fitri dinantikan semua muslim di seantero jagad raya. Itu bentuk ekpresi alami setelah sebulan lamanya larut dalam perburuan meraih jiwa yang kembali bersih dan suci.
Namun, bagi kami setiap malam lebaran tiba selalu saja bagaikan melihat cahaya bulan yang enggan bersinar diatas kuburan. Sedangkan Anak-anak lain gembira dan sumringah karena esok pagi akan memakai baju baru dengan jajajan yang tentunya lima kali lipat dari hari biasa.
Aku masih ingat bagaimama ibuku menangis sedih setiap si bungsu bertanya tentang baju baru untuk dipakai di pagi lebaran seperti teman-temannya di desa kami. Dan aku hanya bisa menenangkan mereka saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk beli baju baru, makanan untuk sahur dan berbuka puasa saja sering tak ada.
Memilikukan bila mengingat semua derita itu. Belum lagi bila kuingat saat-saat setelah Shalat Idul Fitri usai. Orang-orang berziarah ke makam orang tuanya, atau berdoa di makam keluarga dekatnya. Sedangkan kami, kemana harus berziarah? Dimana makam ayah kami?
Aku dan Ibuku selalu saja tak bisa memberi jawaban atas pertanyaan adiku yang paling kecil.
“Kenapa kita tidak ke kuburan Ayah? Kata ibu Ayah sudah meninggal dunia?”
Kami hanya bisa menangis bersama-sama. Karena hanya itu yang bisa kami lakukan saat itu. Saat dimana kami masih belum dewasa. Masih berusia sekolah.
Dan kini setelah Sembilan belas tahun ayahku pergi. Kami telah tumbuh dewasa dengan keunikan kami masing-masing. Kami bangga bisa melewati masa-masa pahit menjalani kerasnya kehidupan ini bersama-sama. Hanya keyakinan yang membuat kami bisa tegar memenangi pertarungan melawan amarah dan dendam kami pada pasukan berinisial K itu. Pasukan yang telah merampas semua kebahagian masa kecil kami. Pasukan yang telah memisahkan cinta sejati dua manusia. Cinta Ayahku yang besar terhadap seorang wanita paling tegar di dunia; Ibuku!
Ayahku, dimanapun adanya kamu sekarang. Apakah engkau telah menghadap-Nya atau masih ada di suatu tempat entah dimana. Aku hanya ingin katakan padamu bahwa;
“Ibu masih wanita yang dulu, masih mencintaimu sepenuh hatinya dan aku bisa bersumpah bahwa dia tak pernah khianati cintamu. Ibu berhasil mendidik kami dengan semua keringatnya yang begitu kami ingat.”
“Satu-satunya anak perempuanmu sudah hidup bahagia seperti yang pernah kau yakini dulu. Dia telah hidup nyaman bersama suami yang baik dan dua orang cucu lelaki yang jantan seperti kakeknya. Anak perempuanmu baru saja berhasil menyelesaikan thesisnya di Negeri kangguru itu Ayah.”
“Dan kau ingin tahu bagaimana si bungsu? Adik lelakiku itu? Kukatakan padamu dengan jujur dan kuyakin engkau akan sangat gembira mendengarnya. Dia tinggi besar dengan dada berbulu. Dia persis dirimu ayah, wajahnya, hidungnya, dan tentu cara berpikirnya. Aku takut jika dia akan kembali membangun kekuatan memerdekan Acehmu Ayah!”
“Tentu yang paling kau tunggu adalah mengetahui bagaimana kabar anak pertamamu kan? Jangan khawatir ayahku, jangan pernah berpikir aku tak mampu menjalankan amanahmu. Aku sudah menjadi seorang pria yang sangat pria dengan istri keturunan China. Dan sepasang cucumu sangat lucu Ayah. Aku akan selalu menceritakan bagaimana heroiknya kamu kepada anak-anakku dan juga kepada semua keturunan kita”
“Ayah, aku berjanji akan membawa Aceh kembali kedirinya sendiri. Engkau akan lihat itu nanti. Pasti!”
Semoga anggota pasukan berinisial K itu diberi TUHAN kemudahan rejeki berlimpah dan ampunan dosa atas perbuatannya menculik Ayah kami.
TAMAT!
Tags: Malam, Pasukan, Bahagia Arbi, K, Lebaran

cerita dalam perang udah biasa…. lalu kenapa tidak terusin perangnya. acheh merdeka….
+1
-1
iya, ayaku
ayaHku maksudnya kan judulnya itu loh …
+1
-1
hahaha..oke ..thanks yaaa..edit dulu deh kahhahahhaa
+1
-1

Berbahagialah memiliki ibu yang tegar bakaikan karang………..
sukses terus mas Arbi
salam bahagia
+1
-1

Mengharukan..Semoga Allah memberkati kebahagiaan kepada seluruh keluarga yang lama tak bertemu ayah/suami ini..Semoga Allah mengizinkan semua berkumpul di SurgaNya suatu saat nanti..Amiem.
aku akan baca lagi dari awal..tapi kayaknya udah hafal deh kata2nya..Barakallar Arbi..Kebahagiaan untukmu dan keluargamu, amien.
+1
-1

Bukan seperti sosok-sosok orang, kebahagiaan tak akan bisa dirampas jika kita sendiri tak mengizinkannya. Baru mulai di Kompasiana ini, kawan hehe.
+1
-1

Bung Arbi! Terharu biru diriku membaca tulisanmu. Walau kau tulis terburu-buru dan banyak masih fakta kau simpan untuk benakmu tapi salutku untuk ibumu dan untukmu.
Tercekat rasa hati ini bila kuingat bagaimana aku yang katanya minoritas ini mendapat ketidak-adilan dari yang berkuasa, namun kuturut larut dalam pedihmu ternyata kaupun mengalami ketidak-adilan itu juga walau tidaklah sama.
Menghela napas berat melihat bangsa yg kucinta ini. Semoga, ayahanda bung Arbi diterima yang Maha Esa. Dan juga korban-korban penculikan lainnya…
+1
-1
Terimakasih, sy tak sanggup menuliskan byk lagi ttg kenyataanitu…sedih sekali.
Yakinlah….TUhan selalu bersama kita semua, siapapun! keadilan akan ditunjukkan suatu hari saat semua mayoritas2 yg meremehkan kita kaum minoritas ini. tetap semangat yaaa….
+1
-1

Selamat..!
Anda dan keluarga berhasil keluar dari ujian yg sangat2 berat!
Sukses terus kawan…
+1
-1

Bagaimana mungkin saya bilang tulisan Anda bagus? Padahal maksud saya adalah susunan dan alur ceritanya yang memudahkan pembaca stick to it till the end. Maka saya bilang cerita anda bagus, dari sudut pandang saya guru bahasa, namun tidak bermaksud senang dan mengurangi rasa prihatin saya, hanya, cerita anda sangat menyedihkan, dan beyond me. Saya hampir tidak percaya hal ini terjadi di sini di negara saya. Sukses selalu.
+1
-1

AMas Arbi..semoga seluruh keluarga Mas Arbi dilimpahi rezeki, kebahagiaan, ketenangan, knikmatan yg berlimpah oleh Allah SWT. Maaf lahir bathin..aku selalu sesak dada membaca ini..semoga tak menumpa siapapun lagi…Amien..
+1
-1
Guest User