BAB 6 : SPY
Sejak aksinya pada pertempuran kemarin, karier militer Rain di God’s Shells mulai masuk perhitungan. Tiap kali ada rapat strategi, Rain selalu dilibatkan, bersama Cloud dan beberapa tentara hebat lainnya.
Hal itu membuat Lunar makin iri pada Rain. Di tambah lagi, makin lama hubungannya dengan Cloud semakin dekat. Hampir setiap hari Lunar mendapati mereka sedang berdua-duaan, entah itu saat latihan atau bercanda sambil menikmati makan siang.
Lunar mulai menyusun rencana untuk menjatuhkan karier militer Rain. Dibantu oleh seorang sahabat dekatnya, Lunar makin melancarkan aksinya untuk menyebar fitnah. Pada setiap penghuni markas, baik itu yang mereka kenal ataupun tidak, mereka berdua selalu mengatakan bahwa Rain merupakan spy di markas mereka.
“Kalau memang dia seorang spy, kenapa pada pertempuran kemarin dia berjuang mati-matian untuk kingdomkita?” Banyak tentara yang meragukan ucapan Lunar.
“Ini merupakan strateginya biar ga dicurigai oleh kalian dan pihak kingdom. Nanti setelah kalian semua lengah, dia akan segera melancarkan aksinya. Lihat aja, pada pertempuran selanjutnya, tim kita pasti kalah.” Lunar terus meyakinkan.
Ga cukup menyebar fitnah di markas saja, Lunar pun memberanikan diri untuk menghadapi petinggi kingdom. Dia menyampaikan hal yang sama pada pihak kingdom.
“Apa laporanmu bisa dipercaya?” Tanya juru bicara kingdom.
“Aku yakin sekali, Sir. Pada pertempuran yang pertama, aku melihat dia tak begitu bersemangat untuk mengangkat senjatanya.”
“Tapi pada pertempuran terakhir, dia terlihat begitu antusias.” Balas juru bicara kingdom cepat.
“Itu hanya taktiknya saja.”
“Sudahlah, Miss. Selama aku belum menemukan bukti-bukti yang jelas, so sorry, kami tidak bisa percaya begitu saja pada laporanmu.” Ucap juru bicara kingdom.
Lunar kembali ke markas dengan kecewa. Berarti aku harus bisa menghadirkan bukti biar seluruh warga kingdompercaya dengan apa yang aku katakan, gumam Lunar. Dia kembali meminta pendapat sahabatnya untuk menyusun rencana, mencari bukti palsu yang dapat menjatuhkan Lunar.
Akhirnya mereka sepakat dengan ide yang disampaikan sahabat Lunar. Mereka berdua segera mengambil kertas dan mulai menuliskan apa yang tadi mereka bicarakan.
“Besok aku akan memberikan ini pada juru bicara kingdom.” Sahut sahabat Lunar.
“Yups, kalau aku yang memberikannya, mereka pasti curiga, karena aku sudah menghadap mereka.” Balas Lunar senang.
***
“Kurang ajar sekali sniper itu. Ternyata dugaan kalian benar. Sniper itu benar-benar seorang spy di markas kita.” Pihak kingdom marah besar ketika menerima bukti yang diberikan sahabat dekat Lunar.
Pihak kingdom segera menginstruksikan pemanggilan Rain. Lunar dan sahabatnya tersenyum puas. Mereka berhasil menipu semua orang yang berada di markas, termasuk para petinggi kingdom.
Rain sedang mengikuti latihan memanah bersama pasukan lainnya. Kedatangan beberapa pihak kingdommembuat latihan dihentikan sementara. Juru bicara kingdom angkat bicara di depan para pasukan.
“Maaf, kedatangan kami ke sini untuk melakukan pemeriksaan pada salah seorang dari kalian.”
Seluruh pasukan sibuk bertanya-tanya. Mereka semua paham, bila ada pihak kingdom melakukan pemanggilan mendadak, tanpa melalui head-captain, itu artinya ada masalah serius. Biasanya berkaitan dengan kinerja mereka sebagai tim soldiers atau medical.
“Satu lagi, tak seperti biasanya. Pada pemanggilan ini kami akan melakukan sidang terbuka. Seseorang yang nantinya menjadi target, akan kami sidang sekarang juga dihadapan kalian.” Lanjut juru bicara kingdom.
Penjelasan yang makin membuat nyali para tentara menciut. Dalam hati mereka semua berdoa biar bukan nama mereka yang keluar dari mulut juru bicara kingdom.
“Rain Sceichafair..!!” Ucap juru bicara kingdom lantang.
Rain begitu terkejut ketika mendengar nama yang di sebut adalah dirinya. Perlahan dia melangkah maju ke barisan depan, berdiri di samping juru bicara kingdom dan rekan-rekannya.
“Silahkan kamu baca ini dengan lantang, agar seluruh pasukan dapat mendengar.” Ucap juru bicara kingdomsambil memberikan selembar kertas berwarna kecoklatan.
