Prizella Kinderganten, sekolah dimana Alif sedang menempuh pendidikan pertamanya, tak begitu jauh dari rumah. Tak sampai setengah jam kami sudah tiba di sana. Kami berjalan menuju kelas ‘Kinderganten A – Rose’. Ku intip dari balik kaca, salah seorang teman Alif sedang memimpin doa pulang. Satu persatu anak-anak mulai keluar kelas.
Seperti biasa, dengan matanya yang berbinar Alif selalu mengatakan, “Bu guru, ini dede Kayla. Nanti kalau dede Kayla udah bisa jalan, sekolahnya di sini,”
Aku dan Ibu guru Alif saling tengok-tengokan. Ucapan yang selalu Alif ucapkan pada Ibu gurunya sejak Kayla mulai aku ajak ke sekolah ini.
“Ga apa-apa, Bu. Alif juga sering kok cerita tentang adiknya sama saya. Kelihatannya Alif sayang sekali ya dengan adiknya,” balas Ibu guru Alif.
“Lebih dari itu, Bu guru. Mari permisi, Bu,” sahutku.
Ku tuntun Alif meninggalkan sekolahnya.
“Nanti dede Kayla sekolahnya di sini kan, Bun,” ulangnya.
“Pasti dong. Biar pinter juga seperti kakak Alif.”
Menuju perjalanan pulang, Alif selalu menceritakan apa saja yang dia lakukan di sekolahnya.
“Katanya Bu guru aku bacanya belum lancar, Bun,” ucapnya sambil menunjukkan nilai yang tadi dia dapat.
“Oke, nanti malam kita belajar sama-sama lagi ya,” balasku sambil melirik buku latihan yang dia tunjukkan.
Sampai juga kami di rumah. Ku peluk anak-anakku sebelum ku titipkan bersama pengasuhnya.
“Kakak Alif pe-er nya dikerjakan dulu ya. Nanti malam Bunda periksa,” ucapku sambil memeluk Alif.
“Oke deh. Dadah Bunda, hati-hati ya,” balasnya sambil mencium tanganku.
Kami saling melambaikan tangan dan aku siap melaju menuju butikku. Di tengah perjalanan aku menengok ke kursi di sebelahku. Wah, buku latihannya Alif ketinggalan. Kalau udah siang begini jalanan sudah mulai macet. Daripada jenuh, aku mengambil buku latihan Alif dan membuka-bukanya. Aku kembali teringat akan moment ketika aku pertama kali mengenal yang namanya pendidikan…
Sejak kedatangannya di siang itu, lelaki itu makin sering mengajak Ibu bepergian. Seperti biasa, bila ditinggal Ibu pergi, bulek Lastri yang menemaniku hingga Ibu pulang. Kadang Ibu pulang hingga malam, hingga aku memilih untuk tidur di kamar bulek Lastri saja. Menemani beliau belajar merupakan kegiatan yang menyenangkan.
“Aku pingin sekolah kayak bulek, biar bisa punya tas dan buku yang banyak,” ucapku.
Bulek tersenyum dan berhenti sebentar dari kegiatan menulisnya, “Kan sebentar lagi Nindy juga mau sekolah.”
“Tapi kalau nanti Nindy sekolah, siapa yang anterin?”
“Ya Ibu kamu dong…”
“Ibu kan pergi terus sama Om itu…,” balasku kesal.
Seperti biasa, tiap kali pembicaraanku menurutnya melenceng, bulek selalu mengalihkan pembicaraan.
“Nindy besok mau dibeliin oleh-oleh apa?”
“Hmm, maunya es krim,” balasku cepat.
“Oke, besok bulek beliin ya. Tapi ada syaratnya ya.”
“Apa?”
“Nindy ga boleh sedih lagi kalau ditinggal Ibu pergi.”
“Iya deh.”
Dua jam aku menemani bulek Lastri belajar, hingga kami pun siap-siap untuk tidur.
“Cuci kaki dulu ya, Nindy,” sahutnya sambil merapikan buku pelajarannya.
Aku mengikuti perintahnya. Ketika aku membuka pintu, tiba-tiba Ibu sudah berdiri di depan pintu kamar.
“Eh, anak Ibu belum tidur nih. Nungguin Ibu pulang ya,” ucap Ibu sambil mengelus kepalaku.
“Engga kok,” balasku meninggalkannya.
Ketika aku kembali ke kamar bulek, ternyata Ibu masih berada di sana.
“Hmm, tidurnya ga bareng Ibu nih?” Tanya Ibu.
“Sama bulek aja.”
“Tapi Ibu pinginnya tidur sama Nindy.”
“Tidur aja sana sama Om itu,” balasku cuek.
“Nindyyy…!!!”
Aku terkejut mendengar bentakan Ibu. Itu pertama kalinya Ibu bersuara keras.
