BAB 1 : ANINDYA PRAMESWARI
“Ayo sayang, buruan dihabiskan sarapannya,” ucapku sambil mengoleskan dua lembar roti tawar dengan selai coklat, untuk bekal Alif di sekolah.
“Nanti dede Kayla ikut ke sekolah aku lagi gak, Bun?” Tanya Alif sambil menghabiskan susu coklatnya yang tinggal setengah.
“Pasti dong. Dede Kayla kan mau lihat sekolahnya kakak Alif yang ganteng ini.”
Matanya selalu berbinar tiap kali aku memujinya. Di ruang depan, Ayahnya anak-anak sedang menyaksikan berita pagi sambil memangku Kayla. Selesai mengurus keperluan sekolahnya Alif, aku mengambil alih untuk menggendong Kayla, lalu kami sama-sama berjalan menuju garasi.
Sebelum berangkat, Alif tak pernah lupa untuk mencium Kayla. “Dadah Kayla. Kakak Alif mau sekolah dulu. Kamu jangan nakal ya. Nanti kalau kakak Alif udah pulang kita main lagi.”
Kayla terlonjak girang tiap kali didekati kakaknya. Selanjutnya gantian dia mencium tanganku, yang ku balas dengan mencium pipinya. Kami pun saling melambaikan tangan, melepas Alif dan Ayah menuju aktifitasnya masing-masing. Aku kembali masuk ke dalam rumah, meletakkan Kayla di atas kasur dan mengajaknya bermain sebentar, sebelum ku tinggal bersama pengasuhnya. Pagi yang penuh kehangatan.
“Mam.. mam.. mmm…,” sejuknya hati ini tiap kali mendengar ocehan pertama Kayla.
Sambil beres-beres kamar, mataku tertuju pada bingkai foto yang ku pajang di samping ranjang kami. Foto Alif sambil memeluk Kayla. Menatap mata bening mereka yang penuh ekspesi bahagia, tiba-tiba aja aku teringat akan masa kecilku, yang penuh dengan …
Siang itu, ketika umurku hampir lima tahun…
“Lelaki itu siapa, Eyang?” Dari ruang tengah aku melihat Ibu sedang mengobrol dengan seorang lelaki di teras.
“Sst, Ibumu sedang menerima tamu. Kamu jangan ke sana ya,” balas Eyang sambil menyuruhku menghabiskan makan.
“Itu Bapak?” Tanyaku lagi.
“Eh, bukaaan…”
Lalu Eyang melangkah menghampiri mereka berdua. Ketika bertemu Eyang, lelaki itu berdiri dan mencium tangan beliau. Ku lihat Eyang begitu bahagia bertemu dengan lelaki itu. Walau saat itu aku belum paham dengan obrolan mereka, namun dalam ingatanku masih terekam ucapan Eyang saat itu,
“Gimana? Ayu tenan kan si Endang ini. Masih perawan tingting lho. Banyak laki-laki yang sudah ndak sabar ingin melamar dia,” dengan penuh semangat Eyang membanggakan kecantikan Ibu.
Memang, Ibuku memiliki postur tubuh yang tak jauh beda dengan seorang model, tinggi langsing dengan warna kulit sawo matang. Wajahnya yang manis dan pembawaannya yang tenang sangat menunjukkan bahwa beliau seorang perempuan Jawa yang anggun.
“Wah berarti aku harus cepat-cepat ya melamar Endang,” balas lelaki itu sumringah.
“Lah iya. Kalau ndak cepat-cepat, nanti aku akan menerima lamaran lelaki lain.”
“Yo jangan toh, bude. Pokoknya Endang buat aku saja.”
“Yo wes, ta’ tunggu kedatangan orang-tuamu yo.”
Lelaki itu makin memperkeras gelak tawanya. Dia dan Eyang saling melempar gurauan. Entah apa yang mereka bicarakan selanjutnya, aku tak begitu jelas, namun obrolan itu tak lepas dari gelak tawa. Mungkin obrolan itu sangat lucu yang membuat mereka berdua terbahak. Sayangnya Ibu hanya terdiam menatap gelak tawa kedua orang itu.
Tak lama kemudian Ibu masuk ke dalam. Aku pura-pura serius dengan makan siangku.
“Nindy, Ibu pergi dulu ya,” bisik Ibu sambil mengelus rambutku.
“Dengan Om itu?”
Ibu mengangguk pelan.
“Aku boleh ikut?”
Belum sempat Ibu menjawab, Eyang pun datang menghampiri kami, “Ayo cepat beres-beres. Kasihan Risno sudah menunggumu.”
“Aku boleh ngajak Nindy, Bu?” Tanya Ibu pada Eyang.
“Eh, kamu ini gimana sih. Mana ada orang pacaran bawa-bawa anak. Inget ya, nduk. Ibu udah bilang ke Risno kalau kamu itu perawan tingting. Jangan sampai kamu kelepasan ngomong kalau kamu itu sudah menikah dan punya anak. Ngerti kamu?”
“Iya, Bu,” balas Ibu sambil berjalan masuk kamar.
Pacaran? Saat itu pikiranku tertuju pada film-film yang biasa aku tonton bersama bulek Lastri, adik Ibuku.