Dengan tangannya yang bergetar, Rain membuka kertas tersebut dan membacanya,
To : all soldiers in Nobody’s Kingdom / From : Rain Schechafair
Remember! Next month God’s Shells gonna attack yours. Please prepare for it!
Air mata Rain tumpah ketika selesai membacakan surat tersebut. Seluruh mata memandang Rain geram. Tak lama kemudian petinggi kingdom segera membawa Rain menuju sebuah ruang pertemuan.
Dari tempatnya berdiri, Cloud menatap Rain dengan pandangan iba. Tak seperti rekan-rekannya yang lain, Cloud sangat tidak percaya dengan apa yang dilakukan Rain. Ini pasti ada seseorang yang ingin menebar fitnah. Aku harus mencari tau siapa pelakunya, Ucap Cloud geram.
Pihak kingdom membawa Rain ke sebuah gedung yang tak jauh dari markas. Mata birunya kembali mengeluarkan air mata ketika dia membaca tulisan besar yang terpampang di atas gedung tua tersebut, JAIL.
“Sungguh bukan aku pelakunya. Aku berani bersumpah demi ayah-ibuku.” Teriak Rain ketika mereka memasukkannya ke dalam gedung tersebut.
“Sayangnya kami sudah mempunyai bukti yang kuat. Silahkan kumpulkan bukti-bukti kalau memang kamu yakin bukan kamu pelakunya.” Balas pihak kingdom.
Penjara kingdom terletak di bawah tanah yang gelap dan dingin. Rain menangis sejadi-jadinya. Walau tak menuduh sepenuhnya, namun Rain yakin kalau itu merupakan ulah Lunar yang sangat tidak menyukai dirinya. Rain ga menyangka kalau kebencian Lunar padanya membuat Rain harus mendekam di dalam penjara itu. Dalam kepedihan Rain terus berharap akan adanya kebenaran, walau rasanya mustahil.
Jupiter terbangun dari tidurnya. Keringatnya mengucur deras. Jupiter baru aja mendapat mimpi buruk. Dalam mimpinya tersebut, Jupiter melihat Rain sedang berhadapan dengan srigala yang akan memakan habis tubuhnya. Rain berusaha keras untuk melarikan diri dari srigala tersebut, namun sepertinya ga ada jalan.
“Is there something wrong with you, Rain?” Jupiter menyeka keringatnya. Mimpi buruk tersebut membuat dia ga bisa melanjutkan tidurnya kembali. Tangannya menjangkau buku yang terletak di atas meja. Biasanya, tiap kali mendapat intuisi atau sebuah mimpi, Jupiter selalu mencatatnya di buku tersebut. Untuk membuktikan apakah intuisinya kan menjadi kenyataan. Dari semua intuisi yang dia dapat, sebagian besar menjadi kenyataan. Tiap kali membolak-balik tulisannya, Jupiter seakan tak percaya dengan bakat alam yang dia miliki. Thanks God atas keberuntungan yang tak semua orang dapat merasakan ini, ucapnya senang.
***
Cloud tak begitu semangat menyantap makan siangnya saat itu. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya dengan tatapan kosong. Dari kejauhan, Lunar memperhatikan Cloud yang begitu galau.
“Ini saatnya kamu kembali mengambil hati head-captain. Sekarang udah ga ada lagi yang menjadi saingan kamu.” Komentar sahabat Lunar.
“Alright..!!” Balasnya sambil melangkah menghampiri Cloud.
Lunar langsung mengeluarkan senyum genitnya semanis mungkin. Cloud menatapnya sekilas.
“Captain, aku lihat hari ini captain nampak begitu sedih.” Ucapnya.
“Yeah…” Balas Cloud singkat.
“Kita memang sama-sama tak menyangka ya, kalau sniper yang Captain begitu percaya, ternyata memang benar-menang seorang spy. Benar kan seperti yang aku bilang saat itu.”
Cloud hanya terdiam, ga menanggapi ucapan Lunar sama sekali. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana cara mengeluarkan Rain dari dalam penjara.
“Captain, sudah sepantasnya sniper itu dipulangkan kembali ke kingdomnya. Biar…” Lunar terus berkomentar.
Tiba-tiba aja Cloud hilang kendali, “Get out you…!!” Bentaknya yang membuat Lunar lari pontang-panting.
Cloud segera mencampakkan makan siangnya lalu berjalan menuju ruang juru bicara kingdom. Di sana Cloud meminta izin untuk menemui Rain. Awalnya mereka ga menginjinkan, malah menuduh Cloud bekerja sama dengan Rain.
“Saya mohon, Sir. Kalau memang kalian tak berkenan, mohon izinkan aku menemuinya saat ini saja.” Pintanya penuh harap.
Akhirnya mereka pun memberi kesempatan pada Cloud untuk memasuki ruang bawah tanah, dimana Rain berada seorang diri. Kedatangan Cloud bersama sipir penjara sedikit menghibur Rain yang begitu gundah.