“Udah, mbak…” Bulek Lastri mengajak Ibu untuk keluar kamar.
***
Sejak malam itu juga aku tak pernah lagi tidur bersama Ibu. Aku juga makin jarang bertegur sapa dengan beliau. Sebuah unjuk rasa karena Ibu sepertinya sudah ga memedulikan aku lagi.
“Kok Nindy jadi jahat Ibu,” ucap beliau ketika aku sedang duduk di teras, menunggu bulek Lastri pulang sekolah.
“Ibu yang jahat,” balasku galak.
“Oh ya? Emangnya Ibu jahat kenapa?”
“Ibu sekarang kalau pergi ga pernah ngajak Nindy lagi.”
Ibu membalas ucapanku dengan mendekap kepalaku erat. Tak lama kemudian bulek Lastri pulang. Aku segera melepas dekapan Ibu dan berlari ke arah bulek Lasti.
“Bulek beli es krim lagi kan? Kan aku udah ga sedih ditinggal Ibu,” tanyaku tak sabar.
Ku lihat bulek menatap Ibu sesaat, “Nah gitu dong anak pinter. Tapi ada syaratnya lagi ya sayang,” balas bulek.
“Wah syaratnya banyak banget yah.”
“Mau ga…???”
Bagiku, tak ada lagi makanan yang paling enak selain es krim. Aku pun segera menanyakan syarat selanjutnya.
“Ga boleh marah lagi ya sama Ibu,” sahut bulek.
Aku terdiam sesaat. Ada rasa gengsiku untuk berdamai dengan Ibu. Namun nikmatnya es krim, apalagi siang itu hari sedang panas-panasnya, membuat aku menuruti apa yang bulek inginkan.
Aku segera melangkah ke arah Ibu, “Aku sayang Ibu,” sahutku.
“Ibu juga Nindy. Maafkan Ibu ya,” balasnya.
“Kok Ibu nangis?”
Mendengar pertanyaanku, Ibu cepat-cepat menghapus air matanya, “Karena Ibu ga dibeliin es krim sama bulek kamu,” balas Ibu yang membuat aku tertawa.
“Ih, Ibu kayak anak kecil. Ga dibeliin es krim kok nangis. Nanti es krim nya kita makan berdua aja ya, Bu.”
“Ga usah, sayang. Buat kamu aja ya,” balas Ibu sambil menatapku yang sedang asyik menikmati es krim.
Satu bulan kemudian, aku melihat rumah Eyang berbeda dari biasanya. Banyak orang yang datang dan menghias rumah Eyang dengan kain-kain panjang. Saudara-saudara kami yang perempuan juga ramai berdatangan dan semuanya berkumpul di dapur Eyang. Ku lihat di dapur dan di meja makan, makanan begitu banyak terhidang, hasil masakan saudara-saudara kami.
“Mereka pada ngapain, Bu?”
Ibu tak menjawab ucapanku. Beliau malah menawarkan aku untuk membeli es krim. Sebuah tawaran yang langsung aku terima.
“Tapi ada syaratnya ya sayang,” ucap Ibu sebelum membukakan es krim itu untukku.
“Ih Ibu kayak bulek aja. Apa syaratnya?”
“Sampai kapanpun kamu selalu sayang Ibu ya.”
Sekali lagi ku lihat Ibu meneteskan air mata. Tak sabar untuk segera menyantap es krim di tangan Ibu, aku langsung mengiayakan yang Ibu minta.
“Nindy juga sayang Ibu.” Es krim coklat yang Ibu berikan begitu nikmat.
Aku memarkir mobil tepat di depan butik kami. Ku intip dari dalam mobil, kelima karyawanku sedang asyik mengobrol. Melihatku aku membuka pintu, mereka langsung pura-pura serius dengan pekerjaan masing-masing. Aku tersenyum, hal yang sama aku lakukan ketika aku masih menjadi karyawan butik dulu.
“Siang, Bu Nindy,” sapa mereka bergantian.
“Siang semuanya. Gimana pagi ini?”
“Ada lima tumpukan bill bu. Sejuta sih udah lewat,” balas asistenku.
“Alhamdulillah, pinter-pinter ya karyawanku merayu pelanggannya,” balasku yang membuat mereka makin semangat menjalani pekerjaannya.
Kegiatanku dimulai setelah aku beres mengurus anak-anak. Mulai siang hingga menjelang malam aku disibukkan dengan kegiatan butikku, mulai dari memeriksa rekap keuangan, memeriksa tiap jahitan, hingga konsultasi dengan bagian planner.
“Sebentar ya. Aku baru inget mau nelepon Alif. Buku pe-er nya ada sama aku,” ucapku ketika kami sedang melakukan rapat produksi.
