A simple gal // Berbuah-buah sastra instant dari pengagum mie instant //
My 1st novel : D'sayur Asem Resto, Semua Makhluk Tersaji Di Sini, on www.nulisbuku.com
Nomer 1 : ‘SINGLE’ sebuah chicklit yang berkisah tentang empat orang yang memiliki alasan masing-masing mengapa mereka masih tetap single: 1. Anindya Prameswari : pemilik butik yang sangat berhati-hati memilih jodoh.. dia sangat menikmati status single-nya, walau orang-orang ramai menggosipkan statusnya.. 2. Doni Arifiansah : marbot masjid yang ga pede menikah karena penghasilannya cuma 500 ribu 3. Reni Priliyana : cewek dugem mapan yang udah ngebet banget pingin nikah, sayangnya belum ada lelaki yang mau melamar dia.. akhirnya reni mengambil keputusan ekstrim.. 4. Rafki Prasetyo : duda satu anak yang trauma untuk menikah lagi..
Masing-masing dari mereka behubungan satu sama lain..
Nomer 2 : ‘GAMPO’, sebuah roman budaya..
Peristiwa gempa di Pariaman, Sumatera Barat meninggalkan duka sangat dalam bagi orang-tua Salman. Semua itu diawali ketika keadaan ekonomi keluarga yang sulit membuat Ayah Salman (nama masih dipikir) terpaksa harus merantau ke Jakarta, berdagang kaki lima mengikuti seorang temannya. Hubungan jarak jauh membuat Ibu Salman (nama masih dipikir) harus bersabar menghadapi semua gunjingan orang akan rumah tangganya. Salman, bocah SD yang ditinggal ayahnya sejak umur satu tahun sangat ingin bertemu dengan Ayahnya.
“Bilo ayah pulang, Mak? Tak rindu Ayah dengan Salman?” Pertanyaan yang mungkin sudah ribuan kali Salman ungkapkan pada sang Ibu.
Di rantau, ayah Salman berusaha keras mengumpulkan uang agar dapat mengunjungi kampung, seperti permintaan yang dilontarkan Ibu Salman, “Pulanglah walau hanya sehari. Salman nak menemui Ayahnyo.”
Betapa gembiranya Salman ketika mengetahui bahwa ayahnya nanti malam kan datang. Sayangnya, Pariaman terkena gempa hebat di sore hari. Salman yang sedang tertidur di rumahnya sendirian, tak dapat tertolong. Ketika Ibunya berlari pulang, Salman sudah meninggal terkena runtuhan rumah.
Nomer 3 : Jantung Hati, Sebuah Roman (Diangkat dari kisah nyata)
“Aku mencintaimu, seperti aku mencintai kematian yang sepertinya sudah di depan mataku.” Ucap suamiku ketika dia mengungkapkan perasaannya padaku.
Tak ada yang mampu memisahkan cinta, kecuali kematian, dan kematian tak dapat mematikan cinta. Kesabaran dan perjuangan cinta seorang perempuan, seorang istri, dan seorang ibu dalam menghadapi penyakit yang diderita suaminya..