“Waktumu hanya sepuluh menit, Captain.” Tegar sipir penjara.
“Ok.” Balas Cloud.
Rain menyandarkan kepalanya pada bahu Cloud sambil menumpahkan seluruh kesedihannya. “Aku pikir kamu sudah tidak ingin menemuiku lagi.” Ucap Rain dalam tangisnya.
Cloud merasakan kepedihan perempuan yang duduk di hadapannya, “Andai saja ada orang yang ingin memfitnah diriku juga, aku pasti akan lebih senang. Biar aku bisa dijebloskan ke dalam penjara ini bersama kamu.”
“Kalau kamu juga berada di sini, nanti siapa yang akan menolong aku keluar?” Tanya Rain sedih.
“Kamu tenang saja, Rain. Di luar sana aku pasti terus mencari info orang yang sudah membuat kamu seperti ini. Sebenarnya, dugaanku mengatakan bahwa semua ini hasil rekayasa…”
“Lunar..!!” Tegar Rain.
“Aku juga menduga seperti itu. Namun kita harus bisa mendapatkan bukti yang kuat.”
Sipir penjara kembali datang. Dengan berat hati Cloud harus meninggalkan ruangan ini. Air matanya mulai menggenang ketika harus berpisah dari Rain.
“One more minute, Sir…” Ucap Cloud pada sipir itu.
Rain mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar pada pundak Cloud. Sebelum berjalan meninggalkan dirinya, Cloud membisikkan sesuatu,
“Rain, ada satu kalimat yang ingin ku katakan sejak pertama kali aku menatap mata biru kamu.”
“What’s it?” Tanya Rain lirih.
“I love you…” Sahutnya sambil melangkah meninggalkan ruangan.
Rain menatap kepergian Cloud dengan derai air mata. Tak sepantasnya kamu mengucapkan kalimat itu padaku, Cloud. Bukankah dari awal kamu tau kalau suatu saat aku pasti kembali ke kingdomku. Apa itu nantinya tak akan menyakiti kamu? Rain terus meratapi nasibnya.
***
Jupiter kembali mendapat mimpi yang sama untuk yang ketiga kalinya. Dia semakin yakin kalau Rain sedang menghadapi masalah. Jupiter mulai berpikir keras, bagaimana caranya dia bisa memperoleh keterangan tentang Rain.
“Yes…” Jupiter pun akhirnya mendapat ide.
Siang ini Jupiter berjalan di depan markas God’s Shells. Matanya terus memperhatikan suasana di dalam markas. Jupiter memang bertubuh lumayan jangkung, jadi dia bisa menatap ke dalam markas yang dibatasi oleh tembok yang cukup tinggi.
Gerak-gerik Jupiter sempat membuat penjaga gerbang curiga, “Hey, look at. Lelaki itu sepertinya dari tadi berada di sana ya?” Ucap salah seorang dari mereka.
“Ah, itu hanya seorang pengemis yang sedang memunguti sampah.” Balas rekannya.
Lunar dan sahabatnya sedang berjalan ke luar markas. Mereka diminta tim doctor untuk mengambil obat-obatan di gudang medical. Melihat ada perempuan yang keluar markas, Jupiter segera menghampiri mereka berdua.
“Excuse me. Perkenalkan, aku merupakan saudara jauh Rain Sceichafair.” Sahut Jupiter hati-hati.
“Oh, I see. Kamu pasti sudah lama tidak bertemu dengan saudara kamu ya.” Cibir Lunar.
“Yups, kabar terakhir yang aku dengar, dia bekerja di markas ini.”
“Yes, you’re right. Tapi sayangnya, sekarang ini dia sedang berada di Kingdom Jail.” Balas Lunar santai.
“What..?? Apa kesalahan yang telah dia perbuat?”
“Hmm, saudaramu itu merupakan mata-mata di kingdom ini. Kami berhasil menemukan barang bukti kalau dia membocorkan strategi pasukan kami pada kingdomnya.”
“Itu bohong. Tak pernah dia melakukan itu pada kami. Ups, I’m sorry. Thank you for the help.” Jupiter berlari meninggalkan Lunar.
Lunar tersenyum masam menatap kepergian Jupiter, “Kau tau tidak, dia itu merupakan mantan pacar Rain sebelum sniper bodoh itu pindah ke pelukan head-captain.” Sahut Lunar.
“Dari mana kamu tau kalau lelaki itu mantan pacarnya Rain?” Tanya sahabatnya.
“Aku pernah menyaksikan Rain menangis ketika dia bertemu dengan lelaki itu saat pertempuran dulu.”
“Oh my God, malang sekali lelaki itu. Sampai rela menyamar jadi pengemis demi mencari tau keberadaan mantan pacarnya.”
Jupiter kembali ke markasnya. Perasaannya begitu hancur ketika mendengar keberadaan Rain sekarang. Lalu apa pembelaan head-captain keparat itu untuk kamu, Rain? Ucap Jupiter geram.
***