Benar saja, di rumah Alif sedang kelimpungan mencari buku pe-er nya, “Nanti Bunda suruh karyawan Bunda antar buku kamu ya nak.”
***
Hari sudah jam tujuh malam. Aku berkemas, siap-siap untuk pulang. Tak lupa aku mampir ke minimarket dekat rumah untuk membeli es krim untuk Alif. Sama seperti aku di waktu kecil dulu, Alif selalu menantikan kepulanganku dan hadiah es krim itu.
“Nindy, ikut bulek jalan-jalan yuk.”
Minggu pagi sekali, bulek membangunkanku. Masih setengah mengantuk, bulek terus mengajakku untuk bangun.
“Mau ke mana?”
“Pokoknya Nindy pasti suka deh. Yuk Nindy mandi dulu.”
Bulek menemani aku ke kamar mandi. Beliau juga sudah menyiapkan pakaianku dan mengajakku untuk sarapan.
“Kok pake bawa baju banyak?” Tanyaku ketika melihat bulek memasukkan beberapa pakaianku ke dalam tas besar.
“Kan kita mau nginep di rumah Risa.”
Risa merupakan saudara sepupu yang umurnya tak jauh beda denganku. Ibu Risa merupakan adik sepupu Ibu. Aku paling senang kalau diajak ke rumah Risa, karena mempunyai banyak boneka yang bisa kami mainkan sepuasnya.
“Kok perginya ga sama Ibu juga?”
“Sama bulek aja ya sayang. Ga apa-apa kan.”
“Emang Ibu mau pergi sama Om itu lagi ya?”
Bulek segera menyuruhku untuk cepat menghabiskan sarapanku. Pagi ini di rumah Eyang semakin ramai dari sebelumnya.
“Aku bilang sama Ibu dulu ya,” sahutku sambil melangkah ke kamar Ibu namun bulek segera menarik tanganku.
“Eh ga usah, Nindy. Kita udah telat nih. Nanti Risa kelamaan nungguin Nindy.” Bulek menambil tas di kamarnya dan cepat-cepat mengajakku keluar.
Tiga hari aku menginap di rumah Risa. Bulek kembali datang untuk menjemputku pulang. Berat rasanya ketika harus kembali pulang ke rumah Eyang. Namun aku sedikit terhibur karena Risa mengatakan dia akan menginap di rumah Eyang dengan membawa banyak bonekanya.
Setiba di rumah, aku langsung melangkah ke kamar Ibu. Tiga hari tak bertemu Ibu, aku sangat merindukan beliau.
“Bu…” Melihat Ibu tidak ada di kamarnya, aku berjalan ke sekeliling rumah.
“Nindy.” Eyang menghampiriku. “Kemarin kan Ibu Nindy udah menikah, jadi sekarang Ibu udah ga tinggal di rumah ini lagi. Ga apa-apa ya, kan di sini ada Eyang, ada bulek Lastri, dan juga kedua paklek mu.”
Aku menangis sejadi-jadinya. Bulek berusaha menghiburku dengan menawarkan es krim rasa apa saja yang aku mau, namun aku menolaknya. Aku terus menangis hingga sebuah cubitan Eyang mendarat di pahaku.
“Udah diam. Mau kamu tangisin juga Ibumu ga bakalan balik lagi ke sini. Dia udah tinggal sama suami barunya,” Eyang terus mencubit pahaku karena aku tak juga menghentikan tangisku.
“Eyang jahaaattt…,” teriakku.
Kali ini tak cuma cubitan yang aku terima. Sebuah pukulan melayang dari tangan beliau, “Bocah kurang ajar. Kamu itu anak kecil. Tau apa kamu? Emangnya kamu mau Ibuku jadi janda sampe ko’it,” bentaknya sambil terus melayangkan pukulannya.
Di umur yang belum genap lima tahun, tubuh kecilku sudah terbiasa menerima pukulan Eyang. Setelah beliau puas memukuli aku, Eyang melangkah masuk ke kamarnya. Ku lihat rumah beliau sudah kembali seperti semua. Hiasan dinding yang sebelumnya terpasang sudah tidak ada lagi. Bulek Lastri mengajakku ke kamarnya.
“Makanya Nindy jangan ngelawan sama Eyang. Jadinya dimarahin Eyang kan.” Bulek menghapus air mataku. “Nindy ga usah sedih. Nanti Ibu juga main ke sini lagi kok.”.
“Aku ga mau lagi ketemu sama Ibu.”
“Ya udah sekarang kita tidur yuk. Besok bulek beliin es krim lagi ya. Mau kan.”
“Ga mau…!!!”
Sejak itu, aku benci dengan yang namanya es krim. Aku selalu teringat akan es krim pemberian Ibu, untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Anehnya, sejak memiliki Alif, aku malah rajin memberikan dia es krim.