“Mereka lagi ngapain sih, bulek?” Tanyaku di suatu malam ketika kami sedang bersama-sama menyaksikan seorang lelaki dan perempuan muda jalan-jalan berdua di taman.
“Pacaran!” Jawab bulek singkat.
Aku menatap pintu kamar kami yang masih tertutup. Lima menit kemudian Ibu keluar kamar lalu berpamitan pada Eyang.
“Aku ikut ya, Bu,” pintaku sekali lagi.
Ucapanku dijawab dengan pelototan mata Eyang yang membuatku tak berani bicara lagi. Eyang lalu menarik lengan Ibu dan mereka sama-sama berjalan keluar. Lelaki itu berpamitan pada Eyang dan menyalakan mobilnya. Aku menyaksikan kepergian Ibu bersama lelaki itu. Tak henti-hentinya orang itu tertawa, sedangkan Ibu ku lihat acuh tak acuh.
“Gak usah nangis, cepat habisin makannya!” Bentak Eyang ketika melihat air mataku perlahan turun karena ditinggal Ibu.
Ku hapus air mataku sambil menghabiskan makan siangku. Pikiranku terus tertuju pada kata ‘pacaran’ yang tadi diucapkan Eyang. Kok Ibu pacaran? Saat itu yang ada dalam pikiranku, pacaran hanya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan muda saja, seperti yang aku sering lihat di tivi.
Kesedihanku berakhir ketika bulek Lastri pulang dari sekolahnya. Di rumah itu hanya ada dua orang yang baik padaku, Ibuku sendiri dan bulek Lastri. Biasanya tiap pulang sekolah, bulek Lastri membawakan aku ‘oleh-oleh’ yang biasa dia beli di jalan. Walau Eyang sering marah, namun bulek tak pernah bosan memberikan aku oleh-oleh.
“Kalau punya duit lebih itu mbok ya ditabung, jangan dihabis-habisin,” begitu kata Eyang tiap kali melihat bulek memberikan sesuatu untukku.
“Cuma gorengan aja kok, Bu,” balas bulek sambil mengajakku masuk ke kamarnya.
“Nanti Nindy ga mau makan nasi kalo kebanyakan jajan.”
Bulek segera menutup pintu dan menyalakan radio keras-keras. Begitu cara beliau untuk mengusir suara nyinyir Eyang.
“Kamu abis nangis ya. Emang Ibu kamu kemana?” Bulek meledekku.
Aku tersenyum sambil menikmati tahu goreng yang bulek beli di depan sekolahnya, “Ibu pacaran!”
“Hah??? Kok kamu tau-tauan?”
“Kata Eyang begitu!”
“Oh!”
“Om yang pergi sama Ibu itu bapakku bukan sih?” Tanyaku sambil mengelap minyak di tanganku.
“Bulek aja belum lihat orangnya gimana. Emangnya kamu gak tanya sama Ibu kamu?”
“Kata Eyang bukan.”
“Ya udah berarti bukan.”
“Berarti bapakku siapa dong?”
Ku lihat bulek menarik napas panjang. Beliau mengelus kepalaku pelan dan berusaha menghiburku, “Kan bulek udah sering bilang. Kamu gak usah pikirin siapa bapakmu. Kan di rumah ini ada dua paklek kamu. Anggep aja dia bapakmu. Sama aja kan.”
“Tapi paklek kan galak! Aku maunya bapak yang baik. Kan Ibu aku baik.”
Lalu bulek mengeluarkan permainan ular tangga dan mengajakku main. Begini cara beliau agar aku melupakan pertanyaanku barusan. Dalam aturan yang kami sepakati, biasanya siapa yang menang akan memberi pertanyaan pada yang kalah. Kalau jawabannya gak berhasil tertebak, berarti dia harus menerima hukuman selanjutnya.
“Hore aku yang menang,” teriakku girang.
Bulek pun siap untuk menjawab pertanyaan yang aku berikan, “Ayo tebak, perawan tingting itu apa?”
Ku lihat bulek tekejut dengan pertanyaanku, “Nindy denger darimana kata-kata itu?”
“Kan tadi Eyang bilang sama Om itu, katanya Ibu masih perawan tingting. Maksudnya apa sih bulek?”
“Nindy, kan bulek udah sering bilang, jangan suka menguping obrolan orang dewasa.”
“Hehe, aku lupa. Trus apa dong artinya?”
Bulek kembali mengelus kepalaku, “Sayang, bulek ga tau jawabannya. Pertanyaan kamu susah banget sih. Bulek milih dihukum kamu aja deh.”
Aku tersenyum puas dan begitu bangga ketika bulek tak mampu menjawab pertanyaan yang aku berikan. Akhirnya aku memberikan ‘hukuman’ dengan meminta bulek membacakan sebuah cerita dongeng. Aku pun tertidur pulas di kamar beliau.
“Maaf, Bu Nindy. Dede Kayla dari tadi menangis,” ucap pengasuh Kayla yang membuatku tersentak dari lamunan panjangku.
Aku menghapus air mata yang tak terasa mengalir. Sudah jam sepuluh lewat, saatnya menjemput Alif. Ku berikan Kayla agar digendong pengasuhnya. Aku mengeluarkan mobil dan kami siap melaju menuju sekolah Alif.
Siang itu, tiga puluh tahun yang lalu.. Aku tak pernah lupa dengan siang itu…
***