“Bunda udah pulang…” Tiap mendengar suara mobilku, Alif selalu mengejar dan menemani Ayahnya membuka pintu pagar.
“Anak Bunda yang ganteng ini pe-er nya udah selesai belum?” Tanyaku sambil memberikan es krim stroberi pesanannya.
“Udah semuanya, tinggal Bunda periksa aja.”
Aku menemani Alif belajar sedangkan Kayla sedang asyik bermain dengan Ayah. Menjadi istri dan Ibu dari dua anak membuat kegiatanku makin bertambah. Dulu sepulang dari butik, aku langsung merebahkan diri sambil melahap habis semua novel yang aku beli atau sekedar chatting dengan teman-teman lamaku. Kini, dari sisa tenaga yang ada, aku harus menerima Alif belajar, menyiapkan pampers Kayla, menyiapkan seragam Ayah dan Alif. Yah, kesibukan yang menyenangkan.
“Oh iya, Bun. Tadi aku disuruh menggambar tentang keluarga. Buat Bunda aja ya.”
“Mana coba Bunda lihat.”
Alif mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya. Aku merapikan sedikit kertas tersebut, agak rusak karena terhimpit dengan isi tasnya yang lain. Ku lihat baik-baik gambar tersebut.
“Ini Ayah, trus ini Bunda sambil gendong Kayla, dan ini aku.” Dengan bangga Alif menceritakan isi gambarnya.
“Wah anak Bunda pinter banget ya gambarnya.”
“Tapi kata Bu guru warnanya kurang rapi.”
“Tapi Bunda suka kok. Makasih ya sayang.” Aku langsung memasang gambar tersebut di sebelah foto Alif dan Kayla.
“Kalau bulek berangkat sekolah, aku sendirian dong,” ucapku ketika bulek sedang memakai sepatunya.
“Kan ada Eyang.”
“Ga mau. Eyang galak.”
“Ga apa-apa. Sebentar lagi kan Nindy sekolah. Jadi Nindy ga sendirian lagi. Pulang sekolah kan kita bisa main sama-sama lagi.”
Kemarin Eyang memang mengajakku ke sebuah Taman Kanak-Kanak. Beliau mengatakkan bahwa dua minggu lagi lagi aku akan bersekolah di sana. Tak sabar rasanya untuk menanti saat itu tiba.
Saking semangatnya untuk sekolah, aku bisa bangun pagi tanpa harus dipaksa. Bangganya ketika memakai seragam sekolah untuk yang pertama kalinya. Mungkin itu juga yang dirasakan Alif ketika ku tangkap dari binar matanya. Sekolahku hanya beberapa langkah dari rumah. Pada hari pertama itu, Eyang mengantar aku ke sekolah.
Sebagian besar teman-temanku di sekolah merupakan teman bermainku juga. Jadi aku tak canggung untuk langsung bergabung dengan mereka. Ku lihat mereka berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Ibunya. Rasa iri yang luar biasa yang ku rasakan saat itu. Ingin aku bertanya pada Eyang, kenapa bukan Ibu yang menemani aku ke sekolah ini, namun tak mungkin pertanyaan itu ku lontarkan pada beliau.
Di hari pertama sekolah itu, Ibu guru meminta kami untuk memperkenalkan diri kami masing-masing. Tiba giliran aku, dengan jujurnya ku ceritakan bagaimana diriku sebenarnya.
“Namaku Nindy. Aku tinggal di rumah Eyang bersama bulek Lastri, paklek Heri, dan paklek Andi.”
“Kok kamu tinggalnya ga sama Mama dan Papa kamu?” Tanya salah seorang temanku.
“Aku ga punya Bapak. Kalau Ibu udah nikah lagi sama Om yang aku ga tau namanya, jadinya ga tinggal di rumah Eyang lagi.”
Aku tak menyangka. Ucapan singkat itu ternyata melebar ke mana-mana. Teman-temanku yang menganggap kehidupanku ini aneh, menceritakan kembali ceritaku ini pada orang-tua mereka. Dan sampaikan omongan ini pada Eyang. Sepulang sekolah, Eyang segera menyambutku dengan cubitannya.
“Bocah bodoh. Aib orang-tua diceritain ke orang-orang.” Itu yang ku ingat dari rentetan kalimat kasar beliau.
“Bun, mandangin gambanya kok lama banget.” Tanpa sadar, Ayah sepertinya dari tadi memperhatikan aku.
“Iya, ini gambar paling bagus yang pernah aku lihat.”
“Mudah-mudahan nanti Kayla juga bisa gambar sebagus itu ya, Bun.”
“Pastinya. Anak kita memang pinter-pinter ya, Yah.”
“Seperti ayahnya kan…”
“Huuu…”
***

